Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nota Perhiasan
"Minum dulu Ra," Arhan membawakan segelas air putih dan pil berwarna putih yang rutin Dira minum setiap harinya.
Dira yang sedang merapikan selimut tebal diranjang langsung menghela nafas pelan, kesabarannya mulai menipis.
"Mas, Dira Minum setiap hari pil penyubur ini tapi belum juga menunjukan keberhasilan. Mas, apa kita gak mau coba periksa ke dokter." ucap Dira sambil memandangi segelas air putih dan pil yang berada pada tangan Arhan.
Tanpa Dira sadari cengkraman tangan Arhan pada segelas air semakin kuat, rahangnya mengatup rapat dan menegas, sorot matanya menajam tapi berusaha Arhan untuk menyembunyikan kekesalannya dari hadapan Dira.
"Sabar Ra, kamu tau kan biaya periksa kandungan itu mahal. Mas lagi keteteran sama biaya pengobatan ibu dirumah sakit. Kita coba aja dulu rutin dengan meminum pil ini, siapa tahu tahun depan atau bulan depan kamu bisa hamil" ucap Arhan dengan nada bicara dibuat sehalus mungkin.
Akhirnya Dira lagi-lagi harus menurut, tidak mampu membantah ucapan Arhan. Ia meneguk lagi pil putih itu dengan segelas air, kemudian senyum terukir di wajah Arhan.
"Kamu nurut sekali Ra, mas memang gak salah pilih buat jadikan kamu sebagai istri. Mas berangkat, jaga ibu ya." ucap Arhan sambil mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Mau kemana mas, hari ini kan hari libur. Apa gak mau mas nikmatin hari libur dirumah?" ucap Dira sambil menahan lengan kokoh milik Arhan.
"Mas suntuk kalau dirumah Ra, mas mau cari angin dulu dirumah. Mas titip ibu ya, hanya sebentar saja." ucap Arhan kemudian langsung pergi meninggalkan Nadhira yang masih mematung diambang pintu.
"Padahal aku juga mau mas, pergi liburan setiap akhir pekan. Sekedar menghilangkan penat dan setres dengan pekerjaan rumah. Tapi kamu tidak pernah sekalipun mengajak aku untuk pergi keluar." gumam Dira setelah melihat punggung Arhan yang perlahan menghilang dibalik pintu utama.
Kemudian Dira berjalan kearah ruang cuci pakaian, akhir pekan biasanya Dira habiskan untuk memicu pakaian kerja milik Arhan, dengan cekatan Dira mulai memisahkan pakaian putih dengan pakaian berwarna milik Arhan. Tidak lupa Dira selalu cek bagian saku celana, takutnya ada suatu benda yang tertinggal disana.
Ketika Dira memeriksa saku celana hitam yang dipakai oleh Arhan kemarin, Dira mendapati suatu kertas yang ternyata sebuah nota pembelian.
"Nota perhiasan?" Dira mengernyitkan dahinya, jantungnya berdebar kencang. Kejanggalan yang paling besar selama menikah dengan Arhan.
"Mas Arhan beli cincin untuk siapa?" wanita bermata bening itu menyapu semua tulisan yang tertera pada nota. Jantungnya kian berdebar dan tangannya sedikit bergetar.
"Apa mas Arhan?"
Tapi kemudian Dira langsung menggelengkan kepalanya, menghapus semua perasaanku buruk yang datang pada pikirannya.
"Tidak, tidak mungkin. Selama ini mas Arhan pria yang baik, tidak mungkin dia melakukan hal buruk di belakangku." ucap Dira seraya mengambil ponselnya untuk menelpon Arhan.
Dira : Halo mas...
Arhan : Iya ada apa Ra?
Dira : Emh... ini ada nota pembelian perhiasan, ini punya kamu mas? Soalnya ada disaku celananya mas.
Arhan : Bukan. itu punya rekan mas Ra, dia mau ngasih suprise pada istrinya yang lagi ulangtahun, jadi dia titip mas buat beliin cincin itu. Oh ya Ra, simpan aja nota itu nanti mas ambil buat dikasih ke rekan kerja mas sebagai bukti pembelian.
Dira : oh ya udah, Dira sempet kaget juga si. Kirain mas....
Arhan : ya gak mungkinlah Ra, jangan berpikir aneh-aneh ya. Mas tidak akan melakukan hal itu tenang aja.
