NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~22

Malam semakin larut. Mas Charis masih bergeming di dalam masjid yang sunyi setelah menyelesaikan ibadahnya. Tatapannya tertuju pada satu titik, sarat akan rasa bersalah yang teramat dalam. Hatinya kian bimbang, berkecamuk di antara pilihan-pilihan jalan hidup yang membingungkan.

Lamunannya hanyut, tenggelam dalam bayang-bayang wajah Zia yang mengusik ketenangannya.

"Ya Allah, ampunilah hamba. Hamba tidak bermaksud menyakiti siapapun. Hamba bingung... Hamba hanya mengikuti apa yang ada di dalam hati hamba. Entah jalan ini benar atau salah, tunjukkanlah kebenaran-Mu, ya Allah," batin Charis lirih.

Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok yang kokoh, lalu menatap langit-langit masjid yang megah. Angin malam yang dingin berembus menyelinap melalui sela-sela pintu, menusuk kulit Charis yang malam itu hanya mengenakan baju koko tipis tanpa jaket. Tubuhnya menggigil, namun hatinya jauh lebih beku.

"Aku harus segera bicara dengan Zia. Semakin lama aku menunda, dia akan semakin membenciku," gumam Charis dengan nada penuh penekanan, mencoba menguatkan tekadnya sendiri.

"Aku yakin, saat ini pun Zia pasti sudah sangat membenci saya. Tapi, kalau saya terus-terusan diam dan bersembunyi seperti ini, saya tidak lebih dari seorang pecundang. Dan saya menolak menjadi pengecut." Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Apapun risikonya nanti saya harus siap menghadapi. Karena bagaimanapun, ini adalah kesalahan saya."

"Ya Allah, ampunilah hamba, Ya Allah ...," gumam Charis teramat lirih. Kedua telapak tangannya mengusap wajah, menyembunyikan penyesalan yang sangat dalam.

Sementara itu, di luar masjid, malam yang dingin semakin larut bersamaan dengan langkah kaki Zizan yang sedang berjalan pulang. Pikirannya masih lelah setelah melewati diskusi penuh drama bersama Zia hari ini.

Langkah kaki Zizan melambat saat melewati area masjid. Ia tertegun sejenak melihat cahaya lampu dari dalam masjid yang masih benderang.

"Nah, kan! Si Ares nih, kebiasaan banget lupa matiin lampu. Padahal kan piket dia hari ini, masa harus diingetin terus sih? Dasar Ares," gerutu Zizan sambil berbelok, melangkah menuju teras masjid.

Namun, begitu sampai di batas suci, dahi Zizan mengernyit. Ia melihat sepasang sandal berada di sana.

"Lho? Siapa yang jam segini masih di masjid?" gumam Zizan heran. Biasanya, selepas jam sembilan malam, suasana masjid sudah sepi. Para santri lebih memilih belajar atau beribadah di aula pondok ketimbang di masjid yang luas dan dingin.

Didorong rasa penasaran yang membumbung, Zizan melangkah masuk dengan mengendap-endap. Saat tangannya mendorong sedikit pintu masjid tersebut, ia langsung terdiam. Matanya membelalak tak percaya.

Di ujung sana, ia melihat sosok pria yang biasanya terkenal sangat gagah, berwibawa, dan tegas, kini sedang duduk bersandar di tembok dalam kondisi yang mengenaskan. Pria itu melamun, menatap kosong ke langit-langit masjid dengan wajah penuh kesedihan yang mendalam.

"Hah? Mas Charis? Ngapain dia galau tengah malam begini?" bisik Zizan dalam hati, syok.

Tak berani menegur atau mengganggu privasi sang senior, Zizan buru-buru menarik kembali pintu tersebut dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Ia langsung membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan area masjid, takut ketahuan.

Sepanjang jalan menuju kamar, otaknya berputar keras memikirkan pemandangan langka yang baru saja ia saksikan.

"Hadeeeh, hari ini tuh hari apa sih? Kenapa dari tadi aku ketemunya sama orang-orang galau terus, tadi Zia sekarang sang calon suaminya si Mas Charis. Hadeh kasian bener kisah rumah tangga mereka ini." keluh Zizan lemas, dengan menggelengkan kepalanya heran, meratapi nasibnya yang mendadak jadi saksi drama kehidupan orang lain.

