Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
"Sial, pipiku merah."
Lyn menatap wajahnya di cermin toilet, pipinya memerah dan agak membengkak, kepalanya masih terasa nyeri akibat Bianca dan Clarisa. Rasa sakit itu masih terasa, pipinya yang memerah akan jadi masalah. Lyn tak ingin melihat ibunya khawatir padanya, seharian ibunya sudah kerja mencari uang yang untuknya, Lyn tidak ingin menambah beban padanya.
Selain pipi dan kepalanya yang sakit, tangannya pun terasa pegal akibat menulis PR Geng Aster.
Lyn terus memegang pipinya, berpikir mencari cara agar bekas tamparan ini tidak menghilang.
"Bagaimana cara bekas ini hilang, ya?"
"Aku nggak mau Ibu khawatir," lirihnya.
Lyn berdecak kesal. "Sial, ini semua gara geng sialan itu."
Tangan Lyn perlahan mengepal, ia bertekad akan membalas Clarisa dan dua sahabatnya.
"Aku nggak peduli lagi, dia anak siapa. Aku harus memberikan mereka pelajaran," tekadnya.
Saat membasuh wajahnya di wastafel, ia mencium bau asap rokok di dalam toilet.
"Bau rokok?"
Lyn menatap sekeliling toilet.
"Siapa yang merokok di toilet?"
Tatapan Lyn berhenti di salah satu toilet, gumpalan asap keluar dari atas bilik toilet.
Lyn perlahan mendekat.
"Bi, lo udah kunci pintu depan, kan?" ucap Selena pada Bianca yang ada di dalam toilet.
Bianca menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asap ke arah ventilasi.
"Aman. Lo tenang aja, Clarisa ada di depan," jawab Bianca dengan santai. "Lo pasti pusing, kan?"
Selena mengangguk, sambil menghisap rokoknya. "Iya, sih. Bokap selalu suruh gue harus dapat nilai terbaik di kelas. Dia pikir otak gue gak pusing apa?" kesal Selena.
"Makanya, rokok ini bisa buat nenangin kita."
Mereka berdua terus menghisap rokok, tanpa menyadari Lyn sedang merekam aksi mereka dari luar bilik toilet.
Lyn tersenyum puas menatap ponselnya, dia sudah mendapatkan rekaman Selena dan Bianca.
"Ini bakal aku sebarin."
"Apa yang lo akan sebarkan?"
Deg.
Lyn menoleh perlahan.
Clarisa menatapnya dengan selidik.
"Clarisa..."lirihnya.
Clarisa merebut ponsel Lyn, lalu menatap rekaman yang diam-diam diambilnya itu. Matanya menajam seketika, sebelum ia melempar ponsel itu dengan kasar.
"Brengsek!"
Clarisa langsung menjambak rambut Lyn, membuatnya tersentak.
Selena dan Bianca yang ada di dalam toilet mendengar suara Clarisa segera keluar.
"Clarisa ada apa ini?" ucap Selena.
Clarisa menoleh pada kedua sahabatnya, lalu menatap kembali Lyn. "Jalang sialan ini, merekam aksi kalian."
Sontak mereka berdua langsung murka.
Selena tanpa basa-basi menampar Lyn.
Plak! Plak!
Tamparan itu membuat Lyn terjatuh ke lantai.
Bianca meraih kerah baju Lyn.
"Berani-beraninya lo rekam gue, bangsat!"
Bugh! Bugh!
Bianca meninju wajah Lyn, dengan geram.
Lyn justru tersenyum miring, meski sudut bibirnya berdarah.
"Ngapain lo tertawa anjing?" geram Clarisa.
Lyn mengusap darah di sudut bibirnya, lalu menatap ketiganya satu per satu.
"Katanya geng elit? Ngerokok kok di toilet. Cih."
Raut wajah Geng Aster seketika memanas.
Clarisa menjambak kembali rambut Lyn dengan geram. "Lo sudah berani ya bangsat sama gue?"
"Ngapain gue takut, kalian bukan tuhan," jawab Lyn dengan tenang, menahan rasa nyeri.
Plak! Plak!
Selena melayangkan tamparan.
"Sialan, jalang ini sudah berani sama kita Clarisa!"
"Beri dia pelajaran setimpal, Clara!" tambah Bianca.
"Tentu!" Clarisa berjongkok menatap wajah Lyn. "Dia sudah membangkitkan sisi gelap Geng Aster."
Clarisa mencengkeram rambut Lyn, lalu menyeretnya begitu saja seperti kain pel di lantai.
"Lepaskan!" bentak Lyn meronta-ronta.
"Buk!"
Selena menendang mulut Lyn.
"Diam lo anjing, ini akibatnya lo cari masalah sama kita!"
"Argh!"
"Bi, hancurkan ponsel jalang ini!"
Bianca mengangguk. Ia segera membanting ponsel Lyn ke lantai hingga terdengar bunyi nyaring, pecah berkeping-keping.
Sebelum Clarisa membenamkan kepalanya ke closet toilet, Lyn sempat melihat sisa ponselnya yang telah hancur berkeping-keping—ponsel yang diberikan ibunya sebagai hadiah ulang tahun, hasil jerih payah berjualan kue.
"Tidak..." lirihnya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Uhuk!"
Clarisa menenggelamkan kepala Lyn ke dalam wastafel toilet yang sudah penuh air.
"Uhuk!"
Lyn meronta, tangannya mencakar tepi wastafel saat Clarisa menenggelamkan kepalanya.
"Ini akibatnya bangsat, kalau lo berani dengan kami!"
"Kenapa perasaanku nggak begini, ya?"
Sedari tadi, Elea diliputi firasat buruk soal Lyn.
"Bu El, saya pesan kue cokelat?" ucap wanita yang membeli kue Elea.
Elea tak menjawab, tatapan kosong. Entah kenapa firasatnya tidak enak, seolah sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
Wanita yang tak dapat jawaban itu, menatap Elea lalu melambaikan tangannya.
"Bu, El!" ucapnya dengan suara tegas.
Elea tersentak.
"Eh, iya Bu?"
"Bu El, kalau mau jualan jangan bengong," ketusnya.
"Maaf, Bu. Ibu mau pesan apa?"
"Saya pesan kue cokelat itu," balasnya dengan ketus.
Elea segera membungkuskan kue, namun pikirannya tak lepas dari Lyn. Firasat buruk itu tak kunjung hilang.
"Semoga kamu baik-baik saja, Nak." gumamnya cemas.