Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Fitnah Baru
Pernikahan Diyah dan Biyakta memang membuat geger satu desa, karena tanpa pacaran mereka langsung melangkah ke jenjang yang lebih serius. Namun, di samping itu kabar miring tak kalah santer, memojokkan Diyah—sebagai si Upik Abu yang dinikahi pangeran.
"Ibu-ibu udah denger belum berita yang lagi panas?" Salah seorang ibu berdaster membuka obrolan, hingga semua orang yang sedang belanja sayur menatap ke arahnya.
"Kenapa tuh, Bu Leni?" tanya mereka dengan dahi berkerut.
Wanita yang dipanggil Bu Leni itu langsung mencondongkan badannya dan menggunakan suara yang lebih kecil. "Itu Si Diyah, katanya pake pelet."
Sontak ibu-ibu, juga tukang sayur terkejut mendengar berita itu. Pasalnya mereka mengenal Diyah sebagai wanita yang cukup baik, hanya susah cari jodoh saja.
"Pantas saja anak juragan langsung kepincut," balas salah seorang yang langsung menelan mentah-mentah. Padahal Bu Leni juga tak bisa membuktikan ucapannya, karena dia juga dengar dari orang lain.
"Kalau yang aku dengar sih dikasih air doa, makanya cepat sekali dilamar, kan Bapaknya lumayan deket tuh sama Juragan," sahut yang lain.
"Kata siapa itu?"
"Itu ibu mantannya, ibunya Cakra."
Bisik-bisik itu menyebar dari warung ke warung. Hingga akhirnya sampai ke telinga Diyah yang pagi itu sedang berbelanja. Dia tertegun, lalu menelan ludahnya susah payah. Namun, dia tak ingin terlihat gugup, jadi dia berusaha semaksimal mungkin menetralkan mimik wajahnya.
"Bu, tempenya dua papan ya," kata Diyah pada penjaga warung. Suara ibu-ibu langsung hilang bak ditelan bumi, mereka hanya saling sikut, menatap Diyah dengan tatapan penuh analisis.
"Sepuluh ribu," jawab penjaga warung, Diyah langsung menyerahkan uang pas, kemudian berjalan cepat untuk pulang.
Perasaannya mendadak tak karuan mendapat fitnah sekeji itu. Apalagi datangnya dari sosok yang pernah sangat dia hormati, ibu Cakra.
Karena terlalu banyak berpikir dia sampai tak sadar sudah berada di teras rumah. Bersamaan dengan itu Sarmila hendak keluar, tetapi bukan itu fokus Diyah. Melainkan benda yang ada di bahu adiknya.
Diyah melihatnya dengan seksama.
"Mila, itu bukannya tasku? Tas yang ada di bingkisan hantaran?" tanya Diyah untuk menghentikan langkah Sarmila. Sontak gadis itu menoleh dengan sinis.
"Iya, emang kenapa? Lagian Kak Diyah kan dapat banyak, masa aku minta satu saja nggak boleh," jawab Sarmila tanpa merasa bersalah. Karena dia juga ingin barang-barang mahal untuk dipamerkan ke teman-temannya.
Namun, hari ini Diyah tak mengalah seperti biasanya, dia segera merebut tas itu kembali, dan didorong oleh Sarmila yang berusaha mempertahankan.
"Apaan sih, Kak!" bentaknya.
Tempe yang ada di tangan Diyah terlempar, tapi Diyah tak peduli. Dia hanya ingin barangnya kembali, sebab itu semua adalah haknya.
"Kamu ambil barang itu tanpa izin, jadi kembalikan!" cetus Diyah yang membuat Sarmila makin bersungut-sungut.
"Nggak, aku nggak mau," tegas Sarmila sambil memeluk tas tersebut.
"Tapi itu tasku, Mila," balas Diyah, masih berusaha mengatur intonasi suaranya agar tidak meledak. "Kembalikan!"
"Heuh, Kakak ini pelit sekali ya. Harusnya Kakak ingat, kalau bukan karena aku yang menawarkan Kakak pada Asisten Juragan Marta, Kakak tidak akan mungkin menikahinya. Bahkan saat ini pasti Kakak masih menangisi Mas Cakra!" cerocos Sarmila, membuka kembali luka yang sedang mati-matian Diyah sembuhkan.
Sementara orang-orang yang mendengar keributan itu, sontak keluar dari dalam rumah, termasuk Biyakta yang awalnya tengah membaca buku di dalam kamar.
"Bicara apa kamu, Mila?"
Diyah tergugu.
"Apa yang aku bilang benar 'kan? Hanya karena diputuskan Mas Cakra Kakak sampai menangis berhari-hari, hah cengeng sekali," ejek Sarmila yang langsung mendapat tarikan kasar dari ibunya.
"Mila, tutup mulutmu!"
"Bu, mentang-mentang Kakak sudah jadi menantu juragan dia jadi perhitungan!"
Sekali lagi ibunya memberi isyarat agar dia diam.
"Aku hanya ingin mengambil milikku, kalo kamu mau aku bisa belikan," ujar Diyah masih berbaik hati kepada adiknya. Namun, dengan cepat Sarmila menggeleng, tak mau kalah.
"Mila, jangan cari masalah dengan Kakakmu," ujar Nuni, ikut angkat bicara.
Sarmila mendengus kasar. Karena bahkan ibu kandungnya sendiri tidak membelanya, akhirnya dia mengambil semua barang-barang yang ada di dalam tas, lalu melemparkannya ke arah Diyah.
"Ambil tuh!" ketus Sarmila. "Pantes aja Mas Cakra kabur, Kakak tuh nggak asik, terlalu kaku dan kolot. Siapa yang tahan sama Kakak?" lanjutnya sambil melenggang masuk ke dalam rumah.
Nama itu membuat Biyakta menoleh pelan. Dia tak keluar dan memilih untuk berdiri di balik dinding kamar.
"Cakra?" gumam Biyakta, merasa tak asing dengan nama tersebut.
Sedangkan Diyah langsung menghela napas panjang. Nuni yang berada di sampingnya mengelus bahunya dengan rasa bersalah.
"Nak, maafin Mila yah. Adikmu benar-benar sangat keterlaluan, biar nanti ibu tegur lagi," kata Nuni dengan kerutan di dahi. Diyah langsung menggenggam tangan ibunya, lalu menundukkan kepala.
"Nggak apa-apa, Bu, dia masih labil. Semakin dewasa nanti juga dia mengerti," jawab Diyah berusaha lapang dada.
Melihat suasana yang tidak nyaman, Biyakta memilih kembali ke kamar tanpa memperlihatkan bahwa dia mendengar semua percakapan itu.
****
Hari ini, tepatnya saat sore tiba, Biyakta langsung mengajak Diyah berkemas. Sesuai kesepakatan bahwa mereka berdua akan tinggal di kediaman Juragan Marta. Diyah tak bisa menolak, sebab dia sadar bahwa rumahnya bukanlah tempat yang nyaman untuk Biyakta, kasur mungil, tempat sempit, juga kamar mandi yang mengantre, dia yakin Biyakta tidak biasa dengan itu semua.
Mereka berdua menggunakan mobil yang diantar Surya. Setelah berpamitan dengan keluarga, Diyah langsung naik, dia sempat melirik ke arah Sarmila yang terus menatapnya sinis. Dan dia hanya menghela napas.
'Kenapa sih harus Kakak yang mendapatkan semua kemewahan itu?' batin Sarmila, melalui tatapannya yang jelas menunjukkan kecemburuan.
Dalam perjalanan pulang, entah sengaja atau tidak mobil mereka melewati jalan tempat rumah Cakra berada. Diyah mengenali jalan itu.
Tangannya perlahan menyentuh kaca mobil.
"Mas, bisa dibuka?" tanya Diyah sambil melirik Biyakta yang sedang menyetir. Pria itu segera mengangguk.
Kaca di sampingnya langsung terbuka.
Biyakta melirik sekilas.
"Kenapa dibuka?" tanyanya.
"Udara sore enak. Aku juga bisa melihat pemandangan desa dengan lebih jelas," jawab Diyah. Padahal sebenarnya, mata Diyah melihat seseorang yang sedang menyapu halaman.
Ibu Cakra.
Wanita paruh baya itu mendongak saat mendengar suara deru mobil. Tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik. Diyah sengaja menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Seakan sedang menunjukkan inilah kehidupannya sekarang.
Diyah mengulas senyum dan mengangguk sopan. Namun, dari kacamata ibu Cakra semua itu terlihat seperti sedang meremehkannya, niat pamer.
Dari tempatnya berdiri wanita itu menggenggam sapu dengan sangat erat. Wajahnya pun tak dipenuhi keramahan.
"Apa maksudnya? Senyum mengejek seperti itu? Dia pikir aku iri?" gerutu Ibu Cakra sambil terus mengikuti mobil mewah yang tengah melintasi jalan desa.
"Sebentar lagi Cakra juga bisa mendapatkan itu semua. Lihat saja, Diyah!" lanjutnya dengan hati yang bergemuruh. Dia sangat yakin, bahwa keluarga Rani juga punya segalanya di kota. Setelah menikah dia bisa memamerkan itu semua ke warga.
Kaca mobil kembali tertutup secara perlahan. Diyah mengulas senyum lagi, karena dia telah mampu melewati rumah yang dulu sering dia datangi tanpa lagi merasakan sesak di dada. Malah sekarang dia puas melihat wajah ibu Cakra yang masam, wanita yang habis-habisan memfitnahnya.
Biyakta melirik sekilas ke arah istrinya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Diyah mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum kecil.
"Aku baik-baik saja, Mas," balas Diyah.
Biyakta kembali fokus ke depan, tetapi otaknya seakan sedang menyusun teka-teki. Dia sadar bahwa tingkah laku istrinya pasti memiliki maksud.
rani hamil anaknya cakra apa bevar anaknya cakra?
makanya sarimi jangan sombong dan ber lagu,,,,kan dapat karma....
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.