NovelToon NovelToon
Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25.

"Kalian datang juga."

Seokjin menghampiri mereka dengan langkah tenang. Wajahnya sudah kembali seperti biasa, datar dan sulit ditebak.

"Oppa, kau ini bicara apa? Tentu saja kami harus datang," ucap Nara. Bibirnya sedikit mengerucut kesal.

"Aku hanya bercanda. Kau ini jadi semakin sensitif saja." Seokjin tersenyum tipis. Tangannya menepuk pelan pucuk kepala Nara.

"Kalian tidak membawa si kembar?" Seokjin mengalihkan pandangan pada Sagara.

"Mereka tidur lebih awal bersama pengasuhnya," jawab Sagara.

"Bagaimana denganmu? Kau masih tidak berniat mengenalkan kami pada seseorang?" Wirahadi yang berdiri di samping Dhanubrata mulai ikut berkomentar.

"Benar kata Pamanmu. Secepatnya kau harus mengenalkan kami pada calon istrimu." Dhanubrata ikut menimpali.

"Bahkan aku sudah memiliki dua anak. Tapi, Oppa masih betah menjomblo," kata Nara.

"Sepertinya aku salah ikut bergabung dengan kalian."

Suara tawa kemudian terdengar di antara mereka. Selanjutnya, sembari duduk santai obrolan mereka mengalir ringan. Tentang perusahaan, keluarga, juga kedua bayi kembar Sagara dan Nara.

Seokjin sesekali ikut menanggapi.

"Bagaimana dengan proyek Distrik Timur?" Wirahadi melempar pertanyaan pada Seokjin.

"Sejauh ini tidak ada kendala berarti," jawab Seokjin.

"Bagus. Tapi sebaiknya kau harus tetap berhati-hati," ujar Wirahadi.

"Aku mengerti." Seokjin menyandarkan tubuhnya dengan santai.

Dari luar, tidak ada yang aneh. Seokjin terlihat baik-baik saja. Namun, beberapa kali matanya bergerak sekilas ke arah Nara yang sedang mengobrol dengan Kakek Dhanubrata.

Sementara istrinya sedang menceritakan tentang tumbuh kembang si kembar pada Kakeknya. Sagara melirik ke sisi lain ballroom.

Viola berdiri seorang diri di dekat meja hidangan Sweet Cake. Wanita itu tidak sedang menikmati pesta. Tatapannya justru berpindah dari satu tamu ke tamu lain. Dalam diam dan tanpa terlalu mencolok, ia memperhatikan ekspresi mereka ketika mencicipi cake, dessert, maupun makanan ringan yang disediakan Sweet Cake.

Ketika seseorang tersenyum setelah mencicipi strawberry shortcake, wajah Viola ikut sedikit melunak. Ketika seorang tamu mengambil potongan kedua, matanya berbinar. Ia memperhatikan semuanya dengan hati-hati.

Sebagai pemilik Sweet Cake, malam ini bukan sekedar pesta baginya. Ini adalah kesempatan untuk melihat sendiri apakah hasil kerjanya benar-benar bisa diterima orang-orang.

"Saya permisi sebentar." Sagara berpamitan pada keluarga istrinya. "Saya ingin menyapa seseorang."

Nara mengikuti arah pandang suaminya. Tatapannya berhenti pada Viola. Nara tersenyum kecil. "Pergilah."

Sagara mengangguk pelan lalu berjalan mendekati Viola yang masih berdiri di samping meja hidangan.

"Aku senang kau ada di sini."

Viola menoleh. Sagara berdiri tidak jauh darinya.

"Ah ... iya. Kebetulan Tuan Han memesan cukup banyak hidangan dari Sweet Cake, jadi aku harus memastikan semuanya berjalan baik." Viola tersenyum canggung.

"Aku dengar Sweet Cake berkembang pesat sekarang." Sagara mendekat beberapa langkah. "Bahkan istriku sering memesannya secara online. Sepertinya Nara benar-benar menyukai semua kue buatanmu."

