NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Formasi Jaring Darah

Langit kuning suram di atas Sisa-sisa Istana Naga Primal memancarkan aura kesunyian yang telah bertahan selama jutaan tahun. Di tempat yang dulunya merupakan keagungan penguasa langit ini, kini hanya tersisa mayat sebesar benua yang membeku dalam waktu.

Di antara hutan pilar-pilar batu yang sesungguhnya adalah serpihan tulang rusuk naga yang mencuat dari balik sisik raksasa Tiga Puluh Enam Bayangan Pil Berdarah menyebar bagaikan hantu. Mereka tidak mengeluarkan suara napas, langkah kaki mereka bahkan tidak menggeser sebutir debu pun. Mereka adalah mesin pembunuh yang ditempa dalam tungku racun Klan Pil Emas.

Pemimpin mereka, seorang pria berpostur bungkuk dengan wajah tertutup topeng perunggu, memancarkan fluktuasi Ascendant Tahap Awal. Di kedua tangannya, sepasang belati bergerigi memancarkan cahaya hijau pekat. Setiap tetesan embun yang menyentuh ujung belati itu langsung mendesis dan menguap menjadi asap beracun.

"Target telah dipastikan. Perintah Patriark Yan Zun mutlak: Hancurkan Dantian pria berjubah hitam itu, bawa kepalanya, dan tangkap wanita es di sebelahnya hidup-hidup," suara serak pemimpin bayangan itu bergema melalui transmisi Qi ke tiga puluh lima bawahannya yang semuanya berada di ranah Soul Transformation Tahap Akhir.

Di tengah pengepungan yang mematikan itu, Zeng Niu berdiri dengan santai. Angin purba yang membawa aroma darah kering meniup jubah hitamnya. Ia tidak terlihat panik, justru memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak pelan.

"Klan Pil Emas benar-benar klan yang menjunjung tinggi tata krama," Zeng Niu menyeringai biadab, matanya yang tajam menyapu area bayangan di sekelilingnya. "Mereka tahu aku baru saja kehabisan batu roh di pelelangan, dan langsung mengirim tiga puluh enam donatur berhati mulia untuk menyambutku di pintu masuk alam rahasia."

Di belakangnya, Zhao Ying berdiri tenang. Lapisan tipis es abadi menyelimuti kulitnya, melindunginya dari hawa kotor dimensi purba ini.

"Mereka menggunakan racun pengorbanan jiwa," ucap Zhao Ying datar. "Hati-hati. Racun dari Langit Selatan dirancang untuk menembus Qi pelindung dan langsung melelehkan Dantian."

"Bagus. Darah asuraku sedang butuh sedikit bumbu," kekeh Zeng Niu.

Di balik bayang-bayang pilar tulang, mata si topeng perunggu menyipit dingin. Kesombongan mangsanya adalah sesuatu yang sering ia lihat sebelum targetnya berubah menjadi genangan darah.

"Laksanakan Formasi! Eksekusi!"

Seiring dengan raungan mental sang pemimpin, tiga puluh lima bayangan melesat serentak membentuk formasi melingkar di udara. Mereka merogoh kantong penyimpanan masing-masing dan melemparkan ribuan butir pil berwarna merah darah ke arah Zeng Niu dan Zhao Ying.

Pil-pil itu tidak menghantam target, melainkan meledak di udara secara bersamaan!

BLAAAAAAR!

Kabut darah beracun yang luar biasa pekat menyelimuti radius seratus tombak. Ini adalah Formasi Jaring Darah Pelebur Tulang, teknik pembunuhan terlarang milik Klan Pil Emas. Bahkan seorang ahli Ascendant Tahap Awal yang terjebak di dalamnya akan merasakan dagingnya meleleh dari tulang dalam hitungan sepuluh tarikan napas!

Namun, di tengah kepungan kabut mematikan itu, tawa gila justru terdengar melengking.

"Kalian menyebut ini racun?! Dibandingkan dengan asam di dalam perut Penelan Karma, kabut kalian ini lebih terasa seperti uap air hangat!"

BOOOOOOOOOOOOOOOM!

Sebuah fluktuasi yang seberat planet meledak dari tengah kabut! Lautan Ketiadaan di dalam Dantian Zeng Niu berputar beringas. Benih Dunia yang telah menyerap Kristal Kekacauan melepaskan energi primordial yang langsung melahap dan menetralkan kabut beracun itu sebelum sempat menyentuh kulitnya.

Zeng Niu melangkah keluar dari sisa-sisa kabut merah. Kulitnya memancarkan pendaran Tulang Perak Asura yang berkilau keemasan, tanpa ada satu pun luka bakar.

Melihat hal yang mustahil itu, jantung si pemimpin topeng perunggu berdegup kencang. Ia tidak membuang waktu. Memanfaatkan keterkejutan, ia menyatu dengan bayangan, merobek tabir ruang, dan bermanifestasi tepat di belakang punggung Zeng Niu!

Belati hijaunya melesat dengan kecepatan kilat, mengincar titik mati di pangkal leher Sang Algojo.

"Mati kau!" batin sang pembunuh, mengerahkan seluruh Niat Ascendant-nya.

TRANG!

Suara logam beradu yang nyaring menggema di hamparan sisik naga purba.

Mata di balik topeng perunggu itu membelalak hingga nyaris robek. Belati tingkat Surga miliknya yang telah dilapisi racun penghancur jiwa menabrak leher Zeng Niu, namun tidak mampu menembus kulitnya! Alih-alih merobek daging, percikan api memancar dari titik benturan, dan bilah belati itu justru retak!

"Hanya segini?"

Zeng Niu memutar kepalanya perlahan, menatap tepat ke sepasang mata pembunuh itu dengan pandangan yang membuat darah sang Ascendant membeku.

Tanpa menggunakan pedangnya, Zeng Niu mengangkat tangan kanannya. Kecepatannya jauh melampaui pemahaman sang pembunuh. Tangan yang sekeras baja kosmik itu mencengkeram wajah si topeng perunggu, meremukkan topeng itu sekaligus menembus tengkoraknya!

"Ini bukan Benua Utara, dan aku bukan mangsa yang bisa dikunyah oleh anjing suruhan," bisik Zeng Niu.

BAM!

Zeng Niu membanting tubuh pemimpin pembunuh tingkat Ascendant Awal itu ke bawah, menghantamkannya tepat ke atas lantai sisik naga purba.

Permukaan sisik naga itu tidak hancur menunjukkan betapa absurdnya kekerasan mayat kaisar naga ini namun tubuh sang pembunuhlah yang hancur berantakan. Tulang punggungnya patah menjadi puluhan bagian. Darahnya menyembur ke mana-mana.

"P-Pemimpin!"

Tiga puluh lima pembunuh tingkat Soul Transformation Akhir yang melayang di udara menjerit ngeri. Mesin pembunuh tanpa emosi itu akhirnya merasakan teror primordial. Formasi terkuat mereka gagal, dan pemimpin tingkat Ascendant mereka dilumpuhkan dalam satu gerakan tangan kosong!

"Mundur! Bawa informasi ini ke Patriark! Dia menyembunyikan ranahnya!" teriak salah satu wakil pembunuh. Mereka serentak berbalik, bersiap memecah ke segala arah menggunakan jimat pelarian darah.

"Mundur?" Zeng Niu tertawa biadab, perlahan berdiri tegak. "Kalian kira Istana Naga ini adalah kedai teh, tempat kalian bisa datang dan pergi sesuka hati?"

Zeng Niu mengangkat tangan kirinya ke udara. Di dalam Dantiannya, akar-akar dari Benih Dunia beresonansi dengan hukum ruang di sekitarnya.

[Domain Asura: Penjara Gravitasi!]

