Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberanian Yang Berujung Hukuman
Suasana di ruang keluarga berubah semakin mencekam. Rahang Nathan mengeras. Urat di pelipisnya tampak menonjol, sementara kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau bangga sudah memukul orang?" suaranya menggema memenuhi ruangan. "Hebat sekali."
Tatapannya menusuk tepat ke arah Leon. "Baru seusiamu saja sudah berani melawan orang. Jangan-jangan sebentar lagi kau juga akan membantah guru, bahkan orang tuamu sendiri!"
Leon tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mengandung kegembiraan. "Orang tua?" ulangnya lirih.
"Dasar anak..." Nathan menghentikan ucapannya di tengah jalan.
Leon tertawa hambar. "Kenapa berhenti, Daddy?"
"Sebut saja sekalian," kata Leon tegas. "Bukankah sejak dulu Daddy menganggap aku anak yang tidak pernah Daddy inginkan?"
Ruangan mendadak sunyi. Tak seorang pun menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Leon.
"Leon, cukup!" Kali ini Alan mengangkat suara.
Namun Leon hanya menggeleng pelan. "Biarkan saja, Kek. Toh dari kecil aku juga sudah terbiasa."
Ucapan sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun. Dada Naomi seketika terasa sesak. Ternyata selama ini bukan hanya kurang perhatian saja. Anak itu tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya memang tidak pernah diinginkan oleh ayahnya sendiri.
"Sudah, Nak...." Suara Rieke bergetar menahan tangis. "Daddy-mu sedang emosi. Jangan diteruskan."
Leon tersenyum hambar. "Leon capek, Nek. Kalau boleh memilih...." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang jauh lebih lirih. "Mungkin lebih baik Leon ikut Mommy."
Air mata Rieke langsung jatuh. Selama bertahun-tahun menjadi nenek Leon, baru kali itu ia mendengar cucunya mengucapkan kalimat sepedih itu.
"Sudah, Nath." Alan akhirnya berdiri. "Besok kita datang ke sekolah. Kita dengarkan penjelasan semua pihak."
Nathan tidak menjawab. Tatapannya justru beralih kepada Naomi pria itu menatap tanpa henti sorot matanya dipenuhi kemarahan seolah semua perubahan sikap Leon sore ini berawal sejak perempuan itu ikut mencampuri urusan keluarganya.
Tanpa mengatakan apa pun, Nathan melangkah lebar menghampiri Naomi. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan perempuan itu.
"Tuan... lepaskan saya!"
Naomi berusaha melepaskan diri. Namun Nathan sama sekali tidak mengendurkan cengkeramannya.
"Ikut aku."
"Nathan!" seru Rieke panik.
Alan pun langsung berdiri. "Mau apa kamu?"
Nathan berhenti sejenak tanpa menoleh. "Dia sudah terlalu jauh ikut campur."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Nathan membawa Naomi menuju lantai atas, dengan langkah yang begitu cepat, hingga Naomi pun tidak sanggup untuk mengimbangi langkah tersebut.
"Lepaskan saya, saya bisa jalan sendiri!" protes Naomi.
Nathan tidak mendengar, pria itu tetap berjalan tanpa peduli pergelangan perempuan itu sudah memerah, hingga ada akhirnya pintu kamar terbuka lalu ditutup cukup keras.
Brak!
Suara benturannya menggema di seluruh ruangan, menyisakan keheningan yang begitu menyesakkan.
Nathan baru melepaskan cengkeramannya setelah mereka benar-benar berada di dalam kamar. Nafasnya memburu tatapannya kembali menghunus seolah masih dipenuhi amarah yang sejak tadi berusaha ia tahan.
Sementara Naomi memegangi pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman itu. Rasa perih menjalar hingga ke lengannya, tetapi ia tidak mengeluh. Tatapannya justru tertuju pada pria yang kini berdiri membelakanginya.
Beberapa detik berlalu. Tak satu pun dari mereka berbicara. Nathan menarik napas panjang, lalu membalikkan tubuhnya dengan gerakan cepat.
"Apa sebenarnya maumu?" Suara berat itu memecah keheningan.
Naomi mengangkat wajah perlahan.n"Saya tidak mengerti maksud Tuan."
"Tidak mengerti?" Nathan terkekeh sinis. "Kau baru beberapa hari tinggal di rumah ini, tapi sudah merasa berhak mencampuri cara aku mendidik anakku."
Naomi menggeleng pelan. "Saya tidak pernah berniat mencampuri urusan Tuan."
"Lalu apa yang kau lakukan tadi?" Nathan melangkah mendekat. "Sengaja membelanya di depan semua orang? Membuatku terlihat seperti ayah yang salah?"
Setiap kalimat yang keluar dari bibir Nathan terdengar semakin tajam, tapi Naomi tetap berdiri di tempatnya.
"Saya tidak pernah mengatakan Tuan salah."
"Kalau begitu kenapa kau menyelaku?"
"Karena Leon belum diberi kesempatan menjelaskan."
Jawaban itu justru membuat Nathan tersenyum tipis penuh sindiran.
"Kesempatan? Hebat ya kamu, setelah berhasil menjebakku ke dalam pernikahan ini sekarang kau berulah layaknya malaikat penyelamat anakku." ucapan itu jelas mengandung sindiran. "Kau pikir aku tidak mengenal anakku sendiri?"
Naomi menghela napas pelan. Ia tahu semua orang menuduhnya sebagai penyebab atas semua kejadian ini. Akan tetapi untuk Leon entah kenapa ia berani memasang badan.
"Saya memang bukan manusia yang sempurna, terserah anda mau menuduhku seperti apa. Tapi ketika saya melihat Leon? Tak sedikitpun langkah ini untuk mundur, meskipun aku belum mengenalnya."
Nathan langsung memotong ucapannya.
"Cukup!" Suara itu menggema memenuhi kamar. "Kau tidak tahu apa pun tentang keluarga ini."
Naomi terdiam sejenak. Tatapannya tidak berubah. "Benar. Saya memang tidak tahu semua tentang keluarga Tuan."
"Tapi saya tahu..." Ia berhenti beberapa saat. "...tidak ada seorang anak yang tiba-tiba berkata dirinya tidak diinginkan kalau luka itu tidak pernah ia rasakan."
Kalimat itu membuat Nathan membeku. Sorot matanya berubah semakin tajam. "Apa maksudmu?
"Maksud saya..." Naomi menatap lurus ke arahnya. "Ucapan Leon tadi bukan terdengar seperti kemarahan. Melainkan rasa sakit yang sudah terlalu lama dipendam."
Nathan mengepalkan kedua tangannya. "Jangan sok mengerti."
"Saya tidak sedang sok mengerti."
"Lalu?"
"Saya hanya mendengar."
Nathan tertawa pendek. "Mendengar? Kau mengenalnya baru hitungan hari. Aku yang membesarkannya sejak kecil!"
Naomi tersenyum tipis. "Seseorang bisa tinggal bersama bertahun-tahun... belum tentu benar-benar saling mendengar."
Nathan terdiam. Untuk sesaat tak ada suara selain embusan napas keduanya. Ucapan Naomi terasa seperti menampar harga dirinya.
"Kau sedang mengajariku menjadi ayah?" Nada suaranya kini jauh lebih rendah, tetapi justru terdengar lebih berbahaya.
Naomi menggeleng. "Saya tidak berhak mengajari siapa pun."
"Kalau begitu berhenti ikut campur!" Nathan kembali meninggikan suara. "Mulai sekarang urus dirimu sendiri. Leon adalah anakku. Bagaimana pun caraku mendidiknya bukan urusanmu."
Naomi menundukkan kepala beberapa detik.
Ia tahu seharusnya ia diam. Ia tahu lebih aman mengakhiri perdebatan itu. Namun bayangan wajah Leon yang tadi berkata, "Bukankah sejak dulu Daddy menganggap aku anak yang tidak pernah Daddy inginkan?" terus berputar di benaknya.
Perlahan ia kembali mengangkat wajah. "Maaf, Tuan. Saya memang bukan siapa-siapa di rumah ini. Saya juga bukan ibu kandung Leon. Tapi..."
Ia menarik napas panjang. "Kalau melihat seorang anak disalahkan tanpa didengar disebut ikut campur... maka saya tidak menyesal sudah melakukannya."
Nathan mematung baru kali ini Ada seseorang yang berani membantahnya tanpa rasa takut, bukan karena wanita itu berteriak apalagi menggunakan emosi tapi dengan suara yang tetap tenang dia berani menyuarakan apa yang menurutnya benar. Dan justru itulah yang semakin membakar amarah Nathan.
"Cukup!" Bentaknya keras. "Jangan merasa paling benar!"
"Saya tidak merasa benar."
"Lalu kenapa terus membantah?"
Naomi menggigit bibir bawahnya pelan. "Karena saya tidak ingin ada anak yang kehilangan keberanian untuk berkata jujur hanya karena orang dewasa lebih memilih marah daripada mendengar."
Ucapan itu membuat Nathan benar-benar kehilangan kesabaran. Rahangnya mengeras.
Tatapannya tajam menembus wajah Naomi.
"Baik, kalau kau merasa begitu peduli kepada Leon..." Nathan melangkah menuju sofa di sudut kamar. Tangannya meraih bantal dan selimut tipis, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai.
Bruk!
"Mulai malam ini..."
Naomi menatap benda-benda itu tanpa berkedip.
Nathan kembali menoleh kepadanya. "Jangan tidur di sofa. Kalau kau ingin tetap tinggal di mansion ini... tidurlah di lantai."
Naomi memejamkan mata pelan. Hukuman itu terasa ringan dibanding luka yang disimpan Leon selama bertahun-tahun.
Bersambung ....