Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Alibi
Suasana Sektor Empat di siang hari selalu terasa monoton, hanya diisi oleh deru mesin transportasi publik dan langkah kaki warga sipil yang bergegas. Di sepanjang trotoar, empat orang petugas patroli berjalan dengan formasi dua banjar. Bylla berjalan di sisi kanan, berdampingan dengan Shanaz, sementara dua petugas yang lain, Richo dan Ganee, menjaga area belakang.
"Sektor Empat bagian barat aman. Log harian warga sejauh ini bersih," ujar Shanaz sambil mengecek data di pergelangan tangannya. Ia mengembuskan napas bosan. "Patroli di siang hari selalu membuat mengantuk."
Bylla hanya tersenyum tipis, pandangannya lurus ke depan. Namun, ketenangan itu mendadak pecah ketika perangkat komunikator di pergelangan tangan Shanaz berbunyi nyaring.
"Pengawas Regu Dua Sektor Empat di sini. Masuk," ujar Shanaz dengan nada tegas.
"Pusat Komando di sini," balas operator dari seberang "Kami mendeteksi adanya kontak fisik ilegal di area blok C. Koordinat sudah terkirim. Segera lakukan penertiban."
"Baik, dimengerti," jawab Shanaz.
Mendengar hal itu, Bylla segera meninjau lokasi berdasarkan koordinat yang sudah dikirim. Seketika bola mata Bylla membelalak sempurna. Itu adalah kompleks apartemen tempat tinggalnya. Tanpa menunggu aba-aba dari Shanaz atau rekan timnya yang lain, Bylla langsung melesat maju.
"Eh, Bylla! Tunggu! Jangan bergerak sendiri!" teriak Shanaz panik dari belakang.
"Aku tahu betul lokasinya, Kak! Aku duluan untuk mengamankan target!" seru Bylla tanpa menoleh, langkah kakinya bergerak secepat angin, meninggalkan tiga rekannya yang terengah-engah mengejarnya.
Begitu Bylla berbelok di persimpangan dan mencapai pelataran lobi, langkah kakinya mendadak terkunci di atas beton. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Di bawah sorotan lampu indikator kamera pengawas yang berkedip merah, kedua mata Bylla menangkap pemandangan yang luar biasa ganjil. Nezha dan Carson berdiri sangat dekat, sisa-sisa cengkeraman tangan Carson masih terlihat di pinggang Nezha, sementara wajah keduanya pucat pasi dengan napas yang memburu.
Bylla diam di tempat. Tatapan matanya mendadak berubah aneh. Ada kilat keterkejutan, disusul oleh riak emosi yang sulit diartikan di balik sepasang matanya yang biasanya ceria. Ia tidak bersuara, tidak juga melakukan tindakan apapun.
Drap! Drap! Drap!
Suara sepatu bot yang berhantam dengan beton memecah keheningan. Shanaz, Richo, dan Ganee akhirnya tiba dengan napas terengah-engah, langsung memosisikan diri di belakang Bylla.
Begitu Shanaz melihat siapa yang berdiri di bawah kamera pengawas, wajahnya berubah syok. "Nezha?!"
Nezha mencoba melangkah maju, memosisikan dirinya di depan Carson secara refleks. "Shanaz, ini—"
"Astaga, Nezha! Apa yang baru saja kamu lakukan?!" potong Shanaz, suaranya naik satu oktav karena tidak percaya. Matanya menatap Carson dengan pandangan penuh tuduhan dan rasa jijik. "Kamera pengawas mendeteksi kontak fisik ilegal dari kalian berdua! Ini pelanggaran berat! Kalian berdua sengaja melakukan tindakan asusila di tempat umum?!"
"Bukan seperti itu, Shanaz. Dengarkan aku dulu," potong Nezha cepat, mencoba menekan getaran panik di suaranya. "Tadi itu hanya—"
"Hanya apa? Semua orang di negara ini tahu kalau kontak fisik antar lawan jenis itu dilarang keras oleh hukum negara!" cecar Shanaz, wajahnya memerah karena emosi. Ia menoleh ke arah Richo dan Ganee. "Richo, Ganee, borgol mereka sekarang! Kita harus langsung membawa mereka ke Pusat Penertiban!"
"Tunggu dulu, Kak."
Suara dingin dan tenang milik Bylla memecah perdebatan. Bylla melangkah maju, memosisikan tubuhnya tepat di antara tim patroli dan Nezha-Carson.
