NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan yang di ambil

Happy Reading!!

Malam telah larut. Akhirnya Aurelia memberanikan diri berdiri di depan pintu ruangan kerja Papanya.

Ia menghela napas berat terlebih dahulu, sampai tangannya bergerak mengetuk pintu.

Suara Giovani terdengar dari dalam, Aurelia membuka pintu dan melangkah masuk. Begitu menutup pintu, ia di suguhi aroma rokok dengan asap yang mengepul di udara. Matanya melihat sosok Giovani yang sedang duduk dengan kaki bersilang, ia sedang memegang cerutu di tangannya.

Aurelia sudah beberapa minggu tidak memasuki ruangan ini. Kakinya melangkah perlahan, matanya beredar ke sekeliling. Tidak ada foto keluarga terpampang di tembok. Tidak ada juga foto dirinya di meja kerja Giovani. Aurelia hanya menanggapi dengan senyuman tipis, untuk sekarang, apa yang bisa ia harapkan dari Papanya?

"Duduk." perintah Giovani dan kembali menghisap cerutunya.

Aurelia mengangguk patuh, namun sesekali menahan napas, ia tidak suka asap rokok. Setelah mendudukkan dirinya, tangan Aurelia bergerak mengapit hidungnya pelan.

Giovani mengamati. Pria itu beranjak berdiri dan bergerak mematikan rokok itu. Sesaat setelahnya, Giovani menatap Aurelia yang mulai melepaskan jarinya dari hidung.

Suasana dalam ruangan terasa hening, intensitas cahaya di sini juga minim, hanya ada satu lampu yang redup dengan suasana dingin karena ia suka dalam ruangan dingin.

"Hari ini kamu tidak ke kantor?" Giovani beralih mendudukkan dirinya di kursi.

Aurelia menumpu badan dengan kedua tangan disamping. Ia menggeleng pelan, "Tidak. Aku tidak enak badan." Ucapnya jujur. Setelah dari Vila, badan Aurelia terasa menggigil, kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat.

Giovani tidak menanggapi. Suara jarum jam dinding terdengar nyaring dalam ruangan. "Lalu bagaimana dengan keputusan kamu?" Matanya menatap Aurelia serius.

Aurelia mengatupkan giginya perlahan.

"Aku sudah mengakhiri hubungan dengan Adriant." Tangan Aurelia bergerak perlahan meremas sofa.

Giovani terdengar tertawa kecil, "bagus." Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali.

"Tapi menerima perjodohan ini bukanlah keputusan tepat, Pa." Aurelia menatap Giovani dengan berani. Malam ini, ia akan mempertaruhkan hidupnya.

Giovani berdecih. "Tahu apa kamu tentang membuat keputusan tepat? " ia beranjak berdiri.

"Sedangkan membuat keputusan untuk meninggalkan Adriant dari dulu saja tidak bisa."

Aurelia ikut berdiri, "Aku memang salah karena baru menyadarinya. Tapi menerima perjodohan ini juga hal buruk, pa." Aurelia melangkah mendekati Giovani.

"Buruk dari segi apa?"Pria itu mengangkat dagunya.

"Dia sudah pernah menikah sebelumnya...."

"Elbarak Starlink."

"Aku sudah tahu tenang dia." Suara Aurelia naik dua oktaf.

Giovani terdiam sesaat sebelum menjawab, pria itu menatap Aurelia dingin. "Papa sudah tahu." jawab Giovani dengan nada santai.

Aurelia meraup wajahnya kasar, "dia sering pergi ke club dan gonta-ganti pasangan." Aurelia tidak bisa menahan diri, ia meninggikan suaranya untuk pertama kali.

Giovani malah tertawa hambar, pria itu berkacak pinggang dan berjalan ke arah jendela. "Lalu apa bedanya dengan kamu yang sering pergi ke club?" tangan kanannya memegang tiang jendela.

"Aku cuma duduk di sana, tanpa bermain dengan pria." napas Aurelia memburu. Ia tidak tahu harus menjelaskan perasaannya saat ini seperti apa.

"Lalu Adriant? Dia juga sering bermain dengan banyak wanita, bukan?"

Deg!

Aurelia meneguk salivanya susah payah. Ia terdiam cukup lama, bagaimana bisa Giovani tahu tentang itu, sedangkan Tyana saja tidak tahu.

"Kamu terkejut?" Giovani menurunkan tangan dan mendudukkan dirinya. Usianya cukup sebagai pria berumur yang mulai merasakan sakit di bagian kaki jika terlalu lama berdiri.

"Papa tahu semua tentang Adriant." lanjut Giovani. Wajahnya tidak lagi terlihat santai.

Aurelia menurunkan bahunya lemas.

"Dan Papa ingin mengulang hal yang sama?" Air mata Aurelia sudah menggenang di pelupuk mata.

"Papa ingin aku menikah dengan pria seperti dia?" Suara Aurelia terdengar parau. Dadanya bahkan terasa sesak kembali. Baginya, hari tenang hanya dalam beberapa jam, selebihnya adalah kutukan.

"Apa salahnya?" Giovani mendekatkan diri pada Aurelia.

"Bedanya... Adriant tidak cepat memberi kepastian. Kalau Elbarak... bersedia menikahi kamu dalam waktu dekat."

