Setelah menerima donor mata dari kakak nya, Kanaya terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi kakak ipar nya sendiri, karena sang kakak meningal akibat kecelakaan yang di sebabkan oleh nya.
Kanaya adalah seorang gadis buta yang berusia dua puluh dua tahun, sejak kecil dia hanya tinggal dengan ibu dan kakak nya, "Aurel" sementara ayah nya sudah meninggal sejak Kanaya masih kecil.
Aurel yang seminggu lagi hendak melangsungkan pernikahan malah meningal karena menyelamatkan Kanaya adik nya yang hampir tertabrak mobil saat hendak menyebrang jalan.
Samuel yang kecewa terpaksa menikahi Kanaya atas permintaan terakhir Aurel, meskipun dia cukup membenci Kanaya karena Kanaya adalah penyebab meningal nya Aurel.
Bagaimana kisah Kanaya dan Samuel yang menikah karena unsur keterpaksaan? Bagaimana perlakuan Samuel kepada Kanaya wanita yang sangat dia benci ini? Ayo baca kisah mereka di sini bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
"Haha, anak muda, seperti nya kau cukup banyak masalah ya, sehingga kau begitu berani mengakui istri orang lain adalah istri mu, aku kasih tau ya, dia itu sama sekali tidak cocok dengan mu. Kau pemarah dan juga jelek," jawab si lelaki tua sambil terkekeh dan menggeleng kepala melihat tingkah Samuel yang terlihat jelas bahwa dia kekanak-kanakan.
Samuel berusaha keras menahan amarahnya, dia berfikir, andaikan dia mengunakan sebuah cincin pernikahan mungkin orang tua itu akan percaya kepada nya.
"Sudah lah, sebaiknya kau tidur dan jangan melihat sinis ke arah ku, aku tidak akan mempercayai mu," ejek sang kakek lagi.
"Astaga, orang tua ini," geram Samuel mengepal kan tangan nya.
Karena rasa marahnya Samuel pun tak kuasa lagi menangapi kakek tua tersebut lalu kemudian memilih untuk diam dan memejamkan mata nya, biar bagaimanapun orang tua itu tetap lah orang tua yang tidak bisa dia lawan walaupun yang dia ucapkan adalah hal yang benar.
Melihat Samuel yang memejamkan mata nya, sang kakek tersenyum puas sudah berhasil membuat Samuel tidak bisa marah dengan nya.
"Anak muda yang sangat egois namun punya hati yang lembut," batin sang kakek.
Kakek tersebut terlihat sangat menyukai sosok Samuel, namun dia memilih untuk membuat nya kesal hanya untuk melihat bagaimana reaksi Samuel kepada dirinya yang sudah tua.
Samuel yang kesal pun akhirnya ketiduran.
"Nona muda, seperti nya tuan muda marah," ucap Azka yang sedari tadi melihat Samuel bertengkar dengan sang kakek yang sama sekali tidak mereka kenali.
"Sudah biar kan saja, aku lebih takut duduk dengan nya, daripada dengan mu, aku mohon jangan pindah," ucap Naya memohon.
"Mana bisa pindah nona muda astaga, tapi aku sangat khawatir melihat keadaan tuan muda, dia terlihat sangat terganggu karena kakek itu," ucap Azka kepada Naya lagi.
Naya pun menoleh dan melihat Samuel yang sedang tidur.
"Azka, lihat lah," ucap Naya kepada Azka.
Azka pun kembali menoleh ke arah tempat duduk Samuel dan sang kakek. Terlihat sang kakek yang sedang menatap Samuel dengan tatapan teduh nya, kedua sudut bibirnya juga tertarik terukir senyuman tipis yang nyaris tak bisa di lihat karena tertutup akan keriput di wajah nya.
"Mengapa dia tersenyum setelah membuat tuan muda kesal?" ucap Azka kebingungan.
"Kau tidak mengerti ya, dia terlihat sangat suka dengan tuan muda, namun dia sengaja memancing emosi nya untuk melihat apakah tuan muda tahan duduk di samping nya atau tidak, di sisi lain dia juga terlihat menatap tuan muda seperti orang yang sangat dia kenali," jelas Naya yang memiliki hati lembut dan mudah paham dengan apa yang orang tua rasakan.
"Benar kah? Mengapa begitu nona muda?" tanya Azka kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah lah, aku sangat pusing kau malah terus bertanya kepada ku, oh iya kapan kita akan tiba, aku benar-benar tidak nyaman dengan pesawat ini aku sangat negeri ketika menatap arah jendela," ucap Naya mengalihkan pembicaraan mereka.
"Nona muda, kita akan tiba nanti malam, masih ada beberapa jam, sebaiknya jika nona takut, jangan melihat arah jendela, dan lebih baiknya lagi kita tidur saja, tuan muda sudah terbang ke dalam mimpi nya ayo cepat tidur," Azka pun mulai memejamkan mata nya setelah mengatakan itu kepada Naya.
Sementara itu Naya hanya melongo menatap Azka yang bicara begitu cepat seperti orang yang sedang berlari saja, namun Naya tidak membantah nya, dia juga saat ini sangat merasa mual dan kemudian Naya pun memilih untuk memejamkan mata nya menyusul Azka.
Beberapa jam pun berlalu, kini suasana di atas sudah sangat gelap, jam pun sudah menujukkan pukul 19.12
Samuel terbangun saat seseorang mencabut sehelai rambut nya, dan membuat dia kesakitan sampai kaget dan memegang kepala nya yang terasa sakit saat rambut nya di tarik.
"Astaga tua bangka menyebalkan apa yang kau lakukan?" ucap Samuel marah sambil menggosok kepala nya.
"Pangil aku Kakek, kalau tidak aku akan terus mencabut rambut mu sampai bagian kepala mu jadi botak," ucap laki-laki tua itu sambil tersenyum dan memperlihatkan gigi ompong nya.
Samuel yang melihat itu sontak tidak bisa menahan tawa karena menurut nya gigi ompong sang kakek sangat lah lucu.
"Hahaha, hahaha, kau ompong begitu masih membuat masalah dengan ku ya, makan kue saja kau tidak bisa," ucap Samuel tertawa renyah di hadapan sang kakek.
"Apa? Berani-beraninya kau menertawai aku," ucap sang kakek yang kemudian dengan cepat menjewer telinga Samuel dengan kuat.
Samuel yang awalnya tertawa kini malah meringis kesakitan.
"Astaga lepas kan aku, sakit sekali," ucap Samuel memohon.
"Pangil aku kakek agar lebih sopan, jangan memanggil ku tua bangka kau ini masih muda tapi tidak punya sopan santun, malah seenaknya mengatakan bahwa aku ini ompong, padahal memang iya, tapi aku bisa makan kue tidak seperti apa yang kau ucapkan," marah sang kakek dengan tangan yang masih menjewer telinga Samuel.
"Iya iya kakek maaf, maaf lepas kan telinga ku sekarang juga," ucap Samuel menyerah.
Sang kakek pun akhirnya melepaskan telinga Samuel setelah mendengar Samuel memangil nya dengan sebutan kakek.
"Nah begitu lebih bagus, maaf tadi sebelumnya aku membangun kan mu untuk makan, lihat lah aku punya kue, aku akan buktikan bahwa aku bisa makan kue," jelas nya sambil membuka kotak kecil yang dia ambil dari tas nya kotak kecil tersebut berisikan dua donat coklat.
"Donat?" ucap Samuel seketika tersentuh akan kebaikan sang kakek tersebut.
"Kalau dari awal kau baik aku juga akan baik," ucap Samuel lagi yang tanpa basa-basi langsung mencomot Donat sang Kakek.
"Rakus," ucap sang kakek yang kemudian ikut makan.
Mereka adalah dua orang yang tidak saling kenal, namun bisa-bisa nya sangat mudah akrab, dan sang Kakek juga terlihat sangat suka dengan Samuel, entah apa yang dia lihat dari Samuel sebenarnya.
Samuel dan sang kakek pun akhirnya menikmati donat itu bersama, namun tiba-tiba kakek tersebut menujuk ke arah Naya dan Azka lagi.
"Lihat lah mereka sudah tertidur dengan sangat manis, aku jadi merindukan masa muda ku dengan istri ku," ucap sang kakek menujuk ke arah Naya dan Azka.
Samuel pun menoleh dan melihat Naya dan Azka yang sedang tidur, sementara itu kepala Naya bersandar di pundak Azka, dia terlihat sangat nyaman meletakkan kepalanya di pundak asisten suaminya itu seolah mendapat kasih sayang yang tidak dia dapatkan dari Samuel dia dapatkan di Azka.
Bersambung ....
benci nya loe sama Bina ya ada lah kata kata bijak bisa buat panutan jangan sableng tiap kata mengandung racun dunia haduuuhhh jadi bini loe rugi bandar Coyyyu suweerrr,,,salam waras muel,,
💪💪✌️
ga sekalian peluk nay si Aska 🤭
lama lagi pasti bisikin Naya pokonya kepedean loe ,,muel
ingat muel untuk menggeser kedudukan molen loe harus punya Anak dari wanita itu loe tau Nayla itu gadis baik,,,cuma saja sejak kecil tidak di perlakukan baik oleh orang tua nya apa mungkin Naya Anak tertukar ketika melahirkan atau Anak Adopsi,,, kenapa perbedaan nya jauh banget,,,Anak pertama di Anak mas kan tetapi Allah lebih paham keliatan nya maka cepat di ambil. tinggal lah Anak yang selalu di sisihkan sekarang punya suami rada sableng semoga muel berubah jadi satria baja hitam 😂😂😄😄gemes abis,,