seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perdebatan Neta dan James.
Dua orang laki laki berbeda usia tampak asik mengobrol satu sama lain, obrolan mereka tampak sangat seru saat Nana datang sambil membawa minuman dan camilan di atas nampan.
Neo melihat ke arah istrinya yang datang dengan langkah pelan, kedua alisnya bertaut heran dengan yang di lakukan istrinya.
"dimana bibi ma...? Kenapa mama yang membawa camilan dan minuman ke sini...?"
Neo segera berdiri dan segera membantu Nana membawakan nampan di tangan Nana, senyuman wanita cantik itupun mengembang sempurna melihat kepedulian suaminya.
"bibi lagi sibuk pa, papa sudah pulang dari tadi...? Kenapa tidak langsung masuk ke dalam...? Maaf tadi mama sibuk di belakang, jadi tidak sempat sambut kepulangan papa."
Neo tersenyum melihat rasa bersalah Nana , seperti biasa Neo akan membelai rambut istrinya ketika melihat kesedihan di wajah cantik Nana.
"tidak apa apa, papa juga tadi belum sempat masuk ke dalam karena melihat anak kenalan papa. Oh iya ma, kenalkan ini Eric. Anak dari relasi bisnis papa di jakarta."
tatapan Nana dan Eric saling tersenyum, mereka saling menyapa satu sama lain dengan berjabat tangan.
"halo saya mamanya Neta jg ga istri dari bapak neo, kita belum sempat berkenalan secara resmi bukan...?"
Neo menautkan kedua alisnya mendengar ucapan istrinya, dia bingung dengan ucapan Nana yang terkesan jika mereka sudah pernah saling bertemu.
"dia kekasih putri cantik kita pa, tadi kami sudah bertemu saat Neta pulang bersama Eric. Kami belum sempat berkenalan secara resmi tadi di depan, dan mama lebih terkejut kalau ternyata papa sudah mengenal dia lebih dulu."
Nana, Neo dan Eric saling tertawa. seakan mereka kini merasa konyol satu sama lain, akhirnya ketiga orang tersebut saling mengobrol satu sama lain dengan santai.
Berbeda dengan James dan Neta yang saat ini ada di dalam kamar Neta, beberapa menit yang lalu saat Neta masuk kedalam rumah, James sengaja mengikuti gerak langkah Neta.
Langkah Neta teratur menuju ke arah di mana kamarnya berada, letak kamar yang ada di lantai dasar memudahkan James mengikuti Neta dari belakang.
James yang melihat Neta masuk ke dalam kamar segera menahan pintu kamar Neta sebelum Neta menutupnya rapat, Neta yang terkejut sampai terdiam menatap ke arah James.
"apa yang kamu lakukan James...? Keluar sana, aku ingin ganti baju sebentar."
James masih diam, dia sengaja mendorong tubuh Neta agar dia bisa masuk dan menutup kamar Neta.
Terlihat pintu kamar Neta yang tertutup rapat, jemari tangan James bergerak cepat mengunci pintu kamar Neta.
Neta membelalakan matanya terkejut melihat tingkah James yang tiba tiba, dengusan dari Neta menjadi pertanda jika Neta tidak suka dengan apa yang di lakukan James.
" kita harus bicara Neta."
Ucapan james terdengar seakan ingin mengintimidasi Neta, merasa jika penolakkan Neta tak akan berarti membuat wanita cantik itu memilih pergi dan berjalan menjauhi James menuju ke kamar mandi.
Merasa jika Neta tidak akan keberatan dengan permintaan James yang akan berbicara empat mata dengannya, James melangkah ke tempat tidur Neta dan merebahkan dirinya di atas ranjang king size milik Neta.
Tubuh lelah James merasa nyaman di atas ranjang, sampai dia tidak sadar kedua matanya hampir tertutup rapat karena rasa lelahnya.
Kedua mata James dengan cepat terbuka saat mendengar suara pintu kamar mndi yang terbuka, James segera mengalihkan pandangan matanya melihat Neta yang sudah berganti memakai baju santainya.
James dengan cepat mendudukan dirinya, dia tidak ingin Neta melihat rasa lelah James yang saat ini dia rasakan.
"apa yang ingin kamu bicarakan...?"
Neta duduk di ujung ranjang, dia ingin mendengarkan apa yang membuat James menahannya di dalam kamar Neta.
"putuskan hubunganmu dengan Eric Neta, kamu tidak tahu siapa dia...!!?"
Suara James terdengar menekan, Neta dapat merasakan kekesalan dari nada bicara James.
"untuk apa aku memutuskan hubunganku dengan Eric, toh aku juga sudah mengenal dia sejak dia masuk ke perusahaan kamu."
James berdecak kesal, dia kesal dengan jawaban Neta.
"kamu belum mengenal dia Neta, dia itu seorang pemain. Kamu akan menyesal jika kamu sudah mengenal dia lama, mungkin jika hubungan di awal dia akan baik baik saja, tapi aku... Aku tidak ingin dia merusak kamu sebelum kamu tahu semuanya."
Neta tersenyum sinis mendengar penuturan James tentang Eric, yang Neta tahu jika Eric adalah seorang laki laki baik baik dan bukan orang b*jing*n seperti yang James ucapkan.
"aku akan merubah Eric jika persepsinya tentang dia seperti itu, dan aku yakin rasa cinta kami bisa mengubah tabiat jelek Eric kedepannya."
Neta sengaja menantang James agar James mundur dengan niatnya memutuskan hubungan Eric dan Neta.
"Neta....!!!? Aku lakukan semua demi kamu, demi persahabatan kita."
Neta tersenyum sinis, selalu dengan dalih persahabatan yang James katakan untuk membuat Neta tidak menjalin hubungan dengan seorang laki laki.
"James....!!? Aku tidak suka kamu mengatur hidupku dengan dalih persahabatan kita, asal kamu tahu James. Sejak dulu kamu selalu melarangku berhubungan dengan laki laki manapun, dan kamu tahu...? Dari dulu aku juga tidak pernah menjalin asmara dengan laki laki manapun hanya karena asumsimu menilai mereka tidak pantas buat menjadi kekasihku, dan bodohnya aku selalu menuruti semua ucapan konyolmu James."
Neta mengeram kesal, dia teringat dengan semua kejadian dulu.
"sekarang aku juga butuh bahagia James, bukan hanya kamu saja yang harus merasakan bahagia dengan mempunyai kekasih. selama ini sudah berapa wanita yang sudah menjadi kekasihmu, dan sedangkan satupun aku tidak pernah mempunyai kekasih seperti yang kamu lakukan."
Terlihat James meraup mukanya kasar, dia kesal dengan dirinya sendiri setelah mendengar semua ucapan Neta yang terasa menampar dirinya.
"tapi aku lakukan semua untuk melindungi mu Neta, aku juga ingin melihatmu bahagia."
Neta berdesis mendengar dalih dari James.
"jika kamu ingin aku bahagia...? maka biarkan aku hidup dengan caraku sendiri, biarkan aku menentukan siapa yang akan menjadi pasanganku kedepannya."
James mengepalkan tangannya erat, dia kesal dengan dirinya sendiri saat ini.
Ketika di pintu kamar Neta membuyarkan ketegangan di antara James dan Neta, James yang masih kesal tidak mempedulikan ketukan yang semakin keras di pintu kamar Neta.
"aku akan membuka pintu, jika kamu masih ingin di sini makanaku akan keluar. Aku tidak ingin Eric menunggu kedatanganku terlalu lama, dan aku tidak ingin mama dan papa mencariku."
Neta segera berdiri, dia berjalan mendekat ke arah pintu dan segera membukanya.
"non, di cari ibu dan bapak. Katanya nona di suruh segera ke depan."
Ucap bik rum asisten rumah tangga di rumah Neta.
"iya bik, saya akan segera ke sana."
Bik rum segera pergi meninggalkan kamar Neta, sedangkan Neta sebelum keluar melihat keadaan James terlebih dahulu.
James merebahkan tubuhnya di tas ranjang milik Neta, dia memutuskan akan beristirahat lebih dulu sebelum pulang dari kediaman orang tua Neta.
Neta yang melihat James berbaring di atas ranjangnya hanya menatapnya tanpa berkata apapun, dia memilih segera keluar dari kamar untuk menemui Eric dan kedua orang tuanya.