Aurelia menggelengkan kepalanya pelan. Dia memegang keningnya dan bergerak gelisah.

"Perusahaan Papa butuh dukungan yang lebih besar."

Aurelia menoleh pada Giovani. "Perusahaan aku ada, Pa. Kita bisa sama-sama membangun tanpa harus menikah dengannya." Tangan Aurelia bergetar hebat.

"Perusahaan kamu tidak cukup. Papa ingin hal yang lebih dari itu."

Aurelia melipat bibirnya kedalam. Ia terdiam dengan bahu lemas, rasanya ia tidak cukup tenaga untuk mengelak dan memohon pengertian pada seorang Giovani. Pikiran Aurelia kacau dan terlalu berisik untuk saat ini.

"Papa benar-benar serius ingin aku menikahi dia?" Suara Aurelia melemah, banyak suara-suara yang tiba-tiba saja memenuhi indra pendengarannya. Aurelia ingin segera menutup telinganya, tapi jiwanya masih sadar. Ia tidak boleh kehilangan kendali.

"Kenapa tidak?" Giovani terkekeh kecil.

Aurelia menatap nanar pada Giovani yang duduk dengan tenang.

"Apa Papa tidak memikirkan kebahagiaan aku?"

Giovani tidak langsung menjawab. Keheningan tercipta di antara mereka. Tangan pria itu bergerak mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air.

"Papa tega?" Aurelia menghembuskan napas berkali-kali.

"Apa Papa tidak mengingat aku adalah anak Papa?"

"Putri kecil Papa yang dulu sering Papa peluk."

"Papa sering kasih aku hadiah-hadiah lucu."

Giovani hanya mendengarkan. Ia mulai minum air putih dengan perlahan. Tangan kirinya bertumpu pada pembatas kursi.

"Tapi setahun sebelum Mama meninggal, Papa berubah...." Air mata Aurelia jatuh tidak bisa ia tahan lagi. Banyak terlintas di kepalanya tentang kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika dirinya berusia delapan tahun, dimana dia pernah menjadi putri kesayangan Giovani.

"Kenapa...?" Suara Aurelia bergetar.

"Apa aku ada salah?" Aurelia luruh di lantai. Ia terisak, tangannya terkepal erat hingga kukunya yang panjang menancap pada permukaan telapak tangan.

"Aku kangen Papa..."

Giovani meletakkan gelas dengan hentakan kasar. Bunyi itu terdengar nyaring, rahangnya terlihat mengeras seketika. Ia beranjak berdiri dihadapan Aurelia.

"Bangun kamu." Suara itu dingin, tak ada kehangatan yang Aurelia dambakan.

"Bangun!"

"Saya tidak suka orang lemah."

Aurelia mengangkat wajahnya. Ia berusaha bangkit berdiri dengan sisa tenaganya, jemarinya bergerak menghapus air matanya dengan kasar.

"Kamu akan menikah dengan Elbarak."

Aurelia mengatupkan giginya rapat-rapat. Dadanya bergemuruh hebat, napasnya tersengal-sengal. Bukan kalimat itu yang ia harapkan. Aurelia ingin jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya baru saja. Ia ingin sebuah penjelasan yang selama ini ia tunggu.

"Aku tidak mau." Suara Aurelia berubah dingin.

Giovani bergerak mengambil gelas dan melemparnya ke sembarang arah. Sorot matanya sudah dipenuhi amarah yang memuncak.

Prang!

Aurelia tersentak sesaat setelah mendengar bunyi yang terdengar nyaring. Ia menatap nanar pada pecahan gelas yang berhamburan. Dadanya semakin bergemuruh ketika Giovani mulai bergerak mengacak-acak apa saja yang ada di atas meja.

Aurelia menutup mulutnya dengan menggunakan kedua telapak tangan. Suara pecahan beberapa barang membuat kepalanya berdenyut.

Prang!

Pecahan gelas berhamburan. Salah satunya mengenai pelipis Aurelia. Ia tersentak dan mengangkat tangan ke sisi kepalanya. Ketika melihat noda merah di ujung jarinya, tubuhnya seketika menegang.

Aurelia meremas rok sekuat-kuatnya dan menatap Giovani.

"PAPA BERHENTI!"

Aurelia berteriak dengan tubuh yang gemetar. Itu cukup membuat Giovani menghentikan kegilaannya. Pria itu membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Aurelia. Napasnya memburu, kucuran keringat membasahi keningnya.

"Aku akan menuruti kemauan Papa."

Giovani terdiam untuk beberapa saat, kemudian tersenyum penuh kemenangan.

"Kamu yakin?"

Aurelia maju satu langkah. Ia membiarkan darah di pelipis mengalir begitu saja bahkan jatuh mengenai lantai.

"Tapi bukan dengan Pria itu." Ucap Aurelia, ia meremas rok sekuat-kuatnya. Wanita itu menatap Giovani penuh kekecewaan, ia semakin yakin bahwa ia bukanlah wanita beruntung dari segi apapun.

Perlahan Giovani memajukan langkahnya. Dia tersenyum remeh ke arah Aurelia.

"Lalu dengan siapa?"

"Nathaniel Alister."

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!