Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Azalia
"Kenapa kok malah membawaku pergi? Aku ingin bertemu dengan Gavin, Alvin." Renata bertanya sembari memasang sabuk pengamannya.
Di balik kemudi Alvin hanya memberi senyuman kecil pada Renata. Sementara pandangannya tidak bergerak, mengamati jendela apartemen Gavin.
Sampai berlalu beberapa detik, Alvin baru membuka mulut. Suaranya rendah dan hati-hati. "Bukan waktu yang tepat untuk menemui Gavin sekarang. Dia sedang ada urusannya sendiri."
Renata menghentikan semua gerakannya. Perlahan mengangkat kepala, melihat Alvin yang menatapnya serius. "Alvin, apa Gavin sedang ada masalah?"
Renata menarik napas panjang. "Meskipun ini pertama kalinya aku kembali, tapi kita sudah sering bertemu dan berteman sejak lama. Ada sesuatu yang berbeda denganmu, dan aku bisa melihatnya." Tambah Renata sedikit perhatian.
Alvin memasang wajah tenang. "Aku merasa tidak ada yang berbeda."
Tapi Renata tidak percaya. "Ya, kau berbeda, dan berusaha menyangkalnya. Jika ini kau yang biasanya, kau pasti akan mendorongku pada Gavin dengan alasan apa pun. Tapi sekarang, saat aku sudah tiba di apartemennya, kau malah mendorong ku keluar dan membawaku bersamamu. Apa yang terjadi, Alvin? Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?"
Alvin meneguk ludah. Ia tahu Renata pasti akan menyadari ini, tapi dia tidak bisa membiarkan Renata mengusik Gavin dan Azalia di dalam.
Jadi yang bisa dia lakukan hanya melebarkan senyum, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. "Sudah kukatakan padamu, tidak ada gunanya menemui Gavin sekarang. Saat tadi aku keluar, dia sudah bersiap untuk pergi. Ada urusan kantor yang mendesak, lagi pula kau masih memiliki banyak waktu untuk menemui Gavin nanti."
Alvin tidak suka berbohong, tapi dia terpaksa melakukannya. Dan lucunya, dia berbohong demi perempuan yang dulu teramat sangat dibencinya. Azalia.
"Jika benar tidak ada apa-apa, apa benar kau ada bersama Gavin dan Azalia?"
Wajah Alvin menjadi sedikit kaku saat mendengarnya.
"Kenapa? Kau mau berbohong lagi?" Renata meletakkan tasnya di dasbor mobil agak keras. Pandangannya berubah dengan tatapan curiga pada Alvin. "Anak buah Gavin yang kau kirim kemarin yang mengatakannya. Dia mengatakan kalau Gavin dan kau sibuk menjaga Azalia."
Alvin merasa dadanya berdegup lebih keras.
Lalu Renata menegakkan tubuhnya. "Aku percaya padamu, Alvin. Jadi aku akan bertanya padamu, apakah benar kalian menjaga Azalia?"
Bagaimana jika dia mengatakan iya?
Renata pasti akan kecewa padanya.
Pada akhirnya, Alvin berkata, "Kebetulan kemarin Azalia ketemu, aku membantu kakakku untuk menjaganya, perceraian mereka akhir minggu ini sah, Gavin hanya tidak mau kalau Azalia melarikan diri dengan sengaja. Itu saja!"
Renata meneliti wajah Alvin. "Kau tidak sedang berbohong padaku, kan?"
"Apa selama ini aku pernah membohongimu?"
Untuk beberapa saat, Renata masih memandangnya dengan curiga. Tapi setelah itu dia menarik napas dalam, menyandar lagi ke kursinya. "Jadi.... Perceraian mereka akan segera sah?" Bibir Renata akhirnya mengulas senyum.
"Seharusnya seperti itu. Jika kau ingin kepastiannya, sebaiknya kau membicarakan sendiri dengan Gavin."
Tapi karena ucapannya itu juga, niat Renata untuk menemui Gavin tidak bisa dibengkokkan lagi. Alvin tidak bisa menahannya. Dia tidak memiliki alasan untuk menahan Renata di sisinya.
Mungkin sudah waktunya Gavin menyelesaikan masalah di antara mereka, Gavin harus bertanggung jawab atas pilihannya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Abu mengetuk pintu sebelum masuk. Saat dia melihat Azalia duduk di dekat jendela dengan setangkai mawar dan gunting di tangannya, dia melangkah lebih dekat.
Cahaya siang yang terang menyinari wajah pucat Azalia, sementara tangannya yang memegang gunting bergerak perlahan, berulang kali berusaha menggunting bagian daun yang akan di potong.
Abu mendekat, suaranya lembut seperti biasa. "Nyonya, apa Anda sedang merangkai bunga?"
Azalia menoleh perlahan. Senyumnya samar, tapi matanya tampak kosong sesaat sebelum dia kembali fokus ke gunting di tangannya.
"Ini.... Bunga kesukaan Gavin. Aku ingin merangkai untuknya. Seharusnya ini selesai sebelum dia datang, aku ingin memberi Gavin sesuatu sebelum bercerai, tapi kata Gavin perceraian kita sudah lama batal. Meski begitu aku tetap ingin memberikannya karena ini sudah hampir selesai."
