NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Void Walk

"Tapi kalau Bintang sudah bergerak, kita harus lebih cepat naik level."

Kalimat itu menjadi perintah untuk tiga hari berikutnya.

Pagi hari keenam kiamat, Hendry tidak mengadakan rapat panjang. Ia hanya membentangkan peta, membagi rute, lalu meletakkan tiga Kristal Level 1 di tengah meja.

"Kita tidak punya waktu menunggu zombie berkembang sesuai jadwal lama," katanya. "Mulai hari ini, kita berburu."

Bagus berdiri paling depan, linggis di bahu. "Target?"

"Kristal. Level 0 tetap diambil. Level 1 diprioritaskan. Kalau ada tanda Level 2, jangan maju tanpa gue."

Melati melipat tangan. "Level 2 sudah mungkin muncul?"

"Kemarin Level 1 muncul lebih awal. Jangan anggap yang lain masih tidur."

Mawar menyiapkan tas medis, wajahnya serius. "Aku ikut?"

"Tidak ke garis depan. Lu ikut sampai titik aman, lalu tunggu dengan Dewi. Kalau ada luka, baru masuk."

Mawar ingin membantah, tetapi melihat bekas lelah di telapak tangannya sendiri. Ia baru belajar menyalakan cahaya kecil tanpa membuat kepala berdenyut. Ia mengangguk.

Nasi duduk di atas peta, tepat di atas area utara yang diberi tanda kuning.

Raja mendengus, seolah mengatakan kucing itu selalu memilih tempat paling penting.

"Utara dulu," kata Hendry.

Tiga hari itu mengubah Cluster Pondok Indah.

Sebelumnya, mereka membersihkan jalan untuk bertahan. Sekarang, mereka bergerak seperti tim pemburu.

Bagus menjadi palu. Ia tidak lagi menghamburkan tenaga dengan pukulan liar. Setiap ayunan linggis menarget lutut, bahu, atau rahang. Melati menjadi api pendek. Bola apinya tidak besar, tetapi tepat: mata, pergelangan, kaki. Raja menjadi bayangan hitam di bawah garis pandang, menyapu kaki dan menggigit tengkuk. Nasi memberi peringatan sebelum sudut berbahaya. Mawar menunggu di titik aman, air dan perban siap. Dewi menjaga basis, memastikan semua yang pulang mendapat makanan panas, bukan sekadar nasi dingin.

Hendry menjadi pisau terakhir.

Setiap kali zombie jatuh, parang di tangannya menutup pertempuran. Setiap kali dahi terbuka, Kristal masuk ke kantong kecil khusus sebelum disimpan di Ruang Dimensi.

Hari pertama berburu, mereka mendapatkan dua belas Kristal Level 0 dan empat Kristal Level 1.

Hari kedua, area barat dibersihkan sampai gerbang kecil dekat ruko. Tujuh belas Kristal Level 0. Enam Kristal Level 1. Bagus nyaris tercakar, tetapi Mawar menahan cahaya penyembuhan dan hanya membersihkan lukanya dengan antiseptik.

"Kenapa nggak pakai cahaya aja?" tanya Bagus sambil meringis.

Mawar menekan kasa ke buku jarinya. "Karena kamu cuma lecet."

"Lecet ini punya perasaan."

Melati mendengus. "Lecetmu lebih manja daripada Nasi."

Nasi, yang sedang tidur di atas kotak obat, membuka satu mata. Seolah tersinggung namanya dipakai untuk ukuran kemanjaan.

Malam kedua, Hendry mulai menyerap Kristal.

Tidak semua.

Itu aturan pertama yang ia patuhi bahkan saat terburu-buru: tubuh punya batas. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah melihat seorang pria menelan delapan Kristal sekaligus karena ingin menjadi kuat dalam satu malam. Pagi harinya, darah keluar dari mata dan hidung pria itu, lalu ia berubah menjadi zombie yang lebih cepat.

Hendry tidak sebodoh itu.

Ia menyerap perlahan. Kristal Level 0 menjadi dasar. Kristal Level 1 menjadi dorongan. Setiap gelombang energi dingin dari Kristal masuk ke telapak, naik ke lengan, lalu tenggelam ke ruang kosong di dalam tubuhnya.

Ruang Dimensi merespons.

Di bagian terdalam, batas 500 meter kubik yang selama ini stabil mulai berdenyut. Bukan melebar seperti saat stockpile dulu, tetapi memadat. Seolah ruang itu menumbuhkan tulang.

Level 3 datang tanpa suara besar.

Tepat lewat tengah malam, Hendry membuka mata dan mengambil parang dari Ruang Dimensi.

Setengah detik.

Lalu pistol.

Lebih cepat.

Jarak ambil mentalnya meluas. Ia bisa menata barang lebih jauh di dalam ruang tanpa merasa seperti meraba dalam gelap.

Bagus yang menjaga pintu menguap. "Naik?"

"Level 3."

Bagus langsung segar. "Serius?"

"Tidur. Besok kita lanjut."

"Bos, kabar bagus begini masa disuruh tidur?"

"Kalau lu ngantuk besok, gue suruh Melati bangunin pakai api."

Bagus langsung menarik selimut tipis di lantai. "Selamat malam, Level 3."

Hari ketiga, Nasi menyelamatkan mereka dari kesalahan mahal.

Mereka menemukan sebuah rumah mewah yang pintu garasinya hancur dari dalam. Bau busuknya lebih pekat daripada rumah lain. Di halaman, empat zombie Level 0 berkeliaran. Terlihat mudah.

Nasi tiba-tiba melompat dari bahu Hendry dan mencakar lengan jaketnya.

Mrrraow!

Hendry berhenti.

Satu detik kemudian, sesuatu menerobos pintu garasi.

Zombie itu lebih besar. Kulitnya kelabu gelap, bahunya membengkak, dan matanya tidak lagi kosong. Ia menatap Hendry, lalu menatap Raja, lalu memilih menyerang Mawar yang berada paling belakang.

Pilihan target.

Level 2.

"Mawar mundur!"

Bagus masuk dari samping, menabrak tubuh zombie itu dengan bahu. Biasanya, tabrakan itu cukup untuk membuat zombie jatuh. Kali ini Bagus terpental setengah meter.

"Gila, keras banget!"

Melati melempar api ke wajahnya. Api menempel, tetapi zombie Level 2 hanya meraung dan tetap maju. Raja menyapu kaki dengan Thunder Tail. Lututnya goyah, tapi tidak patah.

Hendry menarik pistol.

Satu tembakan.

Peluru masuk ke mata kiri zombie itu, memperlambatnya setengah detik.

Setengah detik cukup.

Parang Hendry muncul di tangan kanan. Golok tebal muncul di tangan kiri. Ia masuk rendah, menebas tendon belakang lutut, lalu memutar tubuh. Saat zombie itu turun satu lutut, Bagus menghantam rahangnya dari samping. Melati menaruh bola api kecil tepat di lubang mata yang tertembak.

Zombie itu tersentak.

Raja melompat ke punggungnya dan menggigit tengkuk.

Hendry menebas.

Kali ini lehernya tidak langsung putus. Tulangnya seperti besi basah. Hendry menarik napas, memutar pinggang, dan tebasan kedua menutup garis pertama.

Kepala Level 2 itu jatuh ke paving.

Semua orang diam beberapa detik.

Bagus menatap mayat itu. "Kalau yang begitu datang lima ekor, kita mampus."

"Makanya gue harus naik level," kata Hendry.

Ia membelah dahi zombie itu.

Kristal di dalamnya lebih besar dari Level 1, abu-abu pekat dengan garis putih yang lebih terang. Saat disentuh, energi dinginnya menggigit ujung jari.

Level 2 Kristal pertama.

Malam itu, tidak ada humor di ruang kerja.

Hendry duduk bersila. Di depannya tersusun sisa Kristal Level 1 dan satu Kristal Level 2. Tim tidak masuk, tetapi mereka berjaga di luar. Bagus di pintu. Melati di koridor. Mawar dan Dewi di ruang tengah. Raja berbaring di depan pintu, telinga satu-satunya tegak. Nasi duduk di ambang jendela.

Hendry mengambil Kristal Level 2 terakhir.

Energinya masuk seperti air es yang dipaksa mengalir ke tulang.

Dadanya sesak.

Ruang Dimensi bergetar.

Bukan lagi kotak penyimpanan. Bukan lagi gudang mati. Untuk satu detik, Hendry merasakan jarak di sekeliling tubuhnya seperti kain yang bisa dilipat.

Sepuluh meter.

Tiga puluh meter.

Seratus meter.

Ia melihat ruang, bukan dengan mata, tetapi dengan sesuatu yang lebih dingin di dalam kesadaran.

Level 4.

Void Walk.

Hendry membuka mata.

Lampu kecil di meja bergetar. Peta Jakarta terangkat sedikit, lalu jatuh kembali. Ruang Dimensi di dalam tubuhnya melebar dengan ganas, jauh melampaui batas 500 meter kubik. Stok makanan, senjata, obat, bahan bakar, semuanya seperti tersusun ulang dalam lapisan yang lebih luas dan lebih mudah disentuh.

Ia berdiri.

Pintu terbuka sebelum Bagus sempat mengetuk.

"Bos?"

"Halaman."

Mereka berkumpul di halaman belakang villa. Langit malam Jakarta gelap, hanya disayat cahaya hijau tipis yang kadang masih muncul di kejauhan. Semua orang menatap Hendry. Bahkan Dewi berhenti mengelap tangan. Mawar memegang tas medis, siap jika ia tiba-tiba muntah darah.

Hendry menunjuk atap villa kosong di seberang jalan.

"Jarak sekitar sembilan puluh meter."

Melati menyipitkan mata. "Untuk apa?"

Hendry tidak menjawab.

Ia melangkah sekali.

Tubuhnya hilang.

Tidak ada suara ledakan. Tidak ada bayangan panjang. Udara hanya berkerut, seperti permukaan air tersentuh jari.

Satu detik kemudian, Hendry berdiri di atap villa seberang.

Bagus membuka mulut.

Melati membeku.

Mawar menutup mulut dengan kedua tangan.

Dewi berbisik, "Ya Allah..."

Raja menggonggong sekali, keras, bukan marah tetapi terkejut.

Nasi mengeong dari bahu Mawar, seolah menyatakan ia sudah tahu dari awal.

Hendry menghilang lagi.

Ia muncul di tengah halaman.

Kali ini lututnya sedikit goyah.

"Hen!" Melati maju setengah langkah. "Lu barusan... teleportasi?!"

"Void Walk," kata Hendry.

Bagus akhirnya menemukan suaranya. "Bos, lu ini bukan manusia biasa ya."

Hendry menarik napas. "Baru tiga kali batas aman."

"Tiga kali?"

Hendry menghilang untuk ketiga kalinya.

Ia muncul di atas pagar belakang, lalu langsung melompat turun. Begitu kakinya menyentuh tanah, rasa sakit menusuk belakang matanya. Dunia berputar sepersekian detik. Ia menahan tubuh tetap tegak, tetapi Mawar melihat wajahnya memucat.

"Cukup," kata Mawar tegas.

Hendry tidak membantah.

"Jarak efektif sekarang seratus meter," katanya, suaranya tetap stabil meski pelipis berdenyut. "Tiga kali berturut-turut membuat kepala sakit. Bisa dipakai untuk serangan, evakuasi, atau keluar dari kepungan. Tapi bukan untuk pamer."

Bagus menatap atap seberang, lalu menatap Hendry lagi. Kekaguman di wajahnya tidak disembunyikan.

Melati lebih tenang, tetapi matanya berubah. Sebelumnya ia percaya Hendry karena persiapan, makanan, dan keputusan dingin. Sekarang ia melihat alasan lain: pria ini bisa muncul di belakang siapa pun dalam satu detik.

Dewi menunduk sedikit. Bukan takut seperti pada penjahat. Lebih seperti orang yang baru memahami siapa komandan di dapur besar bernama kiamat.

Mawar mendekat dan menempelkan tangan ke pergelangan Hendry. Cahaya emas kecil menyala, hanya sebentar, cukup untuk meredakan denyut di pelipisnya.

"Aku tidak memaksa," katanya sebelum Hendry menegur. "Cuma sedikit."

Hendry menatapnya, lalu mengangguk.

Raja berjalan mengitari Hendry, mengendus udara tempat ia menghilang tadi. Setelah tidak menemukan jejak yang masuk akal, anjing itu bersin dan duduk dengan ekspresi tersinggung.

Nasi melompat ke tanah, lalu menepuk kaki Hendry.

Bagus menunjuk. "Bahkan Nasi minta diajarin."

"Nasi tidak perlu Void Walk," kata Hendry. "Dia sudah muncul di mana pun dia mau."

Untuk pertama kalinya malam itu, semua orang tertawa.

Tawa itu pendek, tetapi cukup.

Setelah mereka kembali masuk, Hendry tidak tidur. Ia naik ke atap villa, berdiri di tepi beton, dan memandang Cluster Pondok Indah yang perlahan berubah dari perumahan mati menjadi wilayahnya.

Utara sudah ditandai.

Barat sebagian bersih.

Selatan menyimpan saudari api dan cahaya yang kini berada di timnya.

Di luar pagar, manusia seperti Bintang mulai bergerak.

Hendry menekan rasa sakit terakhir di pelipisnya dan melihat jauh ke arah pusat Jakarta yang gelap.

Level 4.

Void Walk.

Ia akhirnya bukan hanya orang yang punya stok.

Ia menjadi orang yang bisa mengambil wilayah.

"Empat," katanya pelan. "Berikutnya... ekspansi."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!