Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
Setelah memastikan kondisi Nara lebih stabil dan berdiskusi cukup lama dengan Sagara mengenai rencana yang akan mereka lakukan esok pagi, Viola memilih untuk mampir sebentar ke tokonya. Tempat yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.
Motor yang Viola kendarai berhenti di depan Sweet Cake.
Lampu papan nama Sweet Cake sudah padam. Pintu kaca bagian depan tertutup rapat. Semua karyawannya pasti sudah pulang ke rumah masing-masing.
Bangunan dua lantai itu masih berdiri di tempat yang sama. Namun, malam ini, Viola merasa seperti sedang melihat sesuatu yang perlahan akan berubah.
Ia mematikan mesin motor lalu turun. Beberapa detik ia hanya berdiri di depan pintu toko dengan tangannya menggenggam erat tali tasnya. Ada rasa berat yang sulit dijelaskan. Seolah di balik pintu itu tersimpan seluruh perjalanan hidupnya selama beberapa bulan terakhir.
Viola menarik napas panjang lalu merogoh tasnya, mengambil kunci untuk membuka pintu toko.
Suara kunci yang berputar terdengar begitu jelas di tengah malam yang sunyi. Pintu terbuka perlahan. Viola melangkah masuk.
Ruangan gelap menyambutnya. Ia menekan sakelar di dekat pintu. Cahaya lampu langsung memenuhi ruangan. Namun, entah mengapa cahaya terang itu justru membuat hatinya semakin kosong.
Pandangan Viola menyapu seluruh area pelanggan. Meja-meja kecil yang selalu dipenuhi pelanggan, kursi-kursi yang menjadi tempat orang-orang menikmati kue buatannya, dan etalase tempat anak-anak memilih kue favorit mereka.
Semuanya masih terlihat sama, tetapi malam ini, tempat itu terasa menyimpan sebuah harapan sekaligus kekhawatiran.
Langkah Viola perlahan berhenti di depan etalase. Kaca bening itu kosong. Tidak ada brownies, strawberry shortcake, tiramisu, maupun cake dan roti lain yang biasanya tersusun rapi. Tangannya menyentuh permukaan kaca etalase yang terasa dingin bahkan hingga merambat sampai ke dadanya.
Air mata jatuh tanpa Viola sadari. Ia buru-buru mengusap pipinya. Namun, semakin ia menghapusnya, semakin banyak air mata yang turun.
"Aku harus tetap yakin," bisiknya. Suaranya hampir tidak terdengar. "Sweet Cake pasti akan baik-baik saja."
Air mata kembali menetes. Viola bukan sedang menangisi dirinya yang harus terus berkorban. Bukan juga karena takut kehilangan nama baiknya atau takut orang-orang akan membicarakannya.
Yang membuat dadanya terasa sesak adalah bayangan orang-orang yang selama ini berjalan bersamanya, membangun dan mengembangkan Sweet Cake dari nol.
Pandangan Viola perlahan beralih ke dinding belakang meja kasir.
Sebuah foto besar tergantung di sana. Foto dirinya bersama seluruh karyawan Sweet Cake; Rani, Siska, Dimas, Pak Mario, dan dua karyawan lainnya. Mereka semua tersenyum lebar dalam foto yang diambil dua bulan yang lalu ketika mereka pergi berlibur bersama menikmati kebersamaan.
Viola mendekat. Jarinya menyentuh bingkai foto itu perlahan. Senyum semua karyawannya di foto itu membuat dadanya semakin sakit. Mereka adalah orang-orang yang bertahan bersamanya membangun Sweet Cake.
"Maafkan aku ...." Suara Viola bergetar. Kepalanya tertunduk lesu. "Maafkan jika keputusanku ini juga berdampak pada kalian." Tangannya mengepal erat, matanya terpejam dengan dada yang semakin terasa sesak.
Besok. Namanya mungkin akan menjadi bahan pembicaraan orang. Mereka mungkin akan mempertanyakan dirinya. Dan bukan tidak mungkin Sweet Cake akan ikut terseret.
Pelanggan yang selama ini percaya padanya bisa saja mulai menjauh. Orang-orang yang dulu memuji kue buatannya mungkin akan melihatnya dengan pandangan berbeda. Semua itu tentu bisa saja terjadi.