Abu memperhatikan tangan Azalia yang terdapat beberapa goresan, sebagian duri melukai tangan Azalia. Biasanya, perangkai bunga yang terampil tidak akan seberantakan ini. Abu lalu melihat cara Azalia memegang gunting tangannya gemetaran, gerakannya kaku, dan beberapa kali mencoba memotong daun tapi tidak terpotong.
Abu dengan hati-hati bertanya, "Anda sudah lama tidak merangkai bunga, Nyonya ?"
Azalia diam sejenak. Matanya sedikit menyipit, seolah-olah dia mencoba mengingat sesuatu. Namun, setelah beberapa detik berlalu, dia hanya tersenyum kecil.
"Entahlah. Aku rasa begitu."
Abu duduk di kursi seberang, memperhatikan dengan lebih seksama.
"Boleh saya bantu sebentar?" Suara Abu lembut dan hangat, tapi juga terdengar serius.
Azalia menatapnya, lalu menyerahkan beberapa batang bunga itu. Dan Abu benar-benar membantu Azalia memangkas dan merangkai bunga untuk Gavin.
Setelah selesai. Dengan hati-hati Abu berkata, "Mungkin Anda bisa istirahat sebentar, Nyonya. Memegang gunting terlalu lama bisa melelahkan tangan." Bukan tanpa alasan Abu berkata demikian, karena dia bisa melihat jari-jari Azalia gemetaran.
Azalia menunduk, seolah-olah baru menyadari bahwa jarinya terasa sedikit sakit. Dia mencoba membuka genggamannya dari gunting, tapi gerakannya tampak lambat dan sulit, seolah otaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk memberi perintah pada tangannya.
"Tanganku... Agak sulit bergerak." Keluhnya lirih.
Abu menatapnya, matanya menyerahkan kepedulian tanpa rasa kasihan yang berlebihan.
"Mungkin karena Anda terlalu fokus. Kadang, kalau terlalu lama menggunakan tangan, otot-otot bisa tegang. "Aku berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Bagaimana kalau saya buatkan teh hangat? Anda bisa beristirahat sejenak, rangkaian bunga ini sudah jadi. Tuan Gavin pasti akan sangat menyukainya."
Azalia menatap Abu, seolah ragu antara menerima saran itu atau memaksakan diri menunggu sampai Gavin datang. Tapi akhirnya, dia mengangguk pelan.
"Boleh. Tapi aku alergi teh, jadi aku ingin meminum sesuatu selain itu."
Abu mengeryitkan kening. Setahunya, Gavin lah yang alergi dengan teh, sementara Azalia tidak. Tapi Abu tak mengatakan apa-apa, ia lantas tersenyum. "Saya akan segera kembali dengan susu hangat. Anda tunggu di sini, Nyonya."
Saat dia melangkah pergi, Abu sesekali lagi melirik ke arah tangan Azalia yang masih terlihat kaku, dan dia tahu bahwa ini bukan sekedar kelahan biasa. Dia menghela napas pelan sebelum keluar, memutuskan bahwa dia perlu memberitahu Gavin tentang kondisi ini, karena sepertinya keadaan Azalia semakin memburuk.
Setelah membuat susu hangat untuk Azalia, Abu berdiri di ambang pintu dapur, mengamati para pelayan yang sibuk menyiapkan makan siang.
Perintah Gavin tadi pagi masih terngiang di kepalanya. Menu Azalia harus bernutrisi, tidak boleh terlalu berminyak, dan porsinya harus cukup untuk membantu tubuhnya pulih.
"Pastikan pakai sayuran organik untuk Nyonya. Jangan terlalu banyak bumbu, tapi pastikan rasanya tidak hambar. "Abu berkata dengan tegas, tapi nadanya tenang dan teratur.
Salah satu juru masak mengangguk sambil menata hidangan. Semua makanan dibuat dengan takaran garam yang pas tidak terlalu asin, tidak terlalu kuat, tapi tetap lezat.
Beberapa saat kemudian, meja makan di ruang makan pribadi telah disiapkan. Piring dan mangkok porselen tertata rapi, uap hangat masih mengepul dari sup dan nasi, aroma lembut ikan panggang tercium samar.
Abu melangkah ke kamar Azalia dan mengetuk pintu dengan lembut.
"Nyonya, makan siangnya sudah siap. Anda bisa keluar sekarang."
Pintu terbuka. Azalia keluar dari sana dengan wajah berseri-seri. "Apa Gavin sudah pulang? Dia berkata kalau dia akan pergi sebentar, kan? Apa aku melupakan sesuatu?"
"Tidak, Nyonya. Tuan memang berkata jika dia akan pergi sebentar."
"Di mana dia? Aku ingin menunjukkan rangkaian bunga mawar tadi untuknya."
Jadi Gedeg sama dua laki laki kakak beradik ini.
seabaiknya km kmbalikn ginjal azalea dech....
mulut laki" sampah kau alvin🙄🙄
punya org tua nyatanya hidupmu layaknya yatim piatu....
punya suami... tpi km seolah janda... bhkn km harus merasakn kbencian dri suami & keluarga besarnya...
smoga kelak ada keajaiban untukmu hidup bahagia azalea...