"Benarkah?" Senyum Viola langsung melebar. "Aku sangat senang mendengarnya."

Ia memang sering melihat pesanan dari alamat mansion Jayendra. Sekarang ia semakin yakin bahwa Nara sendirilah yang memesannya.

"Sepertinya kau memang cocok dengan bisnis baru ini."

"Awalnya aku juga tidak terlalu yakin." Viola menatap meja hidangan. "Tapi semakin lama aku semakin menyukainya. Menikmati setiap prosesnya."

"Itu bagus," puji Sagara.

"Sejujurnya aku bahkan lebih menikmati membuat kue daripada duduk ruang rapat." Viola berkata dengan binar cerah di matanya.

Sagara tertawa kecil. "Syukurlah. Kau benar-benar sudah menemukan apa yang sebenarnya kau inginkan."

Viola ikut tertawa. "Kurasa begitu."

Obrolan mereka berlanjut dengan lebih santai. Sagara bertanya tentang karyawan baru, perkembangan toko, hingga rencana Viola membuka cabang suatu hari nanti."

"Aku belum memikirkan soal membuka cabang. Untuk sekarang, satu toko saja sudah cukup membuatku hampir tidak punya waktu tidur."

Sagara kembali tertawa. "Kalau begitu jangan terlalu memaksakan diri. Atau kau bisa mempertimbangkan menambah beberapa karyawan lagi."

"Hai Tuan CEO ... usahaku ini baru saja mulai berkembang. Aku masih harus menghitung setiap pengeluaranku dengan benar."

Kali ini Sagara tertawa lebih keras.

"Kalau begitu, Kakak bisa meminta adik kayamu itu sebagai investor tetapmu." Suara Nara terdengar dari belakang mereka.

Sagara dan Viola ikut menoleh.

"Sayang, kemarilah!"

Nara melangkah mendekat dan berdiri di samping suaminya. Senyumnya tampak begitu tulus saat menatap Viola.

"Kak Viola, seharusnya kau bisa memanfaatkan uang adikmu itu," ucap Nara tanpa sedikit pun nada dan maksud untuk mengejek Viola.

Viola tersenyum kecil. "Kau benar. Seharusnya adikku itu ikut berinvestasi." Tatapannya beralih pada Sagara. "Lalu keuntungannya akan kukirim ke rekeningmu." Viola berkata santai sambil mengedipkan mata pada Viola.

"Kalian berdua sedang berkomplot untuk merogoh isi dompetku?" Sagara memasang wajah pura-pura panik.

Viola dan Nara kompak tertawa.

**

Tak lama kemudian, lampu ballroom perlahan diredupkan. Musik berubah. Alunan yang lebih lembut memenuhi ruangan.

"Acara dansa akan dimulai." Suara pemandu acara terdengar.

Beberapa pasangan mulai berjalan ke tengah ballroom. Sagara menoleh pada istrinya.

"Mau berdansa?"

Nara tersenyum. "Tentu."

Sagara mengulurkan tangannya. Nara langsung menyambutnya. Keduanya kemudian melangkah ke tengah ruangan.

Tangan Sagara melingkar lembut di pinggang istrinya. Nara meletakkan tangannya di bahu sang suami. Mereka bergerak mengikuti irama.

Beberapa kali Sagara tersenyum pada Nara. Nara membalasnya dengan senyum yang sama hangatnya. Mereka seperti lupa bahwa ada puluhan pasang mata yang memperhatikan.

Di sudut ruangan, Viola hanya tersenyum. Melihat pasangan-pasangan yang mulai memenuhi lantai dansa membuat suasana malam itu terasa semakin hangat. Namun, tidak jauh darinya, seseorang tidak merasakan kehangatan yang sama.

Seokjin berdiri diam. Tatapannya terkunci pada satu pasangan. Nara dan Sagara.

Senyum Nara, tangan Sagara di pinggang wanita itu, cara Nara menatap suaminya. Semuanya membuat sesuatu di dalam dada Seokjin terasa panas.

Jemarinya perlahan kembali mengepal, rahangnya mengeras. Ia berusaha tetap diam, tetap tenang, tetap terlihat seperti Han Seokjin yang tidak pernah terganggu oleh siapa pun.

Namun, semakin lama musik itu mengalun, semakin sulit ia mengalihkan pandangan. Matanya terus mengikuti Nara, hingga akhirnya ketenangan yang selama ini menjadi wajahnya mulai retak sedikit demi sedikit.

Sementara di sudut lain ruangan. Tampak tiga orang pria tengah berdiri sambil terus memperhatikan suasana sekitar.

"Kau harus jeli memperhatikan setiap pergerakan keluarga Dhanubrata," ucap salah seorang di antara ketiga orang tersebut.

"Aku mengerti."

"Kita harus menemukan sesuatu malam ini. Tuan besar pasti senang dan memberi kita bayaran mahal jika kita berhasil mendapatkan sesuatu tentang mereka." Pria itu kembali berkata.

Kedua pria lainnya mengangguk dengan penuh tekad. Mereka dijanjikan mendapat bayaran besar jika mendapatkan informasi apa pun tentang keluarga Dhanubrata.

**

"Berdansa denganku."

Viola menoleh ketika Seokjin mengulurkan tangannya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap tangan itu. "Tuan Han?"

Seokjin tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan tangannya sedikit, memberi isyarat agar Viola mau memenuhi ajakannya.

Viola melirik ke sekeliling. Beberapa tamu memperhatikan mereka. Tatapan-tatapan itu membuat penolakannya terasa semakin sulit.

"Baiklah." Viola akhirnya meletakkan tangannya di atas tangan Seokjin.

Seokjin menggenggamnya dengan tenang, lalu membawanya menuju tengah lantai dansa.

Musik masih mengalun lembut.

"Jangan terlalu canggung," ucap Seokjin. Ia dapat merasakan gerakan Viola yang terasa canggung

"Maaf, Tuan. Saya hanya tidak terbiasa berdansa," ucap Viola. Meski begitu, ia berusaha mengikuti setiap gerakan Seokjin dengan lebih tenang.

Awalnya tubuhnya memang sedikit kaku. Namun, beberapa putaran kemudian, ia mulai menemukan irama yang sama dengan Seokjin.

Di bawah cahaya lampu ballroom, keduanya bergerak mengikuti irama musik. Tidak terlalu intim, tidak juga terlalu jauh. Hanya dua orang yang sedang menikmati sebuah tarian.

"Tuan Han," bisik Viola.

"Ya?"

"Terima kasih untuk semua bantuan Anda." Viola menatapnya sebentar. "Termasuk gaun ini."

"Kau menyukainya?"

Viola mengangguk sambil tersenyum kecil. "Tentu saja. Gaunnya sangat indah." Ia menundukkan pandangan sejenak. "Tapi ini terlalu merepotkan Anda."

Seokjin tidak menjawab. Tatapannya justru beralih melewati bahu Viola, ke arah Nara dan Sagara yang masih berdansa.

Barulah sesuatu yang tidak diketahui Viola terlintas di benaknya. Tentang gaun yang dikenakan Viola.

Gaun itu sebenarnya Seokjin pilih untuk Nara. Ia berniat memberikannya pada sepupunya itu. Namun, Nara menolak karena Sagara telah menyiapkan gaun untuknya. Nara justru menyarankan agar gaun tersebut diberikan untuk Viola.

Meski merasa kecewa, Seokjin tetap mengikuti saran Nara. Bagi Seokjin, setiap perkataan Nara adalah sesuatu yang harus ia lakukan.