Viola jelas tahu jika keputusannya membantu Sagara memilki banyak resiko terhadap keberlangsungan Sweet Cake. Namun begitu, Ia tidak mungkin menutup mata ketika Nara sampai terbaring di rumah sakit.
Bagaimana mungkin ia membiarkan Sagara yang pernah terluka olehnya kini berusaha melindungi keluarga kecilnya dengan memikul semuanya seorang diri?
Sweet Cake adalah rumah yang ia bangun. Namun, ketiga orang itu juga berperan besar pada kehidupannya.
Malam ini, di tempat yang selama ini menjadi saksi perjuangannya, Viola menangis sendirian. Tetapi di balik air mata itu, keputusannya tetap tidak berubah.
Besok ia akan berdiri di depan kamera menghadapi semua pandangan orang.
Terkadang, seseorang tidak kehilangan sesuatu karena ia salah memilih.
Terkadang, seseorang harus rela kehilangan sebagian dari dirinya ... demi menyelamatkan orang yang pernah menyelamatkan hidupnya.
****
Keesokan paginya, Sweet Cake sudah dipenuhi aroma mentega, cokelat, dan adonan brownies yang baru saja dibuat.
Viola berdiri di tengah dapur dengan celemek masih terikat di pinggang. Tangannya bergerak cekatan memastikan pesanan hari itu sudah tersusun rapi. Beberapa kotak kue berjajar di atas meja, siap diantar pada pelanggan.
Setelah semua selesai, Viola membersihkan kedua tangannya, lalu berganti pakaian. Ia memilih blouse sederhana berwarna lembut dengan celana panjang hitam. Rambutnya diikat rapi. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya sebuah jam tangan di pergelangan tangannya.
Namun, di balik penampilannya yang tenang, ada sesuatu yang terus berdenyut di dalam dada.
"Rani tolong pastikan Sweet Cake berjalan seperti biasa." Viola mengambil tasnya dari kursi, lalu kembali menatap Rani. "Saya harus pergi. Mungkin sore nanti baru kembali."
"Bu Viola mau pergi lagi?" Siska yang muncul dari arah dapur membawa nampan berisi roti yang baru matang berhenti di samping Viola.
Viola menoleh. "Siska, jangan lupa periksa ulang pesanan sebelum Dimas mengantarnya siang nanti."
"Baik, Bu. Saya dan Siska pasti memastikan Sweet Cake berjalan seperti biasa," ucap Rani tanpa ragu.
Viola tersenyum kecil. "Kalau ada sesuatu yang mendesak, langsung hubungi saya."
"Siap, Bu," jawab Rani dan Siska bersamaan.
Viola mengangguk sekali lagi sebelum melangkah keluar.
Setelah sosok Viola menghilang dari pandangan, Rani dan Siska saling menatap.
"Beberapa hari belakangan, Bu Viola jadi sering sekali pergi, ya," ujar Siska sambil meletakkan nampan yang dibawanya ke meja dekat etalase.
Rani mengangguk pelan. Ia juga memperhatikan atasannya yang jarang berada di toko beberapa hari belakangan. "Jangan-jangan ada hubungannya dengan Asisten Kim."
Siska tersenyum kecil. "Bisa jadi." Ia menghentikan gerakannya yang sedang mengisi ulang etalase. "Apalagi Asisten Kim juga sudah cukup lama tidak berkunjung ke sini. Bisa saja mereka janjian di luar sana."
Rani ikut tersenyum. "Semoga saja itu benar ... Bu Viola pantas bahagia."
Obrolan keduanya berbanding terbalik dengan apa yang sebenarnya terjadi. Viola tidak sedang pergi bersama Asisten Kim, wanita itu justru pergi untuk mengorbankan dirinya sendiri.
***
Gedung Jayendra Group menjulang tinggi di hadapan Viola.
Begitu turun dari motor meticnya, ia menarik napas dalam-dalam. Telapak tangannya terasa dingin. Dulu, sebelum diminta untuk mundur, ia pernah menjadi salah satu petinggi gedung itu, memastikan Jayendra Group berdiri kokoh dari banyaknya persaingan bisnis. Kini ia kembali ke tempat itu untuk melindungi Jayendra Group, meski bukan sebagai salah satu petinggi di tempat itu.
