Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Tiba-tiba, suara langkah kaki tegap yang berat terdengar mendekat dari arah luar koridor, panik luar biasa langsung merenggut kewarasan Kyra. Otaknya mendadak kosong, tidak mungkin bagi Kyra untuk berlari keluar karena jaraknya sudah terlalu dekat dengan pintu.
Dalam beberapa detik yang mendebarkan, Kyra melihat ke bawah meja kerja Brian yang tertutup tirai taplak meja panjang berwarna hitam legam.
Tanpa berpikir panjang, Kyra langsung menjatuhkan diri, merangkup masuk dan bersembunyi di kolong meja kerja tersebut, meringkuk rapat dalam kegelapan.
Ceklek.
Pintu ruang kerja terbuka lebar. Langkah kaki itu masuk, diikuti dengan suara derit kursi kulit berat yang ditarik ke belakang. Brian mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, tepat di atas kepala Kyra saat ini. Gadis itu menahan napasnya rapat-rapat, bahkan detak jantungnya sendiri terasa begitu gaduh di dalam rongga dadanya.
Tak berselang lama, pintu ruangan kembali diketuk dan dibuka. Mark masuk dengan langkah tergesa namun tetap formal.
"Tuan Brian, masalah ekspansi lahan konsorsium di area Selatan sudah mulai memanas. Keluarga Andreas terus-menerus mendesak dan mencoba mencari cara untuk mendekati kita lewat proyek itu, tapi tim keamanan kita sudah memblokir semuanya," lapor Mark dengan suara tegas.
Di bawah meja, Kyra mengepalkan kedua tangannya mendengar nama keluarganya disebut.
Brian mendengus dingin dari kursinya, "Biarkan saja mereka stres sendiri, keluarga itu sudah di ambang kebangkrutan, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi," balas Brian dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa.
"Baik, Tuan. Ada satu lagi laporan keuangan dari... ehm...," Mark mendadak menghentikan kalimatnya karena sebuah benda kecil di tangan Brian tidak sengaja tersenggol.
Pluk.
Sebuah pulpen mewah bermerk milik Brian tergelincir dari tepi meja dan jatuh tepat ke lantai bawah, menggelinding hingga masuk ke area kolong meja tempat Kyra bersembunyi.
Tubuh Kyra serta-merta menegang kaku bagai disambar petir. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, ia melihat pulpen itu berhenti tepat di dekat ujung sepatunya.
'Mati aku,' batin Kyra menjerit ngeri, Brian pasti akan menunduk dan melihatnya bersembunyi seperti maling di sini.
Di atas sana, kursi bergeser pelan. Brian membungkukkan tubuhnya untuk mengambil pulpen miliknya yang terjatuh, pria itu mengintip ke kolong meja... dan seketika itu juga, manik mata cokelat gelapnya beradu pandang dengan mata bulat Kyra yang membelalak ketakutan dalam gelap.
Untuk sepersekian detik, suasana di ruangan itu seolah membeku. Mark yang berdiri membelakangi meja tidak menyadari apa yang sedang terjadi di bawah sana.
Namun, alih-alih berteriak atau memanggil pengawal untuk menyeret Kyra keluar, sudut bibir Brian justru terangkat membentuk sebuah seringai tipis yang sarat akan makna tersembunyi.
Brian mengambil pulpennya, lalu dengan gerakan cepat namun tenang, ia merendahkan wajahnya mendekati kolong meja. Sebelum Kyra sempat menarik mundur tubuhnya, tangan kokoh Brian sudah mencengkeram tengkuk Kyra lembut, menarik wajah gadis itu sedikit mendongak ke atas dan mendaratkan sebuah ci*man kilat yang hangat, basah dan menuntut tepat di bibir Kyra.
Chup.
Ci*man itu terjadi begitu cepat dalam hitungan detik, membuat napas Kyra tertahan di tenggorokan dan wajahnya langsung memerah padam hingga menjalar ke leher.
Brian menegakkan kembali tubuhnya dengan santai dan merapikan kancing jasnya, lalu kembali berbicara kepada Mark seolah-olah tidak terjadi apa-apa di bawah sana.
