Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Kanisha memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak karena semua luka yang berusaha ia tahan sejak tadi perlahan mulai kembali terbuka.
"Mama..." Suara Kanisha terdengar serak dan hampir tidak terdengar namun itu cukup membuat Dahlia semakin menangis.
"Iya sayang... Apa yang terjadi? Tolong bilang sama mama." Dahlia menggenggam kedua tangan putrinya dengan erat. "Kamu jangan simpan semuanya sendiri."
Kanisha menunduk, air matanya jatuh satu per satu membasahi lantai sementara Rendra masih berdiri tidak jauh dari mereka dan menunggu, karena sekarang ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya sudah dilakukan Arven sampai putrinya hancur seperti ini.
"Kanisha." Kali ini suara Rendra terdengar lebih berat. "Papa mau tahu semuanya." Tidak ada kemarahan dalam nada suaranya tapi justru itulah yang membuatnya terdengar lebih menakutkan. "Apa yang sudah Arven lakukan sama kamu?"
Kanisha menggigit bibirnya, ia berusaha menahan tangisnya namun gagal karena detik berikutnya, tubuhnya mulai bergetar. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya kembali pecah.
"Mama..." Suaranya tersendat. "Papa..."
Dahlia langsung memeluknya lagi.
"Gapapa sayang, cerita sama mama. Kami ada di sini bersama kamu. Kamu nggak sendirian."
Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan terakhir Kanisha runtuh karena untuk pertama kalinya malam itu, Ia tidak sendirian. Dan akhirnya dengan suara yang gemetar hebat, Kanisha mulai berbicara.
"Rumah tangga aku..." Tangisnya pecah. "Udah hancur, Ma."
Deg, Dahlia langsung membeku sementara Rendra perlahan mengepalkan tangannya. Kanisha melanjutkan perkataannya dengan napas tersengal.
"Arven..." Air matanya jatuh semakin deras. "Arven selingkuh dibelakang Kanisha, ma."
Ruangan mendadak sunyi seolah tidak ada seorang pun yang berani bernapas. Dahlia menatap putrinya dengan wajah pucat sedangkan Rendra terlihat membeku di tempatnya.
"K-kamu bilang apa?"
Suara Dahlia terdengar bergetar sementara Kanisha tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat menyakitkan.
"Dia selingkuh, Ma." Tangisnya kembali pecah. "Selama bertahun-tahun."
Dahlia langsung menangis semakin keras sementara Rendra memalingkan wajahnya sesaat karena emosinya mulai naik. Namun Kanisha belum selesai karena masih ada kenyataan yang jauh lebih buruk.
"Dia bukan cuma selingkuh." Suara Kanisha semakin lirih. "Dia juga punya anak dari perempuan itu."
Deg, Kali ini bahkan Dahlia sampai kehilangan keseimbangan. Untung saja Rendra sigap
menopang istrinya.
"Apa?"
Suara Dahlia nyaris tidak terdengar. Kanisha memejamkan matanya lalu berkata dengan nada suaranya yang hancur.
"Anak itu..." Tangisnya kembali pecah. "Anak itu adalah Naira."
Dan untuk sesaat tidak ada suara apa pun di kamar itu karena baik Rendra maupun Dahlia terlalu syok untuk bereaksi. Mereka hanya menatap putrinya dengan pandangan yang tak percaya, tak mengerti dan tidak sanggup mencerna semua yang baru saja mereka dengar. Sementara Kanisha terus menangis.
Menangis seperti seseorang yang sudah kehilangan seluruh dunianya dan dengan suara yang semakin gemetar, Ia akhirnya mengatakan kenyataan terakhir yang benar-benar menghancurkan dirinya malam itu.
"Dan sebelum Kanisha pergi dari rumah itu,"
Kanisha menutup wajahnya dengan kedua tangan ditambah tubuhnya yang bergetar hebat. "Arven..." Napasnya tersendat. "Arven langsung menjatuhkan talak tiga ke Kanisha."
Kalimat itu menggantung di udara dan saat itulah Dahlia benar-benar hancur. Tangisan Dahlia masih terdengar pelan di tengah keheningan malam. Wanita itu bahkan masih tidak percaya dengan semua yang baru saja keluar dari mulut putrinya. Arven berselingkuh dan bahkan memiliki anak dari perempuan lain, menipu Kanisha selama bertahun-tahun dan yang paling menyakitkan, menjatuhkan talak kepada putrinya begitu saja setelah menghancurkan hidupnya.
Sementara Kanisha masih berdiri di tempat yang sama. Wajahnya pucat, matanya sembab, tubuhnya lelah. Namun entah kenapa setelah semua rahasia itu akhirnya keluar, ia justru merasa kosong. Benar-benar kosong.
Sedangkan di sisi lain, Rendra sudah tidak mampu lagi menahan emosinya. Selama beberapa menit terakhir pria itu memang berusaha diam, berusaha tenang, berusaha mendengarkan semuanya sampai selesai tapi sekarang ia tidak bisa lagi.
BRAK!
Telapak tangan Rendra menghantam meja kecil di samping tempat tidur hingga membuat Dahlia tersentak kaget.
"Kurang ajar!" Suara Rendra menggema di seluruh kamar. Wajah pria itu terlihat memerah, rahangnya mengeras, dan matanya dipenuhi amarah yang selama ini jarang sekali terlihat. "Berani-beraninya laki-laki tak berguna itu menyakiti putriku!"
Dahlia sampai menangis semakin keras mendengar kemarahan suaminya sedangkan Kanisha hanya menunduk. Rendra mengusap wajahnya dengan kasar, dadanya naik turun, amarahnya benar-benar mendidih. Selama ini, selama bertahun-tahun, ia selalu menghormati Arven. Meski awalnya ia tidak pernah setuju Kanisha menikah dengan laki-laki itu, meski sejak awal ia melihat terlalu banyak kekurangan dalam diri Arven, meski firasatnya sering kali mengatakan bahwa Arven bukan pria yang tepat untuk putrinya.
Tetapi setelah pernikahan itu terjadi, Rendra tetap berusaha menghormatinya karena Arven adalah pilihan Kanisha. Karena Arven adalah suami putrinya, karena selama ini ia percaya bahwa setidaknya Arven akan menjaga Kanisha. Setidaknya Arven akan membahagiakan putrinya. Namun malam ini semua rasa hormat itu lenyap. Hancur tanpa tersisa sedikit pun. Bagaimana mungkin seorang pria bisa melakukan hal sekeji itu?
Bagaimana mungkin seseorang bisa melihat istrinya mencintainya sepenuh hati lalu membalasnya dengan pengkhianatan selama bertahun-tahun? Bagaimana mungkin? Rendra mengepalkan tangannya begitu kuat.
Kalau saja Arven berdiri di hadapannya saat ini, Ia tidak yakin masih bisa mengendalikan dirinya.
"Papa..." Suara Dahlia terdengar bergetar, wanita itu masih menangis sambil memeluk Kanisha. Air matanya terus mengalir, hatinya benar-benar hancur melihat kondisi putrinya.
"Papa harus lakukan sesuatu." Rendra menoleh. Dahlia menatap suaminya dengan matanya yang merah. "Papa harus kasih keadilan buat Kanisha." Tangisnya kembali pecah. "Papa nggak boleh diam aja setelah melihat apa yang terjadi sama putri kita."
"Mama..."
"Papa harus bikin Arven bertanggung jawab!"
Suara Dahlia mulai meninggi. "Mama nggak terima putri kita diperlakukan seperti ini!" Air mata terus membasahi pipinya. "Kanisha nggak pantas diperlakukan begini."
Rendra memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya ia membuka kembali matanya dengan tatapan yang jauh lebih dingin dan itu justru lebih mengerikan.
"Papa tahu." Suara pria itu terdengar rendah, berat dan penuh penekanan. "Papa nggak akan biarin Arven lolos begitu aja."
Kanisha perlahan mengangkat wajahnya sementara Rendra melanjutkan perkataannya.
"Selama ini papa diam karena menghormati dia sebagai suami kamu." Rahangnya mengeras. "Tapi mulai malam ini..." Tatapan Rendra berubah tajam. "Dia bukan siapa-siapa lagi buat keluarga ini."
Dahlia mengangguk cepat sementara air matanya terus mengalir.
"Benar, dia harus dihukum. Dia harus merasakan akibat dari perbuatannya."
Rendra kembali menatap putrinya.
"Papa janji." Suaranya terdengar tegas. "Arven akan menerima balasan yang setimpal. Papa nggak akan membiarkan dia menghancurkan hidup kamu lalu hidup tenang begitu saja."
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️