NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Melihat kondisi itu, Beri mengambil selimut tipis lalu menyelimutkan tubuh Dira. "Malam ini aku tidak akan pulang."

Dira menatapnya. "Kak..."

"Aku akan tetap di sini sampai kamu benar-benar tenang."

"Tapi..."

"Tenang." Beri tersenyum menenangkan. "Aku akan menunggu di ruang tamu. Kalau kamu membutuhkan apa pun, panggil saja. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian malam ini."

Air mata Dira kembali jatuh. Namun kali ini bukan hanya karena takut. Melainkan karena ia merasa tidak harus menghadapi semua ini seorang diri.

Ia mengangguk pelan. "Terima kasih... Kak."

Beri membalas dengan senyum hangat. "Sudah kubilang. Selama aku masih bisa berdiri, aku akan menjagamu."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dira mencoba memejamkan mata dengan keyakinan bahwa di balik pintu kamarnya ada seseorang yang akan memastikan mimpi buruk itu tidak kembali menghampirinya.

***

Pagi-pagi sekali, bel apartemen Dira berbunyi. Beri yang sejak semalam berjaga di ruang tamu segera bangkit dan membuka pintu. Di depan sana telah berdiri Bu Monik dengan wajah penuh kecemasan.

"Bagaimana keadaan Dira?"

"Tidak banyak tidur," jawab Beri pelan. "Beberapa kali terbangun karena mimpi buruk."

Bu Monik mengembuskan napas panjang. "Aku benar-benar mengkhawatirkannya." Semalam, Beri telah menceritakan seluruh kejadian itu melalui sambungan telepon. Begitu mendengarnya, Bu Monik hampir tidak bisa tidur. Keduanya kemudian masuk ke ruang tamu. Dira masih berada di dalam kamar. Mungkin baru saja tertidur setelah semalaman gelisah.

Bu Monik memandang pintu kamar itu dengan mata berkaca-kaca. "Anak itu... kenapa hidupnya harus seberat ini."

Beri ikut menoleh ke arah pintu kamar. "Traumanya kambuh lagi."

Bu Monik berpikir beberapa saat. "Apa perlu aku mencarikan seseorang untuk menemani Dira? Setidaknya sampai kondisinya benar-benar stabil."

Beri mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. "Itu ide yang bagus, Bu."

"Kan?"

"Tapi..." Beri menggeleng kecil. "Menurutku manusia se-introver Dira akan langsung menolaknya."

Bu Monik tersenyum tipis mendengar pilihan kata putranya. "Se-introver itu, ya?"

"Iya." Beri terkekeh pelan. "Ia bahkan butuh waktu lama untuk benar-benar percaya kepada kita. Kalau tiba-tiba ada orang asing tinggal di apartemennya, bukannya tenang, dia justru akan semakin tidak nyaman."

Bu Monik mengangguk pelan. "Kamu benar. Yang paling dibutuhkan Dira sekarang bukan banyak orang. Tapi rasa aman."

Ruangan kembali hening. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar terbuka perlahan. Dira keluar dengan wajah pucat. Matanya masih sembap karena semalaman menangis. Begitu melihat Bu Monik, ia sedikit terkejut. "Bu Monik..."

Tanpa berkata apa-apa, Bu Monik langsung menghampiri dan memeluk Dira dengan lembut. "Syukurlah kamu baik-baik saja."

Pelukan hangat itu membuat mata Dira kembali berkaca-kaca. Untuk sesaat, ia merasa seperti sedang dipeluk oleh seorang ibu. Perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.

***

Menjelang siang, kondisi Dira mulai berangsur tenang.Wajahnya memang masih pucat, tetapi kepanikan semalam sudah jauh berkurang. Bu Monik mengusap pelan kepala Dira sebelum berpamitan. "Beristirahatlah hari ini."

"Iya, Bu." jawab Dira.

"Jangan pikirkan pekerjaan dulu."

Dira mengangguk pelan.

Setelah memastikan semua pintu dan sistem keamanan apartemen dalam keadaan baik, Beri dan Bu Monik akhirnya meninggalkan unit Dira. Mobil melaju perlahan meninggalkan kawasan apartemen. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hingga akhirnya Bu Monik memecah keheningan. "Nak..."

"Iya, Bu?" Beri masih fokus nyetir.

"Kenapa tidak kamu saja yang menjaganya seumur hidupmu?"

