NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 : Uap Merah dan Pusaran Karang Tajam

Angin laut yang tadinya bertiup stabil kini berubah menjadi pusaran liar yang menghempas layar-layar Nusa Indah. Di sekeliling kapal, lautan biru yang jernih perlahan berganti menjadi warna kehitaman yang pekat. Suhu udara di sekitar geladak melonjak panas, membawa bau belerang yang menyengat serta asap abu vulkanik tipis yang meredupkan sinar matahari sore.

Rombongan kini telah memasuki perairan luar Kepulauan Seribu Karang—gerbang menuju wilayah terlarang Pulau Api Hitam.

Dari balik gulungan kabut abu-abu di kejauhan, mencuat dinding-dinding karang mati bertanduk tajam yang berbaris rapat bagaikan taring-taring naga raksasa. Gelombang samudra yang menghantam dinding karang tersebut menimbulkan suara gemuruh yang memetakkan telinga, menciptakan buih putih yang bergolak hebat di atas pusaran air liar.

"Tahan kemudi! Tetap di jalur timur!" teriak Kapten Wardana dengan suara serak menembus deru angin. Dua prajurit di sampingnya berjuang sekuat tenaga memegang roda kemudi kayu Ulin agar *Nusa Indah* tidak terseret ke dalam celah karang tajam.

Marno berdiri kokoh di geladak depan, memasang kuda-kuda rapat-rapat. Matanya menembus kabut asap belerang yang kian tebal. Di punggungnya, martil besi raksasa terasa menghangat secara aneh—seolah-olah logam tua itu merespons keberadaan energi vulkanik dan bijih purba yang mengalir di sekitar perairan tersebut.

"Sari! Lindungi perbekalan obat di palka bawah!" seru Marno sambil berpaling ke arah Sari.

"Aku di sini, Marno!" jawab Sari yang bertahan di dekat tiang layar utama. Ia telah mengikatkan tas kulitnya rapat-rapat ke badannya. Dari tas itu, ia mengeluarkan bumbung berisi **Minyak Kayu Putih Gunung** dan meneteskannya pada kain penutup hidung Marno, Kapten Wardana, dan para prajurit untuk menyaring bau belerang beracun yang mulai menusuk paru-paru.

Si Mbah bertengger ketakutan di dalam lipatan kain terpal Marno, menyembunyikan wajahnya dari hempasan air laut yang hangat dan berbau tembaga.

*BRAGGGG!*

Tiba-tiba, lambung kanan kapal *Nusa Indah* bergetar hebat setelah menghantam sebongkah karang hitam yang tersembunyi di bawah permukaan air! Suara kayu jati yang berderit pasrah terdengar dari palka bawah.

"Kapten! Lambung kanan bocor! Air laut hangat mulai masuk ke ruang palka!" teriak seorang prajurit dari tangga bawah geladak dengan wajah pucat pasi.

Kapten Wardana mengutuk pelan. "Pusaran air di depan terlalu kuat! Jika kita tertahan di sini, gelombang berikutnya akan menghempaskan kapal ini langsung ke dinding tebing karang!"

Marno melihat ke arah celah tebing karang di depan mereka. Dua buah pilar karang raksasa berdiri menjulang, membentuk gerbang sempit yang dihantam oleh air terjun laut panas. Namun, tepat di tengah celah tersebut, runtuhan batu karang vulkanik raksasa menyumbat separuh jalur pelayaran, menciptakan jeram air berputar yang mematikan.

"Kapten Wardana! Arahkan kapal lurus ke celah gerbang itu!" perintah Marno tegas dengan suara menggelegar di tengah badai asap.

"Tapi Ki Marno! Batu karang raksasa di tengah gerbang itu akan menghancurkan haluan kapal kita menjadi serpihan!" sahut Kapten Wardana ragu.

"Percayalah padaku! Arahkan lurus!" balas Marno tanpa ragu sedikit pun.

Marno menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah ke ujung haluan kapal, memposisikan dirinya tepat di titik terdepan *Nusa Indah*. Tangan kekolnya memegang gagang martil besi raksasanya dengan kedua belah tangan. Ia memusatkan seluruh dorongan tenaga dalam dan kekuatan fisiknya ke dalam kepala martil tua tersebut.

Kain terpal pembungkus martil terlepas ditiup angin kencang, menyingkapkan permukaan besi murni yang kini memancarkan kilau merah tempaan akibat hawa panas vulkanik sekitar!

*Nusa Indah* meluncur melintasi jeram air panas dengan kecepatan tinggi, mengarah lurus ke batu karang vulkanik yang menyumbat gerbang tebing. Jarak antara haluan kapal dan batu raksasa itu kian menyusut—sepuluh langkah... lima langkah... tiga langkah!

"HAAAAAAHHH!"

Dengan raungan yang membahana menembus gemuruh badai, Marno mengayunkan martil besinya dari atas kepala, menghantam tepat pada inti retakan batu karang vulkanik tersebut!

*BOMMMMMMM!*

Pukulan bertekanan luar biasa tinggi itu memicu ledakan gelombang kejut yang amat dahsyat! Batu karang vulkanik raksasa yang sudah rapuh akibat panas bumi hancur terberai menjadi jutaan serpihan batu kecil!

Semburan air hangat dan debu batu membumbung tinggi ke udara. *Nusa Indah* menerjang menembus puing-puing batu yang hancur, melewati celah tebing karang dengan selamat tanpa menghantam dinding tebing!

Seketika itu juga, guncangan gelombang yang ganas mendadak mereda. Kapal meluncur masuk ke dalam sebuah telaga laut pedalaman yang sangat tenang dan dilindungi oleh benteng tebing gunung api melingkar.

Asap belerang yang pekat perlahan terurai oleh embun sore, menyingkapkan pemandangan luar biasa yang ada di hadapan mereka.

Di tengah telaga tenang itu, berdiri sebuah pulau gunung api yang megah namun misterius. Tanah dan batuan di pulau itu berwarna hitam pekat berkilat seperti kaca obsidian. Dari puncak gunungnya, membumbung asap putih tipis yang tenang menuju langit sore. Dan di lereng bawah pulau tersebut, terlihat reruntuhan tangga-tangga batu raksasa serta pilar-pilar batu ukir tua yang setengah tertimbun oleh lahar dingin yang telah membatu.

Itulah **Pulau Api Hitam**—tempat berdirinya Kawah Hyang Tempa.

"Kita... kita berhasil menembusnya..." gumam Kapten Wardana tak percaya, menatap Marno yang berdiri menyapu keringat di dahi dengan napas memburu namun tetap kokoh berdiri.

Sari melangkah mendekati Marno, mengusap bahu pemuda itu dengan kehangatan tulus. "Pukulan yang sangat luar biasa, Marno. Besi martilmu benar-benar menyatu dengan tempat ini."

Si Mbah mendongak dari balik kain, mengendus udara segar pulau baru itu lalu melompat gembira ke atas bahu Marno.

"Nyi Sari, Ki Marno," kata Kapten Wardana seraya mengamati lambung kapal. "Kami harus menepi di pantai pasir hitam itu untuk menambal kerusakan lambung kapal. Perbaikan ini mungkin memakan waktu hingga esok fajar."

Marno menatap reruntuhan pilar-pilar batu tua di lereng pulau yang memancarkan aura misteri zamannya para empu purba.

"Selesaikan perbaikan kapalmu, Kapten," ujar Marno mantap seraya mengikat kembali martil besinya. "Aku dan Sari akan melangkah ke atas untuk mencari Kawah Hyang Tempa dan Pohon Garam Hitam."

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!