Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Langkah kaki Arjuna terasa begitu berat saat ia menyeret tubuhnya keluar dari gedung megah Dirgantara Media Group. Sinar matahari yang terik membakar kulitnya, namun hatinya terasa begitu membeku. Ia masuk ke dalam mobil sedan hitamnya, membanting pintu dengan keras, lalu mencengkeram kemudi dengan tangan yang bergetar hebat. Amarah, rasa malu, dan ketakutan yang luar biasa kini bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Ucapan Larasati yang menyebut draf kerjanya itu sampah , ditambah tatapan mengancam dari Dewa Dirgantara, benar-benar telah menguliti habis sisa harga diri Arjuna.
Namun, yang paling membuat dadanya sesak hingga sulit bernapas adalah kenyataan bahwa proyek miliaran ini adalah tiket terakhirnya untuk pulang ke perusahaan Ayahnya.
Arjuna menyandarkan kepalanya di atas kemudi mobil, memejamkan mata rapat-rapat saat memori tentang tuntutan keras sang ayah, Hendra, kembali berputar menyiksa batinnya. Selama hidupnya sebagai seorang anak, Arjuna tidak pernah sekalipun merasakan kebebasan. Ayahnya adalah tipe pengusaha kuno yang sangat keras dan menganut paham yang ekstrem. Sejak kecil, Arjuna dididik dengan disiplin militer untuk menjadi sempurna. Hendra sangat anti-KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), sama seperti Baskoro. Dia menolak keras jika anaknya langsung duduk nyaman di kursi direktur perusahaan keluarga tanpa pembuktian nyata.
Arjuna ingat betul kalimat dingin ayahnya. Kamu baru boleh memegang posisi direktur di perusahaan Papa, jika kamu sudah sukses membuktikan dirimu hebat di perusahaan orang lain tanpa menggunakan nama besar keluarga kita! Demi mendapatkan pengakuan sang ayah dan mengamankan tahta warisannya, Arjuna telah berjuang mati-matian selama ini. Ia merangkak dari posisi staf biasa di agensi pemasaran mitra ini, menahan caci maki atasan, dan lembur hingga larut malam sampai akhirnya berhasil menjabat sebagai Manajer Pemasaran.
Proyek bersama Dirgantara Media Group ini seharusnya menjadi jalan terakhirnya. Jika hari ini ia sukses, ayahnya berjanji akan menyerahkan kepemimpinan perusahaan keluarga kepadanya. Namun sekarang, semua perjuangannya hancur lebur akibat kesalahan nafsunya sendiri di masa lalu bersama Selly. Surat pengumuman dari Papa Baskoro tidak hanya membatalkan pernikahannya, tetapi juga membunuh reputasi bisnis keluarganya.
Beberapa mitra bisnis ayahnya bahkan sudah mulai menarik modal karena ogah bekerja sama dengan keluarga pembohong yang anaknya terlibat skandal moral.
"Sialan! Kenapa jadi hancur begini!" teriak Arjuna histeris di dalam mobilnya yang sunyi, memukul kemudi berulang kali hingga tangannya memar. Ia meraba dadanya yang terasa nyeri. Ada rasa kasihan yang mendalam pada dirinya sendiri. Ia merasa dijebak oleh takdir. Ia telah menukar masa depan yang terjamin, posisi yang terhormat, dan dukungan logis dari Larasati, hanya demi pemuasan fisik sesaat bersama Selly di kontrakannya.
Waktu tiga hari yang diberikan Larasati hingga hari Jumat besok terasa seperti hitungan mundur menuju tiang gantungan karirnya. Jika ia dipecat, pintu warisan dari ayahnya akan tertutup rapat untuk selamanya, dan ia harus hidup melarat di rumah kecil itu.
Sore harinya, Arjuna pulang dengan kondisi mental yang sudah berada di titik terendah. Begitu pintu depan terbuka, aroma harum sup ayam hangat langsung menyambutnya. Selly, yang sejak sore telah menahan rasa mual dan kram perut akibat kandungannya yang semakin membesar, langsung berjalan cepat dari dapur untuk menyambut suaminya.
"Mas... Mas sudah pulang? Bagaimana rapatnya dengan Pak Dewa dan Larasati hari ini?" tanya Selly dengan nada suara yang sangat lembut dan penuh kehati-hatian, berniat memberikan ketenangan yang tulus.
Arjuna tidak menjawab. Ia melemparkan berkas proyeknya ke atas meja ruang tamu dengan kasar, lalu menatap Selly dengan pandangan mata yang kosong dan putus asa yang mendalam.
"Rapatnya hancur, Selly. Draf pemasaranku dianggap sampah oleh Larasati." ucap Arjuna dengan suara serak dan lirih, kehilangan seluruh keangkuhannya. Pria itu mendudukkan dirinya di tepi sofa, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya yang gemetar.
Selly tertegun, melihat suaminya yang biasa sombong kini tampak begitu rapuh dan hancur, rasa bersalah kembali menusuk-nusuk dada Selly. Ia melangkah mendekat, lalu dengan perlahan memberanikan diri duduk di samping Arjuna, meletakkan tangannya di atas bahu suaminya yang tegang.
"Mas... maafkan aku. Aku tahu aku yang menjadi penyebab semua kesulitanmu ini," bisik Selly dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. "Tapi tolong jangan menyerah, Mas. Kamu adalah manajer yang hebat. Masih ada waktu tiga hari, kan? Aku... aku akan menemanimu begadang, menyiapkan kopi, atau membantu mengetik apa saja yang kamu butuhkan agar draf itu bisa selesai hari Jumat."
Arjuna mendongak, menatap lekat wajah pucat Selly yang kini memandangnya dengan binar ketulusan yang murni tanpa ada kepalsuan drama seperti dulu. Untuk pertama kalinya, ego Arjuna yang terluka mendadak merasakan sedikit kehangatan dari usaha keras Selly yang ingin merawatnya di tengah badai ini.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok