NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Pedang dari Kayu Besi Hitam

​Malam merangkak turun menyelimuti Sekte Daun Angin. Di saat para murid sibuk bermeditasi menyerap Qi atau beristirahat, tungku api di Dapur Selatan masih menyala redup, melemparkan bayangan panjang ke dinding gubuk Awan.

​Awan duduk bersila di tanah berdebu. Di pangkuannya tergeletak sebuah gelondongan Kayu Besi Hitam berumur ratusan tahun. Kayu ini adalah yang paling keras dari puluhan ribu batang yang telah ia belah selama enam bulan terakhir. Warnanya pekat seperti tinta, dan permukaannya sedingin es.

​Masalah utama Awan saat ini adalah senjata.

​Tenaga fisiknya telah mencapai tahap yang menakutkan. Ototnya memiliki daya ledak setara dengan banteng gila, dan tulang-tulangnya mengeras seperti batu karang akibat latihan tanpa henti. Jika ia menggunakan pedang besi biasa hasil tempaan fana, pedang itu akan hancur pada ayunan kesepuluh karena tidak sanggup menahan beban dari tenaga murninya. Sedangkan pedang spiritual tingkat rendah terlalu rapuh jika tidak dialiri Qi.

​"Jika besi tidak mampu menahan tenagaku, maka aku akan menggunakan kayu ini," gumam Awan. Kayu Besi Hitam dikenal sangat padat. Inti kayunya memiliki berat jenis yang melebihi baja dan kelenturan yang tidak dimiliki logam fana.

​Dengan menggunakan pisau daging besar pinjaman dari Mandor Zhu, Awan mulai memahat.

​Ia tidak memotongnya dengan mudah layaknya seniman kayu. Setiap sayatan membutuhkan tenaga penuh. Suara gesekan antara pisau baja dan inti kayu terdengar melengking, memercikkan bunga api kecil di kegelapan malam. Tangannya lecet, keringatnya menetes, namun matanya tetap fokus pada satu titik.

​Malam berganti fajar, dan fajar kembali menyongsong pagi.

​Ketika sinar matahari pertama menyentuh Puncak Daun Angin, Awan menghentikan gerakannya. Pisau daging di tangannya kini tumpul total, bilahnya gompal di mana-mana. Namun, di tangannya yang lain, tergenggam sebuah mahakarya kasar.

​Itu adalah sebuah pedang kayu.

​Panjangnya sekitar satu setengah meter, setebal tiga jari orang dewasa, tanpa ukiran, tanpa rumbai yang indah, bahkan tanpa pelindung gagang (tsuba). Warnanya hitam pekat menyerap cahaya. Namun, yang paling mengerikan adalah beratnya. Pedang kayu itu berbobot hampir lima puluh kilogram! Bagi manusia biasa, mengangkatnya saja butuh dua tangan, apalagi mengayunkannya.

​Awan berdiri. Ia menggenggam gagang pedang kayu itu dengan satu tangan.

​Swush!

​Ia mengayunkannya perlahan ke udara kosong. Suara angin yang robek terdengar berat dan mendengung, seakan ruang di sekitarnya ikut tertekan. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Pedang ini kokoh, brutal, dan sempurna untuknya.

​Tiga hari kemudian, Paviliun Pendaftaran Sekte berdesak-desakan.

​Ribuan Murid Luar berkumpul untuk mendaftarkan diri dalam Kompetisi Murid Luar tahunan. Kompetisi ini adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan Pil Pemecah Batas dan promosi menjadi Murid Dalam yang dihormati. Udara dipenuhi oleh aura Qi yang saling bertabrakan, menciptakan tekanan yang membuat napas terasa sesak.

​Di antara lautan jubah biru yang indah, sesosok pemuda berpakaian seragam pelayan abu-abu kasar berjalan membelah kerumunan. Di punggungnya terikat sebatang kayu hitam yang tampak seperti tongkat pemukul biasa.

​Kemunculan Awan langsung menarik perhatian. Tatapan jijik, heran, dan meremehkan dilemparkan dari segala arah.

​"Apa yang dilakukan seorang pelayan rendahan di sini? Apakah dia tersesat saat mau mengantar air?" cibir seorang murid wanita berwajah cantik namun bermulut tajam.

​"Tunggu, bukankah dia budak fana yang kabarnya mematahkan tulang rusuk Ma Bo tempo hari?" bisik murid lainnya, menatap Awan dengan sedikit keraguan.

​"Omong kosong! Ma Bo sedang sakit keras karena salah mempraktikkan teknik kultivasi. Mana mungkin seorang manusia fana bisa menyentuh kultivator Alam Pengumpul Qi?" bantah temannya.

​Awan mengabaikan semua kebisingan itu. Ia telah belajar sejak lama bahwa kata-kata tidak memiliki bobot, hanya tindakan yang bisa membelah dunia. Ia berjalan lurus menuju meja pendaftaran di depan aula.

​Di balik meja itu, seorang Tetua Sekte bertubuh kurus sedang mencatat nama-nama peserta dengan pena bulu. Ketika Awan berdiri di depannya, tangan Tetua itu terhenti.

​"Kau salah tempat, Bocah. Tempat pengambilan kayu bakar ada di paviliun sebelah," ucap Tetua itu tanpa mengangkat wajahnya.

​"Saya datang untuk mendaftar Kompetisi Murid Luar, Tetua," jawab Awan sopan namun tegas.

​Seketika, tawa meledak di sekitar meja pendaftaran. Beberapa Murid Luar memegang perut mereka karena menganggap ucapan Awan sebagai lelucon paling lucu tahun ini.

​Tetua itu akhirnya mengangkat wajahnya, alisnya berkerut tajam. Ia melepaskan sedikit tekanan Qi Spiritualnya, bermaksud membuat Awan berlutut ketakutan. "Jangan kurang ajar. Ini bukan tempat untuk mencari mati. Kau sama sekali tidak memiliki fluktuasi Qi. Meridianmu tertutup. Jika kau masuk ke arena, lawannmu bisa membunuhmu hanya dengan satu jentikan jari!"

​Namun, tekanan Qi yang seharusnya membuat manusia fana tersungkur itu, sama sekali tidak bereaksi pada Awan. Otot-ototnya yang sekeras baja dan kepadatan tulangnya menahan tekanan itu dengan diam. Awan tetap berdiri tegak bak pohon pinus tua yang menantang badai.

​"Pasal Ketujuh dari Peraturan Sekte Daun Angin," suara Awan terdengar tenang dan jelas, menembus gelombang tawa. "Setiap murid pelayan yang telah mengabdi lebih dari enam bulan, berhak menantang Murid Luar di arena kompetisi. Jika menang, ia berhak mengambil alih status Murid Luar tersebut, terlepas dari tingkat kultivasi atau bakat yang dimilikinya."

​Mata Tetua itu sedikit melebar. Pasal itu memang ada, namun itu adalah peraturan kuno yang sudah puluhan tahun tidak digunakan, semata-mata karena tidak pernah ada murid pelayan yang cukup bodoh—dan berani—untuk menantang kultivator di atas panggung kematian.

​Sebelum Tetua itu bisa menolak, sebuah suara tua namun berwibawa terdengar dari balkon lantai dua Paviliun.

​"Biarkan dia mendaftar."

​Semua orang mendongak. Itu adalah Penatua Kuang, pengawas ujian yang membawa Awan ke sekte ini setengah tahun lalu. Penatua Kuang menatap Awan dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Langit tidak pernah menutup semua jalan, tetapi jalan yang tersisa sering kali diaspal dengan darah," kata Penatua Kuang dari atas. "Jika dia ingin menguji kefanaannya melawan kehendak langit, biarkan arena yang menjadi hakimnya."

​Tetua pendaftaran menelan ludahnya, lalu mengangguk patuh. Dengan enggan, ia menuliskan nama Awan di sebuah plakat kayu dan melemparkannya ke atas meja.

​"Nomor urut 804. Besok pagi di Arena Utama. Nyawamu sekarang ada di tanganmu sendiri."

​Awan mengambil plakat kayu itu. Ia membungkuk ke arah Penatua Kuang di lantai dua, berbalik, dan berjalan meninggalkan paviliun. Langkahnya berat dan mantap. Setiap kali kakinya memijak ubin batu, terdengar suara gesekan samar, menandakan bobot luar biasa dari otot dan pedang kayu di punggungnya.

​Saat bayangannya menghilang di balik gerbang, para Murid Luar kembali berbisik-bisik, menantikan pertunjukan darah esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!