***

Sesampainya di depan kamar pengurus, Zizan mendapati ruangan sudah gelap gulita. Pertanda bahwa penghuni kamar sudah terlelap menuju alam mimpi. Zizan melangkah masuk dengan sangat berhati-hati, menaruh beberapa kitab yang dibawanya di lemari kitab tanpa berniat menyalakan lampu agar tidak mengganggu yang lain.

Beruntung, ada sorotan lampu taman dari luar yang menyelinap masuk lewat ventilasi, memberikan sedikit penerangan.

Zizan menghela napas panjang, mengira situasinya aman. Namun, tepat saat ia berbalik, sebuah cahaya senter kecil mendadak menyala dari bawah selimut, menyorot lurus dan tepat ke arah wajah lesu seperti masa depan suram milik Zizan.

"Ehh!" teriak Zizan tertahan, refleks mundur selangkah karena jantungnya serasa mau copot.

Ia langsung melotot ke arah asal cahaya. Di balik selimut tebal, terlihat dua kepala mencuat dengan mata berkedip-kedip menahan tawa. Itu Dafa dan Ares, yang kini sedang cekikikan tanpa dosa.

"Hih, awas ya kalian! Kasihan yang lain sudah pada tidur, woi!" gerutu Zizan setengah berbisik sambil melotot galak, melihat selimut kedua temannya itu bergetar hebat menahan tawa yang meledak.

"Matiin nggak senternya? Aku colok ya matanya pakai pulpen!" ancam Zizan kesal.

Bukannya takut, Dafa dan Ares malah makin menjadi-jadi. Mereka menggerakkan senter naik-turun, menyoroti ekspresi kusut Zizan.

Gemas dan hilang kesabaran, Zizan maju dua langkah, lalu dengan satu sentakan kuat, ia menarik paksa selimut yang membungkus kedua sejoli itu, sekaligus merebut senter kecil dari tangan Ares.

"Eeehhhh... Dingin, Zan! Tegas banget jadi orang!" keluh Dafa dan Ares bersamaan sambil mendekap tubuh mereka yang mendadak menerpa angin malam.

"Sudah malam! Jangan hobi ganggu ketenangan umat manusia kenapa sih?" omel Zizan dengan suara yang ditekan serendah mungkin.

Ares bangkit duduk sambil mengucek matanya yang sama sekali tidak mengantuk. "Ya lagian kita kan nggak sengaja menangkap basah wajah anehmu pas pulang dari aula tadi. Masak biasanya pulang-pulang pasang muka ceria bak pahlawan kesiangan, sekarang malah miring sebelah? Baru juga kemarin dimaafin Zia, masa sekarang sudah di bikin galau lagi? Ada masalah rumah tangga baru?" ejek Dafa, memanaskan suasana.

"Iya nih, Zan. Tapi... kamu nggak khilaf ngapa-ngapain Zia di aula tadi, kan, Bro? Ingat, ini kawasan pesantren, bukan sirkuit balap liar," timpal Ares dengan wajah sok polos yang sangat menyebalkan.

Wajah Zizan langsung memerah. Tanpa aba-aba, ia mengambil bantal tidurnya yang sudah agak kempes lalu melemparnya dengan kekuatan tinggi, tepat mendarat di wajah Ares yang nyeleneh.

Brakk!

"Astaghfirullahalazim! Pikiranmu itu lho res, tolong disekolahkan dulu! Aku masih waras ya! Awas kalau mikir yang aneh-aneh lagi!" ancam Zizan dengan mata melotot.

"Sudah ah, sana tidur! Aku mau ke kamar mandi dulu, gerah lahir batin gara-gara kalian." Zizan melemparkan kembali selimut tebal itu ke atas tubuh mereka hingga menutupi kepala Dafa dan Ares sekaligus.

"Ih, dasar sensitif banget sih," ketus Ares dari balik selimut sambil merapikan kembali posisinya untuk kembali tidur.

Dafa dan Ares pun kembali memejamkan mata sambil menahan sisa-sisa tawa mereka, sementara Zizan melangkah keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan sedikit menenangkan pikirannya karena gangguan dari kedua sahabatnya tersebut.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!