NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Menjinakkan Kobaran Phoenix

Hawa panas yang menyengat langsung menerpa wajah Clara begitu ia menginjakkan kaki di lorong sayap kiri.

Asap hitam mengepul tebal dari sebuah pintu kayu besar yang kini telah hancur separuh, menyisakan pinggiran kayu yang masih membara kemerahan.

Beberapa kru kapal tampak berlarian membawa ember-ember berisi air sihir anti api, namun mereka semua tertahan di depan pintu, tidak ada yang berani melangkah masuk.

"Jangan mendekat! Siapa pun yang masuk akan aku bakar menjadi abu!" Sebuah teriakan sarat amarah dan keputusasaan melengking dari dalam kamar.

Clara menerobos kerumunan kru kapal yang panik.

Bernet, sang kepala pelayan, mencoba menarik lengan gaun Clara untuk menghentikannya. "Nyonya, jangan! Tuan Muda Leo sedang dalam kondisi Overheat. Api Phoenix-nya tidak bisa dipadamkan dengan air biasa jika emosinya tidak stabil!"

"Jika dibiarkan, dia akan membakar dirinya sendiri, Bernet. Dan kapal ini bisa jatuh dari langit," jawab Clara tegas.

Tatapannya lurus menembus kabut asap. Sebagai mantan Penyembuh Agung, ia tahu betul bahwa anak blasteran makhluk mistis sering kali mengalami lonjakan energi jika merasa tertekan atau terancam.

Tanpa mempedulikan peringatan dari kru lain, Clara melangkah melewati ambang pintu yang hangus.

Di dalam kamar yang berantakan, di sudut dekat tempat tidur yang separuhnya sudah menghitam, seorang anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun sedang meringkuk. Dia adalah Leo.

Tubuhnya yang kurus diselimuti oleh kobaran api berwarna jingga kemerahan yang berkobar liar. Rambut hitamnya tampak berdiri, dan di punggungnya, samar-samar terlihat kepakan sayap manifestasi energi berbentuk burung api yang tidak stabil.

Air mata mengalir di pipinya, namun langsung menguap menjadi uap panas sebelum sempat menetes ke lantai.

"Keluar! Aku tidak butuh penyihir jahat lain di kapal ini!" bentak Leo saat melihat gaun putih Clara yang kontras di tengah ruangan yang gelap akibat gosong.

Leo mengibaskan tangannya, melempar sebuah bola api kecil ke arah Clara.

Wusss!

Bola api itu melesat cepat. Clara tidak menghindar. Ia tahu, menunjukkan ketakutan hanya akan membuat energi Leo semakin liar.

Dengan ketenangan yang terlatih, Clara mengangkat tangan kanannya yang kosong dari sihir, lalu menangkap sebuah botol kaca kecil berisi cairan biru jernih yang tergantung di ikat pinggangnya, ekstrak daun salju langit yang selalu ia bawa.

Ia memecahkan botol itu di lantai di depannya.

Uap dingin yang pekat langsung merebak, meredam hawa panas di sekitar Clara dalam radius satu meter.

Bola api Leo padam sesaat sebelum menyentuh ujung sepatu Clara.

Leo tertegun. Sepasang matanya yang sewarna api menatap Clara dengan campuran rasa terkejut dan benci. "Kau... kau punya sihir air? Ayah bilang kau tidak punya sihir!"

"Aku memang tidak punya sihir lagi, Leo," kata Clara dengan suara yang sengaja ia buat selembut dan setenang mungkin. Ia melangkah maju satu demi satu secara perlahan, menunjukkan kedua telapak tangannya yang terbuka untuk membuktikan bahwa ia tidak membawa senjata atau jimat pengikat.

"Ini hanya ramuan herbal. Aku bukan penyihir jahat yang ingin mengikat atau mengurung kekuatanmu."

"Bohong! Semua wanita yang dibawa Ayah ke sini selalu ingin mengurungku! Mereka bilang aku monster!" teriak Leo lagi. Kobaran api di tubuhnya kembali membesar, memercikkan bara ke langit-langit kamar.

"Kau bukan monster, Leo," potong Clara, suaranya terdengar bergetar namun penuh keyakinan. "Kau adalah seorang Phoenix. Api di dalam tubuhmu adalah berkah, sebuah kehangatan yang luar biasa. Hanya saja, saat ini kau sedang ketakutan, dan apimu mencoba melindungimu dengan cara yang salah."

Jarak mereka kini tinggal tiga langkah. Hawa panas dari tubuh Leo mulai membakar ujung rambut Clara dan membuat kulit wajahnya terasa perih.

Namun, Clara menolak untuk mundur. Ia justru berlutut di atas lantai yang panas, menyamakan tinggi badannya dengan Leo yang sedang meringkuk ketakutan.

"Bagaimana kau bisa tahu?" bisik Leo, suaranya mulai bergetar, tidak lagi sekeras tadi.

"Karena aku dulu seorang penyembuh. Aku pernah melihat Phoenix sejati di pegunungan utara. Mereka adalah makhluk yang agung, bukan penghancur." Clara mengulurkan tangannya perlahan mendekati lengan Leo yang masih diselimuti api kecil.

"Apimu terasa membakar karena hatimu sedang terluka. Biarkan aku membantumu menenangkannya. Aku tidak akan memintamu mematikan apimu, aku hanya ingin kau membaginya denganku."

Leo membelalakkan mata. "Jangan sentuh aku! Kau akan terbakar!"

Clara tidak mendengarkan peringatan itu. Dengan nekat, ia menggenggam pergelangan tangan Leo.

Sssss!

Suara kulit yang melepuh langsung terdengar. Rasa sakit yang luar biasa menusuk telapak tangan Clara hingga ke sarafnya. Clara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah demi menahan jeritan.

Alih-alih melepaskan genggamannya, Clara justru menarik tubuh kecil Leo ke dalam pelukannya. Ia mendekap anak itu erat-erat, membiarkan gaun putihnya mulai hangus dan robek terkena jilatan api.

"Tidak apa-apa, Leo... Aku di sini. Kau aman," bisik Clara di telinga Leo, menahan air mata rasa sakitnya sendiri.

Leo membeku di dalam pelukan Clara. Sepanjang hidupnya, setelah ibu kandungnya tiada, setiap kali kekuatannya lepas kendali, orang-orang akan lari menjauh, melemparinya dengan jaring sihir, atau berteriak ketakutan.

Ayah mereka, Kapten Alden, biasanya akan menahannya dengan sihir angin yang dingin dan tegas. Tidak pernah ada satu orang pun yang mau mendekat, apalagi memeluknya di tengah kobaran api yang mematikan.

Di dalam dekapan hangat Clara yang tidak membawa niat jahat sedikit pun, kemarahan dan ketakutan di hati Leo perlahan-lahan mencair.

Seiring dengan detak jantung Clara yang tenang di dadanya, kobaran api jingga yang menyelimuti tubuh Leo mulai menyusut, meredup, hingga akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan asap tipis yang keluar dari pakaian mereka.

Leo melepaskan diri dari pelukan Clara, menatap wanita itu dengan pandangan tak percaya. Kulit telapak tangan Clara melepuh kemerahan, melepaskan aroma luka bakar yang pekat.

"Kau... kau bodoh," bisik Leo dengan suara serak, menyembunyikan rasa bersalahnya di balik kata-kata ketus.

Clara tersenyum lemah, meski dahinya berkeringat menahan perih. "Mungkin saja. Tapi setidaknya, kamarmu tidak jadi hangus total."

Tepat pada saat itu, langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar dari arah lorong. Sosok tinggi Kapten Alden muncul di ambang pintu yang rusak.

Sepasang mata abu-abunya membelalak lebar melihat pemandangan di dalam kamar, putranya yang sudah tenang, ruangan yang penuh asap, dan istri barunya yang terduduk di lantai dengan tangan yang terluka parah.

Alden menatap Clara dengan tatapan yang sulit diartikan, antara syok, tidak percaya, dan sesuatu yang baru saja terancam runtuh di dalam dinding hatinya yang beku.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!