Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Richard mengirim pesan pada Keira keesokan paginya.
Makan siang di Villa Awan. Saya jemput.
Keira menatap pesan itu sambil menggigit roti panggang di meja makan. Engkong sedang membaca koran, Pak Hasan menuang teh. Tidak ada yang tahu bahwa semalam ia tidur dengan rekaman ancaman Kevin tersimpan di bawah bantal.
"Ada acara?" tanya Engkong.
"Om Lim mengajak makan siang."
Engkong menurunkan koran. "Pergilah. Richard anak baik."
Keira hampir tersedak.
Pak Hasan menunduk menyembunyikan senyum.
Villa Awan pada siang hari terasa berbeda. Cahaya masuk melalui kaca besar, memantul di lantai batu alam dan permukaan kolam kecil di halaman dalam. Rumah itu terlalu luas untuk satu orang, tetapi tidak terasa kosong. Semuanya tertata, dingin, dan patuh pada ritme pemiliknya.
Richard tidak menjemput sendiri. Jason yang datang ke Rumah Tan, lalu mengantar Keira sampai ruang makan privat villa. Richard sudah duduk di sana. Di meja tersedia makanan sederhana untuk ukuran konglomerat: sup ayam, ikan kukus, sayur bawang putih, nasi hangat.
"Duduk," kata Richard.
Keira duduk. "Om tidak ke kantor?"
"Nanti."
Jawaban itu terlalu pendek, tetapi Keira menangkap artinya. Ia menunda pekerjaan untuk makan dengannya.
Di samping mangkuk sup, ada segelas air hangat. Bukan es teh, bukan kopi, bukan minuman manis seperti yang biasa disediakan untuk tamu. Keira menyentuh gelas itu, lalu menatap Richard.
"Jason bilang kamu minum semalam," kata Richard.
"Sedikit."
"Perut kosong?"
Keira tidak menjawab.
Richard mengambil sendok dan mengisi mangkuknya dengan sup. "Makan dulu."
Perintah itu kaku, tetapi bukan kasar. Keira menunduk, menyembunyikan rasa aneh yang muncul di dadanya. Kevin pernah menyuruhnya berperilaku. Richard menyuruhnya makan. Perbedaannya sederhana, tetapi tubuh Keira mengenalinya lebih cepat daripada pikirannya.
Mereka makan beberapa menit dalam sunyi. Richard tidak banyak bicara. Keira juga tidak. Ia menunggu. Pria seperti Richard tidak mengundang orang hanya untuk makan.
Akhirnya, Richard meletakkan sumpit.
"Saya salah soal Vanya."
Keira berhenti mengambil ikan. "Om?"
"Aku menyuruhmu mempertimbangkan minta maaf pada orang yang menjebakmu." Tatapannya lurus. "Itu kesalahan saya."
Keira menunduk. "Om tidak perlu meminta maaf."
"Perlu."
Satu kata itu membuat tenggorokan Keira mengetat.
Dalam hidupnya, terlalu banyak orang yang menyakitinya lalu meminta ia memahami alasan mereka. Kevin marah karena tekanan keluarga. Felicia kasar karena manja. Om Hartono serakah karena merasa punya hak. Bahkan Vanya nanti, dalam mimpi, menangis karena "hanya ingin kembali ke keluarga".
Jarang sekali ada orang yang menyakitinya lalu berkata sederhana: itu kesalahan saya.
Air mata Keira jatuh sebelum ia benar-benar memutuskan untuk menangis.
Richard terdiam.
Keira cepat mengusap pipi. "Maaf. Saya tidak bermaksud..."
"Keira."
Suara Richard menahannya.
Keira mengangkat wajah. Matanya basah. Sebagian rencana, sebagian bukan. Ia bisa merasakan dua lapis dirinya bertabrakan: perempuan yang ingin memanfaatkan rasa bersalah Richard, dan anak Papa Hendra yang tiba-tiba ingin dipercaya tanpa harus menunjukkan bukti.
"Saya cuma capek, Om."
Richard menatapnya lama. "Karena Kevin?"
Keira tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Diam kadang lebih berguna daripada cerita panjang.
Richard berdiri dan berjalan ke sisinya. Keira tahu ini titik yang harus ia ambil. Ia bangkit seolah ingin menenangkan diri, tetapi tubuhnya sedikit goyah. Richard mengulurkan tangan untuk menahan lengannya.
Keira bersandar ke bahunya.
