NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:749
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Setan Encok Stadium Akut

"Pergi lo setan! Jangan deket-deket gue! Tahi... tolongin gue, Tahi! Ada bebegig kedaton lepas nih!" teriak Kiano makin histeris.

Pasalnya, makhluk berwajah hancur itu malah nekat merangkak kembali untuk naik ke atas kasur emasnya. "Hus! Hus! Nyingkah siah setan curut!"

Buk! Buk!

Sembari menutup mata rapat-rapat, Kiano melempar bantal dan gulingnya secara serampangan. Sayangnya, tidak ada satu pun yang mengenai sasaran karena akurasinya minus akibat terlalu takut.

Merasa namanya di panggil Ki Saron keluar dari tubuh Kiano.

Jleg!

Tubuh besarnya langsung berdiri di tengah-tengah ruangan hingga menggetarkan udara di sekitar ruangan tersebut.

Namun sosok yang selama ini terkenal memiliki wujud Tengkorak Hideung yang sangar itu mendadak mematung. Nyalinya berdesir ngeri. Untuk beberapa detik, Ki Saron bahkan ikut merasa meremang melihat wajah luar biasa amburadul di depannya. Namun, bukan rasa ngeri yang membuatnya paling syok, melainkan garis energi hitam yang mengalir di tubuh makhluk itu.

Ki Saron mengenali aura terkutuk tersebut. Itu adalah wujud asli dari musuh bebuyutannya lima puluh tahun lalu, Nini Kalingking yang kini bertakhta sebagai Nyi Ratu Ratih Kemuning!

"Kau... Nenek Kisut!" bentak Ki Saron, rahangnya mengeras dipenuhi dendam lama. "Berani-beraninya kau memunculkan diri di sini dan mencoba mengganggu Tuanku! Kebetulan sekali, aku memang sedang mencarimu ke seantero alam ghaib! Aku tidak akan membiarkanmu lolos atau hidup abadi lagi. Sampai di sini saja, kejahatanmu harus diakhiri detik ini juga!"

Nyi Ratu menoleh cepat. Di belakangnya, telah berdiri sesosok khodam pelindung bertubuh masif yang sangat ia kenal.

Melihat kemunculan mendadak Ki Saron, Nyi Ratu langsung melompat mundur dari atas ranjang. Sepasang matanya yang sudah hampir copot itu membelalak sempurna. Namun, ia membelalak bukan karena takut melihat tantangan bertarung dari Ki Saron, melainkan karena matanya tidak sengaja menangkap sebuah pantulan mengerikan di permukaan cermin meja rias yang berada tepat di belakang sang jawara.

Deg!

‘Astaga... jin kurap dari lereng mana itu? Mukanya kok kayak kesamber elpiji meledak?’ batin Nyi Ratu bergidik ngeri. Ia sama sekali tidak sadar bahwa setan berwajah penyok bin gosong di dalam cermin itu adalah dirinya sendiri. Didorong rasa penasaran yang tinggi, ia melangkah cepat untuk memastikan.

Ki Saron yang melihat musuhnya bergerak langsung memasang kuda-kuda bertarung, siap melayangkan pukulan ghaib penghancur sukma. Namun, alih-alih menyerang atau membalas gertakan Ki Saron, Nyi Ratu justru melesat melewatinya begitu saja.

Wanita itu mengabaikan sang panglima perang, lalu berdiri tegak di depan cermin rias sembari memegangi kedua pipinya yang keriput hitam mengelupas.

"Arggghhh! Kenapa... kenapa wajahku bisa berubah jadi sekaku dan sejelek ini?!" pekik Nyi Ratu histeris, suaranya melengking merusak keheningan kamar.

Barulah setelah ia mendekatkan wajahnya ke permukaan kaca, kesadaran horor itu menamparnya telak. Setan berwajah menyerupai korban malpraktik internasional itu adalah dirinya sendiri! Wujud aslinya yang semula ia rawat mati-matian menggunakan darah perawan kini hancur, berlipat-lipat ganda lebih seram dari penampakan aslinya di masa lalu.

Tampaknya, bersin maut Kiano barusan tidak hanya sekadar tiupan angin biasa, melainkan mengandung energi purba peluntur sihir atau bisa jadi... air liur mematikan sekelas komodo versi manusia yang sanggup merusak formula skincare ghaib miliknya dalam sekali semprot.

"Kau baru sadar, Nenek Kisut? Wajahmu memang aslinya seburuk itu! Jangan pura-pura terkejut begitu," cibir Ki Saron sembari berkacak pinggang, menatap puas pada kehancuran ilusi di depan cermin. "Sepertinya kau sudah terlalu lama menikmati wajah palsumu hasil meminum darah perawan, sampai-sampai lupa kalau wujud aslimu itu... ah, sudahlah. Bahkan jauh lebih hancur dari kotoran sapi jantan!"

Mendengar hinaan bertubi-tubi yang meruntuhkan harga dirinya itu, Nyi Ratu—alias si nenek kisut bin Nini Kalingking—mengeraskan rahangnya hingga bergetar ghaib. Aura hitam pekat mulai meledak-ledak di sekeliling tubuhnya.

"Berani-beraninya kau menghinaku, Saron!!!" raungnya murka.

Ia berniat menoleh cepat untuk melayangkan pukulan maut pada sang jawara, namun sial bagi sang ratu ghaib. Karena pergerakan kepalanya terlalu mendadak dan tidak selaras dengan kondisi fisik manusianya yang menua dalam hitungan detik, struktur tulangnya yang rapuh langsung protes keras.

Krekkk!

Leher Nyi Ratu mengalami encok stadium akut di tempat. Kulitnya yang mengerut dan sendi-sendinya yang kaku seolah terkunci, membuat kepalanya tersangkut dalam posisi miring ke kanan.

"Akhhh! L-Leherku...!" rintih Nyi Ratu, memegangi lehernya dengan ekspresi menahan sakit yang luar biasa dramatis.

Sontak, Kiano dan Ki Saron yang menyaksikan penderitaan musuh besar mereka di depan mata langsung tertawa terbahak-bahak hingga memegang perut masing-masing. Rasa takut yang awalnya sempat menghimpit dada Kiano kini menguap tak berbekas, digantikan oleh rasa geli maksimal.

"Aduh, Ki! Setannya kurang oli itu! Kasih aja minyak jelantah sisa goreng cireng biar lehernya gak malu-maluin amat," celetuk Kiano dari atas kasur sembari menunjuk-nunjuk Nyi Ratu. "Pamor serem lo sebagai ratu ghaib langsung runtuh dikalahin sama encok stadium akhir, Neng! Ahahaha!"

"Tidak usah repot-repot diberi minyak jelantah, Tuan," timpal Ki Saron, menyeka air mata sisa tawanya. "Langsung kita siram saja pakai minyak tanah, lalu kita bakar hidup-hidup nenek peyot ini!"

"Kurang ajar kalian berdua!" teriak Nini Kalingking menggelegar, gema suaranya yang serak dan menyeramkan bergaung merusak seisi ruangan kamar emas tersebut.

Dengan kepala yang masih tersangkut miring akibat encok, sepasang mata melototnya menatap benci ke arah Kiano dan Ki Saron bergantian. "Berani-beraninya menertawakanku! Akan kubalas semua penghinaan ini, tapi tidak sekarang!"

Menggunakan sisa-sisa kekuatan sihir hitamnya, ratu peyot itu bergerak cepat merapal sebuah mantra pelarian.

Zzztt! Wush!

Dalam sekejap mata, kepulan kabut kegelapan yang pekat meledak di lantai kamar, lalu sosok Nyi Ratu yang amburadul itu menghilang tanpa meninggalkan jejak.

"Eh, dia kabur, Cok!" Kiano tercengang, melompat turun dari kasur sembari mengibas-ngibas sisa asap yang bau busuk. Ia menoleh sewot ke arah sang khodam jawara. "Kok lo malah diam aja, sih?! Bukannya dikejar itu nenek sihir!"

"Tadinya saya maunya begitu, Tuan," balas Ki Saron sembari mendengus masygul, mengendurkan kembali kuda-kuda bertarungnya. "Tapi dia keburu melesat menggunakan sihir pelarian tingkat tinggi dan saya tidak tahu pasti ke mana dia pergi. Jadi dikejar pun akan percuma saja."

"Ah, payah lo! Kalah gercep sama setan encok," gerutu Kiano sembari menepuk jidat. Namun, sedetik kemudian raut wajahnya berubah serius. "Kalau kayak gini situasinya, kita harus bergerak cepat. Gue gak mau mati konyol kalau itu nenek sihir datang lagi bawa pasukan. Oke, gue siap menerima latihan sihir dan transfer energi dari lo sekarang!"

Kiano berjalan menuju pintu kamar, lalu melongokkan kepalanya ke koridor luar. "Tapi sebelum mulai latihan, kita harus tanya si Dharma dulu. Investigasi dia soal bokapnya sepupu si Wirasada—siapa tadi, Ki Belut? Ah, Ki Pesut maksud gue! Kita harus tahu perkembangannya sudah sampai mana."

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!