NovelToon NovelToon
GALACTIC PARCEL SERVICE

GALACTIC PARCEL SERVICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Komedi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.

Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.

Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.

Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Sejarah Peradaban, Manusia Geprek, dan Duo Biadab

Malam itu juga, kapal kargo raksasa GPS Andromeda melepaskan kait tambatannya dan meninggalkan Kota Cucurville, melesat menuju lintasan berikutnya.

Keesokan paginya, mereka sudah merapat di satelit bulan Ninovia, menurunkan sisa paket makanan yang masih bergunung-gunung. Barulah pada siang harinya, lambung Andromeda akhirnya membuang sauh di stasiun orbit milik Planet Ninovia Industri, sebuah planet yang dari luar angkasa tampak seperti bola logam raksasa yang terus mengepulkan asap pabrik.

Karena seluruh permukaan planet ini dikhususkan secara eksklusif untuk mesin raksasa dan manufaktur kaum Urana tanpa sepetak pun ruang terbuka hijau, hampir seluruh awak kapal memilih untuk berdiam diri di dalam Andromeda. Hanya Divisi Kargo di bawah pimpinan Null yang kini sedang mandi keringat di bawah sana untuk menyelesaikan sisa pengiriman.

Sementara itu, di dalam Kantin Utama Sektor C yang sejuk dan tenang.

Arka sedang duduk santai di meja yang menempel langsung dengan jendela kaca panorama raksasa. Dari balik kaca, hamparan bintang berselimut asap pabrik Ninovia Industri terlihat kontras. Di seberang meja Arka, duduklah Rizer. Gadis Reptola dari divisi hidroponik itu menunduk malu-malu, mengaduk pelan semangkuk supnya.

"Kok kebetulan banget ya kita bisa makan bareng siang ini, Mbak Rizer?" sapa Arka memecah keheningan, menyendok makanannya.

Rizer mengangkat wajahnya sedikit, sisik hijau pucat di pipinya merona merah tipis. "I-iya, Pak. Kebetulan aja pas jam istirahat."

(Kyaaaaaa! Ya ampun, aku makan siang berdua sama Kapten! Hihihi!) jerit Rizer kegirangan dalam monolog batinnya, meski di luar ia berusaha mempertahankan ekspresi kalem dan anggunnya.

Rizer berdeham pelan untuk menormalkan detak jantungnya. "Kapten sendiri... nggak ikut turun ngawasin bongkaran kargo?"

Arka mengibaskan tangannya santai. "Ah, tinggal sisa beberapa ton dikit lagi kok. Jadi biar si Kepala Kargo aja yang urus sampai tuntas. Saya juga kebetulan belum sempat makan dari pagi gara-gara sibuk ngurus laporan rute."

Hening kembali menyelimuti meja mereka. Suara garpu Arka yang beradu dengan piring terdengar berirama. Rizer yang panik mencari topik obrolan agar momen berharga ini tidak terasa garing, membuang pandangannya ke luar jendela, menatap planet pabrik di bawah sana.

"Kapten tau nggak?" Rizer tiba-tiba memulai, nada suaranya mendadak terdengar berwawasan layaknya seorang dosen. "Kalau kita kaji ulang, dulu saat semua peradaban di galaksi ini masih berada di fase Peradaban Tipe 0, kebanyakan dari makhluk hidup tidak memisahkan zona tata ruang mereka seperti sekarang ini."

Arka menghentikan kunyahannya. "Hmm? Maksudnya gimana?"

"Iya, di zaman kuno dulu, zona permukiman penduduk bisa sangat mungkin tercampur aduk dengan zona industri pabrik," jelas Rizer antusias.

Arka mengerutkan kening, mencoba membayangkan konsep itu. "Oh, iya kah? Kalau pabrik bersebelahan sama rumah, bukannya malah jadi banyak yang kena penyakit pernapasan atau limbah gitu dong?"

Rizer mengangguk mantap. "Tepat sekali, Pak! Memang begitu kenyataannya. Selain karena alasan banyak pekerja kasar yang tidak mau tinggal jauh dari tempat mereka bekerja, alasan utamanya juga karena kurangnya lahan untuk membangun."

"Gitu ya..." Arka mengangguk-angguk paham, kembali menyendok makanannya. "Masuk akal sih. Mereka di zaman itu kan pasti belum punya warp atau mesin anti-gravitasi massal kayak kita sekarang ini."