Tubuh Richard kembali kaku, sama seperti di mobil semalam. Namun kali ini, ia tidak sedang mengemudi. Tidak ada alasan praktis untuk membiarkan Keira tetap di sana.
Ia tetap membiarkannya.
Keira memejamkan mata. Bahu Richard hangat. Aroma cedarwood dan leather lebih dekat daripada semalam. Napas pria itu menyentuh rambutnya, pelan, teratur, seolah ia sedang memaksa dirinya tetap rasional.
"Maaf," bisik Keira.
Tangan Richard terangkat, berhenti di udara beberapa detik, lalu akhirnya menyentuh punggungnya.
Tepukan pertama sangat kaku.
Tepukan kedua lebih pelan.
Keira menyembunyikan wajah di bahu Richard.
Sentuhan pertama.
Dia tidak mendorongku.
Di luar rencana, dada Keira terasa panas.
Richard berkata, "Kamu ingin membatalkan pertunangan dengan Kevin?"
Keira membuka mata.
Pertanyaan itu berbahaya.
Ia ingin lepas dari Kevin. Tentu saja. Kevin tidak berguna sebagai pria dan semakin berbahaya sebagai alat Vanya. Tetapi pertunangan dengan Keluarga Ong masih punya fungsi. Kevin masih bisa dipakai untuk memancing Vanya, membuka lebih banyak kesalahan, dan menempatkan Richard pada posisi harus memilihnya di depan semua orang.
Belum.
"Saya tidak tahu," jawab Keira pelan.
Tangan Richard berhenti di punggungnya.
"Kamu masih ingin menikah dengannya?"
Keira mundur sedikit, cukup untuk menatap wajah Richard. "Itu keputusan keluarga. Engkong sudah tua. Saya tidak ingin membuatnya cemas."
"Aku akan bicara dengan Pak Ong." Suara Richard turun. "Kamu tidak harus menikah dengan orang yang tidak menghargaimu."
Kalimat itu hampir membuat Keira goyah.
Hampir.
Ia mengangguk pelan, seperti gadis yang ditolong.
Namun di dalam hati, ia tahu jawabannya.
Ia tidak akan putus tunangan sekarang.
Pertunangan ini masih berguna.
Sebelum pulang, Keira mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. "Om, ini untuk Om."
Richard menatap kotak itu. "Apa?"
"Terima kasih. Untuk kasus kampus kemarin."
Di dalamnya, sepasang manset jade imperial green berkilau tenang di atas beludru hitam. Keira membelinya dari toko antik langganan Engkong. Tidak terlalu mencolok, tetapi warnanya dalam, mahal, dan sulit dilupakan.
Richard menatap manset itu lama.
"Kamu tidak perlu memberi hadiah."
"Saya tahu." Keira tersenyum tipis. "Tapi saya ingin."
Richard menerima kotak itu.
Keira menunduk, menyembunyikan degup jantungnya.
Kalau Richard memakainya suatu hari nanti, seluruh panggung akan melihat bahwa ada sesuatu darinya yang menempel pada pria itu.
Richard menutup kotak itu, lalu menyimpannya di saku dalam jas. "Aku akan pakai."
Keira mengangkat wajah terlalu cepat. "Om tidak perlu."
"Kamu bilang ingin memberi."
"Iya."
"Kalau begitu aku ingin memakai."
Tidak ada senyum. Tidak ada nada menggoda. Justru karena itu, Keira tidak tahu harus meletakkan detak jantungnya di mana.
Richard membuka kotak itu sekali lagi sebelum Keira pergi. Cahaya siang menyentuh permukaan jade, membuat warnanya tampak lebih dalam.
"Kamu memilihnya sendiri?"
"Iya. Engkong punya toko langganan."
"Selera kamu bagus."
Pujian itu pendek, tetapi cukup membuat Keira menunduk lebih cepat daripada yang ia rencanakan.
Ia menyadari Richard melihat reaksinya, dan itu membuat telinganya semakin panas tanpa bisa ia sembunyikan.
Di perjalanan pulang, ia menyentuh ujung jarinya sendiri. Punggungnya masih menyimpan bekas tepukan kaku Richard. Bahunya masih menyimpan hangat tempat ia bersandar. Dan untuk pertama kalinya, Keira bertanya pada diri sendiri apakah semua sentuhan yang ia rencanakan akan tetap bisa ia kendalikan saat benar-benar terjadi.