NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Pertemuan Pertama

Di tikungan jalan itu, Genki baru sadar bahwa dunia di luar Vila Biru terlalu ramai.

Motor lewat dengan suara mendengung. Mobil-mobil berhenti dan maju lagi seperti tidak sabar. Di trotoar, orang dewasa berjalan cepat sambil menatap ponsel, membawa tas, kopi, atau kantong belanja. Tidak ada yang memperhatikan anak kecil dengan buntalan lusuh di dada.

Genki berdiri di depan sebuah toko bunga yang belum buka sepenuhnya. Pintu kacanya masih setengah tertutup. Bau daun basah dan tanah dari pot tanaman membuat hidungnya gatal.

Ia memeluk buntalannya lebih kuat.

"Mama di mana?" gumamnya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Genki menatap kanan kiri, lalu memilih berjalan mengikuti deretan pohon di tepi jalan. Ia pernah dengar pengasuh berkata, kalau tersesat jangan lari. Tapi ia tidak merasa tersesat. Ia sedang mencari Mama. Itu berbeda.

Beberapa menit kemudian, langkah kecilnya mulai melambat.

Sandal karetnya menggesek tumit. Kain lusuh di dadanya terasa makin berat. Ia berhenti di dekat zebra cross, menunggu lampu pejalan kaki berubah, meski ia tidak benar-benar paham harus menunggu yang mana. Ketika beberapa orang dewasa menyeberang, Genki ikut melangkah.

"Eh, hati-hati!"

Sebuah tangan menarik bahunya pelan sebelum ia terlalu dekat dengan jalur motor.

Genki tersentak. Ia langsung berbalik dan mundur setengah langkah, memeluk buntalannya seperti perisai.

Di hadapannya, seorang perempuan muda bergaun putih berjongkok agar sejajar dengannya. Rambutnya panjang, wajahnya lembut, dan napasnya masih sedikit cepat seperti baru saja berlari.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya perempuan itu.

Genki tidak menjawab.

Matanya menatap perempuan itu lama.

Ada sesuatu yang aneh di dada kecilnya. Bukan takut. Bukan juga malu. Rasanya seperti saat ia memegang selimut hangat setelah mimpi buruk, atau saat seseorang menepuk punggungnya pelan sampai tangisnya berhenti.

Perempuan itu tidak langsung menyentuhnya lagi. Ia hanya menurunkan suara. "Aku Keira. Kamu siapa?"

Genki mengedip.

"Genki."

"Genki," ulang Keira pelan, seolah nama itu penting dan tidak boleh salah diucapkan. "Kamu sendirian?"

Genki menunduk melihat buntalannya.

"Genki cari Mama."

Di belakang Keira, Salma yang membawa dua gelas minuman dingin hampir tersedak. "Kei, ini anak siapa? Kok bisa sendirian di sini?"

Keira tidak menoleh. Perhatiannya tetap pada Genki. Anak itu terlalu kecil untuk berdiri sendirian di pinggir jalan Jakarta dengan wajah setegar itu. Buntalan lusuh di dadanya membuat sesuatu dalam hati Keira berdenyut pelan.

"Mama Genki ada di mana?" tanya Keira.

"Genki belum tahu."

Salma menahan napas. "Aduh."

Keira mengulurkan tangan perlahan, telapak menghadap ke atas. "Kalau belum tahu, kita cari tempat duduk dulu, ya. Di sini banyak kendaraan. Bahaya."

Genki menatap tangan itu.

Biasanya ia tidak suka tangan orang asing. Terlalu banyak tangan yang menarik, mengangkat, atau memindahkannya tanpa bertanya. Di panti dulu, orang dewasa sering bilang anak kecil harus menurut. Di Vila Biru, semua orang baik, tetapi tetap saja mereka sering panik dan memeluknya agar ia tidak pergi.

Tangan Keira diam saja.

Menunggu.

Genki menatap wajah Keira lagi.

"Kakak nggak ambil buntalan Genki?"

Keira tertegun sebentar, lalu menggeleng. "Nggak. Itu punya Genki."

"Nggak paksa pulang?"

"Aku belum tahu rumah Genki di mana. Jadi aku nggak akan paksa."

Jawaban itu membuat bibir Genki bergetar sedikit.

Pelan-pelan, ia meletakkan tangan kecilnya di telapak Keira.

Salma memandang adegan itu dengan mata membesar. "Kei," bisiknya. "Anak kecil biasanya nggak gampang percaya sama orang asing lho."

"Aku tahu," jawab Keira pelan.

Dan justru karena itu, dadanya terasa makin sesak.

Mereka membawa Genki masuk ke area mall terdekat. Bukan ke tempat ramai di tengah atrium, melainkan ke bangku dekat toko roti yang lebih tenang. Keira duduk di samping Genki, tidak terlalu dekat, memberi ruang agar anak itu tidak merasa dikurung. Salma berdiri sebentar untuk membeli air mineral dan roti kecil.

Genki duduk dengan buntalan tetap di pangkuan.

"Genki lapar?" tanya Keira.

Genki menggeleng.

Perutnya berbunyi.

Salma yang baru datang hampir tertawa, tetapi cepat-cepat menahannya saat melihat wajah serius Genki. "Perutnya beda pendapat, Kei."

Keira tersenyum kecil. "Mau roti?"

"Nggak."

"Kue?"

Genki melirik.

Salma langsung menangkap sinyal itu. "Ada cake cokelat. Besar. Ada stroberinya juga."

Mata Genki bergerak lagi, kali ini lebih jelas.

Keira tidak menggoda. Ia hanya berdiri. "Aku beli satu, ya. Kalau Genki mau makan, makan. Kalau nggak, nanti aku yang makan."

"Genki mau lihat."

"Boleh."

Keira membawa Genki ke depan etalase toko kue. Di balik kaca, potongan cake tersusun rapi. Ada cokelat, keju, matcha, dan stroberi. Genki berdiri di ujung kaki, hidungnya hampir menempel ke kaca.

"Yang itu," katanya sambil menunjuk cake cokelat dengan stroberi merah di atasnya.

"Satu slice?" tanya petugas toko.

Keira mengangguk. "Satu slice, tolong. Sama sendok kecil."

Ketika cake itu diletakkan di meja, Genki tidak langsung makan. Ia menatap Keira, lalu mendorong piringnya sedikit ke arah perempuan itu.

"Kakak makan dulu."

Salma dan Keira saling pandang.

"Kenapa aku dulu?" tanya Keira lembut.

"Biar nggak hilang."

Keira merasa senyumnya tertahan di tenggorokan.

Ia mengambil sedikit cake dengan sendok, mencicipinya, lalu berkata, "Enak. Sekarang giliran Genki."

Baru setelah itu Genki makan. Satu suapan kecil. Lalu satu lagi. Wajahnya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur. Ada remah cokelat menempel di sudut bibirnya.

Keira mengambil tisu dan berhenti sebentar sebelum menyentuhnya. "Boleh aku bersihkan?"

Genki mengangguk.

Keira menyeka sudut bibirnya pelan. Gerakan itu sederhana. Tetapi Genki tiba-tiba merasakan panas di belakang matanya.

"Kenapa?" Keira menunduk cemas. "Sakit?"

Genki menggeleng cepat.

"Kak Kei..."

Panggilan itu keluar begitu saja.

Keira membeku sejenak. Salma juga berhenti mengaduk minumannya.

"Iya?" jawab Keira akhirnya.

Genki menatapnya dengan mata basah, lalu menyodorkan sendok berisi cake. "Kak Kei makan lagi. Genki bagi."

Salma memalingkan wajah, pura-pura melihat etalase roti. "Aduh, aku nggak kuat."

Keira menerima suapan kecil itu. "Terima kasih, Genki."

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari Vila Biru, Genki tersenyum.

Kecil sekali.

Tapi cukup untuk membuat Keira ingin menjaga anak itu sampai keluarganya ditemukan.

"Genki ingat nomor telepon Papa?" tanya Keira setelah beberapa menit. Nada suaranya hati-hati.

Senyum Genki langsung hilang.

"Papa nanti suruh Genki pulang."

"Papa pasti khawatir."

"Papa nggak kasih Mama."

Keira terdiam.

Salma meletakkan gelasnya pelan. Ia tidak lagi bercanda. "Kei, kita harus lapor petugas mall. Kalau keluarganya cari, mereka bisa ketemu di informasi."

Keira mengangguk. "Iya."

Seolah mendengar kata keluarga, tangan Genki buru-buru meraih lengan Keira.

"Kak Kei jangan pergi."

"Aku nggak pergi."

"Janji?"

Keira menatap tangan kecil yang mencengkeram lengannya. Cengkeraman itu lemah, tetapi penuh ketakutan. Seperti kalau dilepas sedikit saja, dunia akan kembali mengambil semua yang ia punya.

"Janji," kata Keira.

Genki mendekat. Detik berikutnya, ia menyandarkan kepala ke perut Keira dan memeluknya sekuat tenaga. Buntalan kecilnya terjepit di antara mereka.

Keira tidak siap. Tubuhnya menegang sesaat, lalu perlahan melembut. Ia menurunkan tangan dan mengusap punggung Genki.

Entah kenapa, dadanya ikut sakit.

"Kei," bisik Salma.

Keira mengikuti arah pandang Salma.

Di ujung koridor mall, beberapa pria berjas hitam berjalan cepat ke arah mereka. Langkah mereka teratur, wajah mereka tegang. Salah satunya memegang ponsel dan menatap foto di layar, lalu mengangkat wajahnya tepat ke arah Genki.

Genki merasakan pelukan Keira berubah kaku.

Ia menoleh.

Begitu melihat orang-orang itu, wajahnya pucat. Tangannya makin erat memeluk Keira.

"Nggak mau," bisiknya. "Genki nggak mau pulang."

Pria berjas hitam paling depan berhenti beberapa langkah dari meja. Tatapannya jatuh pada Genki, lalu pada tangan kecil yang mencengkeram gaun Keira.

"Kami harus membawa Genki pulang sekarang."

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!