Setelah menutup telponnya senyum Arhan mengembang sempurna, "Untung banget kamu mudah sekali dibohongi Ra, dasar wanita bodoh." umpat Arhan kemudian kembali tanjab gas menuju rumah yang sering ia kunjungi.
Arhan memarkirkan mobil sedan hitamnya dengan sempurna, senyum mengembang pada wajahnya yang manis. ia turun dengan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya yang mancung.
Senyumnya semakin melebar kala mendapati seorang wanita yang berdiri diambang pintu sambil tersenyum pada Arhan.
"Hari ini seperti ada yang berbeda mas?" ucap wanita berambut hitam tebal dengan sebagian rambutnya ia ikat.
"Bahagia karena mau ketemu sama pujaan hati mas, kangen banget." ucap Arhan seraya memeluk tubuh wanita itu, seraya mengecup pipi wanita itu.
"Didalam yuk mas, takutnya ada orang yang lewat kesini." ajak Ayu, wanita yang selama ini dicintai Arhan, tapi belum bisa dinikahi karena ayu ini adalah wanita yang materialistis alias pandang harta. Ia tidak mau menikah dengan Arhan jika Arhan belum naik jabatan di tempat kerjanya.
Arhan mengangguk, ia berjalan bersisian dengan Ayu, dengan tangan yang merangkul pundak Ayu.
"Lihat sayang.." Arhan memperlihatkan sebuah kontak beludru yang berisikan sebuah cincin emas seharga limapuluh juta.
"Astaga mas, ini bagus sekali. Aku suka...." ucap ayu yang kini duduk diatas pangkuan Arhan.
"Jelas ini harganya sangat mahal sekali sayang." ucap Arhan lagi-lagi mengecup pipi Ayu.
"Mas pakein!..." ucap ayu dengan nada bicara dibuat seimut mungkin dan terkesan manja.
"Sangat pas sekali dijari kamu sayang, cincin ini begitu sangat terlihat cantik pada jari kamu yang lentik dan bagus ini." Arhan mengecup punggung tangan ayu.
"Makasih ya mas.... Aku seneng banget." kini tangannya memeluk leher Arhan.
"Mas mau hadiah dari aku?" ucap ayu, sorot mata yang sayu bertabrakan dengan mata milik Arhan yang sudah sarat akan hal normal sebagai seorang pria.
Arhan perlahan mengangguk, sorot matanya tidak beralih pada wajah Ayu. Tubuhnya kian menghangat dan semburat merah memenuhi wajah kedua manusia itu.
"Mas kangen banget sama kamu yu." bisik Arhan saat mengangkat tubuh Ayu, kini langkah tegap itu mulai memasuki sebuah kamar dengan sinar lampu temaram.
Beberapa menit kemudian, dengan nafas yang masih terengah-engah. Arhan memeluk tubuh ayu erat.
"Mas tadi tembak didalam?" tanya Ayu dengan sorot mata yang sangat lelah, setelah melakukan pertempuran panas. Tangannya membetulkan posisi tangan Arhan yang masih melingkar diatas perutnya.
"Heem, karena kita akan segera menikah sayang. Posisi mas Minggu depan sudah naik jadi direktur." ucap Arhan dengan suara serak.
"Lalu istri kamu gimana mas, aku takut nanti dia sering marah terus jambak-jambak rambut aku yang sangat indah ini."
"Kamu tengang aja, wanita itu sangat bodoh sekali sayang. Setelah kamu jadi istri aku kamu tinggal duduk manis sambil menikmati semua uang aku, karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh wanita bodoh itu."
Ayu menghadapkan tubuhnya pada Arhan. tangannya menangkup pada wajah Arhan yang masih terasa panas.
"Aku mau nikah sama kamu mas, tapi apa alasan yang akan kamu ucapkan pada ibumu mas."
"Alasan kalau Dira tidak bisa hamil dan aku akan nikah lagi buat beri ibu cucu. Aku sangat yakin sekali jika soal cucu ibu akan luluh." ucap Arhan.
"Kamu tau kan sayang, setiap pagi mas kasih Dira pil KB agar dia gak hamil-hamil."
"Kamu pintar sekali sayang...." ucap ayu sambil mengecup ujung hidung Arhan. Senyum penuh kemenangan mengembang sempurna diwajah Ayu.
"Lagi?" ucap Arhan dengan binar mata yang sulit diartikan.
Ayu mengangguk, tangannya sudah mencengkram erat bahu Arhan. Kemudian Arhan bangkit dan langsung mengukung tubuh Ayu dibawahnya.
Bersambung.