Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Keisya segera mendorong kursinya ke belakang dan berdiri, ia harus berpindah sebelum ada yang melihat kondisinya nanti.
Pandangan Keisya menyapu meja makan dan melihat bahwa tak seorang pun menyadari dirinya bangkit.
Semua perhatian masih tertuju kepada Keyla.
Saat itu Alden rupanya ikut menambahkan lauk ke piring Keyla yang sudah hampir penuh. Hal itu langsung membuat Keyla mendumel pelan dengan wajah yang dipenuhi kekesalan.
Matanya membulat tajam. Pipinya menggembung karena masih sibuk mengunyah makanan.
Ekspresi itu justru mengundang tawa kecil dari orang-orang di meja makan.
Melihat pemandangan tersebut, Keisya hanya mengembuskan napas lirih karna tak ada gunanya berharap seseorang memperhatikan kepergiannya.
Tanpa berkata apa pun, ia memilih berjalan meninggalkan ruang makan.
Setiap langkah terasa semakin berat karena denyutan di kepalanya belum juga mereda. Namun ia tahu dirinya harus bergerak lebih cepat.
Ia tidak ingin ada yang melihatnya mimisan lagi dan menimbulkan kesalahpahaman yang sebenarnya bisa dihindari.
Begitu sampai di depan pintu kamarnya, Keisya mengembuskan napas panjang.
Syukurlah rasa sakit itu masih bertahan, artinya darah belum sempat mengalir.
Setidaknya ia belum terlambat. Namun saat hendak membuka pintu, langkahnya mendadak terhenti.
Seseorang sudah lebih dulu berada di dalam kamarnya.
"Kak...?" Keisya memanggil pelan.
"Apa yang Kak Jane lakukan di kamar Kei?"
Ekspresi bingung di wajahnya hanya bertahan sesaat. Detik berikutnya, pupil matanya membesar, tubuhnya membeku.
Di tangan Jena tergenggam sebuah bantal yang sarung bantalnya berwarna terang dan dipenuhi bercak-bercak darah yang telah mengering di beberapa bagian, sementara sisanya masih tampak baru.
Jena perlahan mengangkat bantal itu. Tatapannya kini sepenuhnya tertuju kepada Keisya.
"Nona Keisya..." suaranya terdengar bergetar. "Ini... bercak apa?"
Meski pertanyaan itu sudah keluar, jauh di dalam hatinya Jena sebenarnya telah mengetahui jawabannya.
Aroma anyir khas darah masih begitu jelas tercium. Sulit baginya menyangkal kenyataan yang ada di depan mata.
"Apa... apa Nona sedang sakit?"
Kecemasan memenuhi wajahnya, nada bicaranya berubah panik. Tangannya bahkan sedikit gemetar saat masih menggenggam bantal tersebut.
Melihat reaksi itu, dada Keisya dipenuhi rasa bersalah, ia tahu Jena sedang salah paham.
Wanita itu pasti mengira dirinya mengidap penyakit serius, padahal semua ini terjadi karena dirinya sendiri.
Semalam ia hampir tidak bisa tidur.
Sejak kembali bertemu Keyla sehari sebelumnya, pikirannya terus dipenuhi bayangan wajah anak itu.
Meski sempat tertidur sesaat setelah memasuki kamar, tidurnya tidak berlangsung lama. Ia kembali terbangun dan baru benar-benar terlelap menjelang pukul dua dini hari.
Ironisnya, ketika akhirnya bisa tidur, mimpi buruk justru datang menyiksanya.
Dalam mimpinya, ia kembali menyaksikan masa lalu yang selama ini berusaha dilupakan. Ia melihat dirinya memegang sepotong besi yang dipanaskan hingga memerah.
Dengan tangan sendiri, ia menghapus tanda lahir di pundak kanan Keyla.
Jeritan kesakitan itu masih terdengar begitu jelas.
Belum selesai sampai di sana, mimpi tersebut kembali berubah, ia melihat dirinya mendorong Keyla dari tangga besar di mansion.
Tubuh kecil itu terjatuh tanpa sempat mempertahankan keseimbangan. Lalu, dengan dinginnya ia menyeret seorang pelayan yang sama sekali tidak bersalah untuk dijadikan kambing hitam.
Semua dosa itu kembali diputar di depan matanya tanpa belas kasihan.
Tak heran ketika terbangun, hidungnya langsung mengeluarkan darah begitu banyak hingga membasahi seluruh sarung bantal.
Sebenarnya Keisya sudah berniat mencucinya sendiri setelah sarapan. Namun sebelum sempat melakukannya, Jena lebih dulu datang mengetuk pintu dan memintanya turun ke ruang makan.
Ia pun menunda semuanya.
Siapa sangka Jena justru masuk ke kamarnya untuk membereskan tempat tidur yang berantakan dan akhirnya menemukan bantal itu.
"Kak... percayalah." Keisya buru-buru melangkah mendekat. "Ini bukan seperti yang Kakak pikirkan. Kei bisa jelaskan.."
Belum sempat kalimatnya selesai, bantal di tangan Jena terlepas begitu saja dan jatuh ke lantai.
Mata wanita itu membelalak lebar dan wajahnya berubah pucat dalam sekejap.
"Nona!" serunya panik.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu