Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimas,assistant sekaligus tokoh baru
Tiga tahun sejak hari pertama Dimas melamar sebagai analis magang di ruko kecil berdebu milik PT Cahaya Abadi Investama, banyak hal berubah—kecuali satu kebiasaan yang tetap ia jaga sampai sekarang: datang paling pagi ke kantor, bahkan sebelum resepsionis lantai dua puluh dua menyalakan lampu utama.
"Pagi, Pak Dimas," sapa resepsionis itu, sudah terbiasa melihatnya duduk di meja kerja sejak pukul tujuh.
"Pagi, Sari," jawab Dimas, tersenyum sekilas sebelum kembali fokus ke laptopnya.
Sebagai Kepala Divisi Riset Bisnis, tanggung jawab Dimas jauh lebih besar dari dulu—bukan lagi sekadar menyusun laporan sederhana untuk UMKM kecil, melainkan menganalisis kelayakan investasi untuk klien-klien menengah ke atas yang kini mempercayakan dana mereka pada perusahaan yang dipimpin Kirana.
Pagi itu, satu nama di agenda rapatnya membuat Dimas menghela napas panjang sebelum meminum kopi paginya.
Alya Ramadhani. Pemilik Studio Kreatif Alinea.
Sudah tiga kali tim riset mencoba mendekati Alya untuk menawarkan kerja sama investasi bagi studio desain miliknya yang sedang berkembang pesat, dan tiga kali pula Alya menolak mentah-mentah tanpa penjelasan panjang.
"Dia lagi, Bang?" tanya Rani, salah satu analis junior di tim Dimas, saat melihat nama Alya muncul di layar proyektor rapat pagi itu.
"Iya," jawab Dimas, mengusap wajahnya sedikit lelah. "Bu Kirana bilang, studio ini punya potensi besar. Kliennya mulai merambah proyek internasional, tapi cash flow-nya masih rapuh karena modal terbatas. Kalau kita bisa masuk sekarang, ini bisa jadi salah satu portofolio terbaik kita tahun ini."
"Tapi kalau orangnya nolak terus gimana, Bang?" tanya Rani lagi.
"Makanya," kata Dimas, menutup laptopnya, "kali ini aku yang akan temui dia langsung. Bukan lewat email atau proposal formal lagi."
Keputusan itu sedikit di luar kebiasaan Dimas yang biasanya mengandalkan data dan laporan tertulis sebelum bertemu klien. Tapi setelah tiga kali gagal dengan cara konvensional, ia merasa perlu pendekatan yang berbeda.
Studio Kreatif Alinea berlokasi di sebuah ruko dua lantai yang disulap jadi ruang kerja penuh warna—dinding dipenuhi mural, meja-meja kerja diatur santai dengan tanaman hias di sudut-sudut ruangan, jauh berbeda dari suasana formal kantor Cahaya Abadi Investama.
Dimas disambut oleh seorang staf muda yang mengarahkannya ke ruang kerja Alya di lantai dua. Pintu kaca ruangan itu setengah terbuka, memperlihatkan seorang perempuan berusia sekitar akhir dua puluhan, rambut dikuncir asal, sedang berdiri di depan papan mood board sambil menempelkan potongan kertas warna-warni dengan penuh konsentrasi.
"Permisi," kata Dimas, mengetuk pintu kaca itu pelan. "Saya Dimas, dari Cahaya Abadi Investama."
Alya menoleh, ekspresinya berubah sedikit kesal begitu mendengar nama perusahaan itu. "Investor lagi? Saya udah bilang tiga kali ke tim Anda, saya nggak butuh investor."
"Saya tahu," jawab Dimas, tetap tenang meski disambut dengan nada ketus. "Makanya saya datang sendiri kali ini, bukan buat kirim proposal lagi, tapi buat dengar langsung alasannya. Kalau memang nggak cocok, saya janji nggak akan ganggu lagi."
Alya menatapnya lama, seolah menilai apakah kalimat itu sekadar strategi sales atau ketulusan yang sesungguhnya.
"Lima menit," katanya akhirnya, meletakkan gunting kertas yang sejak tadi ia pegang. "Saya ada rapat klien setengah jam lagi."
Dimas duduk di kursi kayu sederhana di ruangan itu, memilih untuk tidak langsung membuka laptop atau menunjukkan data seperti biasanya.
"Boleh saya tanya," katanya, "kenapa Anda selalu menolak tawaran investor? Studio ini berkembang pesat, saya lihat portofolio Anda bahkan mulai masuk proyek klien luar negeri. Biasanya, di titik ini, kebanyakan pemilik usaha justru mencari modal tambahan buat ekspansi."
Alya terdiam sesaat, menyandarkan diri ke kursi kerjanya, matanya menerawang sejenak sebelum menjawab. "Karena investor terakhir yang pernah masuk ke bisnis saya dulu, waktu saya baru mulai lima tahun lalu, akhirnya ngambil alih kendali kreatif studio saya. Mereka maksa saya bikin desain yang 'lebih komersial', 'lebih gampang dijual', sampai akhirnya studio pertama saya kehilangan identitasnya sendiri. Saya harus mulai dari nol lagi setelah itu, dengan nama baru—Alinea."
Dimas mendengarkan dengan saksama, mencatat dalam hati, bukan di kertas. "Jadi ketakutan Anda bukan soal modal, tapi soal kehilangan kendali."
"Tepat," jawab Alya, menatap Dimas dengan sedikit terkejut karena baru kali ini ada perwakilan investor yang langsung menangkap inti masalahnya tanpa perlu penjelasan panjang.
"Kalau begitu," kata Dimas, "saya nggak akan tawarkan skema investasi standar yang biasa kami pakai. Saya akan bawa ini ke atasan saya, dan usulkan skema di mana Anda tetap pegang kendali penuh atas arah kreatif studio, kami cuma bantu di sisi operasional dan ekspansi pasar. Kalau Anda mau, kita bisa mulai dari kerja sama kecil dulu—proyek per proyek, bukan langsung investasi besar yang bikin Anda merasa terikat."
Alya menatap Dimas lama, ekspresinya melunak sedikit dari kewaspadaan awal. "Itu... belum pernah ada investor yang tawarkan skema kayak gitu ke saya."
"Karena kebanyakan investor pengin untung cepat," jawab Dimas jujur. "Tapi cara kerja kami di Cahaya Abadi Investama beda. Bos saya selalu bilang, kepercayaan itu dibangun pelan-pelan, bukan dipaksakan."
Untuk pertama kalinya sejak Dimas masuk ruangan itu, Alya tersenyum tipis—senyum kecil yang, entah kenapa, membuat Dimas merasa pertemuan lima menit ini terasa jauh lebih berarti dari yang ia duga sebelumnya.
"Oke," kata Alya akhirnya. "Saya kasih kesempatan. Tapi kalau nanti tim Anda mulai maksa-maksa soal desain, saya langsung putus kerja sama, nggak peduli udah investasi berapa banyak."
"Setuju," jawab Dimas, tersenyum lega. "Saya pegang janji itu."
Sepulang dari studio itu, Dimas duduk di mobilnya sejenak sebelum menyalakan mesin, memikirkan pertemuan yang baru saja terjadi. Ada sesuatu dari cara Alya bicara, dari caranya mempertahankan idealisme di tengah tekanan bisnis, yang terasa berbeda dari klien-klien lain yang pernah ia temui.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Kirana.
"Gimana hasilnya sama Alinea?"
Dimas mengetik balasan singkat: "Berhasil, Bu. Tapi kita perlu skema baru yang beda dari biasanya."
Balasan Kirana datang cepat: "Kalau itu yang dibutuhkan buat menang kepercayaan klien, kita sesuaikan. Bagus, Dimas. Kerja bagus."
Dimas tersenyum membaca pesan itu, menyalakan mesin mobilnya, dan melaju pulang dengan perasaan yang, meski ia belum sepenuhnya sadari, mulai bercampur antara kepuasan profesional dan sesuatu yang lain—sesuatu yang baru akan ia pahami lebih jelas di pertemuan-pertemuan berikutnya dengan Alya.