Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Pesta Permadi dan Jatuh ke Kolam
Lalu ia menggambar satu panah kecil menuju kolam renang.
Pada hari pesta Permadi, panah kecil itu berubah menjadi panggung besar.
Rumah Permadi dipenuhi tamu sejak sore. Mobil-mobil mahal berbaris di depan gerbang, meja prasmanan diletakkan di dekat taman, dan kolam renang di belakang rumah memantulkan lampu kuning seperti kaca biru. Bu Permadi berdiri di dekat pintu dengan senyum sempurna, menyambut tamu seolah seluruh rumah adalah miliknya sejak lahir.
Meilan datang membawa koleksi kecil Cantika.
Ia tidak memakai gaun berlebihan. Hanya outer Batik Mekar warna hijau gelap di atas dress hitam sederhana, cukup untuk membuat beberapa istri pengusaha bertanya di mana mereka bisa membeli potongan itu. Dua trainee Cantika membawa rak pakaian. Di antara kru tambahan, Charles Purnomo masuk dengan kemeja putih rapi dan celana hitam pinjaman.
Wajahnya tegang.
"Kalau gugup, bawa rak saja," kata Meilan pelan.
"Saya takut merusak rencana Mbak."
"Yang merusak rencana biasanya orang yang terlalu ingin terlihat pintar. Kamu cukup jujur."
Charles menelan ludah. Matanya diam-diam mencari Bella.
Bella muncul tidak lama kemudian.
Untuk pertama kalinya sejak Meilan mengenalnya, gadis itu tidak terlihat seperti bayangan di rumah sendiri. Ia memakai gaun biru malam dengan detail perak tipis di pinggang. Tidak ramai, tidak vulgar, tetapi setiap langkahnya membuat kain bergerak seperti air gelap yang terkena cahaya.
Beberapa tamu langsung menoleh.
Bu Permadi juga menoleh. Senyumnya membeku setengah detik.
Adik tiri Bella yang memakai gaun champagne mendekat dengan wajah tidak senang. "Ci Bella, tumben sekali. Mau jadi bintang malam ini?"
Bella tersenyum kecil. "Aku hanya memakai baju yang pas."
Kalimat sederhana itu membuat Meilan hampir tersenyum.
Bagian pertama berhasil: Bella tidak lagi menunduk.
Bagian kedua membutuhkan keributan.
Meilan mengatur agar Charles membantu memindahkan satu rak ke sisi taman dekat kolam. Ia juga memastikan Pak Permadi berdiri tidak jauh, sedang berbincang dengan dua rekan bisnis. Bu Permadi sibuk menjaga meja tamu penting, sehingga adik tiri Bella bebas mendekati Bella dengan amarah yang tidak tertahan.
"Kamu sengaja mempermalukan Mama," desis adik tirinya.
Bella melirik ke arah Meilan.
Meilan tidak memberi isyarat besar. Hanya menatap kolam.
Bella menarik napas. "Aku tidak mempermalukan siapa pun. Kalau Mama malu karena aku terlihat baik, itu bukan salahku."
Wajah adik tirinya memerah. "Jangan sok korban."
"Aku memang korban kalau dipaksa menikah dengan pria yang bahkan tidak kupilih."
Suara Bella cukup keras untuk didengar beberapa tamu dekat. Bisik-bisik langsung muncul. Adik tirinya panik. Dalam panik, orang sering melakukan hal bodoh.
"Diam!"
Ia mendorong bahu Bella.
Bella mundur dua langkah, tumitnya menyentuh bibir kolam. Sepersekian detik sebelum jatuh, matanya bertemu mata Meilan.
Lalu tubuhnya tercebur ke air.
Jeritan pecah.
Gaun biru malam mengembang di permukaan. Bella sebenarnya bisa berenang, tetapi ia membiarkan tubuhnya tampak tenggelam sebentar, cukup untuk membuat semua orang panik.
"Bella!" Pak Permadi berteriak.
Charles bergerak lebih cepat daripada siapa pun.
Ia tidak bertanya. Tidak menghitung. Ia bahkan tidak melepas sepatu.
Ia melompat.
Air menyembur tinggi. Charles muncul dengan wajah kacau karena jelas ia bukan perenang baik. Ia menelan air, batuk, tetapi tangannya tetap mencari Bella. Ketika menemukan lengan Bella, ia menariknya ke arah tepi dangkal dengan gerakan berantakan namun keras kepala.
Meilan sudah berada di tepi kolam, siap turun kalau rencana berubah menjadi bahaya sungguhan.
"Pegang pinggir!" serunya.
Charles mendengar. Ia mendorong Bella lebih dulu ke tepi. Dua pelayan membantu menarik Bella keluar. Charles sendiri hampir tenggelam lagi sebelum Meilan melempar handuk panjang. Ia menangkapnya, dan beberapa pria menariknya naik.
Bella batuk pelan, lebih karena drama daripada air.
Charles berlutut di sampingnya, basah kuyup, napasnya kacau.
"Bella, kamu dengar aku?"
Bella membuka mata. "Kamu melompat."
"Tentu saja aku melompat!"
"Kamu tidak bisa berenang."
"Aku tahu setelah masuk."
Beberapa tamu tertawa tertahan, tetapi mata Bella memerah. Charles menggenggam tangannya, lupa bahwa seluruh keluarga Permadi melihat.
"Aku miskin. Aku tidak punya nama besar. Aku bahkan mungkin terlihat bodoh barusan. Tapi kalau kamu jatuh lagi, aku tetap akan melompat. Om Permadi, Tante, saya mencintai Bella. Saya tidak bisa memberi janji kaya sekarang, tapi saya bisa bekerja. Saya bisa belajar. Saya bisa berdiri di sampingnya tanpa menjualnya."
Ucapan itu tidak rapi. Justru karena tidak rapi, semua orang percaya.
Pak Permadi menatap putrinya yang basah, lalu menatap Charles yang menggigil. Wajahnya berubah dari marah menjadi lelah, lalu menjadi sesuatu yang lebih manusiawi.
"Bella," katanya pelan, "kamu memilih dia?"
Bella duduk dengan bantuan Meilan. "Iya, Papa."
Bu Permadi mencoba masuk. "Pak, ini tidak pantas dibahas di depan tamu."
Pak Permadi menoleh. "Yang tidak pantas adalah anak saya jatuh ke kolam di pestanya sendiri."
Adik tiri Bella langsung pucat.
Meilan menyerahkan handuk pada Bella. "Lebih baik Bella ganti baju dulu. Cantika membawa cadangan."
Pak Permadi mengangguk. "Setelah itu, kita bicara. Tapi aku tidak akan menjodohkan Bella tanpa persetujuannya."
Bella menunduk, air menetes dari rambutnya, tetapi senyumnya muncul.
Rencana itu berhasil.
Malam bergerak dengan kehebohan yang manis. Para tamu membicarakan keberanian Charles lebih banyak daripada dorongan di tepi kolam. Bu Permadi kehilangan kendali atas narasi. Bella, dengan pakaian cadangan putih perak dari Cantika, justru terlihat lebih memukau daripada sebelumnya.
Chelsea datang terlambat, membawa clutch kecil dan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Aku ketinggalan adegan terbaik?"
"Kamu ketinggalan orang jatuh ke kolam dan cinta naik ke permukaan," jawab Meilan.
Chelsea tertawa. "Puitis sekali. Aku hampir tidak mengenalmu."
Namun tawa itu berhenti ketika seorang pria muncul dari sisi taman.
Meilan sedang berjalan melewati area batu hias di dekat kolam ketika ia merasakan perubahan udara. Bukan karena angin. Karena orang-orang di sekelilingnya tiba-tiba menurunkan suara.
Pria itu berdiri di dekat pohon kamboja, memakai setelan gelap tanpa dasi. Tinggi, tegap, wajahnya dingin dan begitu tajam sampai lampu taman seperti sengaja memilih jatuh di garis rahangnya. Ia tidak perlu berkata apa-apa untuk membuat orang tahu bahwa ia terbiasa ditaati.
Di belakangnya berdiri seorang pria bertubuh kuat, Bima, mata tajam mengamati sekitar.
Bima menunduk sedikit dan berbicara hampir tanpa suara. "Area belakang sudah dicek. Tidak ada tanda anak itu."
Pria itu hanya menjawab dengan lirikan pendek.
Meilan menangkap satu kata: anak.
Ia tidak tahu anak siapa yang mereka cari, tetapi cara Bima berdiri dan cara pria itu diam membuatnya yakin kedatangan mereka ke pesta Permadi bukan karena ingin menikmati hidangan atau menyapa sosialita. Mereka sedang mencari seseorang.
BSD City mendadak terasa lebih penuh rahasia daripada yang ia kira.
Chelsea melihat pria itu dan hampir berseru, "Rey..."
Bima batuk pelan.
Chelsea menggigit ujung lidahnya. "Maksudku, sepupuku."
Meilan menatap Chelsea. "Sepupu?"
Pria itu menoleh ke arahnya.
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, semua kebisingan pesta seperti mundur.
Meilan pernah melihat banyak wajah tampan. Wajah yang dibuat mahal oleh jas, uang, dan kepercayaan diri. Namun wajah pria ini berbeda. Dingin, berbahaya, terlalu rapi untuk disentuh, dan anehnya tepat berada di titik yang membuat dada Meilan lupa caranya bernapas.
Pria itu mengangguk tipis. "Saya kerabat jauh Chelsea."
Suaranya rendah. Tidak keras, tetapi langsung selesai di telinga.
Meilan tersenyum. "Kerabat jauh yang membuat Chelsea hampir tersedak?"
Bima menatapnya seperti baru melihat seseorang menendang pintu ruang direksi.
Chelsea cepat menyela, "Dia memang jarang datang ke acara seperti ini. Aku juga kaget."
"Saya hanya lewat," kata pria itu.
"Lewat ke pesta keluarga Permadi?" Meilan mengangkat alis. "Rute yang menarik."
Sudut bibir pria itu hampir bergerak, tetapi tidak jadi. "BSD City punya banyak rute menarik."
Meilan merasa jantungnya berdetak terlalu jelas. Ia tidak suka kehilangan kendali pada pria asing. Tapi wajah itu, mata itu, dan aura dingin itu membuat seluruh kewaspadaannya tidak pergi, hanya berdiri berdampingan dengan rasa tertarik yang kurang ajar.
"Kalau begitu selamat menikmati rutenya, Pak Sepupu Jauh."
Kali ini, Bima benar-benar tampak ingin batuk lagi.
Pria itu menatap Meilan satu detik lebih lama sebelum pergi bersama Bima. Chelsea menutup wajahnya dengan clutch.
"Kamu tahu tidak kamu baru saja bicara seperti itu pada siapa?"
"Sepupu jauhmu?"
"Mei..."
"Aku akan cari tahu sendiri."
Dan ia benar-benar melakukannya.
Malam itu, setelah memastikan Bella aman dan Charles dipanggil bicara resmi oleh Pak Permadi, Meilan pulang. Anak-anak sudah tidur. Sani masih membaca di ruang depan, tetapi Meilan tidak berhenti.
Ia masuk kamar, membuka ponsel, dan mengetik nama yang sejak tadi berputar di kepalanya.
`Reynard Sutanto`.
Foto yang muncul di layar membuat seluruh tubuhnya diam.
Wajah itu sama.
Chelsea benar. Kerabat jauh itu bukan kerabat jauh biasa.
Ia adalah Reynard Sutanto, Dewa Bisnis yang disebut tidak bisa punya keturunan.
Meilan menatap foto itu, lalu menoleh ke kamar tempat Bobo tidur.
Jantungnya berdebar lebih cepat.
Bukan karena takut.
Karena wajah pria itu dan wajah Bobo benar-benar seperti salinan hidup yang mustahil disangkal lagi.