Seokjin kembali menatap Viola, sudut bibir terangkat tipis. "Aku tidak merasa direpotkan."

Viola mengangguk pelan. Ada rasa hangat yang tiba-tiba merambat di benaknya.

Keduanya kembali menikmati musik dengan bergerak sesuai irama. Hingga beberapa saat kemudian, pandangan Seokjin kembali tertuju pada Nara.

Senyum lebar terlihat di wajahmu wanita itu. Sesekali tawanya terdengar ketika Sagara melakukan gerakan kecil yang membuatnya hampir kehilangan irama.

Rahang Seokjin tiba-tiba mengeras, ia lalu membawa Viola perlahan mendekati pasangan itu. Musik terus mengalun. Satu putaran, dua putaran, Seokjin menunggu saat yang tepat. Ketika irama lagu berubah, tangannya bergerak. Tubuh Viola didorong lembut ke arah Sagara.

"Eh?"

Dalam waktu bersamaan, Seokjin menarik Nara ke arahnya. Gerakan itu begitu cepat dan mengikuti irama sehingga hampir tidak ada yang menyadari pertukaran tersebut.

Kini pasangan mereka berubah. Sagara berdansa dengan Viola. Sementara Seokjin berdansa dengan Nara.

"Wah." Sagara tersenyum. "Sepertinya kita bertukar pasangan."

Viola ikut tersenyum canggung. "Sepertinya begitu."

Tidak ada yang merasa aneh. Bagi mereka, hal itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Sagara sudah menganggap Viola sebagai saudaranya sendiri. Ikatan yang pernah ada di antara keluarga mereka mungkin tidak terlalu dekat, tetapi tetap menjadi bagian dari masa lalu yang tidak mudah dihapus.

Begitu pula Seokjin dan Nara. Mereka adalah saudara sepupu yang telah tumbuh dalam keluarga yang sama. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk berpikir bahwa pertukaran pasangan itu disengaja.

Musik terus mengalun.

Sagara mengulurkan tangannya sedikit lebih lebar. "Tenang saja. Aku tidak akan menginjak kakimu."

Viola tertawa kecil. "Aku justru takut menginjak kakimu."

"Apa kau sempat menginjak pria berwajah datar itu tadi?" tanya Sagara dengan nada bercanda.

Viola mengangguk. "Aku menginjak kakinya dua kali."

Keduanya lalu tertawa bersama.

Di sisi lain, Seokjin dan Nara bergerak mengikuti irama yang sama.

Nara tersenyum, Seokjin juga ikut tersenyum. Ia begitu menikmati momen kebersamaannya bersama wanita yang begitu dicintainya selama ini.

Andai bisa memutar kembali waktu, Seokjin memilih untuk tidak pergi dan menggagalkan pernikahan Nara dan Sagara saat itu.

"Oppa ...."

Suara lembut Nara membuat mata Seokjin yang sempat terpejam kembali terbuka.

"Kenapa?" tanyanya lembut.

"Oppa, bagaimana menurutmu tentang Kak Viola?" Nara bertanya sambil terus mengikuti langkah dansa. Tangannya masih berada di tangan dan bahu Seokjin, sementara musik mengalun lembut di sekeliling mereka.

Dahi Seokjin berkerut kasar. "Kenapa dengan Viola?"

"Bukankah Kak Viola cantik?"

Seokjin tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap bergerak mengikuti irama.

"Apa Oppa tidak berniat mendekatinya?" Nara kembali bertanya. "Kak Viola gadis yang cantik dan baik. Dia juga sangat pandai dan pantang menyerah."

"Viola memang sangat cantik," jawab Seokjin singkat.

"Lalu kenapa Oppa tidak mencoba membuka hati untuknya?"

Kalimat sederhana Nara membuat wajah Seokjin berubah datar. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menusuk tepat di dadanya.