Seketika, ruang dalam radius seribu tombak di sekitar Zeng Niu melengkung secara ekstrem. Gaya tarik yang seratus kali lipat lebih mematikan dari sebelumnya meledak! Tiga puluh lima pembunuh yang baru saja hendak merobek ruang seketika ditarik kembali secara paksa.

Mereka berjatuhan dari udara seperti burung yang sayapnya dipotong, menghantam permukaan sisik naga dengan keras. Beberapa dari mereka langsung memuntahkan darah karena organ dalamnya remuk oleh tekanan gravitasi.

Zeng Niu tidak terburu-buru. Ia berjalan dengan langkah santai, mencabut Nisan Petir Asura dari punggungnya. Bilah hitam pedang itu berderak dengan petir ungu yang haus akan jiwa.

"Waktunya memanen," gumam Zeng Niu.

Pembantaian sepihak pun terjadi. Di bawah tekanan gravitasi, para pembunuh elit Klan Pil Emas itu tidak lebih dari sekumpulan domba yang menunggu disembelih. Kilatan pedang hitam menyapu, memenggal kepala, membelah Dantian, dan mencabut nyawa mereka tanpa ampun.

Dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, tiga puluh enam pembunuh yang dikirim oleh Yan Zun telah menemui ajal mereka di atas mayat naga purba.

Zhao Ying melangkah anggun menghampiri Zeng Niu, ujung gaunnya bahkan tidak menyentuh genangan darah di tanah.

Zeng Niu sedang jongkok, sibuk melepaskan cincin-cincin penyimpanan dari jari-jari mayat yang berserakan. Ia menumpuk tiga puluh enam cincin giok di telapak tangannya dengan senyum puas yang lebar.

"Panen yang lumayan," Zeng Niu menimbang-nimbang cincin tersebut. "Sebagai kelompok pembunuh dari klan alkemis, mereka membawa banyak sekali pil pemulihan dan penangkal racun tingkat tinggi. Benda-benda ini akan sangat berguna jika kita menemui racun primordial di dalam istana nanti."

"Klan Pil Emas kini telah kehilangan salah satu pilar kekuatan militer bayangan mereka," ucap Zhao Ying, menatap tumpukan mayat itu. "Patriark mereka pasti akan menyadari hancurnya giok jiwa para pembunuh ini. Jika dia memiliki sarana untuk masuk ke dimensi ini, dia akan memburumu sendiri."

"Bagus," Zeng Niu berdiri, memasukkan cincin-cincin itu ke dadanya. "Kuharap Patriark tua itu membawa seluruh isi perbendaharaan klannya saat ia mencariku. Aku benci merampok orang miskin."

Di dalam Lautan Kesadaran, Lei Ling, sang roh pedang yang sedari tadi tak sabar, kembali mengomel.

"Niu! Berhentilah memunguti barang rongsokan dari semut-semut itu! Tarikan dari sisik di bawah kakimu ini... kita berada di area ekor! Lempengan tembaga di tanganmu akan menuntun kita ke Pusat Jantung Naga, tempat Sumsum Naga Primal berada! Cepat bergerak sebelum Klan Naga Banjir kadal itu menemukannya lebih dulu!"

Mendengar nama Klan Naga Banjir, mata Zeng Niu berkilat dingin. Tuan muda kadal yang mempermalukan selera makannya di kedai tempo hari pasti memiliki peta rahasia klan.

"Baiklah, kita akhiri sesi pemanasannya," Zeng Niu menggenggam Lempengan Tembaga berkarat itu.

Lempengan itu memancarkan seberkas cahaya keemasan tipis yang menunjuk ke arah pegunungan tulang rusuk di cakrawala yang suram.

Zeng Niu dan Zhao Ying segera melesat menembus udara tebal dimensi purba tersebut. Sisa-sisa mayat Tiga Puluh Enam Bayangan Pil Berdarah perlahan mulai membusuk, darah mereka perlahan meresap ke dalam celah-celah sisik naga, seolah mayat benua ini sedang meminum darah para kultivator fana yang berani menodai peristirahatannya.

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!