Hidup bukan sekadar berjalan mengikuti arus dunia, melainkan tentang bagaimana jiwa menemukan jalan pulang kepada Sang Pencipta.
Fazam Arjuna mengira hari-harinya hanya akan diisi dengan kesederhanaan hidup dan secangkir kopi di rumah bersama keluarga tercinta. Namun, takdir membawanya pada sebuah panggilan batin yang jauh lebih dalam—sebuah perjalanan laku spiritual yang menguji keteguhan hati, kesabaran, dan keikhlasan.
Di tengah sunyinya jalan setapak pencarian hakikat diri, langkah Fazam tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh rahasia semesta yang terbentang, pengawalan batin dari sosok harimau putih, hingga bimbingan penuh kearifan dari Eyang Semar yang menuntunnya menembus tirai gaib kehidupan.
Bagaimana kisah Fazam dalam menyucikan hati dan menemukan cahaya sejati di tengah liku-liku batinnya?
Ikuti perjalanan penuh hikmah dan misteri batin dalam Perjalanan Laku Spiritual. Temukan jawabannya di setiap lembarnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Menyerah dan Percaya Sepenuhnya
Malam semakin larut. Langit gelap pekat, hanya cahaya remang bulan dan bintang yang menerangi jalan setapak di depan mata Fazam. Angin malam bertiup lebih kencang dari sebelumnya, menggoyangkan pepohonan besar di kiri dan kanan jalan hingga terdengar bunyi desis yang panjang dan dalam. Langkahnya masih mantap, namun di kejauhan terdengar suara gemuruh air yang kuat — makin lama makin nyaring, seakan memanggil atau sekadar memperingatkan.
Tak lama kemudian, tampaklah di hadapannya sebuah sungai besar yang airnya menghitam memantulkan langit malam. Arusnya deras sekali, bergulung-gulung memukul bebatuan besar di tengah aliran. Tidak ada jembatan, tidak ada perahu, dan tidak ada rumah di tepian untuk bertanya atau meminta bantuan. Hanya dia, sungai yang ganas, dan keheningan malam yang luas.
Fazam berdiri di tepian, menatap air yang berputar deras itu. Hatinya yang tadi tenang perlahan mulai berdebar kencang. Pikiran-pikiran gelap mulai datang satu per satu, menyusup masuk lewat celah keraguannya.
Bagaimana kalau hamba tenggelam?
Bagaimana kalau arus terlalu kuat dan hamba tersapu pergi?
Belum selesai perjalanan ini, belum sampai ke tempat yang dituju — apa semuanya berakhir di sini?
Ia mundur selangkah, lalu duduk di atas batu besar di tepi sungai. Kedua tangannya meremas ujung sarungnya. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya meski udara malam terasa sejuk. Rasa takut yang selama ini hampir tidak pernah ia rasakan — kini datang sepenuhnya, menekan dadanya berat sekali.
Di tengah kebingungan itu, suara lembut namun tegas terdengar jelas di dalam sanubarinya — suara Mbah Tunggal yang selalu ada, tak pernah pergi.
"Kau gemetar, Le. Dinginnya air belum menyentuh kulitmu — tapi hatimu sudah dingin karena takut," ucap suara itu lembut namun menembus ke dalam.
Fazam menunduk dalam, memandang air sungai yang bergulung di bawah sana. "Mbah... arusnya deras sekali. Hamba takut. Hamba akui — hamba takut mati," jawabnya pelan, jujur tanpa menyembunyikan apa yang ada di hati.
Suara Mbah Tunggal kembali terdengar, kali ini lebih hangat dan meneduhkan seperti selimut tebal di malam dingin.
"Takut itu manusiawi, Le. Bukan dosa takut. Tapi jangan biarkan rasa takut itu memimpin hatimu. Akal kecilmu melihat bahaya — dan akal itu berteriak minta mundur. Tapi bukankah sudah kau serahkan akal itu kepada-Nya? Lalu mengapa kau kembali mengambilnya sekarang?" tanyanya lembut namun dalam.
Fazam terdiam. Kata-kata itu menampar kesadarannya pelan namun pasti. Ia menarik napas panjang, lalu membiarkannya keluar perlahan.
"Benar... Hamba serahkan akal — tapi saat bahaya datang, hamba lupa dan memakainya sendiri lagi. Maafkan hamba, Mbah," ucap Fazam pelan penuh penyesalan.
