Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Rahasia yang Dibisikkan
Rumah Nenek Ratna malam itu tidak menyalakan semua lampu.
Ruang tengah hanya diterangi lampu kuning di atas meja kayu tua. Bayangan tongkat Nenek Ratna jatuh panjang di lantai, seperti garis yang membelah keluarga itu menjadi dua.
Pak Yunan duduk paling depan.
Pak Junaidi berada di sampingnya, memegang kalkulator kecil meski tidak ada angka yang benar-benar perlu dihitung.
Tante Juanita beberapa kali menatap pintu.
Mama Ayu duduk di kursi dekat jendela, wajahnya kaku.
"Hadiprana sudah memberi jawaban," kata Pak Yunan.
Nenek Ratna mengetukkan tongkatnya satu kali.
"Bicara."
"Mereka bisa buka proyek kerja sama sampai Rp 100 Miliar. Distribusi, hospitality, dan beberapa kontrak keamanan."
Mata Pak Junaidi langsung hidup.
"Kalau begitu kita harus ambil."
Tante Juanita ragu. "Tapi syaratnya..."
"Syarat bisa dibicarakan," potong Pak Junaidi. "Bisnis sebesar itu tidak datang dua kali."
Mama Ayu mengepalkan tangan di pangkuan.
"Syaratnya Jessica, kan?"
Ruang itu hening sebentar.
Pak Yunan menatapnya tidak senang.
"Jangan bilang seolah-olah kita menjual orang. Vincent hanya ingin Jessica dekat dengannya. Mungkin jadi pendamping sosial. Pacar gelap... istilah orang sekarang saja."
"Dia sudah menikah!" suara Mama Ayu naik.
Pak Junaidi mencibir. "Menikah dengan Hendry? Laki-laki yang hidup dari belas kasihan Budiman?"
"Hendry sudah banyak membantu keluarga kita."
Pak Yunan tertawa. "Membantu? Kita butuh Rp 100 Miliar, bukan makan malam gratis dan pertunjukan menari."
Nenek Ratna mengangkat tangan.
Semua diam.
"Ayu," katanya pelan, "Jessica cucumu? Atau cucuku?"
Mama Ayu menggigit bibir.
"Dia anakku."
"Dia darah Wirawan juga. Jika pengorbanan kecil dari satu orang bisa menyelamatkan banyak orang, itu bukan menjual. Itu tanggung jawab keluarga."
Di balik pintu samping, napas Michelle Mahendra hampir berhenti.
Ia datang untuk mengantar obat herbal dari Mama Ayu yang tertinggal di mobil. Ia tidak berniat mendengar apa pun.
Namun kalimat "pacar gelap" membuat seluruh tubuhnya dingin.
Mereka sedang membicarakan Mbak Jessica.
Mereka benar-benar sedang membicarakan Mbak Jessica seperti barang.
Michelle mundur pelan.
Kakinya hampir menyenggol pot bunga, tetapi ia menahan napas dan berhasil keluar dari koridor.
Begitu sampai halaman, ia berlari ke motor listrik kecilnya.
Tangannya gemetar saat menyalakan mesin.
"Mbak Jessica harus tahu," bisiknya.
Motor listrik itu meluncur keluar dari gang rumah Nenek Ratna.
Angin malam menampar wajahnya.
Di Taman Indah Residence, Jessica sedang menutup laptop. Ia baru selesai menyusun jadwal produksi untuk kontrak Surya Abadi ketika bel rumah berbunyi cepat.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Hendry yang berada di ruang kerja membuka pintu lebih dulu.
Michelle berdiri di luar, wajah pucat, rambut berantakan karena helm.
"Mas Hendry..."
"Masuk."
Jessica keluar dari ruang makan. "Michelle? Ada apa?"
Michelle melihat kakaknya.
Matanya langsung merah.
"Mbak, mereka mau menyerahkan kamu ke Vincent."
Seluruh rumah menjadi sunyi.
Jessica tidak langsung mengerti.
"Apa maksudmu?"
Michelle bicara cepat. Terpotong-potong. Tentang rapat keluarga. Tentang Rp 100 Miliar. Tentang kata pacar gelap. Tentang Nenek Ratna yang menyebut pengorbanan kecil.
Setiap kata seperti jarum.
Wajah Jessica perlahan kehilangan warna.
Mama.
Nenek.
Wirawan keluarga.
Mereka kemarin berlutut di hadapannya.
Hari ini mereka menghitung harga dirinya.
Hendry berdiri di sampingnya.
Ia sudah tahu sebagian dari Rizal.
Namun ia tetap membiarkan Jessica mendengar dari Michelle, karena keputusan memutus tali itu harus keluar dari Jessica sendiri.
Jessica mengambil kunci mobil.
"Aku ke rumah Nenek."
Hendry berkata, "Aku ikut."
"Ini urusan keluargaku."
"Aku suamimu."
Jessica menatapnya.
Kali ini, ia tidak menolak.
Rumah Nenek Ratna belum selesai rapat ketika pintu depan terbuka keras.
Semua orang menoleh.
Jessica masuk.
Di belakangnya, Hendry berjalan tenang. Michelle ikut di belakang, masih gemetar tapi tidak mundur.
Nenek Ratna mengerutkan dahi.
"Jessica, siapa yang menyuruhmu datang malam-malam?"
Jessica berhenti di tengah ruang.
Matanya memandang satu per satu wajah keluarga itu.
Pak Yunan menghindari tatapannya.
Pak Junaidi justru memasang wajah tidak bersalah.
Tante Juanita menunduk.
Mama Ayu berdiri setengah, tetapi tidak berani mendekat.
"Nenek," suara Jessica pelan, "Nenek mau menjual cucu sendiri demi uang?"
Kata-kata itu jatuh seperti kaca pecah.
Nenek Ratna wajahnya mengeras.
"Jaga mulutmu."
"Aku bertanya."
"Kamu tidak mengerti gambaran besar keluarga."
"Gambaran besar?" Jessica tertawa sekali. Tidak ada kegembiraan di dalamnya. "Ketika kalian butuh kontrak, kalian berlutut. Ketika kontrak itu dianggap kurang besar, kalian menyebutku gagal. Sekarang ketika Hadiprana menawarkan uang, kalian membicarakan aku seperti jaminan proyek."
Pak Yunan berdiri.
"Jessica, jangan dramatis. Vincent Hadiprana bukan orang sembarangan. Kalau kamu dekat dengannya, kamu juga dapat keuntungan."
Hendry meliriknya.
Pak Yunan langsung merasa tengkuknya dingin, tetapi sudah terlambat.
Jessica menatap pamannya.
"Aku sudah menikah."
Pak Junaidi tertawa kecil. "Pernikahan bisa diatur. Keluarga lebih penting daripada perasaan pribadi."
Michelle tidak tahan lagi.
"Pak Junaidi gila! Mbak Jessica bukan barang!"
"Anak kecil diam!"
Hendry melangkah setengah maju.
Pak Junaidi langsung menutup mulut.
Nenek Ratna mengetukkan tongkatnya keras.
Tok!
"Cukup. Jessica, jika kamu masih menganggap dirimu bagian dari Wirawan, kamu harus mendengar keputusan keluarga."
Jessica menatap wanita tua itu lama sekali.
Dulu, Nenek Ratna adalah suara yang tidak bisa ia bantah.
Hari ini, suara itu terdengar jauh.
Seperti pintu yang akhirnya ia tutup dari dalam.
"Kalau begitu aku memilih tidak menjadi bagian dari keputusan seperti ini."
Mama Ayu menarik napas.
"Jessica..."
Jessica menoleh kepada ibunya.
"Ma, kalau Mama ingin menahanku, katakan sekarang."
Mama Ayu membuka mulut.
Di satu sisi ada Nenek Ratna, wanita yang seumur hidup membuatnya tunduk.
Di sisi lain ada putrinya, dengan mata merah tapi punggung lurus.
Mama Ayu tidak bicara.
Ia tidak melangkah maju.
Ia juga tidak menghalangi.
Jessica mengangguk perlahan.
Ada luka di wajahnya.
Tapi juga ada kebebasan.
"Mulai sekarang, urusan bisnis keluarga Wirawan bukan urusanku lagi."
Nenek Ratna berdiri dengan marah.
"Kamu akan menyesal."
"Tidak." Jessica menggenggam tangan Michelle. "Yang aku sesali hanya terlalu lama percaya kalian akan menghargai aku."
Ia berbalik.
Hendry berjalan di sampingnya.
Saat melewati Nenek Ratna, Hendry berhenti sebentar.
"Keluarga yang menjual anak sendiri demi uang tidak layak menyebut diri keluarga."
Nenek Ratna menatapnya dengan wajah membeku.
Hendry tidak menunggu jawaban.
Mereka pergi.
Malam itu, setelah mengantar Jessica dan Michelle pulang, Hendry masuk ke ruang kerja.
Jessica tidak bertanya apa yang akan ia lakukan.
Ia hanya berkata, "Jangan biarkan mereka menyentuh Michelle."
"Tidak akan."
Pintu ruang kerja tertutup.
Hendry menelepon Cynthia.
Panggilan tersambung cepat.
"Hendry?"
"Mulai eksekusi."
Di seberang, suara Cynthia langsung berubah profesional.
"PT Megah Sentosa?"
"Satu bulan. Bawa harga sahamnya di bawah Rp 800. Buka semua posisi short yang sudah disiapkan. Tekan jalur kreditnya. Cari titik retak di proyek properti mereka."
"Risikonya besar."
"Aku bayar risikonya."
"Baik."
Cynthia berhenti sebentar.
"Mereka menyentuh Jessica?"
Mata Hendry dingin.
"Mereka mencoba menjualnya."
Tidak ada suara selama dua detik.
Lalu Cynthia berkata, "Kalau begitu, saya tidak akan hemat."
Hendry menutup telepon.
Setengah jam kemudian, ia berada di sebuah gudang kosong di pinggir kota.
Bagus berdiri di pintu.
Di tengah gudang, Rudi Santoso duduk dengan wajah gugup. Ia adalah perantara yang beberapa hari terakhir membawa pesan Hadiprana ke Wirawan keluarga.
Ketika melihat Hendry masuk, Rudi mencoba berdiri.
"Pak Hendry, ini salah paham."
Hendry berjalan mendekat.
"Kamu menyampaikan syarat Vincent?"
"Saya cuma utusan."
"Utusan tetap punya kaki untuk datang dan mulut untuk bicara."
Rudi menelan ludah.
"Hadiprana tidak akan diam kalau..."
Hendry menamparnya.
Tamparan itu tidak memakai seluruh tenaga.
Namun cukup membuat Rudi jatuh ke lantai.
Ia belum sempat bangkit ketika Hendry menendang kursi di sampingnya hingga terlempar.
Rudi merangkak mundur.
"Pak, ampun!"
Hendry mencengkeram kerahnya dan mengangkatnya sampai lututnya hampir tidak menyentuh lantai.
"Dengar baik-baik."
Rudi gemetar.
"Kembali dan sampaikan ke Vincent Hadiprana."
Hendry mendekatkan wajahnya.
"Keluarga Hadiprana akan hancur dalam tiga sampai enam bulan."
Rudi terbelalak.
"Ini bukan ancaman."
Hendry melepas cengkeramannya.
Rudi jatuh ke lantai, napasnya patah-patah.
Hendry berbalik menuju pintu.
Di luar gudang, Kota Biru terbentang dalam malam yang luas dan dingin.
Suara Hendry jatuh terakhir kali.
"Ini janji."