Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: PERISAI BAJA SANG PENGUASA
Bisikan Mikael di ambang pintu terasa seperti hembusan angin es yang seketika membekukan kehangatan di dalam ruangan lantai lima puluh itu. Nazya, yang masih duduk di sofa kulit hitam, refleks meremas jemarinya kembali. Pendengarannya yang tajam tidak salah dengar. Kata 'keluarga mantan suami' dan 'media' seolah menjadi lonceng kematian yang memicu trauma lamanya untuk kembali berdenyut.
Wajah Nazya yang baru saja mulai merona, kini kembali pias. Di dalam kepalanya, ingatan tentang keluarga Rendy—terutama mantan ibu mertuanya yang bermulut kejam—adalah sekumpulan orang yang tidak akan pernah berhenti mengusiknya sebelum melihatnya hancur. Ditambah lagi dengan keterlibatan media; Nazya sangat tahu betapa kejamnya rumor di luar sana jika nama baik Dafa sampai terseret ke dalam lumpur masa lalunya.
Dafa tidak langsung berbalik. Pria itu tetap berdiri tegak di ambang pintu, memunggungi Nazya. Namun, Mikael bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang bosnya mengeras sempurna, menciptakan garis tegas yang sangat mengerikan di wajah tampannya. Sepasang mata elang Dafa berkilat menahan amarah yang begitu pekat. Bagi Dafa, tindakan keluarga Rendy bukan lagi sekadar mencari keadilan, melainkan sebuah bentuk kelancangan yang terang-terangan menantang kekuasaannya.
"Siapa saja yang datang?" tanya Dafa, suaranya ditekan serendah mungkin, dingin dan sarat akan ancaman mutlak.
"Ibu kandung Rendy beserta dua kakak laki-lakinya, Pak. Mereka membawa tiga orang yang mengaku dari media portal berita daring tingkat bawah. Saat ini mereka ditahan oleh tim keamanan di pos depan karena mencoba memaksa masuk ke lobi utama," jawab Mikael dengan suara berbisik, tetap menjaga profesionalitasnya.
Dafa menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan untuk menetralkan gemuruh amarah di dadanya. Ia tidak boleh terlihat goyah atau murka di depan Nazya. Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya, melangkah mendekati sofa tempat istrinya duduk meringkuk ketakutan.
Dafa berlutut kembali di hadapan Nazya, meraih kedua tangan istrinya yang sedingin es, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. "Nazya, tatap aku," perintah Dafa lembut namun penuh penekanan yang menenangkan.
Nazya mendongak perlahan, matanya yang sembap menatap lurus ke dalam manik mata Dafa. "Mas Dafa... mereka... mereka datang karena saya, kan? Maafkan Nazya, Mas... Nazya selalu membawa sial dan masalah untuk hidup Mas Dafa. Lebih baik... lebih baik Nazya saja yang turun dan menemui mereka agar Mas Dafa tidak—"
"Potong kalimat bodohmu itu, Nazya," sela Dafa tegas, matanya mengunci pandangan istrinya tanpa cela. "Sudah kukatakan sejam yang lalu, kamu adalah tanggung jawabku. Urusan di bawah adalah urusanku, bukan urusanmu. Di rumah ini, di gedung ini, tidak ada satu pun orang yang bisa menyentuhmu atau memintamu mempertanggungjawabkan apa pun tanpa izin dariku."
Dafa mengusap punggung tangan Nazya dengan ibu jarinya, menyalurkan kehangatan murni yang perlahan meredakan kepanikan di dada janda muda itu. "Kamu tetap di sini bersama Mikael. Ruangan ini kedap suara dan sangat aman. Jangan melihat ke jendela, jangan memikirkan apa pun. Aku akan turun ke bawah untuk membersihkan serangga-serangga pengganggu itu. Mengerti?"
Nazya menelan ludahnya yang terasa kelat, namun perlindungan Dafa yang begitu kokoh membuat ia tidak punya pilihan selain patuh. "Iya, Mas... Nazya mengerti."
Dafa berdiri, merapikan kembali lengan kemejanya, lalu menatap Mikael yang berdiri siaga di dekat pintu. "Mikael, jaga istriku di sini. Jika ada satu saja orang asing yang berhasil menembus lantai ini, kamu tahu apa konsekuensinya bagi kariermu."
"Baik, Pak Dafa. Saya jamin keselamatan Ibu Nazya dengan seluruh jabatan saya," jawab Mikael tegas dengan kepala tertunduk hormat.
Dafa melangkah mantap keluar dari ruang kerjanya, menutup pintu ganda kayu jati itu dengan rapat, meninggalkan Nazya di dalam ketenangan ruangan yang mewah, sementara dirinya bersiap membawa badai kehancuran ke gerbang depan perusahaannya.
Suasana di sekitar gerbang besi utama gedung Mahardika Global Group tampak sangat kacau. Seorang wanita paruh baya bertubuh tambun dengan pakaian yang terkesan dipaksakan mewah—penuh dengan perhiasan emas imitasi di lengan dan lehernya—sedang berteriak-teriak histeris di depan barikade lima orang satpam bertubuh kekar. Dialah Lastri, ibu kandung Rendy, didampingi oleh dua anak laki-lakinya yang berwajah preman.
"Buka gerbangnya! Jangan mentang-mentang kalian orang kaya bisa semena-mena memecat anak saya!" jerit Lastri sambil menunjuk-nunjuk wajah kepala keamanan dengan jari telunjuknya yang bantet. "Anak saya itu staf teladan di sini! Ini pasti gara-gara perempuan jalang bernama Nazya itu yang menggoda bos kalian! Rekam ini! Biar seluruh Indonesia tahu kalau pemilik perusahaan ini memelihara janda pembawa sial!"
Tiga orang kameramen dari media daring tingkat bawah tampak sibuk mengarahkan lensa kamera mereka ke arah Lastri, merekam setiap kalimat provokatif yang keluar dari mulut wanita tua itu dengan binar mata yang haus akan berita viral.
Namun, kegaduhan itu mendadak terhenti total ketika pintu lobi utama gedung terbuka. Sosok Dafa Mahardika melangkah keluar dengan langkah kaki yang lambat namun memancarkan aura dominasi yang sangat mencekam. Di sekelilingnya, sepuluh orang pengawal pribadi berbadan tegap dengan setelan jas hitam legam langsung membentuk formasi barikade, membuka jalan bagi sang penguasa tertinggi perusahaan.
Melihat kedatangan sang CEO yang namanya sangat disegani di bursa saham nasional, tiga orang jurnalis amatir itu seketika menurunkan kamera mereka dengan tangan yang gemetar. Aura Dafa terlalu mengintimidasi untuk dihadapi oleh rakyat jelata seperti mereka.
Dafa berjalan hingga berhenti tepat satu meter di balik gerbang besi, menatap tiga orang di hadapannya dengan sepasang mata elang yang sangat dingin, seolah sedang menatap tumpukan sampah yang memuakkan.
"Siapa yang memberikan kalian izin untuk melolong di depan pekaranganku?" tanya Dafa. Suaranya tidak keras, namun getaran baritonnya yang berat sanggup membuat Lastri yang tadinya berteriak histeris mendadak membisu dengan jakun yang naik turun ketakutan.
Salah satu kakak laki-laki Rendy yang bertubuh besar mencoba memberanikan diri maju, menantang tatapan Dafa. "Anda... Anda Pak Dafa, kan? Bos besar di sini? Kami ke sini cuma mau minta keadilan! Kenapa adik kami, Rendy, dipecat secara sepihak dan di-blacklist dari semua perusahaan? Ini pasti karena hasutan mantan istrinya yang mandul dan membawa sial itu, kan?!"
Dafa menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin di sudut bibirnya—sebuah senyuman yang menjadi tanda bahaya bagi siapa pun yang mengenalnya di dunia bisnis. Pria itu merogoh saku celananya, lalu memberi isyarat kecil pada kepala keamanan di sampingnya.
"Buka gerbangnya," perintah Dafa tenang.
Begitu gerbang besi terbuka sedikit, Dafa melangkah maju satu langkah, membuat kakak laki-laki Rendy itu refleks mundur selangkah karena tertekan oleh tinggi badan dan aura kekuasaan Dafa yang menindas.
"Keadilan?" Dafa terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat mengerikan di bawah terik matahari siang itu. "Kalian datang ke tempat yang salah untuk mencari hal itu. Asal kalian tahu... Rendy Pratama tidak dipecat karena hasutan siapa pun. Dia dipecat... karena tanganku sendiri yang menandatangani surat pemecatannya."
Dafa memajukan tubuhnya sedikit, menatap Lastri yang mulai berkeringat dingin di tempatnya berdiri. "Dan tentang wanita yang kalian sebut janda pembawa sial itu... jaga mulut kotor kalian sebelum aku merobeknya di tempat ini juga. Nazya Humaira adalah istri sahku. Nyonya besar Mahardika. Setiap hinaan yang keluar dari mulut kalian untuknya hari ini... adalah surat kematian bagi seluruh kehidupan finansial keluarga kalian."
Dafa kemudian berbalik menatap tiga orang jurnalis yang wajahnya sudah sepucat kertas. "Kalian... rekam ini dengan baik. Jika sampai ada satu kata, satu foto, atau satu detik saja rekaman tentang istriku atau kegaduhan ini naik ke media sosial atau berita daring kalian... aku pastikan besok pagi perusahaan media tempat kalian bekerja akan bangkrut, dan kalian bertiga akan membusuk di dalam penjara atas pasal pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi keluarga Mahardika. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku."
Mendengar ancaman mutlak dari pria yang memiliki kekayaan tanpa seri itu, tiga jurnalis itu langsung mematikan kamera mereka, berbalik arah, dan berlari tunggang-langgang meninggalkan area gedung tanpa memedulikan teriakan Lastri.
Dafa kembali menatap keluarga Rendy yang kini berdiri mematung dengan lutut yang gemetar hebat. Mereka baru menyadari, bahwa wanita yang selama dua tahun ini mereka siksa dan mereka injak-injak harga dirinya... kini telah menjelma menjadi sosok yang berada di puncak tertinggi piramida kekuasaan yang tidak akan pernah bisa mereka gapai seumur hidup mereka.
"Kepala Keamanan," panggil Dafa dingin sambil berbalik arah menuju lobi.
"Siap, Pak!"
"Bawa mereka ke kantor polisi terdekat. Laporkan atas pasal tindakan tidak menyenangkan, pengancaman, dan percobaan kerusuhan di area objek vital perusahaan. Pastikan mereka tidak mendapatkan jaminan penangguhan penahanan hingga proses sidang selesai," perintah Dafa final sebelum melangkah masuk kembali ke dalam gedung, meninggalkan jeritan histeris Lastri yang kini diseret paksa oleh tim keamanan.
Dafa kembali memasuki ruang kerja pribadinya di lantai lima puluh dengan langkah kaki yang tenang, seolah baru saja menyelesaikan urusan bisnis kecil yang tidak berarti. Begitu pintu terbuka, ia melihat Nazya masih duduk di sofa dengan Mikael yang berdiri siaga di dekat jendela.
Nazya langsung berdiri dari sofa begitu melihat suaminya kembali, sepasang mata jernihnya menatap Dafa dengan pandangan yang sarat akan kecemasan yang mendalam. "Mas Dafa... bagaimana di bawah? Apakah... apakah terjadi sesuatu yang buruk?"
Dafa tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat alami, ia menarik tubuh ramping Nazya ke dalam dekapan dadanya, mengusap punggung istrinya dengan lembut untuk menyalurkan rasa aman yang mutlak. "Semua sudah selesai, Nazya. Serangga-serangga itu sudah dibersihkan. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani mengusik ketenangan hidupmu."
Nazya menyandarkan wajahnya di dada bidang Dafa, menghirup dalam-dalam aroma maskulin cendana yang menenangkan dari tubuh suaminya. Ada rasa haru yang luar biasa yang membuncah di dalam dadanya. Pria ini... benar-benar telah menjadi benteng baja yang melindunginya dari segala badai dunia luar.
Namun, tepat di tengah-tengah momen pelukan hangat yang menenangkan itu, ponsel di dalam saku celana Dafa kembali bergetar hebat. Dafa menarik dirinya sedikit, lalu merogoh ponsel tersebut. Sebuah nama tertera di layar digital dengan pendar lampu yang berkedip-kedip: Mami Kinanti.
Dafa menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Ya, Mami? Ada apa?"
Suara Kinanti di seberang telepon terdengar sangat panik dan gemetar, memecah ketenangan yang baru saja mereka bangun. "Dafa... kamu di mana, Nak? Cepat pulang ke rumah sekarang! Ayah Handoko... Ayah Handoko tiba-tiba pingsan di kamar mandi dan dari mulutnya mengeluarkan busa! Mami sudah panggil ambulans, tapi kondisinya sangat kritis, Dafa!"