Arka menatap Rizer dengan raut wajah kagum. "Hebat juga wawasan kamu, Zer. Apa dulu waktu kuliah, kamu selain ambil jurusan agrikultur, juga ambil jurusan sejarah galaksi ya?"

Mendengar pujian langsung dari lelaki yang disukainya, ekor tebal Rizer di bawah meja bergoyang pelan. Hatinya berbunga-bunga.

"Ah, biasa aja kok, Pak," jawab Rizer merendah, tersenyum manis. "Saya memang dari dulu punya hobi membaca dan mempelajari peradaban sebelum kita."

Arka tersenyum hangat. "Oh, jadi kamu suka melihat bagaimana sebuah peradaban itu berjalan, berjuang, dan berevolusi ya?"

Wajah manis Rizer mendadak datar. Ia memiringkan kepalanya sedikit.

"Bukan, Pak."

Arka menghentikan suapannya di udara. "Lah... terus?"

"Saya suka aja ngeliat kebodohan mereka."

​UHUK!!

​Arka langsung tersedak hebat. Nasi sintesis yang baru setengah ia kunyah menyangkut di tenggorokannya. Ia terbatuk-batuk keras sambil memukul-mukul dadanya sendiri.

​Melihat kaptennya tersedak, Rizer dengan sigap dan cekatan mengeluarkan selembar sapu tangan sutra bersih dari saku overall hijaunya, lalu menyodorkannya ke tangan Arka.

​"Ini, Pak, pakai sapu tangan saya," ucap Rizer lembut. "Makanya, kalau makan itu dikunyah pelan-pelan, jangan buru-buru. Nggak akan ada yang minta kok makanannya."

​Arka menerima sapu tangan itu sambil masih terbatuk, lalu menatap Rizer dengan raut wajah protes.

​(Buset dah!) batin Arka setengah tak terima. (Ya kan gara-gara caramu ngomong tadi! Nada suaramu udah serius mirip profesor sejarah, tapi ternyata alasan utamamu belajar cuma buat ngetawain kebodohan orang zaman dulu?!)

​Setelah mengambil napas panjang dan menetralkan rasa perih di kerongkongannya, Arka membersihkan mulutnya. "Haaah... m-maaf, maaf. Saya keselek," katanya. "Makasih ya sapu tangannya."

​Rizer tersenyum simpul, aura keibuannya memancar kuat. "Nggak apa-apa, Pak."

Ting!

Nada notifikasi pesan masuk dari perangkat komunikator di pergelangan tangan Arka berbunyi. Arka mengetuk layarnya, memunculkan proyeksi teks hologram kecil.

Di sana, terpampang sebuah pesan singkat namun padat dari YUI:

[Yang Mulia Tuan Putri dan ajudannya udah melek tuh. Buruan ke ruang medis.]

Membaca pesan itu, bahu Arka langsung merosot. Wajahnya yang tadinya rileks seketika kembali ke mode kapten yang lelah.

"Yaaah..." desah Arka berat. Ia membereskan piringnya. "Kayaknya saya udah harus balik tugas lagi nih, Zer."

Rizer berusaha menyembunyikan kekecewaannya dengan senyuman pengertian. "Nggak apa-apa, Pak. Saya mah udah seneng banget siang ini bisa ngobrol dan makan bareng Kapten."

Arka tersenyum, merasa sedikit bersalah karena harus memotong waktu istirahat yang menyenangkan ini. "Besok-besok, kita makan bareng lagi ya kalau jadwalnya pas?"

Mata kuning vertikal Rizer melebar. "Beneran, Pak?!"

(STRIKE ONE, ZER!! ASYIKKK! DAPAT UNDANGAN MAKAN KEDUA!) teriak Rizer heboh di dalam batinnya, ekornya mengelepar bahagia di bawah meja.

"​Iya, beneran," kekeh Arka. "Ya udah, saya tinggal duluan ya. Selamat bertugas lagi di kebun."

​Arka pun berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kantin. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di belakangnya, Rizer masih berdiri memandangi punggungnya yang perlahan menjauh dengan senyum yang tak bisa luntur.

​(Benar-benar orang yang unik...) batin Arka polos. Otaknya yang kelelahan benar-benar gagal menangkap sinyal asmara apa pun dari gadis reptil tersebut, murni menganggap Rizer hanyalah bawahan yang ramah dan sopan.

​Arka lalu kembali memikirkan rencananya menemui Tuan Putri Fontain. (Hmm, oh iya. Sebaiknya aku bawa Pipi juga ke ruang medis. Gimanapun juga, dia yang punya tanggung jawab bawa orang-orang itu masuk ke kapal ini.)

Arka pun membelokkan langkahnya, mengubah tujuannya menuju Pusat Divisi Keamanan di dek sebelah barat.

Begitu memasuki lorong sayap keamanan, nuansa kapal berubah. Dinding logamnya lebih tebal dan suasananya jauh lebih kaku.

Arka berjalan mendekati Ruang Latihan Fisik. Dari kaca tebal yang berada di sebelah pintu baja, ia bisa melihat ke dalam. Pemandangan di sana sukses membuat Arka mengangkat sebelah alisnya. Keenam anak buah Pipi yang berbadan kekar, alien dari berbagai ras, tergeletak mengenaskan di atas matras layaknya ikan asin yang sedang dijemur. Mereka tak bisa bergerak, hanya bisa mengerang tertahan.

Di depan mereka, Pipi berdiri tegak sambil berkacak pinggang. Tak ada setetes pun keringat di wajah Grovax mungil itu.

Arka menggelengkan kepala. Mengabaikan penderitaan anak buah keamanan itu, Arka mengulurkan tangannya menuju panel pintu otomatis. Pintu berdesis pelan, bersiap membuka. Semua orang di dalam ruangan, termasuk Pipi, menoleh ke arah celah pintu yang mulai terbuka untuk melihat siapa yang datang.

Tepat ketika Arka baru saja akan memajukan satu langkah untuk masuk melewati ambang pintu...

Tiba-tiba, sebuah tangan berbalut sarung tangan renda hitam mencengkeram kerah seragam Arka dari belakang, lalu menarik tubuhnya mundur dengan sentakan kuat.

"Woaah!" Arka tersentak kaget dan kehilangan keseimbangan, terhuyung mundur hingga nyaris menabrak dinding koridor.

Ia menoleh ke belakang dengan panik. Ternyata YUI berdiri di sana, menatapnya dengan wajah sintetis yang super datar.

"Mau jadi pecel lele, Bos?" tanya YUI santai, sambil meniup balon permen karetnya.

Arka merapikan kerahnya yang kusut. "Apaan sih kamu ini, YUI! Main tarik-tarik aja ngagetin orang!"

YUI memutar matanya, lalu menunjuk ke sebuah monitor digital kecil yang berkedip merah tepat di sebelah panel pintu ruang latihan.

"Biasain dong, Bos. Kalau mau masuk ruang latihan anak-anak security, baca dulu indikator level gravitasinya," omel YUI layaknya memarahi anak kecil.

Arka mengikuti arah tunjuk YUI. Matanya membulat sempurna melihat angka yang tertera di monitor tersebut: Beban Gravitasi Internal: 50.0 G (50 kali lipat gravitasi standar Bumi).

Napas Arka seketika tercekat. Beban 50 kali gravitasi Bumi berarti jika berat badan Arka 70 kilogram, maka di dalam ruangan itu ia akan merasakan tubuhnya ditarik ke bawah dengan gaya setara 3,5 ton. Tulangnya akan remuk berkeping-keping dan organ dalamnya akan hancur menjadi bubur dalam hitungan detik.

"Buset!" Arka memucat, bulu kuduknya meremang membayangkan nasibnya. "Bisa beneran jadi ayam geprek aku kalau selangkah lagi masuk ke sana!"

Arka langsung menoleh menatap Pipi yang masih berdiri santai di balik pintu ruang latihan yang sudah terbuka.

"Pi! Kenapa kamu diam aja, hah?!" bentak Arka frustrasi. "Bisa mati beneran aku kalau nekat masuk tadi!"

Pipi berkacak pinggang dengan santai, tersenyum jahil memamerkan gigi taringnya. "Lebay ah. Padahal aku sengaja diam karena pengen lihat manusia geprek."

Arka mematung. Otaknya nyaris meledak mendengar kejujuran yang luar biasa bar-bar dari teman masa kecilnya itu. "Dasar cebol biadab!"

Arka menoleh pada asisten AI-nya. "YUI! Matiin mesin gravitasinya sekarang!"

YUI mendengus bosan, namun jemarinya menekan beberapa kode di layar panel luar. Mesin berdengung menurun, dan level gravitasi kembali ke 1.0 G. Bunyi napas lega penuh syukur terdengar beramai-ramai dari para anak buah Pipi yang akhirnya bisa menghirup udara dengan normal di lantai.

Arka akhirnya melangkah masuk dengan aman.

"Ngapain sih ke sini?" sungut Pipi menyilangkan lengannya. "Ganggu orang lagi asyik latihan aja."

Arka melirik tajam ke arah seluruh tim keamanan yang mulai terbatuk-batuk dan merangkak bangun dengan susah payah. "Ini mah bukan latihan, Pi! Ini penyiksaan! Haduuuh... udah, tinggalin mereka istirahat. Ayo ikut aku sekarang, kita harus ke ruang medis nemuin Tuan Putri Fontain itu."

"Lah? Ngapain bawa-bawa aku?" protes Pipi mundur selangkah.

"Ya kan ini semua gara-gara kamu yang sok jagoan nolongin dia! Makanya kamu harus ikut dengar apa penjelasannya!" omel Arka tak mau dibantah.

Pipi mengacak-acak rambut merah mudanya dengan sebal. "Iye, iye, bawel!" Ia lalu menunjuk tajam ke arah YUI yang berdiri bersandar di luar pintu. "Ah, kamu sih, YUI! Ganggu kesenangan orang aja nyelamatin Arka."

YUI membalas tatapan Pipi dengan helaan napas mekanis. "Bukan aku yang mau, tapi sistem protokol perlindungan di core-processor-ku yang bergerak otomatis. Coba kalau sistem keselamatan kapten sialan ini bisa di-delete, pasti tadi udah kubiarin dia masuk."

YUI memiringkan kepalanya dengan senyum misterius. "Padahal jujur aja, aku juga penasaran pengen lihat manusia geprek itu kayak gimana, tahu."

Mendengar percakapan dua entitas wanita mengerikan di depannya, Arka mengusap wajahnya dengan kasar. Tingkat stresnya menembus batas maksimal.

"Kalian berdua ini emang sama biadabnya, ya..." keluh Arka putus asa. "Kalau badanku hancur beneran, kalian mau tanggung jawab?!"

Pipi mendecakkan lidahnya. "Tch! Kan ada mesin Quantum Osteo-Weaver di ruang medis. Alat itu bisa nyusun ulang sel dan struktur tulang yang udah hancur kayak agar-agar, asalkan otakmu belum mati. Gitu aja kok repot. Jangan pengecut gitu dong jadi kapten!"

Arka menarik napas panjang-panjang, menahannya selama tiga detik di paru-paru, lalu mengembuskannya perlahan untuk mengontrol emosi. Ia harus ingat bahwa ia adalah seorang kapten profesional, berhadapan dengan kru yang sosiopat adalah makanan sehari-hari.

"Sudahlah," pungkas Arka, memutar tubuhnya dengan gontai. "Ayo cepat jalan ke ruang medis. Jangan bikin orang nunggu."

1
Feburizu
Mirip Guardian galaksi ya
helena (Hiatus 12/8/26- idk)
ilustrasinya remind me film the guardians of the galaxy 😍
Sarah
Lyra ini yang muncul di bab berapa yah Thor? Hehehe aku lupa. Soalnya tokoh cerita ini emang banyak banget. 😅😆
Maya: Bab 3 & 14, Lyra itu pilot yang tangannya ada 6 😁
total 1 replies
Sarah
Iyeyyyy lanjut!
Eka
wkwkkw🤣
Eka
pasti di suri nyari putri itu
Eka
apakah ini villain pertama?
MayAyunda
mampir kak
Eka
apa itu berarti bu Maya lebih kuat dari pipi? secara dia kan authornya 👀b🤣
Eka
wkwkkw
Eka
bagus sih ini
Eka
tapi kasian GK sih? nanti suaminya pasti kan berpulang duluan kalo kek gitu🥲
Eka
yak authornya nongol
Eka
maksa banget namanya Thor? 🤣
Eka
Hajar mbak zer!! 🤭
Eka
ini yui tuh robot kan ya? apa settingannya emang gitu?
Eka
Author sering sekali pake Kyaaaaa kenapa Thor ? 🤣
Eka
ternyata di masa depan kita tidak financial freedom ya 🤣
Eka
alasan pembully emang always klasik
Eka
pijat apa ne 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!