NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Orang yang Salah Tempat

Keira tidak mundur.

Jari Darren tetap menggantung di udara, begitu dekat sampai Keira bisa merasakan hawa dingin dari kulitnya, bercampur bau rokok yang belum hilang.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga.

Koridor sayap barat seperti menahan napas bersama mereka. Musik rendah dari kamar setengah terbuka terus berputar, berat dan monoton. Di balik dada Keira, jantungnya memukul cepat, tetapi wajahnya tetap ia biarkan kosong.

Ia tidak boleh memberi Darren sesuatu untuk dimainkan.

Mata Darren bergerak dari leher Keira ke wajahnya.

"Kamu tidak takut."

Kalimat itu bukan pertanyaan. Lebih mirip tuduhan.

Keira menelan pelan. Pergelangan tangannya masih berada dalam cengkeraman Darren. Bekas tekanan jarinya mulai terasa panas.

"Takut," jawabnya.

Alis Darren bergerak sedikit.

"Tapi kalau saya lari," lanjut Keira, "hamster Adik Jay nggak akan ketemu."

Keheningan yang jatuh setelah kalimat itu terasa aneh.

Bukan tegang seperti tadi. Lebih tajam, tetapi retaknya berbeda.

Darren menatapnya seolah ia baru saja mendengar kata sandi yang salah dimasukkan ke pintu yang salah. Matanya, yang sejak tadi menyala seperti bara gelap, mendadak berhenti di satu titik.

"Kamu serius?"

"Iya."

"Aku hampir mencekik kamu."

"Ko Darren belum menyentuh leher saya."

"Hampir."

"Iya," kata Keira. "Tapi hamster itu benar-benar hilang."

Untuk sepersekian detik, ekspresi Darren kosong.

Lalu ia tertawa.

Bukan tawa yang hangat. Bukan tawa geli yang ringan. Itu hanya suara pendek, serak, keluar dari tenggorokannya seperti sesuatu yang sudah lama berkarat.

"Pengasuh gila."

"Saya bukan pengasuh hamster," jawab Keira datar. "Tapi Adik Jay sedang menunggu."

Cengkeraman di pergelangan tangannya mengendur.

Keira tidak langsung menarik tangan. Ia menunggu sampai Darren benar-benar melepaskan, baru menurunkannya perlahan. Di kulitnya tersisa lingkaran merah samar. Ia tidak mengusapnya, meski tulangnya masih nyeri.

Darren melihat bekas itu.

Wajahnya tidak berubah, tetapi ujung jarinya menegang sebentar.

Dari dekat pintu kamarnya, terdengar bunyi kecil.

Krik.

Keira dan Darren menoleh bersamaan.

Di sudut antara kusen pintu dan lemari sepatu tua, Bola meringkuk dengan tubuh gemetar. Hamster kecil itu masuk terlalu jauh, terjebak di antara bayangan pintu dan tumpukan kabel yang kusut. Kumisnya bergerak cepat. Matanya hitam mengilap, basah oleh takut.

Keira otomatis hendak berjongkok.

"Jangan," kata Darren.

Tangannya terangkat sedikit, bukan untuk mengancam kali ini, melainkan menahan.

Keira berhenti.

Darren berjalan mendekati sudut pintu. Langkahnya tidak stabil sempurna, tetapi juga tidak mabuk. Ia melewati botol kosong yang tergeletak dekat ambang pintu tanpa menyentuhnya. Musik dari dalam kamar terdengar lebih jelas saat tubuhnya bergerak melewati celah.

Kamar itu sekilas terlihat kacau.

Layar komputer menyala biru gelap di meja panjang. Kabel bersilang di lantai. Ada jaket hitam dilempar di kursi, gelas separuh penuh di dekat keyboard, dan dinding kosong tanpa foto keluarga. Udara dari dalam lebih berat, penuh bau alkohol, asap, dan debu barang elektronik yang panas.

