NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keamanan Cinta Pertama

Matahari mulai bergerak turun ke ufuk barat. Bel pulang sekolah sudah berbunyi nyaring sejak lima menit yang lalu. Lintang dan Zahiya berjalan beriringan menuju gerbang utama sekolah.

"Lu kok sekarang nggak pernah godain Arka lagi sih?" tanya Zahiya membuka obrolan.

"Mmm. Nggak tau deh, ya. Mungkin karena dia masih dalam suasana berduka, jadi gue nggak enak buat godain dia terus," jawab Lintang beralasan.

Zahiya manggut-manggut mengerti. "Bener juga sih. Tapi lu masih naksir dia nggak sih? Apalagi setelah gue bilang soal dia mabok semalem."

"Ya masih, lah. Cuman... belakangan ini lagi capek aja ngejarnya," ujar Lintang.

"Gue kangen liat lu yang ugal-ugalan tau," sahut Zahiya.

Lintang terkekeh pelan. "Nanti juga ada masanya gue begitu lagi."

"Lu capek ya? Ngejar dia tapi nggak pernah direspons?" tanya Zahiya lagi, menatap sahabatnya prihatin.

Lintang seketika terdiam.

'Justru gue kena mental setelah dapet dia, Zah...' batin Lintang menjerit ingin berkata jujur.

Namun, kalimat yang keluar dari mulutnya justru berbeda. "Nggak capek, sih... Cuman mau ngasih waktu buat Arka berduka dulu. Kan kasihan kalau dia lagi sedih terus gue ganggu mulu."

Zahiya kembali manggut-manggut mendengar penjelasan itu. "Yaudah, deh. Gue duluan ya. Itu jemputan gue udah dateng," pamitnya menunjuk sebuah mobil di depan gerbang.

Lintang mengangguk. "Hati-hati, jangan belok ke club."

"Yeuh... Emang gue cewek apaan main di club? Bukan kelas gue keles!" protes Zahiya tidak terima.

Keduanya langsung tertawa konyol bersama.

"Yaudah sana masuk, keburu ditinggal nanti," ujar Lintang.

Zahiya segera masuk ke dalam mobil jemputannya. Mereka sempat saling melambaikan tangan sebentar sebelum akhirnya mobil itu melaju dan menghilang dari pandangan.

Lintang kembali berdiri diam di dekat gerbang. Dia melirik arloji di tangannya, menunggu mobil Jaguar milik Arka datang menjemput.

Namun, sepuluh menit berlalu dan mobil ceper mewah itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Gerbang sekolah bahkan sudah mulai sepi dari hilir mudik murid.

"Kemana sih, anjir? Katanya tadi pagi disuruh pulang bareng dia. Gue tungguin malah nggak nongol-nongol," gerutu Lintang jengkel.

Dia merogoh kantong, membuka ponsel, lalu mencoba menelepon nomor Arka.

Tut... tut... tut...

"Kemana sih?! Kok nggak diangkat?!" Lintang mulai kesal sendiri karena panggilannya tidak kunjung tersambung.

Tiba-tiba, layar ponselnya berkedip hitam sebelum akhirnya mati total.

"Yah?! Anjir, mati!" Lintang membelalak panik.

"Ya Allah... Somplak banget nih si Arka. Udah mah kayaknya gue ditinggal, hape gue malah lowbat sekarang. Sialan banget dah," keluhnya beruntun, frustrasi dengan nasib sialnya sore ini.

Lintang menatap jalanan raya di depannya dengan bimbang. "Terus gue balik naik apa dong, yak? Lumayan nih jalan kaki lima belas menit. Cukup buat bikin kaki gue gempor."

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Lintang memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri trotoar.

Beberapa menit melangkah, jaraknya kini sudah lumayan jauh dari area sekolah. Suasana jalanan di sekitar situ kebetulan sedang agak lengang.

"Hai, neng cantik."

Suara berat dan serak dari arah samping seketika membuat Lintang menoleh cepat.

Langkah kaki Lintang langsung terhenti. Di depannya, terlihat ada empat orang pria dengan penampilan urakan seperti preman sedang berdiri menghadang jalannya.

Mereka semua menatap Lintang dengan pandangan lapar yang menjijikkan.

"Neng, sore-sore gini enaknya main, lho. Main yuk sama kita," ajak salah satu preman yang memakai jaket jins belel.

Lintang langsung mundur satu langkah, memasang posisi waspada. "Dih, siapa lu pada?!"

"Tenang neng, Abang mah orang baik. Abang seneng main, apalagi kalau mainnya sama cewek modelan kayak neng gini," ujar pria yang lain sambil tertawa menjijikkan bersama teman-temannya.

Detik berikutnya, salah satu tangan preman itu bergerak maju, hendak menyolek tubuh Lintang.

Lintang yang terkejut langsung menepis tangan itu dengan pukulan keras.