"Maaf itu mudah diberikan — dan Dia pun selalu memaafkan. Sekarang dengarkan baik-baik. Sungai ini tidak lebih kuat dari yang menciptakannya. Arus ini tidak bisa bergerak satu inci pun kalau tidak diizinkan-Nya. Kalau Dia menghendaki kau menyeberang — air akan menjadi jalan. Kalau Dia menghendaki kau menunggu — fajar akan datang dan air akan surut. Yang perlu kau lakukan cuma satu: percaya. Percaya sepenuhnya — bukan setengah-setengah, bukan kalau nyaman saja," sahut Mbah Tunggal tegas namun penuh kasih.
"Tapi bagaimana caranya percaya sepenuhnya, Mbah? Hamba masih melihat bahaya di depan mata," tanya Fazam jujur.
"Percaya bukan berarti tidak melihat bahaya. Percaya berarti melihat bahaya itu, tapi tetap yakin bahwa Dia yang menjagamu lebih besar dari bahaya itu. Seperti anak kecil yang digendong di atas pundak ayahnya — ia melihat jurang di bawah, tapi ia tidak takut karena tahu yang memegangnya tidak akan melepaskan. Begitu juga hatimu — biarkan Dia yang menggendongmu," jawab Mbah Tunggal lembut.
Fazam memejamkan mata perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdoa di dalam hati sepenuh kepasrahan — bukan memaksa, bukan menuntut, hanya menyerah sepenuhnya.
Ya Allah... Hamba tidak tahu jalan. Hamba tidak tahu apa yang akan terjadi. Hanya Engkau yang tahu. Ke mana Engkau bawa — ke sanalah hamba ikut. Kalau hamba harus menyeberang — berikan kekuatan. Kalau hamba harus menunggu — berikan kesabaran. Apapun itu — hamba terima, karena Engkau yang paling tahu apa yang terbaik bagi hamba.
Saat ia membuka mata, hatinya sudah berubah. Rasa takutnya belum hilang sepenuhnya — tapi rasa percaya kini berdiri lebih tinggi daripada rasa takut. Ia tidak lagi terburu-buru ingin menyeberang atau lari menjauh. Ia duduk tenang di atas batu itu, membiarkan segala urusan diatur oleh Yang Maha Mengatur.
Belum lama ia duduk begitu, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah hulu sungai. Sesosok lelaki tua berjalan membawa perahu kayu kecil, wajahnya teduh dan langkahnya mantap. Ia berhenti di tepian tepat di hadapan Fazam.
"Kau mau menyeberang ya, Le? Tadi aku melihat dari seberang kau duduk diam berdoa. Tunggu sebentar saja aku datang menjemput," ucap lelaki tua itu ramah sambil menambatkan perahunya.
Fazam tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar penuh syukur. Matanya berkaca-kaca melihat bagaimana jawaban itu datang begitu tenang dan tepat waktu.
"Iya, Pak. Hamba ingin menyeberang. Terima kasih banyak Bapak sudah datang," jawab Fazam tulus.
Saat perahu perlahan meluncur membelah arus sungai yang deras itu, Fazam memandang ke air yang bergulung di sampingnya. Ia sadar satu hal yang sangat dalam — kadang Dia tidak menyingkirkan sungai itu dari jalan kita. Dia juga tidak selalu membuat kita berjalan di atas air. Kadang Dia mengirimkan perahu — dan perahu itu bisa berupa orang baik, kesempatan, atau pertolongan yang datang tepat pada saat kita sudah pasrah dan percaya.
Lelaki tua itu mengayuh perahunya dengan tenang. Sesampainya di seberang, ia menatap Fazam sambil tersenyum hangat.
"Teruslah berjalan dengan hati yang tenang, Le. Yang di atas langit tidak pernah tidur. Dia menjagamu lebih baik daripada kau menjaga dirimu sendiri," ucapnya lembut.
Fazam mencium tangan lelaki tua itu dengan penuh hormat. "Terima kasih, Pak. Bapak bukan sekadar menyeberangkan hamba — Bapak juga membuktikan bahwa Dia selalu mendengar doa hati yang tulus," jawab Fazam dengan suara bergetar haru.
Saat perahu kayu itu perlahan menjauh kembali ke seberang sana, Fazam melangkah masuk ke hutan di tepian sungai yang baru saja ia seberangi. Langkahnya kini ringan sekali — lebih ringan dari sebelumnya. Keraguan yang tadi sempat menekan dadanya kini sudah lenyap, digantikan kepasrahan yang luas dan damai.
Dan di dalam sanubarinya, di antara langkah kaki yang perlahan namun mantap di bawah langit malam yang sejuk, zikir lembut terus mengalir — penuh kepasrahan, penuh percaya, dan penuh syukur: