"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Gosip Yang Beredar
Sejak pembacaan wasiat resmi semalam, nama Arga Wijaya kembali memenuhi berbagai portal berita bisnis. Walaupun begitu, bukan hanya kabar tentang pewaris baru Wijaya Group yang menjadi perbincangan.
Sebuah akun media sosial anonim mengunggah video berdurasi singkat yang langsung menarik perhatian banyak orang.
Video pertama memperlihatkan Arga beberapa kali menjemput Nadira di depan Toko Buku Senja. Dalam rekaman itu, Arga keluar dari mobil, mengambilkan tas Nadira, lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Video kedua diambil beberapa minggu sebelum pernikahan mereka. Arga dan Nadira sedang makan di sebuah warung ayam sederhana. Nadira tampak tertawa sambil menyodorkan segelas minuman kepada Arga. Momen yang sebenarnya biasa saja itu diberi judul,
"CEO Wijaya Group ternyata sudah lama dekat dengan perempuan misterius ini."
Video berikutnya jauh lebih mengejutkan. Rekaman CCTV dari sebuah kafe menampilkan Arga dan Nadira duduk berhadapan. Dari sudut kamera memang tidak terdengar isi percakapan mereka, tetapi cukup jelas memperlihatkan Arga menyerahkan sebuah map kepada Nadira.
Netizen langsung membuat berbagai spekulasi.
"Pertemuan rahasia sebelum menikah."
"Pantes nikahnya mendadak."
"Jangan-jangan ini sudah direncanakan sejak lama."
Dalam hitungan jam, nama Arga Wijaya menjadi trending di berbagai media sosial.
Di ruang kerjanya, Arga menatap layar monitor dengan rahang mengeras. Satu per satu video itu diputar. Video di depan toko. Video makan siang. Video di kafe. Tidak ada satu pun yang seharusnya bisa diakses publik.
"Itu bukan CCTV publik," gumamnya pelan.
Pintu ruang kerja terbuka. Rizky masuk lebih dulu, disusul Vania yang membawa tablet.
"Pak, semua media sedang mengangkat berita ini."
Arga tidak mengalihkan pandangan."Siapa yang menyebarkannya?"
"Belum diketahui."
"Temukan,” singkatnya dengan suara Arga terdengar jauh lebih tegas dibanding biasanya. "Saya tidak peduli bagaimana pun caranya, harus ada hasil penyelidikan dari semua omong kosong ini.."
Rizky dan Vania saling berpandangan.
"Selidiki semuanya. Cari sumber rekaman. Hubungi tim keamanan. Periksa seluruh CCTV yang pernah merekam saya. Aku ingin tahu siapa yang mengambil video-video ini."
"Baik, Pak."
Arga mengepalkan tangan. Yang membuatnya marah bukan berita itu. Melainkan fakta bahwa seseorang sudah mengikuti kehidupannya jauh sebelum ia menyadarinya.
Kalau mereka bisa mendapatkan video itu, berarti mereka juga bisa mengawasi Nadira. Pikiran buruk membuat dadanya terasa sesak.
Di sisi lain kota, Nadira tidak mengetahui apa pun. Hari itu toko berjalan seperti biasa.
Beberapa pelanggan datang membeli buku, sebagian lagi hanya membaca sambil menikmati kopi yang disediakan di sudut ruangan.
Menjelang sore, Maya tiba-tiba menghampirinya dengan wajah panik. "Mbak..."
"Kenapa?"
"Mbak, lihat ini dulu."
Maya menunjukkan layar ponselnya. Nadira langsung membeku. Di sana terpampang foto dirinya bersama Arga. Ada puluhan artikel, ratusan komentar, dan ribuan orang mulai membicarakan kehidupan pribadi mereka.
Belum sempat Nadira berkata apa-apa, suara gaduh terdengar dari luar toko.
"Mbak Nadira!"
"Mbak, sebentar!"
"Boleh minta waktunya?"
Beberapa wartawan sudah berdiri di depan pintu Toko Buku Senja. Jumlah mereka semakin banyak. Kamera langsung diarahkan ke arah Nadira.
"Mbak, benar pernikahan ini hanya demi warisan?"
"Bagaimana awal perkenalan Mbak dengan Pak Arga?"
"Benarkah pertemuan di kafe itu merupakan negosiasi sebelum menikah?"
"Mbak, satu komentar saja!"
Nadira spontan mundur. Ia sama sekali tidak pernah menghadapi situasi seperti ini.
Maya mencoba menutup pintu toko. "Maaf, toko sudah tutup!"
Para wartawan tetap menunggu. Sebagian bahkan berdiri di depan rolling door. Nadira mencoba menghubungi Arga tapi tidak aktif. Ia kembali mencoba beberapa menit kemudian. Tetap belum diangkat.
Saat itu Arga masih berada dalam rapat bersama tim hukum dan keamanan.
Hampir satu jam Nadira bertahan di dalam toko. Ketika jumlah wartawan mulai berkurang, Maya berbisik pelan. "Mbak, sekarang."
Mereka membuka pintu belakang toko. Nadira keluar melalui gang kecil sambil mengenakan masker dan topi. Ia berjalan cepat tanpa menoleh.
Beberapa kali ia mendengar suara orang memanggil. Namun ia terus berjalan. Sampai akhirnya berhasil mendapatkan taksi online beberapa blok dari toko.
Begitu pintu mobil tertutup, Nadira mengembuskan napas panjang. Tangannya masih gemetar. Ia tidak langsung pulang.
Entah mengapa, ia merasa rumah pun belum tentu aman dari kejaran media. Ia meminta sopir mengantarnya berputar-putar lebih dulu.
Malam semakin larut. Pukul sembilan. Lalu sepuluh. Ponselnya terus berdering. Beberapa nomor tidak dikenal. Ia memilih mematikannya.
Di kantor, Arga baru menyelesaikan seluruh rapat menjelang pukul setengah sebelas malam. Begitu membuka ponsel, puluhan panggilan tidak terjawab langsung memenuhi layar.
Sebagian dari Vania. Sebagian dari Maya. Sisanya dari nomor rumah. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Ia segera menghubungi Maya.
"Mbak Nadira belum pulang, Pak,” jelas Maya pertama kali saat dihubungi.
"Apa?"
"Tadi dikejar wartawan. Mbak Nadira keluar lewat belakang. Setelah itu saya kehilangan kontak."
Arga langsung berdiri. "Kapan terakhir kalian bertemu?"
"Sekitar jam tujuh."
Tanpa menjawab lagi, Arga segera mengambil jasnya. Mobil melaju meninggalkan kantor dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari biasanya.
Begitu tiba di rumah, Arga langsung menuju kamar. Didapatinya kamar mereka yang kosong. Lampu masih mati. Tas Nadira juga tidak ada. Ia turun kembali.
"Nadira sudah pulang?" tanyanya kepada salah seorang asisten rumah tangga.
"Belum, Pak."
Arga kembali melihat jam. Pukul sebelas lewat dua puluh. Sudah terlalu malam. Ia mencoba menelepon Nadira. Ponselnya tidak aktif.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arga merasakan kepanikan yang begitu asing. Bayangan masa kecilnya muncul begitu saja. Hari ketika ibunya pergi ke rumah sakit. Hari ketika semua orang berkata ibunya akan kembali. Namun kenyataannya, perempuan itu tidak pernah pulang lagi.
Perasaan kehilangan yang selama ini terkubur mendadak muncul kembali.
Tangannya mengepal erat. Ia tidak sanggup kehilangan orang yang disayanginya untuk kedua kali.
Saat itulah Arga akhirnya menyadari satu hal yang selama ini berusaha ia abaikan. Semua perhatian kecil. Semua kekhawatiran. Semua alasan untuk terus menjemput Nadira.
Bukan lagi karena kontrak. Bukan karena wasiat. Melainkan karena ia benar-benar takut hidupnya kembali kosong jika perempuan itu pergi.
Arga memejamkan mata sejenak lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri, "Aku... mencintainya."
Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa lebih menakutkan daripada seluruh tanggung jawab yang pernah dipikulnya sebagai pewaris Wijaya Group.