Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
"Mama... kapan Mama datang?" tanya Nadya parau, suaranya masih terdengar lirih dan linglung khas orang yang baru terjaga.
"Baru beberapa menit yang lalu, Nak," jawab Marini sambil perlahan menguraikan pelukannya.
Sepasang matanya masih digenangi air mata yang tak kunjung surut. Air mata itu sebenarnya sudah tumpah sejak ia baru saja menginjakkan kaki di tanah Los Angeles. Kala itu, sang suami baru menerima panggilan telepon yang mengabarkan bahwa putri tunggal mereka menjadi korban penusukan. Seketika itu juga, jantung Marini seolah terlepas dari raganya. Tanpa memedulikan lagi urusan bisnis yang baru akan dimulai, mereka langsung mengurus izin terbang darurat dan memutar balik jet pribadi malam itu juga demi memangkas waktu untuk kembali ke Indonesia.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Mana yang sakit? Katakan pada Mama, Sayang," cecar Marini bertubi-tubi, jemarinya yang gemetar bergerak panik memeriksa tubuh putrinya seolah takut menemukan luka lain yang tersembunyi.
"Nad baik-baik saja, Ma. Mama tidak perlu khawatir, lukanya tidak terlalu parah," ujar Nadya lembut, mencoba mengalirkan ketenangan. Jemari ringkihnya terulur untuk menyapu sisa-sisa linangan air mata yang masih menggantung di pelupuk mata sang mama.
"Nad... kamu hampir membuat Mama gila, tahu tidak, Sayang?" Isak Marini kembali pecah, membawa tubuh putrinya masuk ke dalam dekapan hangat yang protektif.
"Siapa yang melakukan semua ini, Nad? Siapa yang berani melukai putri Papa seperti ini?"
Suara berat itu menginterupsi dari sisi brankar. Andy, yang sejak tadi berdiri diam membiarkan sang istri menumpahkan seluruh kekhawatirannya, kini akhirnya angkat bicara. Sorot matanya yang tajam memancarkan kilat amarah yang tertahan, menuntut jawaban atas kemalangan yang menimpa putri tunggalnya.
Kemaren malam, saat tiba di LA , Andy baru mendengar garis besar kronologi penusukan itu dari dua pengawal yang ia sewa untuk mengawasi putrinya dari jauh, melalui sambungan telpon. Namun, identitas dalang di balik luka sang putri masih menjadi misteri yang menyulut amarahnya.
"Pa..." Nadya menatap sang ayah dengan sorot cemas yang kentara.
Batinnya didera dilema hebat. Ia sama sekali tidak ingin menyebut nama Arnold, karena ia tahu persis sang ayah bisa bertindak nekat hingga mengancam kebebasan yang belum lama gadis itu peroleh pasca-insiden kelam tiga tahun lalu. Namun, melihat tatapan menuntut dari ayahnya, Nadya sadar tidak ada gunanya berbohong, lambat laun, sang ayah pasti akan mengendus kebenaran itu sendiri.
"Arnold," cicit Nadya akhirnya, nyaris tak terdengar.
"Arnold?" Andy mendesis geram, seolah nama itu adalah racun yang membakar lidahnya. "Kapan bajingan itu bebas?"
Aura di dalam kamar rawat seketika berubah mencekam. Rahang Andy mengeras sempurna, sementara tatapan matanya berkilat murka, siap merobek siapa saja yang telah berani menyentuh harta paling berharganya.
"Seminggu yang lalu, Pa... waktu itu Nadya tidak sengaja bertemu dengannya di kampus," aku Nadya lirih, kian menunduk dalam.
"Astaga, Nad! Jangan bilang ini alasan kenapa kamu tidak masuk kuliah selama seminggu ini?" Suara Andy seketika meninggi di depan putrinya. Napasnya memburu terengah. "Kenapa kamu tidak memberi tahu kami tentang hal ini, ha?! Kalau saja sejak awal kamu bicara pada Papa dan Mama, semua ini tidak akan pernah terjadi!"
Nada bicara Andy bergetar hebat, terdengar rancu antara luapan amarah pada sang putri atau justru bentuk makian pada dirinya sendiri, merutuki keteledorannya yang telah gagal menjaga keselamatan darah dagingnya sendiri.
"Pa... cukup, Pa! Nadya sedang dalam kondisi seperti ini, kenapa malah kamu marahi?" sela Marini tegas.
Ia langsung pasang badan, merengkuh bahu Nadya yang tampak menciut ketakutan di bawah bayang-bayang kemurkaan sang ayah, mencoba menjadi perisai bagi kerapuhan putrinya.