"Aku sangat bahagia dengan Sagara," lanjut Nara pelan. "Aku juga ingin Oppa bahagia. Kak Viola mungkin ...."

"Cukup Nara." Langkah Seokjin terhenti. Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri di tengah irama musik yang masih mengalun.

Nara menatap wajah sepupunya.

Wajah Seokjin kembali lebih tenang. Namun, matanya tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang baru saja retak di dalam sana.

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Seokjin. Keduanya kembali berdansa mengikuti alunan musik.

Dahi Nara sedikit berkerut.

"Tentang Viola," lanjut Seokjin.

"Viola? kenapa dengan Kak Viola?" tanya Nara penasaran.

Seokjin menghentikan gerakannya. "Ikutlah denganku. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, tanpa menunggu jawaban Nara. Seokjin menarik Nara keluar dari lantai dansa.

Rasa penasaran yang muncul di benak Nara, membuat wanita akhirnya mengikuti langkah Seokjin meninggalkan ballroom.

**** Bersambung.

1
-Thiea-
viola gak kalah cantik kok sama Nara. semoga vio bisa membuat seokjin move on ya dari Nara..🫰
Lisa
Wah apa nih yg mau dibicarakan oleh Seokjin pd Nara..
〈⎳ FT. Zira
dalam hati "kenapa Vio gak nyapa.?" 🤣
Teteh Lia: Nyapa dia, kak. dansa bareng malah 🤭
total 1 replies
Lisa
Wah Viola cantik banget dgn gaun yg dr Seokjin..👍
mama Al
kalau di tengah kota emang mahal viola.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
mama Al
Hmmm bisa jadi di carikan tempat sekaligus di jadikan bini 🤭
ngarep boleh ya Thor
mama Al
tenang viola akang Seok jin lagi nyari tempat yang pas buat kamu
Lisa
Wah Seokjin perhatian banget nih sama Viola..sukses y Viola utk sweet cakenya..pasti deh byk pengusaha yg tertarik utk bekerja sama dgn sweet cake..
Lisa: wah ada pengorbanan juga y Kak
total 2 replies
Lisa
Senengnya sweet cake makin ramai dan byk pelanggan..sukses trs y sweet cake..semangat y Viola..aplg nanti sweet cake hadir dlm acara ultahnya Danubrata grup..pasti makin byk yg mengenal sweet cake..
Lisa
Oke Kak Lia ntar aq mampir di kisahnya Sagara & Nara juga 😊
Lisa: Sama² Kak Lia..aq suka ceritanya menarik Kak..
total 2 replies
Lisa
Puji Tuhan sweet cake rame lg.ada tamu spesial nih kayaknya..siapa y mereka..
mama Al
Apa Nara mengatakan sesuatu pada viola terkait bangunan itu.
mama Al
jangan mau viola, beda tempat beda rezeki
mama Al
ya wajar ngga di kabari soal undangan soalnya pemilik juga ga mau datang. menolak menyerahkan toko.
mama Al
setelah di bab kmarin aku ngira asisten Kim adalah perempuan dan sekarang terjawab sudah 😁
mama Al: bab sebelah maksudnya
total 1 replies
mama Al
hmmm jangan bilang dia mau mendekati viola supaya bisa mengambil alih ruko.
Lisa
👍👍 pasti sweet cake di hari kedua ini lebih rame..semangat y Viola..pelangganmu pasti tetap dtg meskipun tmptnya pindah.
Lisa
Selamat y Viola utk grand opening sweet cake nya..meskipun di hari pertama ini byk pembeli yg dtg atas saran dr Seokjin..moga utk hari² selanjutnya mereka tetap dtg bahkan semakin byk pelanggan lain yg dtg.
-Thiea-
jangan rendah diri viola. kamu pasti bisa menemukan seseorang yang menjadikan kamu orang terpenting dalam hidupnya.
Lisa
Wah tmptnya strategis banget Kak 👍👍 pasti sweet cake makin laris 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!