Shanaz mengerutkan dahi, tidak suka diinterupsi. "Bylla? Apa yang kamu lakukan? Mereka sudah tertangkap basah!"
Bylla menatap Shanaz dengan pandangan datar yang jarang ia perlihatkan. "Kamera pengawas hanya mendeteksi apa yang sedang terjadi. Bukan membaca konteks kejadian. Kita harus melihat rekaman kejadian secara detail sebelum melayangkan tuduhan dan menghukum warga. Bagaimanapun, Kak Nezha adalah rekan kerja kita, Kak."
Mendengar argumen Bylla yang logis, amarah Shanaz perlahan mereda. Ia mendengus kesal, lalu melirik Richo. "Richo, hubungi operator ruang kendali. Suruh mereka mengirimkan rekaman kamera pengawas dari lobi apartemen Blok C-7."
Richo mengangguk, tangannya bergerak menghubungi operator ruang kendali.
Beberapa detik kemudian, sebuah video hologram melayang muncul dari tablet yang dipegang Ganee. Mereka semua, termasuk Nezha dan Carson, melihat rekaman itu. Di sana terlihat jelas, Nezha berjalan sendirian menjinjing kantong obat, tiba-tiba kakinya menginjak tali sepatunya sendiri, tubuhnya oleng dan hampir jatuh tersungkur. Di saat yang sama, Carson mendorong pintu kaca dan bergerak refleks menangkap tubuh Nezha agar tidak menghantam beton.
"Lihat?" Bylla angkat bicara lagi, suaranya kembali santai seperti biasa. "Itu murni refleks penyelamatan, bukan karena alasan yang lain. Kak Nezha hampir terjatuh."
Shanaz menggigit bibir bawahnya, sisa-sisa kecurigaannya belum sepenuhnya hilang, namun fakta di video tidak bisa dibantah. "Tetap saja, aturan adalah aturan. Kontak fisik tetap terjadi. Kita bawa mereka ke Kantor Pusat Pengawas Keamanan Sektor Empat saja. Biarkan kepala pusat yang menginterogasi dan memutuskan."
...***...
Suasana di Ruang Interogasi Kantor Pusat Pengawas Keamanan Sektor Empat terasa dingin dan mencekam. Dinding logam abu-abu tanpa jendela membuat ruangan itu terasa semakin sempit. Nezha dan Carson didudukkan di kursi logam yang berseberangan, dipisahkan oleh sebuah meja hitam panjang.
Di ujung meja, Dortae, Kepala Pusat Pengawas Keamanan Sektor Empat duduk dengan wajah kaku, sementara Shanaz dan Bylla berdiri di belakangnya sebagai saksi lapangan.
Dortae mengetuk meja dengan ujung jarinya, menatap Nezha tajam. "Petugas Nezha. Berdasarkan laporan, hari ini Anda mengambil cuti karena sakit. Tapi, kenapa Anda berada di luar? Dari mana Anda sebenarnya?"
Nezha menegakkan bahunya, memasang wajah seprofesional mungkin. "Saya dari toko obat di seberang apartemen, Kepala."
"Beli apa?"
Nezha mengeluarkan kantong plastik kecil yang sejak tadi ia pegang dan meletakkannya di atas meja. "Gel pereda lebam."
Dortae menaikkan satu alisnya. "Untuk apa? Siapa yang terluka?"
Nezha dengan tenang menarik lengan bajunya ke atas, memperlihatkan lengan kirinya yang memang membengkak keunguan akibat terbentur sudut meja dapur pagi tadi. "Tangan saya terbentur sudut meja saat bersiap-siap tadi pagi. Karena rasanya semakin nyeri, saya memutuskan membeli obat. Memar ini bisa diverifikasi oleh tim medis kantor jika Anda meragukannya."
Dortae memeriksa memar di tangan Nezha, lalu mengangguk kecil. Alibi itu sempurna dan didukung oleh bukti fisik. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Carson.
"Dan kamu, saudara Carson. Berdasarkan data, kamu adalah staf di pusat laboratorium kesehatan Sektor Utama. Kenapa kamu berada di apartemen pada jam kerja? Dan... kenapa wajahmu penuh memar begitu?"
Carson tetap mempertahankan ekspresi datarnya, tidak menunjukkan kegugupan sedikit pun meski tubuhnya masih terasa linu. "Saya sedang mengambil izin untuk beristirahat di apartemen, Kepala. Mengenai luka di rahang saya, itu adalah akibat kecelakaan kerja. Pipa uap bertekanan tinggi di laboratorium sempat mengalami malfungsi dan meledak kecil dua hari lalu."
Dortae menyipitkan mata, jemarinya bergerak lincah di atas layar virtual untuk mencocokkan pernyataan Carson dengan log data Sektor Utama. Berkat intervensi Direktur Utama dan penghapusan catatan penahanan yang terjadi sebelumnya, layar Dortae hanya menampilkan status Carson sebagai pekerja biasa yang sedang dalam masa pemulihan. Tidak ada anomali, ataupun hal yang mencurigakan. Semuanya bersih.
Dortae mengembuskan napas pendek, menutup tab data tersebut. "Baiklah, saudara Carson. Pernyataanmu valid."
Nezha diam-diam mengembuskan napas lega di dalam hatinya.
"Namun," kalimat Dortae menggantung di udara, membuat atmosfer ruangan kembali menegang. Dortae menatap Carson dan Nezha bergantian. "Ketidaksengajaan tidak membebaskan kalian dari hukum. Setiap kontak fisik antar lawan jenis, apa pun alasannya, tetap merupakan pelanggaran terhadap hukum negara. Kalian berdua tetap harus menerima sanksi."
Nezha mengerutkan dahi, bersiap untuk mengajukan banding karena menganggap ini tidak adil. Namun, sebelum sepatah kata pun keluar dari mulut Nezha, Carson sudah lebih dulu angkat bicara.
"Berikan sanksinya kepada saya saja," suara Carson terdengar berat dan tegas, memotong keheningan ruangan.
Dortae menoleh, menatap Carson dengan pandangan menyelidik. "Maksudmu?"
"Dalam rekaman itu, Petugas Nezha dalam posisi pasif karena kehilangan keseimbangan. Sayalah pihak aktif yang menginisiasi kontak fisik dengan memegang tubuhnya tanpa izin," ujar Carson dengan nada datar namun sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan. "Jadi, secara hukum yurisdiksi, tanggung jawab pelanggaran ini sepenuhnya berada di tangan saya. Jatuhkan semua hukumannya kepada saya, dan bebaskan Petugas Nezha dari catatan pelanggaran."
Nezha menoleh cepat ke arah Carson, matanya membelalak kaget. 'Carson, apa yang kamu lakukan?!' jerit Nezha dalam hati. Namun, Carson sama sekali tidak menoleh ke arahnya, pemuda itu tetap menatap lurus ke arah Dortae.
Dortae menimbang-nimbang argumen Carson selama beberapa saat. Aturan negara memang menyatakan bahwa pihak inisiatorlah yang memikul beban sanksi utama jika terjadi kasus ketidaksengajaan.
"Pernyataanmu masuk akal secara hukum yurisdiksi, Carson," ucap Dortae akhirnya, sambil mengetuk tombol konfirmasi di layarnya. "Baiklah. Petugas Nezha dinyatakan bersih dari catatan pelanggaran. Sebagai gantinya, Carson, kamu dijatuhi hukuman kerja paksa selama satu minggu penuh."
Dortae menjabarkan detailnya. "Hukuman ini tidak menangguhkan pekerjaan utamamu. Kamu tetap wajib menyelesaikan pekerjaan utamamu setiap hari. Namun, setelah jam kerjamu selesai, kamu wajib melaporkan diri ke bagian penertiban Sektor Empat untuk melakukan hukumanmu. Berupa pembersihan filter udara bawah tanah selama tiga jam setiap malam, selama tujuh hari berturut-turut. Mengerti?"
Kerja paksa tiga jam setiap malam setelah seharian bekerja, ditambah kondisi fisik Carson yang belum pulih total, itu adalah hukuman yang sangat menyiksa fisik.
Nezha menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca menahan rasa bersalah yang teramat sangat.
Namun, Carson hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi, seolah beban berat itu bukanlah apa-apa baginya. "Mengerti. Saya terima hukumannya."
Di belakang kursi Kepala Pusat, Bylla memperhatikan seluruh jalannya interogasi dengan saksama. Matanya bergantian menatap Carson yang begitu keras kepala melindungi Nezha, lalu beralih ke Nezha yang tampak sangat terpukul. Sudut bibir Bylla bergerak samar, memancarkan binar aneh yang kini dipenuhi oleh rasa yakin yang pasti. Tingkah laku Carson di depan matanya barusan... sudah lebih dari cukup untuk mengonfirmasi satu hal yang selama ini ia curigai.
i ini panglima berbuat baik