NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Urusan internal OSIS nggak pake acara bikin orang nangis di belakang laboratorium, Nayaka. Mulai sekarang, jarak lo sama dia batasnya di gue." — Naren Aksara, Ketua ZENTRIX.

"Kalau dia datang ke sini... jangan pernah lihat muka dia. Biar dia tahu tempat ini bukan buat dia." — Fero Anggadyo, Ketua Black Venom.

Di SMA Garuda, Agnesa Valeria—siswi perfeksionis yang menjunjung aturan—selalu menganggap Naren Aksara sebagai pengganggu. Namun Naren tahu, di balik sikap dinginnya, Agnesa hanyalah gadis kesepian yang tertekan oleh tuntutan orang tuanya.

Saat Naren terus berusaha berada di sisi Agnesa, masalah justru bermunculan. Mahendra mulai menekan Agnesa demi kepentingan keluarganya, sementara Fero bersiap menghancurkan Naren lewat rahasia kelam yang tersembunyi di balik kamar 402 sebuah rumah sakit.

Siapa wanita yang terbaring di sana, dan mampukah Naren melindungi Agnesa sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi yang tersembunyi

Suara riuh koridor sekolah masih terdengar samar dari balik pintu ruang OSIS yang tertutup rapat. 

Brak! 

Agnesa membanting tumpukan proposal acara bulan depan ke atas meja kayu.

Debu halus beterbangan, menari-nari dalam sorot cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup sempurna.

​Agnesa berdiri di sana, mematung. Napasnya teratur, namun jemarinya yang pucat mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya menonjol.

 Ia tidak sedang menatap proposal itu. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan kaca lemari arsip yang buram.

​"Nggak masuk akal," gumamnya pelan.

 Suaranya tenggelam oleh suara kipas angin yang berputar berisik di langit-langit. 

Kriet... kriet...

​Ia tidak sedang berbicara kepada siapa pun. Ia tidak sedang memikirkan plot apa pun yang akan menghancurkan ZENTRIX. 

Pikirannya kosong, namun dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang ia sendiri enggan beri nama.

Pintu ruang OSIS terbuka. Mahendra Nayaka masuk dengan langkah lebar. Ia tidak mengetuk.

Agnesa tidak menoleh. Ia tetap membelakangi pintu.

Mahendra berhenti tiga langkah di belakangnya. Ruangan yang tadinya terasa luas mendadak menyempit.

​"Sa, ada laporan lagi soal anak-anak ZENTRIX di kantin belakang," Mahendra bersuara. 

Nada suaranya berhati-hati, namun ada tekanan yang tidak bisa disembunyikan.

​Agnesa masih tidak bergerak. Ia menarik napas dalam, bahunya terangkat sedikit, lalu ia memutar tubuh perlahan.

Agnesa berkedip dua kali sebelum menoleh sepenuhnya ke arah Mahendra.

Ada jeda sekitar tiga detik di mana ia terlihat seolah-olah baru saja terbangun dari mimpi panjang.

Mahendra memiringkan kepala, alisnya sedikit bertaut, memperhatikan gestur tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Laporan apa lagi, Mahendra?" tanya Agnesa. Suaranya datar, tanpa emosi.

​"Abyan dan teman-temannya membuat keributan kecil. Lagi. Mereka sengaja memancing emosi anak-anak kelas sebelah," Mahendra mendekat, kini jarak mereka hanya tersisa dua langkah.

 "Gue bisa tangani ini kalau lo mau. Lo kelihatan... lelah."

​"Gue nggak lelah," potong Agnesa cepat. Ia mengambil pulpen di atas meja dan memutar-mutarnya dengan cepat. 

Klik... klik... klik...

​"Sa, gue tahu lo benci mereka. Gue juga. Tapi lo nggak harus menanggung semuanya sendirian," Mahendra mengulurkan tangan, hendak menyentuh bahu Agnesa, namun tangannya berhenti di udara saat Agnesa mundur satu langkah secara impulsif.

Agnesa merasakan ketegangan yang tiba-tiba.

Ia tidak menjawab ajakan Mahendra.

Alih-alih merespons sentuhan atau ucapan itu, ia justru menunduk dan mulai merapikan tumpukan kertas di meja dengan obsesif.

Ia meluruskan ujung kertas yang sebenarnya sudah lurus.

Ia merapikan posisi stapler agar sejajar dengan buku catatan.

Gesturnya kikuk, tidak selaras dengan ketenangan wajahnya yang berusaha ia pertahankan.

​"Gue bisa sendiri," sahut Agnesa, matanya masih fokus pada kertas-kertas di depannya.

 "Lo fokus saja sama urusan perizinan acara. Itu lebih penting sekarang."

​"Lo yakin?" Mahendra bertanya, suaranya kini mengandung nada frustrasi yang tertahan.

​"Yakin."

​Mahendra menghela napas panjang.

 Huuuh.

 Ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan.

Brak!

Pintu tertutup dengan bunyi yang cukup keras.

​Agnesa berhenti bergerak. Pulpen di tangannya jatuh ke lantai. 

Tak.

​Ia tidak mengambilnya. Ia justru menyandarkan tubuhnya ke meja, menopang beban tubuhnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Kenapa tanganku gemetar? Padahal cuma masalah anak nakal di kantin. Kenapa rasanya seperti aku baru saja memenangkan pertarungan besar padahal aku cuma sedang lari dari percakapan biasa? Dan kenapa bayangan wajah Naren terus muncul di tiap sudut ruangan ini? Dia nggak ada di sini, bodoh. Dia ada di kantin. Sedang melakukan hal bodoh yang biasa dia lakukan.

​Agnesa merogoh saku roknya, mengeluarkan ponsel. Tidak ada notifikasi. Layarnya gelap. Ia menatap layar hitam itu lama sekali.

Ia memutar ponsel itu di tangannya, memejamkan mata sebentar, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan layar menghadap ke bawah.

Ruangan itu hening. Hanya ada suara deru kendaraan di jalan raya di luar sekolah yang masuk melalui celah jendela. 

Sinar matahari menyinari lantai yang berdebu. Agnesa berjalan menuju jendela, menyibakkan gorden sedikit, dan melihat ke arah area parkir.

​Di sana, di bawah pohon besar, ia melihat mereka. Naren, Abyan, Arion, dan Venzo. Mereka tampak seperti sekumpulan orang yang tidak peduli pada dunia. 

Naren sedang bersandar di motornya, menatap ke arah langit dengan posisi yang sangat santai, kontras sekali dengan suasana sekolah yang sedang kacau oleh sidak disiplin.

​Agnesa mematung di balik gorden. Ia tidak bersembunyi, namun ia juga tidak menunjukkan diri.

Naren menoleh ke arah jendela ruang OSIS.

Entah kebetulan atau bukan, mata mereka bertemu dari jarak puluhan meter.

Naren tidak memalingkan wajah.

Agnesa merasakan aliran panas menjalar di tengkuknya, namun ia tetap berdiri di sana, tidak menarik gorden, tidak pula memalingkan pandangan.

Ia menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya kering.

Detik demi detik terasa sangat lambat.

Ada penahanan besar di sana—sebuah keinginan untuk berbalik pergi yang kalah oleh dorongan untuk terus menatap.

​Srek...

​Agnesa akhirnya menutup gorden.

 Ia menarik napas panjang, lalu berjalan kembali ke mejanya. Ia merasa seolah baru saja menyelesaikan tugas yang sangat berat.

​Tok... tok...

​"Masuk," kata Agnesa.

​Gisella masuk dengan wajah sedikit panik.

 "Sa, ada masalah di kantin. Bukan cuma keributan biasa. Ada yang bawa-bawa nama geng lain. Black Venom."

​Agnesa menegakkan punggungnya. "Black Venom? Fero?"

​"Iya. Katanya mereka lagi nyari Naren di area sekolah," sahut Gisella.

​Agnesa tidak banyak bicara. Ia mengambil tasnya, menyampirkannya di bahu, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah tegas.

 Gisella mengikutinya di belakang.

​"Kita harus ke sana sekarang, Sa. Sebelum situasi makin nggak terkendali," ujar Gisella.

​"Gue tahu," sahut Agnesa dingin.

​Mereka menyusuri koridor.

 Tap... tap... tap... 

Suara sepatu Agnesa di lantai koridor terdengar ritmis, seperti detak jantung yang sedang berpacu.

 Di sepanjang jalan, banyak siswa yang menatap mereka dengan cemas.

​Sesampainya di kantin belakang, suasana sudah sangat tegang.

 Ada sekitar belasan orang berpakaian serba hitam—anggota Black Venom—yang berdiri melingkar, mengelilingi Naren dan teman-temannya.

​Naren masih berdiri dengan posisi yang sama seperti saat dilihat Agnesa tadi. Dingin. Acuh tak acuh. Tangannya di saku celana.

​"Naren!" seru salah satu anggota Black Venom, suaranya parau. "Keluar lo kalau berani!"

​Agnesa tidak ragu. Ia berjalan membelah kerumunan.

​"Apa-apaan ini?" suara Agnesa dingin namun tajam, memotong kebisingan di kantin.

​Semua orang menoleh ke arahnya. Termasuk Naren.

Agnesa berjalan tepat ke tengah-tengah lingkaran, berdiri tepat di depan Naren.

Ia tidak takut.

Ia memperpendek jarak hingga hampir bisa merasakan napas Naren.

Naren yang tadinya bersandar di tembok kini berdiri tegak.

Jarak di antara mereka kini terasa seperti medan perang yang tak kasat mata.

Tidak ada yang bergerak.

Semua orang menahan napas, menunggu siapa yang akan bicara duluan.

​"Bubar," ucap Agnesa pada anggota Black Venom. 

"Ini area SMA Garuda. Kalian bukan siswa di sini. Kalau kalian nggak pergi sekarang, gue bakal panggil keamanan dan lapor polisi atas dasar penyusupan."

​Fero, ketua Black Venom, maju satu langkah. Ia menatap Agnesa dengan seringai yang meremehkan. 

"Oh, jadi ini Ketua OSIS yang sok suci itu? Kenapa? Lo mau belain cowok ini?"

​Fero menunjuk Naren dengan dagunya.

​Agnesa tidak berkedip. 

"Gue nggak belain siapa-siapa. Gue cuma menjaga ketertiban sekolah gue. Kalian ganggu ketenangan, dan itu melanggar aturan."

​"Aturan? Hah!" Fero tertawa sinis. "Naren ini melanggar aturan setiap detik dia bernapas."

​Naren hanya diam. Ia menatap Agnesa, kemudian menatap Fero.

​"Fero," suara Naren akhirnya terdengar. Rendah dan dingin. 

"Kalau lo mau berurusan sama gue, jangan di sini. Banyak penonton."

Naren menatap Fero dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.

Namun saat ia melirik ke arah Agnesa, tatapannya sedikit melunak—hanya sepersekian detik sebelum kembali dingin.

Agnesa, di sisi lain, tidak memberikan respons apa pun terhadap perubahan tatapan itu.

Ia tetap menatap Fero dengan tatapan yang sama tajamnya.

Ada ketidakseimbangan gestur di sana; Naren yang berusaha menyampaikan sesuatu melalui tatapan, dan Agnesa yang sengaja menutup diri dari apa pun yang mungkin tersirat dari tatapan itu.

​"Lo takut?" tantang Fero.

​Agnesa melangkah lebih dekat lagi, kini posisi Agnesa berada di antara Naren dan Fero.

 "Sudah kubilang, bubar sekarang atau gue teriak?"

​"Agnesa," Naren memanggil namanya. Hanya sekali.

​Agnesa menoleh ke arah Naren. "Diam, Naren. Gue nggak lagi bantu lo. Gue cuma lagi menjalankan tugas gue."

​"Iya, gue tahu," sahut Naren. Ia tersenyum tipis, senyum yang membuat Agnesa merasa kesal sekaligus... entahlah.

Kenapa dia selalu bersikap seolah-olah dia tahu apa yang ada di kepalaku? Menyebalkan. Sangat menyebalkan.

​Fero mendengus. "Gue bakal pergi hari ini. Tapi urusan kita belum selesai, Naren."

​Anggota Black Venom berbalik dan mulai berjalan pergi. 

Tap... tap... tap... 

Suara langkah kaki mereka terdengar seperti ancaman yang menggantung di udara.

​Setelah kantin kembali sepi, hanya menyisakan Agnesa, Gisella, dan anggota ZENTRIX, suasana masih terasa canggung.

​"Lo harusnya nggak perlu ikut campur," kata Naren sambil memasukkan tangannya ke saku jaket.

​"Ini tugasku," jawab Agnesa ketus.

 Ia berbalik hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat Naren berbicara lagi.

​"Makasih."

​Agnesa terdiam di tempat. Ia tidak menoleh. Ia hanya mengepalkan tangannya di balik tasnya.

​"Gue nggak butuh terima kasih lo," jawab Agnesa tanpa menoleh. 

Ia berjalan pergi dengan langkah cepat, diikuti oleh Gisella yang tampak bingung dengan situasi yang baru saja terjadi.

Koridor sekolah terasa sangat sepi.

 Agnesa berjalan melewati loker-loker besi yang berderet rapi. Cahaya lampu koridor yang berpendar kekuningan menciptakan bayangan panjang di lantai. 

Setiap langkahnya terdengar menggema, menciptakan irama kesunyian yang mencekam. Ia merasa setiap mata di balik pintu kelas yang tertutup sedang mengawasinya.

​"Lo gapapa, Sa?" tanya Gisella pelan.

​"Gue gapapa," jawab Agnesa.

​"Tadi itu... tadi itu menegangkan banget. Gue pikir mereka bakal nekat," ujar Gisella.

​"Mereka nggak akan berani buat keributan di sekolah kalau ada yang melawannya dengan tegas," sahut Agnesa, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Apa itu tadi? Kenapa dia bilang terima kasih? Dan kenapa aku merasa jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya? Apa karena aku takut? Atau karena hal lain yang lebih tidak masuk akal?

​Agnesa terus berjalan menuju ruang OSIS. Ia tidak akan berhenti. Ia tidak akan membiarkan perasaan aneh ini mengganggu jadwalnya yang sudah padat.

​Sesampainya di ruang OSIS, ia menutup pintu dan menguncinya. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu, memejamkan mata, dan menghela napas panjang. 

Huuuh.

​Ia bisa mendengar suara hatinya sendiri. Ia bisa merasakan kehangatan yang masih tertinggal di wajahnya akibat tatapan Naren tadi.

 Agnesa mencoba menyangkal perasaan yang ia miliki, namun perilakunya yang tidak karuan dan ketegangan yang ia rasakan setiap kali berhadapan dengan Naren menunjukkan hal yang sebaliknya.

​Agnesa membuka mata, menatap meja kerjanya yang penuh dengan dokumen.

 Ia harus kembali bekerja. Ia harus melupakan kejadian di kantin.

​Klik... klik...

​Ia kembali merapikan dokumen-dokumen itu, menata setiap sudutnya dengan presisi yang berlebihan. Ia tidak akan membiarkan apa pun, apalagi Naren Aksara Gavindra, mengacaukan dunianya yang sudah ia tata begitu rapi.

​Tapi, saat ia mengambil pulpen yang tadi jatuh, ia melihat goresan nama di meja kerja yang sama dengan nama yang Naren lihat di kantin tadi. 

Nama Agnesa.

​Ia tertegun. Siapa yang menulisnya di sini? Di dalam ruang OSIS miliknya sendiri?

 Seseorang telah masuk ke ruangan ini. Seseorang yang tahu bahwa ia sering menghabiskan waktu di meja ini. Apakah itu Naren? Atau seseorang yang ingin mengancamnya?

​Agnesa mengusap nama itu dengan jempolnya. Srek...

​Ia tidak menghapusnya. Ia membiarkannya tetap di sana.

​"Luar biasa," gumamnya, entah ditujukan untuk siapa.

​Hari Senin ini belum berakhir, dan rasanya, hari-hari ke depan akan menjadi jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

Naren, apa sebenarnya yang kamu rencanakan? Dan kenapa aku malah merasa penasaran dengan jawabannya? Aku benar-benar sudah gila.

​Agnesa duduk di kursi kerjanya, mulai menulis kembali, mencoba fokus pada pekerjaannya meski di dalam kepalanya, suara Naren yang mengucapkan "Makasih" terus berputar seperti rekaman rusak yang tidak bisa dimatikan.

​Tik... tik... tik...

​Suara jam dinding di ruang OSIS terdengar semakin nyaring, menghitung setiap detik yang berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Lo kenapa diam aja dari tadi, Ven?"

​"Fero cuma bawa dua puluh orang tadi. Sisanya nunggu di luar gerbang luar,"

​ZENTRIX Bakal Balas Dendam? Simak Kelanjutan Rencana Rahasia Naren Melawan Black Venom di Bab 31: Kata yang Tertinggal

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!