"JANGAN BERANI-BERANINYA NYENTUH GUE!" teriak Lintang lantang.

Pukulan keras dari Lintang ternyata malah memancing amarah keempat preman itu. Keadaan langsung berbalik menjadi bahaya.

"Wah, berani ngelawan nih bocah! Kejar!" teriak preman berjaket jins.

Lintang tidak berpikir dua kali. Dia langsung membalikkan badannya dan berlari sekencang mungkin menyusuri trotoar.

Langkah kakinya terasa berat, namun rasa takut yang membakar dadanya memaksa kakinya terus bergerak.

Di belakangnya, suara derap langkah kaki keempat pria itu terdengar semakin dekat. Lintang yang panik langsung membelokkan langkahnya, masuk ke dalam sebuah gang kecil yang sepi.

Sial. Gang itu ternyata jalan buntu.

Saat Lintang sudah terpojok di ujung tembok, langkahnya terkunci. Napasnya memburu. Belum sempat dia berbalik mencari jalan lain, keempat pria itu sudah mengepungnya dengan senyum menyeringai.

Satu tangan kotor pria berjaket jins itu mendadak terulur maju. Tangan kasar itu mencengkeram pinggang Lintang dengan erat, bersiap untuk menerkamnya.

"Mau kemana sih neng, buru buru amat. Kenalan dulu dong sama kita. Hahahaha." ujar pria itu.

Lintang tidak bisa berkutik. Dia sudah menutup matanya rapat-rapat dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi pipi.

Di dalam hati, dia berdoa dan berharap ada seseorang yang datang menolongnya.

BUG!

"Argh...!"

Sebuah tinjuan mentah yang sangat keras tiba-tiba melayang bebas, menghantam telak rahang pria yang sedang menyentuh pinggang Lintang. Pria itu langsung terjerembap ke tanah sambil mengaduh kesakitan.

Lintang yang mendengar suara hantaman itu langsung membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya yang semula buram karena air mata seketika membelalak tidak percaya.

"PAPI?!" seru Lintang syok.

Leno, dengan kemeja kerjanya yang masih rapi, sudah berdiri tegak di depan Lintang. Wajahnya yang biasa ramah kini berubah menjadi sangat garang.

Dia langsung menyerang pria berikutnya begitu saja tanpa memberikan celah untuk bersiap.

Flashback On

Beberapa menit yang lalu, Leno sedang mengendarai mobilnya membelah jalanan sore yang lengang di dekat area sekolah Lintang.

Saat pandangannya tertuju ke trotoar sebelah kiri, dahi Leno berkerut. Di dalam kemudi, Leno melihat ada seorang gadis berseragam sekolah sedang berlari ketakutan masuk ke dalam sebuah gang kecil.

"Badannya kayak Lintang?" gumam Leno curiga.

Genggaman tangannya di setir mendadak mengencang ketika melihat ada empat pria urakan yang berlari cepat mengejar perempuan itu dari belakang.

Tepat sebelum gadis itu menghilang di belokan gang, wajahnya sempat menoleh sekilas. Begitu wajah gadis itu terlihat jelas di matanya, sepasang mata Leno langsung membelalak sempurna. Itu benar-benar anak perempuannya.

Leno tidak membuang waktu lagi. Dia langsung membawa mobil BYD miliknya ke pinggir jalan dengan rem mendadak, lalu melompat turun dari mobil dan berlari mengejar mereka.

Flashback Off

"Berani-beraninya kalian nyentuh anak saya...!" geram Leno dengan suara rendah yang sarat akan amarah besar.

BUG!

Satu tendangan keras mendarat di dada preman kedua hingga terjungkal ke belakang. Dua preman yang tersisa langsung maju bersamaan untuk mengeroyok Leno.

Meskipun mengenakan kemeja kerja yang membatasi gerakannya, Leno sama sekali tidak gentar. Dia berkelit dengan gesit menghindari pukulan mentah dari salah satu preman, lalu membalasnya dengan hantaman siku yang keras tepat di hidung lawan hingga darah segar mengucur.

Satu preman terakhir mencoba memukul Leno dari arah samping menggunakan balok kayu kecil yang tergeletak di gang.

"Papi, awas!" teriak Lintang panik.

Leno dengan sigap menahan balok kayu itu menggunakan lengan kirinya, mengabaikan rasa sakit yang menjalar, lalu menggunakan tangan kanannya untuk mencengkeram kerah baju preman tersebut. Dengan satu sentakan kuat, Leno membanting tubuh pria itu ke tanah.

Dalam hitungan menit, keempat preman itu sudah terkapar di tanah koridor gang sambil mengerang kesakitan memegangi tubuh mereka yang babak belur.

Leno mengatur napasnya yang memburu, lalu buru-buru berbalik menghampiri Lintang dengan raut wajah yang langsung berubah penuh kekhawatiran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!