Keira hanya melihat sekilas.

Ia tidak ingin tahu lebih banyak dari yang perlu.

Darren berjongkok di depan hamster itu.

Perubahan itu begitu cepat sampai Keira hampir tidak percaya pada matanya.

Pria yang beberapa detik lalu mengangkat tangan ke lehernya kini menurunkan bahu, mengecilkan gerakan, dan menyodorkan punggung tangan lebih dulu ke depan Bola. Tidak ada gerakan mendadak. Tidak ada suara kasar.

"Hei," gumam Darren.

Suaranya masih serak, tetapi nadanya turun banyak.

Bola mengendus ujung jarinya.

Darren tidak langsung menangkap. Ia menunggu. Jari-jarinya yang panjang, yang tadi terasa seperti alat hukuman di pergelangan tangan Keira, kini membentuk ruang kecil di lantai, membuka jalan agar hamster itu naik sendiri.

"Ayo," katanya pelan. "Jangan bodoh. Di sini banyak kabel."

Bola bergerak ragu.

Keira menahan napas.

Darren menyelipkan telapak tangan ke bawah tubuh kecil itu dengan hati-hati. Tidak meremas, tidak mengangkat terlalu cepat. Ia menopang perutnya, melindungi punggungnya dengan tangan lain, lalu berdiri perlahan.

Hamster itu berhenti gemetar sekeras tadi.

Di telapak Darren, Bola tampak sangat kecil.

Dan anehnya, Darren tampak paling tidak berbahaya saat memegang sesuatu yang bisa rusak hanya karena tekanan salah.

Keira merasa ada bagian dalam dirinya yang goyah sedikit.

Tidak kasihan.

Ia tidak berani memberi kata itu kepada Darren. Pria itu pasti membencinya.

Yang muncul justru rasa tidak cocok. Seperti melihat seseorang dilempar ke ruangan yang salah sejak lama, lalu semua orang menyebutnya bagian dari ruangan itu hanya karena ia sudah terlalu lama berada di sana.

Darren kembali ke hadapannya.

"Tangan."

Keira mengulurkan kedua tangan, membentuk mangkuk kecil seperti yang biasa ia ajarkan kepada Jayden saat memegang benda rapuh.

Darren menatap bentuk tangannya.

"Kamu tahu cara pegang."

"Saya baca dulu sebelum Jayden menerima hadiah."

"Rajin sekali."

"Hamster bukan mainan."

Mata Darren kembali menatap wajahnya. Kali ini tidak setajam sebelumnya, tetapi tetap tidak ramah.

"Di rumah ini, banyak orang juga bukan mainan," katanya. "Tetap saja dipakai."

Keira tidak menjawab.

Ia menerima Bola dari telapak Darren. Beratnya hampir tidak terasa, tetapi tubuh kecil itu hangat. Bola langsung menyusup ke lekuk telapak Keira, mencium jari-jarinya, lalu diam.

"Bawa pergi," kata Darren.

Keira mengangguk.

"Dan jangan kembali ke sini."

"Saya tidak berniat kembali tanpa alasan."

"Tanpa alasan juga jangan."

Keira menatapnya sebentar. Di koridor redup itu, Darren terlihat lebih muda daripada aura berbahayanya. Wajahnya masih keras, matanya masih penuh sesuatu yang tajam, tetapi ada garis lelah yang tidak bisa ditutupi rambut panjang dan bau alkohol.

"Saya mengerti."

"Tidak. Kamu belum mengerti." Darren mencondongkan tubuh, suaranya kembali dingin. "Kalau Ethan tahu kamu masuk ke sini, kamu yang kena masalah. Kalau orang lain tahu, aku yang akan dibuat jadi masalah. Jadi keluar. Sekarang."

Nama Ethan membuat Keira menangkap satu hal.

Ini bukan sekadar wilayah pribadi.

Ini luka keluarga yang ditutup pintu.

Keira memegang Bola lebih rapat, cukup aman tanpa menekan.

"Terima kasih sudah mengambilnya."

Darren seperti tersinggung oleh dua kata itu.

"Keluar."

Keira berbalik.

Ia berjalan pelan agar tidak mengejutkan hamster di tangannya. Di setiap langkah, ia merasakan punggungnya seperti ditembus tatapan Darren. Namun ia tidak mempercepat langkah. Ia tidak ingin memberikan kesan lari.

Setelah lima langkah, ia menoleh.

Darren masih berdiri di tempat yang sama.

Lampu koridor yang redup memotong wajahnya menjadi dua bagian. Satu berada dalam cahaya lemah, satu lagi tenggelam dalam gelap. Di belakangnya, pintu kamar setengah terbuka seperti mulut yang menelan suara musik dan bau alkohol.

Orang yang salah tempat.

Kalimat itu muncul di kepala Keira tanpa diminta.

Bukan hanya Darren.

Mungkin ia juga.

Ia adalah gadis dari Sriwedari yang berdiri di rumah konglomerat Menteng, memegang hamster anak orang kaya, membawa rahasia dari sayap barat, dan masih harus kembali ke kamar bermain seolah tidak terjadi apa-apa.

Keira tidak mengatakan apa pun.

Ia melanjutkan langkah sampai belokan koridor utama.

Begitu cahaya sayap barat tertinggal di belakang, udara terasa lebih ringan. Suara rumah utama kembali terdengar. Langkah staf, denting piring dari pantry, suara jauh Jayden yang memanggil namanya dengan panik tertahan.

"Ci Keira?"

Jayden muncul di depan pintu kamar bermain, kedua tangannya mengepal di dada.

Keira segera berjongkok.

"Pelan," bisiknya. "Bola ketemu."

Wajah Jayden runtuh dalam lega. Air matanya yang sejak tadi tertahan langsung jatuh satu tetes.

"Dia sakit?"

"Tidak. Tapi dia takut. Kita masukkan ke kandang, lalu Adik Jay minta maaf pelan-pelan, ya?"

Jayden mengangguk berkali-kali.

Keira membantu memasukkan Bola ke kandang. Ia memastikan pintu kecil terkunci dua kali, menata ulang serbuk kayu, lalu meminta Jayden duduk jauh sedikit agar hamster itu bisa tenang.

"Maaf, Bola," bisik Jayden dengan suara gemetar. "Aku lupa kunci."

Hamster itu menyusup ke bawah tempat tidurnya yang kecil.

Jayden menatapnya lama, lalu menarik napas seperti meniru cara Keira bernapas saat menenangkan bayi.

"Aku nggak akan lupa lagi."

"Bagus," kata Keira.

Ia baru berdiri ketika melihat Bi Sari di ambang pintu.

Wajah perempuan paruh baya itu berubah sebelum ia bicara.

Matanya jatuh ke kandang hamster, lalu ke tangan Keira yang masih menyimpan bekas merah. Setelah itu, pandangannya bergerak ke arah koridor samping.

Semua warna di wajah Bi Sari seolah ditarik keluar.

"Suster Keira," katanya rendah. "Hamster itu... dari mana kamu ambil?"

Jayden masih menatap kandang, tidak menyadari tekanan yang mendadak memenuhi ruangan.

Keira menjawab pelan, "Dari koridor samping."

"Samping mana?"

Keira diam satu detik.

Bi Sari sudah tahu jawabannya sebelum Keira mengatakannya.

"Kamu..." Suaranya nyaris habis. "Masuk sayap barat?"

Keira mengangguk.

Bi Sari segera masuk, menutup pintu kamar bermain setengah, lalu mencengkeram kedua bahu Keira. Cengkeramannya tidak sekeras Darren, tetapi jauh lebih panik.

"Jangan bilang siapa-siapa," bisiknya tajam. "Terutama Ko Ethan. Mengerti?"

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!