Andy menghela napas panjang dan berat, berusaha mengusir rasa sesak di dada yang hampir saja membuatnya meledak di depan sang putri. "Papa mau menemui Amar dulu," ujarnya dingin, bersiap memutar langkah.
Namun, sebelum kakinya sempat melangkah, jemari Nadya bergerak cepat menahan lengan sang ayah.
"Pa, tolong jangan marahi atau pecat Paman Amar. Dia tidak bersalah, Pa. Ini murni keinginan Nadya yang nekat menangkis pisau itu," pinta Nadya memohon. Ketakutan terbesar saat ini adalah jika sang ayah melimpahkan kesalahan pada sopir kesayangannya itu.
"Kamu masih membelanya? Jelas-jelas dia gagal menjagamu!" sentak Andy. Dengan sekali sentakan halus namun tegas, ia melepaskan cengkeraman tangan Nadya di lengannya, lalu berbalik pergi mengabaikan seruan panik putrinya yang terus memanggil namanya.
Tepat di depan pintu kamar rawat, Andy berpapasan dengan Riska yang baru saja datang untuk menjenguk. Tanpa sepatah kata pun atau sekadar sapaan formalitas, Andy terus melangkah lebar dengan rahang mengeras dan wajah sekaku batu.
Saat melangkah masuk ke dalam ruangan, Riska disuguhi pemandangan pilu, sahabatnya tengah menangis sesenggukan di dalam pelukan hangat Tante Marini.
"Ma... ini bukan salah Paman Amar, Ma. Biarkan Nadya menyusul Papa," berontak Nadya parau, mencoba melepaskan diri dari dekapan ibunya.
"Nad, tenang, Sayang. Dengar Mama..." Marini mempererat pelukannya, mengusap punggung Nadya dengan penuh kelembutan.
"Papamu tidak akan memecat Paman Amar, Mama yang jamin. Kalau dia sampai berani melakukannya, dia harus berurusan dengan Mama dulu. Sekarang kamu tenang, ya? Nanti jahitan lukamu bisa terbuka lagi, Sayang."
Nadya mendongak perlahan, menatap sang mama dengan mata berkaca-kaca. "Mama serius?"
"Iya, Sayang. Mama janji," bisik Marini menenangkan. Jemari keibuannya perlahan menyeka sisa air mata di pipi putrinya, menyalurkan kehangatan yang begitu dirindukan Nadya.
Untuk beberapa saat, keheningan yang sarat akan rasa bersalah menyelimuti mereka. Nadya menatap wajah ibunya yang tampak lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata, bukti nyata dari kepanikan semalam suntuk di atas jet pribadi. Ada rasa sesak yang menghimpit dada Nadya melihat sang mama harus menderita karena kecerobohannya. Ia mendekap tangan ibunya erat, menyandarkan keningnya di sana dalam keheningan yang rapuh, seolah saling meminta maaf tanpa kata.
Ketegangan emosional itu perlahan terurai saat pintu kamar sedikit berderit. Marini mendongak, menyadari sesosok gadis yang berdiri ragu di ambang pintu.
"Riska? Kamu sudah di sini, Sayang?" tanya Marini, suaranya sedikit serak namun langsung melembut begitu melihat sahabat putrinya, yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
Riska tersenyum tipis, melangkah canggung. "Iya, Tante."
"Ayo, masuklah. Kamu mau menjenguk Nadya, kan?" Marini menyambutnya hangat, lalu beralih menatap semangkuk bubur rumah sakit di atas nakas yang masih utuh tak tersentuh. Ia menghela napas maklum, ia tahu betul putrinya paling antipati pada makanan hambar.
"Kalau begitu, kalian mengobrollah dulu. Mama mau keluar sebentar mencari makanan. Kamu belum makan apa pun sejak sadar, kan, Sayang?"
Nadya menggeleng manja, mencoba mengusir sisa kesedihan tadi. "Nadya tidak suka makanan rumah sakit, Ma."
"Lalu kamu mau makan apa? Biar Mama carikan di bawah, atau nanti Mama suruh sopir di depan untuk membelinya?"
"Apa saja, Ma. Yang penting rasanya enak," sahut Nadya dengan senyum kecil yang mulai terbit.
Marini terkekeh pelan, lalu menoleh ke arah Riska. "Kamu mau titip makan apa, Ris?"
"Eh, tidak usah, Tante. Riska sudah makan sebelum ke sini tadi," tolak Riska sopan sembari mengibaskan tangannya pelan.
"Ya sudah, kalau begitu nanti Tante belikan camilan saja untuk teman kalian mengobrol. Tante tinggal dulu, ya?" pamit Marini lembut, memberikan kecupan singkat di kening Nadya sebelum melangkah keluar kamar dan membiarkan kedua sahabat itu memiliki waktu berdua.