"Lanjutkan laporanmu, Mark," ucap Brian dengan suara datar tanpa beban.
Mark yang sama sekali tidak tahu menahu mengangguk patuh, "Baik, Tuan...,"
Sementara itu di bawah meja, Kyra hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan jantung yang berdegup liar dan merutuki keisengan suaminya yang benar-benar di luar nalar manusia.
Napas Kyra masih memburu dalam gelapnya kolong meja kerja, sementara di atas sana, suara percakapan antara Brian dan Mark terus berlanjut seolah tidak terjadi apa-apa. Jantungnya bergemuruh liar, bukan hanya karena takut ketahuan mengintip berkas rahasia, tetapi karena sengatan ci*man kilat di bawah kolong meja tadi terasa begitu nyata dan mempermainkan kewarasannya.
'Pria ini benar-benar gila!' batin Kyra merutuk kesal sambil menggigit bibir bawahnya.
Brian tetap memasang wajah sedingin es di hadapan asisten pribadinya, sementara detik sebelumnya baru saja mempermalukan sekaligus membuat darah Kyra mendidih.
"Baiklah, Mark. Untuk urusan ekspansi lahan di area Selatan, pastikan tidak ada kendala apa pun, jangan sampai mereka menyusup dan nekat melakukan apapun, kita harus waspada lebih dahulu terhadap mereka," suara bariton Brian mengakhiri percakapan di atas.
"Baik, Tuan. Saya akan memperketat pengamanan," jawab Mark.
"Keluar," perintah Brian.
"Saya permisi, Tuan," balas Mark.
Suara langkah kaki Mark bergeser menjauh dan disusul oleh derit pintu ruang kerja yang tertutup rapat, ruangan itu kembali jatuh dalam keheningan yang pekat.
Kyra masih bergeming di tempatnya, enggan keluar dari persembunyian sebelum ia mendengar langkah kaki Brian mendekat. Namun, detik berikutnya, bayangan hitam tubuh tegap Brian tertangkap oleh matanya. Suara gesekan sepatu kulit terdengar mendekat perlahan, berhenti tepat di hadapan meja kerja.
Brian memundurkan kursinya. Sontak, pendar cahaya lampu ruangan langsung menyengat mata Kyra. Kyra mendongak dengan wajah memerah padam, mendapati Brian tengah berjongkok di hadapannya dengan sebelah tangan menopang lutut dan seringai tipis menghiasi bibir tegas pria itu.
"Suka bersembunyi di tempat seperti ini, Nyonya Raymond?" tanya Brian dengan nada rendah yang sarat akan ejekan terselubung.
Kyra menelan ludahnya dengan susah payah, ia mencoba merangkak mundur namun pundaknya langsung membentur dinding panel kayu di belakang meja.
"A-aku... aku tadi cuma mau mengantar jus mangga titipan Mama, tapi karena ruangannya kosong, aku... aku cuma ingin merapikan meja ini," elak Kyra mencari alasan.
Brian tidak langsung percaya, manik mata cokelat gelapnya menyapu wajah Kyra yang tampak salah tingkah, lalu beralih pada tumpukan berkas di atas meja yang sedikit bergeser dari posisi semula.
Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya dan mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan, bau maskulin berpadu dengan aroma rokok mahal langsung menguasai indra penciuman Kyra.
"Merapikan meja?" tanya Brian, seolah meragukan jawaban Kyra.
Kyra terkesiap kecil, mata bulatnya menatap lurus ke dalam manik mata Brian dan menyadari bahwa pria di hadapannya ini tidak bisa dibohongi dengan alasan bodoh apa pun, Brian tahu persis apa niat tersembunyinya.
"A-aku hanya merapikan meja udah itu aja," jawab Kyra gugup.
"Lalu, kenapa kau sembunyi?" tanya Brian.
"A-aku hanya gugup karena tadi tidak ada orang di sini," jawab Kyra.
"Jawabanmu masih belum bisa kuterima," balas Brian.
"Lalu aku harus bagaimana? Memang itu jawabannya, aku terllau gugup sampai aku tiba-tiba sembunyi," tanya Kyra.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu