"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17.Akhirnya bertemu.
Beberapa hari kemudian, sebuah amplop undangan berwarna emas bermotif ukiran halus tiba di kediaman keluarga Dermawan. Undangan itu datang dari keluarga Cahya, salah satu keluarga paling berpengaruh di kota itu, untuk merayakan ulang tahun ke-80 Kakek Candra. Di dalamnya tertulis bahwa acara ini juga menjadi kesempatan bagi Oliv untuk lebih dekat dan berkenalan dengan seluruh anggota keluarga besar Cahya, mengingat statusnya sebagai calon cucu menantu yang akan dipersatukan dengan Brian, keponakan Rama.
Begitu mendengar kabar itu, suasana di rumah menjadi lebih sibuk. Nyonya Lusi segera mengajak kedua putrinya untuk pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di kota guna menyiapkan pakaian dan perlengkapan terbaik untuk acara malam itu. “Kalian harus terlihat anggun dan sopan. Ini kesempatan emas untuk mempererat hubungan kedua keluarga,” ujarnya sambil tersenyum, meski matanya sesekali melirik Ivy dengan kekhawatiran yang tak terucapkan.
Sesampainya di mal mewah itu, mereka langsung menuju butik pakaian terkenal, lalu melanjutkan ke salon langganan untuk merawat rambut dan wajah. Namun, Ivy mulai merasa tidak nyaman dan bosan duduk diam terlalu lama. Kepalanya terasa berdenyut pelan, dan ia bisa melihat angka di atas kepalanya perlahan terus menyusut—tanda bahwa waktunya semakin mendesak.
“Bu, bolehkah aku berjalan-jalan sebentar saja? Aku ditemani Bibi Nora, tidak akan pergi jauh,” pinta Ivy dengan nada lembut.
Nyonya Lusi mengangguk setuju, “Baiklah, tapi jangan pergi ke tempat yang sepi dan segera kembali jika sudah merasa lelah.”
Ivy dan Bibi Nora pun berjalan menyusuri lorong mal yang ramai. Mata Ivy melirik ke kiri dan kanan tanpa tujuan khusus, sampai kakinya berhenti di depan sebuah toko aksesoris wanita yang memajang perhiasan-perhiasan sederhana namun indah.
Tidak jauh dari tempat itu, Rama sedang berjalan ditemani Larry. Ia datang secara langsung untuk memeriksa perkembangan stan dan toko milik keluarga Cahya yang ada di dalam mal tersebut. Pandangannya tanpa sengaja tertuju ke arah toko aksesoris itu, dan matanya langsung menangkap sosok yang dikenalnya.
“Gadis ingusan itu… ada di sini,” gumam Rama pelan, alisnya terangkat sedikit karena terkejut melihat Ivy berada di tempat yang sama.
Larry segera mengikuti arah pandangan bosnya, lalu tersenyum kecil. “Bukankah itu Nona Ivy dari keluarga Dermawan? Mau kita menyapanya, Tuan?”
“Tidak perlu,” jawab Rama singkat dan dingin, seolah ingin bersikap acuh tak acuh.
Namun, sebelum ia sempat memalingkan wajah, matanya menangkap perubahan yang mengkhawatirkan. Tubuh Ivy tiba-tiba terhuyung, wajahnya yang biasanya pucat kini terlihat semakin memutih, dan dalam sekejap, darah segar mulai menetes dari lubang hidungnya.
“Nona Ivy!” seru Bibi Nora panik, segera menopang tubuh gadis itu agar tidak jatuh.
Rama tidak sempat berpikir panjang. Tanpa sadar, kakinya melangkah cepat bahkan hampir berlari menuju tempat itu, diikuti oleh Larry yang terkejut melihat reaksi bosnya.
Sesampainya di dekat mereka, Rama melihat Ivy terduduk lemas di lantai, tangan Bibi Nora sibuk menyeka darah yang terus mengalir. Raut wajah Ivy terlihat kesakitan, namun ia masih berusaha tersenyum menenangkan pelayannya.
“Jangan panik, Bibi… ini biasa saja, akan segera membaik,” ucapnya dengan suara yang terputus-putus.
Belum sempat Bibi Nora menjawab, suara berat yang sudah sangat dikenalnya terdengar tepat di sampingnya. “Apa yang terjadi? Apakah kau baik-baik saja?”
Ivy mengangkat wajah perlahan, dan begitu matanya menangkap sosok tinggi besar yang berdiri di hadapannya, seolah ada cahaya yang kembali menyala di dalam dirinya. Matanya yang tadinya redup kini bersinar terang, dan ia menyebut nama itu dengan suara lembut namun penuh makna.
“Tuan Rama…”
Tanpa ragu sedikit pun, Ivy mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah pria itu, seolah memohon agar disentuh. Rama terdiam sesaat, lalu tanpa sadar meraih dan menggenggam tangan mungil itu dengan kuat.
Seketika itu juga, dunia Ivy terasa berubah. Di dalam pikirannya, angka samar yang tadinya terus menurun kini berhenti, lalu bergerak naik perlahan namun pasti—hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan bulan demi bulan bertambah. Rasa sakit di kepalanya perlahan memudar, tenaga yang sempat hilang mengalir kembali ke seluruh tubuhnya.
Akhirnya… sumber tenagaku sudah datang, gumam Ivy dalam hati dengan rasa lega yang luar biasa.
Ia mempererat genggamannya, tidak mau melepaskan tangan itu meski sudah terasa lebih baik. Dengan suara lembut namun jelas, ia meminta kepada pria itu, “Bolehkah… Tuan memegang tanganku lebih lama lagi? Aku merasa lebih baik begitu.”
Rama mengerutkan dahi, bingung dengan permintaan yang aneh itu. “Apakah kau perlu dibawa ke rumah sakit? Kita bisa segera pergi ke dokter jika kondisimu buruk.”
Ivy menggeleng tegas, matanya menatap lurus ke dalam mata Rama. “Aku tahu persis apa yang kubutuhkan saat ini, Tuan Rama. Dan ini sudah cukup.”
Mendengar jawaban itu, Rama hanya bisa menghela napas panjang. Ia lalu membantu Ivy berdiri, dan gadis itu segera bersandar ringan di bahu serta dada bidang pria itu, tetap memegang erat tangannya seolah takut akan hilang kembali.
“Baiklah, kalau begitu, mari kita istirahat sebentar di ruang kantor toko kami yang ada di lantai ini. Di sana lebih tenang,” ujar Rama akhirnya, lalu berjalan perlahan menuju ruangan itu sambil tetap menopang tubuh Ivy.
Di belakang mereka, Larry dan Bibi Nora berjalan mengikuti dengan pandangan tak percaya. Larry yang sudah bertahun-tahun bersama Rama tahu betul bahwa bosnya itu sangat menjaga jarak dari wanita mana pun, tidak pernah menyentuh apalagi membiarkan seseorang bersandar begitu dekat.
Bibi Nora menoleh ke arah Larry dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. “Tuan Rama ini… apa selalu baik dengan wanita lain?.”
Larry menggeleng pelan, matanya masih memandang punggung dua orang di depan. “Ini yang pertama nya bi, selama aku ikut dengan tuan hanya nona muda dermawan yang bisa sedekat ini. ”
Bibi Nora lalu mengajak Larry untuk menyusul mereka,Nora khawatir pada tuannya takut kondisinya lebih parah lagi.
Sepanjang perjalanan kondisi ivy mulai membaik, sudah selama dua menit dirinya memegang tangan Rama.
Akhirnya mereka berdua berada di ruang kerja manager toko milik Rama, Ivy pun dibantu untuk duduk dan Rama meminta Ivy melepaskan tangannya.
“Aku tidak mau, bisakah lebih lama lagi aku bisa memegang tanganmu, tuan. "ucapnya dengan nada manja.
“Kau gila, ini tidak pantas dilakukan gadis sepertimu. ”bentak Rama.
Ivy lalu menundukkan kepalanya dengan wajah sedihnya. “Sebenarnya, jika saya bersentuhan dengan tuan Rama. Seakan angka kehidupan ku diatas kepalaku bertambah. ”
“Kau sedang gila atau kebanyakan baca novel fantasi. ”
Ivy lalu berdiri dan menatap Rama.“Ini benar, aku tidak bohong. Jika aku bisa sebentar menyentuh tuan umurku bertambah sehari, aku melakukan ini bukan karena aku cewek genit tapi untuk kehidupan ku. ”
Rama pun terdiam menilai, ucapan Ivy benar atau hanya bohong.
“Apa ini cara baru untuk mendekati pewaris keluarga Cahya atau ayahmu itu mengajaknya?. ”
“Aku benar-benar berkata jujur, umurku tidak sampai satu tahun hanya menunggu hitungan minggu saja. ”
“Kalau begitu pergi ke rumah sakit, aku ini bukan Tuhan atau dokter yang bisa menyembuhkan mu ataupun memperpanjang umurmu. ”
“Tapi... ”ucapan Ivy terhenti. Dia tahu penjelasan tidak masuk akal, dia sendiri juga tidak percaya dengan keajaiban yang menimpa dirinya.
Rama lalu duduk di kursi kerjanya dengan tatapan dingin dan sinis dirinya mengatakan kata penolakan yang kejam untuk Ivy.
“Pergilah!, sebaiknya periksa otakmu ke dokter jiwa. Gadis muda yang cantik dan pintar kayak kamu jangan suka berfantasi yang berlebihan. ”
“Aku tidak gila!. Dasar pria berhati dingin!. Pantas saja kamu jomblo sejati, mulutmu pedas sepedas cabe. ”Bentak Ivy yang marah.
Lalu Ivy yang kesal, dia pun pergi keluar dari kantor Rama tersebut. Rama seakan tidak percaya yang diucapkan Ivy, tapi matanya saat mengatakan itu tidak menipunya.
Tak beberapa lama Ivy pergi, Larry datang.
“Apa yang membuat nona Ivy pergi dengan marah?. ”
Awalnya Rama malas menjawab, lalu rasa penasaran dengan yang diucapkan Ivy padanya tak bisa di bohongi lagi.
“Larry, bisakah kamu cari tahu tentang Ivy dermawan selengkapnya dan secepatnya. Ada yang membuatku penasaran dengan dirinya. ”
Tanpa banyak tanya Larry mengiyakan perintah tuannya itu, dan keluar menjalankan tugas khusus dari Rama.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