Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Gifarka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, yang terjadi adalah...
Dada gadis itu naik-turun dengan napas yang terasa luar biasa sesak.
"Serend*h itu gue di mata lu, Arka? Lu nggak pernah ngaca?! Adu bac*t kita dari dulu selalu dimulai dari lu yang cemburuan gak jelas!" teriak Lintang frustrasi, air matanya mengalir deras membasahi pipi.
"GUE CUMAN NGAMANIN APA YANG MASIH GUE PUNYA!"
Bentakan bariton Arka kali ini menggema begitu kencang di sepanjang koridor rumah.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rival (?)
Sebulan sudah berlalu sejak kejadian Arka bodoh yang meninggalkan istrinya di sekolah, yang sempat membuat Lintang ngambek parah.
Walau pada akhirnya, status sah cowok itulah yang menang karena berhasil membawa Lintang pulang ke rumah mereka keesokan harinya.
Pagi ini, komplek Gelanggang Alam Pusat resmi berubah total menjadi sarang semut raksasa.
Lapangan lari sudah disulap menjadi area bumi perkemahan dengan barisan tenda besar warna-warni yang berderet rapi.
Tepat pukul 06.54, deretan bus pariwisata yang membawa para saudara dari cabang lain mulai memasuki gerbang. Bus-bus besar itu berjejer rapi di area parkiran sekolah yang luasnya seperti lahan agrowisata.
Di barisan paling depan, jajaran guru sudah bersiap menyambut tamu. Ada Pak Warno selaku kepala sekolah yang tersenyum lebar, didampingi Pak Hanafi selaku guru kesiswaan galak yang memimpin anak OSIS.
Di belakang mereka, Pak Kardi sibuk mengarahkan parkir bus, Miss Jill tampil modis dengan kacamata hitamnya, dan Bu Rihka sudah memegang papan klip absen.
Suasana langsung bising. Dari lantai atas koridor, para siswi pusat sudah berjejer di pagar pembatas untuk menganalisa cowok famous dari cabang lain yang baru turun. Begitu pun sebaliknya, siswi cabang lain juga lirik-lirik genit menilai murid cowok pusat.
Di sudut dekat tenda medis, Lintang yang memegang jabatan sebagai Leader PMR justru sedang mandi keringat mengatur anggotanya yang kelabakan.
Penampilannya hari ini tampak kasual namun tegas. Lintang memakai celana baggy jeans longgar yang dipadukan dengan manset putih lengan pendek. Rompi PMR berwarna merah-putih melekat pas di tubuhnya, lengkap dengan bed bertuliskan LEAD PMR yang terpasang di lengan kiri. Rambut panjangnya yang di kuncir kuda bergerak-gerak mengikuti langkah gesitnya.
"Woy, tandu taruh di kanan! Oksigen tabung kecil pastiin penuh, jangan sampai pas ada yang pingsan malah kita yang sesak napas!" teriak Lintang lantang, berkacak pinggang menatap anggotanya.
Sementara itu, kondisi di ruang ganti olahraga tak kalah heboh.
Arka yang biasanya fokus di cabang silat, kini sedang diseret paksa oleh Leon untuk memakai jersi basket tanpa lengan milik tim pusat.
Sebenarnya, kurang dari seminggu ini Arka mendadak memang sudah diminta ikut bergabung karena ada satu murid pusat yang cedera akibat kecelakaan menjelang acara.
Cowok itu sudah pasrah namanya didaftarkan, tapi begitu hari-H tiba, mode mager andalannya malah kumat.
"Ayo lah, Ka! Lu kan atlet serba bisa. Cuman gantiin posisi forward doang masa kagak mau? Malu-maluin tuan rumah kalau kita kalah sama cabang Madiun!" omel Leon frustrasi sambil menyodorkan jersi nomor 7 ke dada tegap sahabatnya.
Arka yang duduk di bangku panjang hanya menatap jersi itu datar, lalu menghela napas panjang melihat wajah Leon yang sudah memohon-mohon seperti pengemis.
Arka akhirnya mendengus kasar. Ia menyambar jersi nomor 7 dari tangan Leon, lalu memakainya dengan gerakan cepat.
Tepat setelah itu, suara cempreng anak OSIS menggema memekakkan telinga lewat pengeras suara sekolah.
"Tes, satu, dua. Diberitahukan untuk seluruh rombongan cabang Kebumen, Klaten, Madiun, dan Bandung, harap segera mengosongkan area parkiran dan menuju ke tempat istirahat yang sudah disediakan panitia!"
Koridor langsung ricuh. Suara seretan kasur lipat dan derap langkah kaki ratusan murid saling bersahutan.
"Woy, anak Bandung! Blok kelas kita di lantai dua, jangan nyasar ke tenda cowok lu pada!" teriak salah satu ketua kontingen di tengah kerumunan.
Tidak butuh waktu lama sampai anak-anak OSIS kembali berteriak menggunakan corong toa di tengah lapangan lari sisi utara. Area steril yang tidak dijadikan bumi perkemahan.
"Ayo, semuanya kumpul di lapangan lari sisi utara sekarang! Baris per kontingen daerah masing-masing, ya! Upacara penyambutan mau dimulai!"
Di atas panggung megah, Pak Warno sudah berdiri gagah di depan mikrofon, menatap lautan manusia di bawahnya dengan senyum lebar.
"Selamat datang para ksatria Gelanggang Alam!" seru Pak Warno retoris, membuat lapangan langsung riuh oleh tepuk tangan. "Berbeda kota, tapi kita tetap satu jiwa! Jaga sportivitas, dan mari kita seru-seruan bareng di pusat!"
Sementara lapangan riuh oleh tepuk tangan, di dalam ruang karantina olahraga yang tertutup rapat, kondisi justru sepi senyap.
"Ka, lu nggak mau ngintip ke lapangan luar? Ramai bener itu di luar," bisik Leon sambil melongok dari celah jendela.
Arka yang sedang mengikat tali sepatu basketnya bahkan tidak mendongak. "Gak penting. Kata Pak Hanafi, atlet pusat dilarang keluar sebelum jam lomba."
"Yaelah, kaku bener lu kayak kanebo kering," cibir Leon pasrah.
...----------------...
Beberapa jam kemudian.
Matahari sudah naik tepat di atas kepala, memancarkan hawa panas yang mulai membakar kulit.
"Seluruh peserta lomba basket dan voli, harap segera turun ke lapangan tengah untuk sesi jabat tangan!" teriakan instruksi dari Pak Kardi memecah keheningan ruang karantina.
Begitu kedua pihak bertemu di tengah lapangan, atmosfer ketat kompetisi mendadak mencair begitu saja. Alih-alih tegang seperti mau tawuran, momen itu justru mendadak berubah menjadi super kocak.
"Salaman, Mas! Selamat Lebaran GA ya! Hahaha!" seloroh salah satu atlet voli pusat saat menjabat tangan anak Klaten.
"Yo, podo-podo, Mas! Kosong-kosong ya, ojo ditekling sikilku mengko pas dolan!" sahut anak Klaten dengan logat medoknya, memicu tawa renyah di sepanjang barisan. Mereka bersalaman muter mirip acara halalbihalal.
Di barisan paling depan tim basket pusat, Arka berjalan memimpin dengan wajah lempeng andalannya. Langkah kakinya yang tegap mendadak melambat saat barisan jabat tangannya tiba di kontingen jaket hitam-hijau khas Madiun.
Tepat di depannya, seorang cowok jangkung berwajah blasteran mengulurkan tangan dengan senyum ramah yang kelewat menawan.
"Van, dari Madiun," sapa cowok bule Jawa itu ramah.
Arka tidak langsung membalas uluran tangan itu. Sepasang mata elangnya menatap dingin wajah di depannya.
"Arka. Pusat," jawab Arka singkat dan berat, akhirnya menjabat tangan Van.
...----------------...
Sementara di ruang PMR, Zahiya yang baru lari-lari dari lapangan langsung lompat-lompat kegilaan.
"LINTANG! SUMPAH, SI VAN TAMBAH GANTENG ANJIRRR... LU BENERAN NGGAK MAU SAMA DIA AJA? KALAU NGGAK MAU BUAT GUE DEH!" ujar Zahiya. Dia terpesona dengan bule Jawa yang vibes-nya seperti tentara VOC itu.
"Apasih anjir?! Berisik amat dah dateng-dateng," ujar Lintang yang lagi sibuk mendorong tabung oksigen.
"Itu si Van, tambah mempesona, bjirrr... bisa gila guehh!" ujar Zahiya.
"Aduhh, yaudah ambil deh. Gue mah tetep setia sama Kang manis Arka," ujar Lintang.
"Beneran yak? Van gue embat beneran, nih?" tantang Zahiya.
"Ambil, gih. Ambil," ujar Lintang.
Zahiya langsung bersorak girang dan kembali menempelkan wajahnya di jendela. Namun, baru dua detik melongok ke luar melihat barisan atlet yang baru selesai salaman, pekikan heboh cewek itu mendadak terhenti. Matanya melotot sempurna sampai botol mineral di tangannya hampir lepas.
"Eh, Lin... bentar, bentar. Mata gue gak salah liat, kan?" gumam Zahiya panik, mendadak berbalik dan menarik-narik ujung rompi Lintang secara brutal.
"Apalagi sih, Zah? Robek nih rompi gue, asu!" protes Lintang jengkel sambil menepis tangan sahabatnya.
"Itu tuh! Liat ke lapangan basket sekarang! Si Arka ngapain ikut barisan atlet di depan? Bukannya pawang lu itu anak silat?!" pekik Zahiya setengah berbisik tapi penuh penekanan.