Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Cahaya lampu depannya menyapu halaman yang luas, menampakkan rumpun bunga melati, pohon mangga tua, serta sumur yang berdiri tak jauh dari beranda. Rumah kayu itu tampak sederhana, tetapi terawat. Dindingnya telah beberapa kali dicat ulang, meski warna cokelat kayunya masih terlihat jelas di beberapa bagian.
Tio mengembuskan napas panjang. "Alhamdulillah... akhirnya sampai juga."
"Belum," sahut Ustadz Haris tenang. "Masuklah ke halaman dulu. Jangan berhenti di depan pagar."
Tio mengangguk. Mobil melewati pintu pagar bambu yang memang sengaja dibiarkan terbuka. Roda-roda kendaraan berderak pelan di atas jalan setapak berbatu hingga akhirnya berhenti tepat di depan teras. Mesin mobil tetap menyala. Beberapa detik berlalu tanpa seorang pun bergerak turun.
Ustadz Haris mengamati keadaan di luar melalui kaca depan. Pandangannya menyapu beranda, jendela rumah, halaman, hingga pepohonan yang mengelilinginya. Semuanya tampak biasa.
Lampu teras memancarkan cahaya kekuningan yang hangat. Dari balik jendela, terlihat bayangan seseorang melintas perlahan.
"Sepertinya mereka sudah menunggu," gumam Bu Mimi.
Ustadz Haris mengangguk tipis, tetapi belum membuka pintu."Tunggu sebentar."
Ia menutup mata sejenak, melafalkan doa perlindungan dengan lirih. Setelah selesai, barulah ia membuka pintu mobil. Udara malam yang lembap langsung menyambut mereka, membawa aroma tanah basah bercampur wangi daun pandan dari halaman.
"Keluar satu per satu," katanya pelan. "Jangan ada yang berpencar."
Tio turun lebih dulu. Ia berdiri di samping mobil sambil memperhatikan keadaan sekitar. Suasana desa begitu sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik bersahutan dan sesekali lolongan anjing dari kejauhan.
Anya masih duduk mematung. Tatapannya tertuju ke kain berajah yang belum juga dilepaskannya sejak tadi.
"Sudah sampai, Nak," bujuk Bu Mimi lembut. "Pelan-pelan saja."
Anya mengangguk kecil. Dengan napas yang mulai teratur, ia melangkahkan kaki keluar dari mobil, lalu menatap rumah yang telah lama tidak ia kunjungi. Dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan...rindu, cemas, sekaligus takut menghadapi apa yang mungkin menantinya di balik pintu rumah itu.
Anya berdiri terpaku di halaman. Cahaya lampu teras yang kekuningan jatuh tepat di wajahnya, membuat kenangan-kenangan yang selama sebulan terakhir hanya tersimpan di kepalanya kembali bermunculan.
Rumah itu masih sama. Pot bunga yang ia susun sebelum berangkat bekerja masih berjajar rapi di sisi teras. Ayunan bambu buatan ayahnya masih tergantung di bawah pohon mangga. Bahkan sandal jepit tua milik ayahnya masih tergeletak di sudut beranda, seperti biasa. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu justru membuat tenggorokannya tercekat.
"Ayo, Nak," ujar Bu Mimi lirih sambil mengusap lengan Anya.
Anya menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. Baru selangkah ia berjalan, pintu rumah terbuka dari dalam. Seorang perempuan paruh baya muncul sambil membawa lampu darurat yang cahayanya temaram. Rambutnya digelung sederhana, mengenakan daster bermotif bunga yang mulai pudar warnanya.
Begitu melihat sosok Anya berdiri di halaman, langkahnya langsung terhenti."Anya...?" Suara itu penuh keheranan. "Kok pulang? Bukannya masih di kantor cabang?"
Anya tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak mampu menyembunyikan wajahnya yang pucat."Ibu..."
Tanpa berpikir panjang, Bu Narti segera menuruni anak tangga. Tangannya langsung memegang kedua pipi putrinya."Ya Allah..." bisiknya pelan. "Mukamu kenapa pucat begini?"
Ia meraba dahi Anya, lalu menggenggam kedua tangannya."Dingin sekali. Kamu sakit?"
Anya menggeleng pelan."Nggak apa-apa, Bu... cuma capek."
Jawaban itu terdengar lemah, bahkan bagi dirinya sendiri. Bu Narti mengernyit. Sejak kecil ia tahu, setiap kali Anya berkata "nggak apa-apa", justru ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Pandangannya kemudian beralih kepada tamu-tamu yang berdiri beberapa langkah di belakang."Oh... maaf, saya malah fokus sama anak saya." Ia tersenyum sopan. "Silakan masuk, Pak."
Ustadz Haris membalas senyum itu dengan anggukan hormat."Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Maaf kami datang malam-malam begini, Bu. Perjalanan kami cukup jauh."
"Tidak apa-apa. Kebetulan saya memang belum tidur."
Bu Narti mempersilakan mereka naik ke teras. Lantai kayu rumah itu berderit pelan saat diinjak satu per satu. Belum sempat mereka masuk seluruhnya, terdengar suara langkah kaki tergesa dari arah dalam rumah.
"Bu... siapa yang datang?" Suara laki-laki paruh baya itu terdengar berat.
Beberapa detik kemudian, seorang pria berkaus lengan panjang dan bersarung muncul dari ruang tengah sambil mengenakan peci hitam yang belum sempat ia rapikan.
Tatapannya langsung jatuh pada Anya. "Eh... Nduk?"Wajahnya seketika berubah bingung sekaligus gembira."Lho... kamu kok pulang? Bukannya baru sebulan berangkat ke kantor cabang?" Ia melangkah mendekat sambil terkekeh pelan. "Harusnya bilang dulu. Bapak kan bisa jemput di jalan besar."
Anya menundukkan kepala. Dadanya kembali terasa sesak. Ia ingin memeluk kedua orang tuanya seperti biasa, tapi bayangan kejadian-kejadian yang dialaminya selama beberapa hari terakhir membuat langkahnya terasa berat.
Di sisi lain, Ustadz Haris memperhatikan pasangan suami istri itu dalam diam. Untuk sesaat, ia merasa lega. Setidaknya, rumah ini masih menyimpan kehangatan sebuah keluarga. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa malam ini bukan sekadar malam kepulangan seorang anak. Ada sebuah kebenaran lama yang sebentar lagi akan mengetuk pintu rumah itu.
Pak Dirman...menepuk pelan bahu putrinya. Senyum hangat masih tergambar di wajahnya, meski sorot matanya menyimpan banyak tanda tanya."Masuk dulu, semuanya. Di luar dingin."
"Betul, Pak," sahut Bu Narti. "Kasihan Anya. Kelihatannya lelah."
Anya mengangguk pelan. Ia melangkah memasuki rumah, diikuti Ustadz Haris, Bu Mimi, dan Tio. Aroma kayu jati yang khas langsung menyambut mereka, bercampur wangi teh melati yang masih tersisa dari dapur.
Ruang tamu tak banyak berubah sejak terakhir kali Anya berpamitan sebulan lalu. Kursi kayu dengan bantalan bermotif bunga masih tersusun rapi menghadap meja kecil di tengah ruangan. Di sudut dekat jendela berdiri lemari kaca berisi piala-piala lama milik Arya dan Revi semasa sekolah.
Tatapan Anya tanpa sadar berhenti pada sebuah foto keluarga yang tergantung di dinding. Di dalam foto itu, mereka berlima berdiri berdampingan. Pak Dirman, Bu Narti berada di tengah, sementara Arya berdiri di sisi kanan ayahnya dengan senyum lebar. Revi merangkul bahu Anya yang saat itu baru lulus kuliah. Senyum di foto itu terasa begitu jauh dibanding keadaan sekarang.
"Lho, Arya sama Revi mana, Bu?" tanya Anya pelan.
Bu Narti menuangkan air minum ke beberapa gelas. "Arya masih di bengkel. Katanya ada mobil pelanggan yang harus diselesaikan malam ini. Kalau Revi, habis mengajar les di rumah Bu Sulastri. Biasanya sebentar lagi juga pulang."
"Oh..."Anya mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, terdengar suara deru sepeda motor memasuki halaman.
Brmmm...
Pak Rudi menoleh ke arah pintu.
"Itu sepertinya Arya."
Belum sampai mesin motor benar-benar mati, terdengar suara laki-laki dari luar.
"Bu... Pak... aku pulang!"
Pintu depan terbuka lebar. Seorang pria bertubuh tegap dengan jaket bengkel, masih berlumur noda oli melangkah masuk sambil melepas helmnya. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja.
Begitu matanya menangkap sosok Anya yang duduk di ruang tamu, langkahnya langsung terhenti."Anya?"Matanya membelalak."Lho... kok kamu pulang? Bukannya masih di kantor cabang?"
Seketika senyum lebar mengembang di wajahnya. Tanpa ragu ia menghampiri adik bungsunya, lalu mengacak pelan rambut Anya seperti kebiasaannya sejak dulu."Dasar. Pulang nggak bilang-bilang. Mau bikin kaget satu rumah, ya?"
Anya berusaha tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak perjalanan panjang itu, senyumnya terlihat lebih tulus. "Iya, Mas..."
Arya yang semula tersenyum lebar perlahan mengernyit. Ia baru menyadari wajah adiknya jauh lebih pucat dari biasanya."Yan..." Nada suaranya berubah pelan."Kamu kenapa?"
atau Anya kerja sambil kuliah thor?