NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang tak lagi sama 2

Suara resleting tas terdengar dari dalam kamar.

Haseena yang sejak tadi berdiri di ruang makan langsung menoleh ke arah lorong.

Dadanya mendadak terasa tidak tenang.

"Bah..."

Ia menatap Rayyan yang masih terduduk di meja makan.

"Kayaknya Abang mau pergi lagi."

Rayyan terdiam.

Tatapannya lurus ke arah piring yang bahkan belum sempat disentuh.

Sesaat kemudian, ia mengembuskan napas panjang.

"Biarkan dulu."

Haseena mengangguk pelan, meski hatinya mengatakan sebaliknya.

Ia bergegas menuju kamar Zafran.

Pintu kamar terbuka.

Zafran sedang memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas ranselnya. Gerakannya cepat, seolah sudah bulat dengan keputusannya.

"Bang..."

Zafran tidak menoleh.

Tangannya tetap sibuk melipat baju.

Haseena melangkah lebih dekat.

"Abang jangan pergi lagi."

Tak ada jawaban.

Ruangan dipenuhi keheningan yang terasa begitu berat.

Haseena menggenggam ujung tas yang sedang dibereskan Zafran.

"Kalau Abang masih marah sama Abah..."

"...nggak apa-apa."

"Tapi jangan pergi."

Zafran menghentikan tangannya.

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

Sorot matanya lelah.

"Bukan cuma soal Abah."

Jawabannya pelan.

Hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Aku cuma..."

"...capek."

Capek.

Satu kata yang sederhana.

Namun terdengar begitu berat.

Haseena menatap kakaknya tanpa berkedip.

"Kalau capek..."

"...istirahat di rumah aja."

"Rumah ini juga rumah Abang."

Zafran tersenyum tipis.

Senyum yang tidak benar-benar menunjukkan kebahagiaan.

"Rumah?"

Ia menggeleng pelan.

"Aku udah nggak ngerasa punya tempat di sini."

Kalimat itu membuat Haseena tercekat.

"Jangan ngomong gitu, Bang."

"Abah emang lagi emosi."

"Nanti juga reda."

"Nggak sesederhana itu, Seen."

Zafran menutup tasnya.

Klik.

Suara pengait tas berbunyi pelan.

"Ada hal-hal yang nggak bisa selesai cuma karena minta maaf."

Haseena menggigit bibir bawahnya.

Ia tahu...

Yang sedang dibicarakan Zafran bukan hanya pertengkaran hari ini.

Melainkan semua luka yang menumpuk sejak Husna menghilang dan ibunya meninggal.

Tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.

"Kalau Abang pergi..."

"...aku sama Abah gimana?"

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Bukan untuk menahan.

Melainkan karena benar-benar takut.

Zafran terdiam cukup lama.

Tangannya mengepal di samping tubuhnya.

Sesaat...

Ia hampir menjawab.

Namun akhirnya hanya menghela napas.

"Aku butuh waktu."

Hanya itu.

Tak ada penjelasan lain.

Ia mengangkat tasnya lalu melangkah keluar kamar.

Di ruang tengah, Rayyan masih duduk di kursinya.

Tatapan ayah dan anak itu bertemu beberapa detik.

Tak ada yang berbicara.

Rayyan ingin meminta Zafran tetap tinggal.

Zafran ingin didengar.

Namun keduanya sama-sama terlalu keras kepala untuk memulai.

Zafran melangkah melewati ayahnya.

Tanpa menoleh.

Tanpa berpamitan.

Haseena mengikuti dari belakang.

"Bang..."

Langkah Zafran berhenti tepat di depan pintu rumah.

Haseena berdiri di belakangnya.

"Kalau Abang memang butuh nenangin diri..."

"...pergilah."

"Tapi jangan lama-lama."

Suara Haseena mulai bergetar.

"Aku sama Abah bakal nunggu."

"Pulang ya, Bang."

"Pintu rumah ini..."

"...nggak akan pernah ditutup buat Abang."

Beberapa detik berlalu.

Zafran tidak menjawab.

Ia hanya memegang gagang pintu.

Lalu membukanya perlahan.

Udara sore menerpa wajah mereka.

Di halaman rumah, motor milik Rayyan masih terparkir seperti biasa.

Zafran mengenakan helm tanpa banyak bicara.

Mesin motor menyala.

Brumm...

Haseena berdiri memeluk dirinya sendiri.

"Bang..."

panggilnya sekali lagi.

Kali ini...

Zafran menoleh.

Hanya sebentar.

Tatapan mereka bertemu.

Lalu, tanpa sepatah kata pun...

Zafran memutar gas dan meninggalkan rumah.

Motor itu semakin menjauh.

Semakin kecil.

Hingga akhirnya menghilang di tikungan.

Haseena masih berdiri di tempatnya.

Angin sore meniup pelan ujung kerudungnya.

Entah kenapa...

Perasaannya mengatakan bahwa kepergian kali ini akan berbeda.

Ia hanya berharap firasat itu salah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!