Tangan Beri yang memegang setir sedikit menegang. Ia melirik ibunya sekilas. "Maksud Ibu?"

Bu Monik tersenyum tipis. "Jangan pura-pura tidak paham."

Beri terkekeh kecil, tetapi tidak menjawab.

Bu Monik melanjutkan, "Dira sudah seperti putriku sendiri. Aku menyayanginya. Dan..." Ia menatap putranya penuh arti. "...aku juga tahu siapa yang membuatmu masih jomblo sampai sekarang."

Mobil mendadak menjadi sunyi. Beri tetap memandang lurus ke depan. Beberapa detik berlalu. Ia hanya tersenyum tipis tanpa memberikan jawaban.

Bu Monik menghela napas pelan. "Ibu ini melahirkanmu. Ekspresimu saja sudah cukup menjawab."

Beri terkekeh pelan. "Ibu terlalu banyak menebak."

"Benarkah?" Bu Monik balas tersenyum. "Kamu selalu ada saat Dira membutuhkan. Kamu hafal kebiasaannya. Kamu tahu kapan dia sedang menyembunyikan kesedihan. Kalau itu bukan karena perasaan, lalu karena apa?"

Beri menghela napas pelan. "Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Setelah semua yang sudah dia lalui, itu saja."

Bu Monik tidak memaksanya menjawab lebih jauh. Ia hanya menepuk pelan punggung tangan putranya. "Kalau memang suatu hari nanti kamu ingin mengungkapkan isi hatimu, jangan menunggu terlalu lama. Karena hati manusia bisa berubah."

Beri kembali tersenyum tipis. Namun kali ini, senyum itu menyimpan banyak pikiran yang tidak ia ucapkan. Mobil terus melaju membelah jalanan kota. Sementara di dalam hati Beri, ia memilih menyimpan rapat apa pun yang sebenarnya ia rasakan, tanpa ingin mengusik kehidupan Dira yang baru saja mulai menemukan ketenangannya.

***

Dua hari setelah kejadian itu, Dira akhirnya berdiri di depan sebuah klinik psikologi. Tangannya menggenggam erat tali tas. Tatapannya terpaku pada papan nama klinik yang terpampang di depan pintu masuk. Di sini klinik terkenal di kota ini.

Ia tidak bergerak. Beberapa orang keluar-masuk gedung itu. Sementara Dira masih berdiri mematung. Sudah hampir sepuluh menit. Ia menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. "Masuk..." batinnya. "Tidak... pulang saja."

Kedua pilihan itu terus berputar di kepalanya. Sejujurnya... Dira ingin sembuh. Ia lelah hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Lelah tubuhnya gemetar setiap kali bertemu ayahnya. Lelah terbangun karena mimpi buruk. Lelah merasa takut pada sesuatu yang telah terjadi bertahun-tahun lalu.

Tetapi... Ada ketakutan yang jauh lebih besar. Jika ia masuk ke ruangan itu, berarti ia harus menceritakan semuanya. Tentang rumah bordil. Tentang ayah yang menjualnya. Tentang ibunya. Tentang malam-malam yang selama ini berusaha ia kubur sedalam mungkin. Hanya membayangkannya saja membuat napas Dira mulai terasa sesak.

Ia memejamkan mata. Jantungnya kembali berdegup cepat. Bagaimana jika semua luka itu terbuka lagi? Bagaimana jika setelah mengingat semuanya, ia justru menjadi lebih hancur? Bagaimana jika ia tidak sanggup mengendalikan dirinya?

Dira menggigit bibirnya pelan. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Aku ingin sembuh..." bisiknya lirih. "Tapi... aku takut." Kalimat itu terdengar begitu rapuh.

Selama ini, dunia mengenalnya sebagai perempuan yang berani mengambil risiko miliaran rupiah, memimpin ribuan karyawan, dan menghadapi para pengusaha besar tanpa gentar. Namun di depan pintu sebuah klinik psikologi... Dira kembali menjadi gadis enam belas tahun yang ketakutan menghadapi luka yang belum pernah benar-benar sembuh.

Tangannya perlahan terangkat menuju gagang pintu. Lalu berhenti lagi. Ia memejamkan mata sekali lagi. Mengumpulkan keberanian yang, untuk pertama kalinya, terasa lebih sulit daripada membangun seluruh kerajaan bisnis yang dimilikinya.

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!