Dengan keyakinan penuh, ia mulai melangkah. Namun, baru beberapa langkah, seorang pria yang sudah menunggunya segera menghampiri.
"Nona Viola? Saya diminta Tuan Sagara untuk mengantar Anda."
Viola mengangguk singkat lalu mengikuti pria itu memasuki gedung. Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan pintu ruangan Sagara.
Pria berkacamata itu mengetuk pintu lebih dulu sebelum membukanya.
"Silakan masuk, Nona. Tuan Sagara sudah menunggu," ucap Pria itu.
Viola mengangguk kecil. Ia lalu melangkah masuk. Pintu di belakangnya kembali tertutup rapat.
Sagara yang sejak tadi berdiri di dekat jendela segera menoleh. Wajah pria itu tampak tegang dengan mata yang memerah.
Menatap Viola beberapa saat, Sagara akhirnya mendekat. "Kau benar-benar akan melakukan itu untuk kami?"
Viola mengangguk pelan. "Aku sudah memutuskan."
Menghembuskan napas panjang, ada kelegaan di wajah Sagara, tetapi juga rasa bersalah yang tidak bisa disembunyikan. Ia tahu persis permintaannya pada Viola bukan sesuatu yang sederhana.
Bukan sekedar muncul di depan kamera untuk berbicara. Ia sedang meminta Viola mempertaruhkan dirinya sendiri dan mungkin saja sesuatu yang telah dibangunnya juga akan ikut terkena dampak.
"Aku tahu apa yang kau lakukan pada kami pasti akan berpengaruh besar pada hidupmu." Sagara menundukkan kepala sesaat.
"Maafkan aku yang harus memintamu kembali berkorban untuk kepentingan kami."
Viola terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis. "Aku melakukan ini bukan hanya untuk kalian."
Tatapan Sagara terangkat. "Aku juga ingin meluruskan berita yang sebenarnya."
Suasana ruangan mendadak hening. Cahaya matahari pagi masuk melalui kaca besar di belakang Sagara, jatuh membentuk garis panjang di lantai. Namun, udara di antara mereka terasa jauh lebih berat daripada biasanya.
Sagara mengangguk perlahan. "Akan kupastikan semuanya baik-baik saja."
Ia menatap Viola dengan sungguh-sungguh. "Aku akan melindungimu dan Sweet Cake semampu yang kubisa."
Senyum Viola mengembang tipis. "Terima kasih."
Belum sempat Sagara mengatakan hal lainnya, terdengar ketukan di pintu.
Pria berkacamata tadi yang merupakan Asisten Sagara kembali muncul.
"Tuan, para wartawan sudah berkumpul di ruangan yang sudah disiapkan."
Sagara mengangguk. "Aku mengerti." Ia kemudian berjalan menuju pintu diikuti Asistennya dan Viola.
Mereka baru berhenti ketika sampai di depan sebuah pintu berukuran besar.
Di balik pintu itu ada puluhan pasang mata yang siap menyorot dengan kamera dan mikrofon di tangan.
Sagara menoleh pada Viola. "Kau sudah siap?"
Viola menarik napas panjang. Untuk sesaat, wajah Nara yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit kembali muncul di benaknya. Ia menggenggam erat ujung pakaiannya.
Ketakutan itu masih ada, tetapi tidak cukup kuat untuk membuatnya mundur. Dengan pernyataan yang dibuatnya di dalam nanti, mungkin bisa membuat Nara terbebas dari segala tuduhan kejam itu.
"Aku siap." Viola berkata tanpa rasa ragu.
Sagara menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk.
Asisten Sagara segera meraih gagang pintu.
Pintu terbuka.
Suara percakapan dari dalam ruangan langsung menyambut mereka. Puluhan kepala menoleh bersamaan. Kamera-kamera mulai terangkat, beberapa wartawan segera berdiri.
Kilat lampu kamera memenuhi ruangan seperti hujan cahaya yang jatuh tanpa henti. Viola menelan ludah, kemudian melangkah masuk. Tidak ada jalan untuk kembali.
Hari ini, Viola bukan hanya datang untuk membela Nara. Ia datang mengorbankan dirinya sendiri demi orang-orang yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
**** bersambung.
tpi kasian viola nikah tanpa di cintai.sll jdi lilin menerangi org lain .tpi kena tanga sndri 🙏🙏😭😭