Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL32
KETIKA RUMAH KEMBALI TERISI
Hari berikutnya datang lebih cepat dari yang Romi kira.
Sejak bangun pagi, ada satu hal yang memenuhi pikirannya. Hannah akan pulang sore ini.
Seharusnya kabar itu menjadi satu-satunya hal yang ia tunggu. Setelah beberapa hari rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, akhirnya ia akan kembali mendengar suara istrinya memenuhi ruangan. Tidak ada lagi makan malam sendirian, suara televisi yang menyala tanpa benar-benar ia dengarkan, atau sisi ranjang yang kosong.
Namun anehnya, di sela rasa senang itu, ada satu hal lain yang terus mengganggu pikirannya. Sebuah percakapan singkat yang sebenarnya tidak memiliki arti besar, tetapi entah kenapa masih terus teringat olehnya. Percakapannya dengan Jelita.
Romi menatap pantulan dirinya beberapa saat sambil memasang jam tangan di pergelangan tangannya.
"Sudahlah."
Ia tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Hari ini Hannah pulang, dan itu seharusnya cukup.
Pekerjaan di kantor berjalan seperti biasa. Rapat, laporan, dan beberapa keputusan yang harus ia ambil membuat pagi hingga siang berlalu cukup cepat. Namun beberapa kali, tanpa ia sadari, tangannya bergerak mengambil ponsel hanya untuk memeriksa sesuatu.
Tidak ada pesan baru.
Romi mengernyitkan dahi melihat layar ponselnya sendiri. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya ia tunggu.
"Ngapain sih..."
Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Baru beberapa detik kemudian, layar itu kembali menyala.
Satu pesan masuk, dari Jelita.
Romi menatap nama itu beberapa saat sebelum akhirnya membuka pesan tersebut.
Mas Romi, jangan lupa makan siang.
Hanya satu kalimat sederhana. Tidak ada godaan berlebihan. Tidak ada candaan seperti biasanya. Namun entah kenapa, kalimat sederhana itu tetap berhasil membuat sudut bibir Romi sedikit terangkat.
Ia mengetik balasan.
Sudah.
Jempolnya berhenti sebentar sebelum menekan kirim.
Hanya satu kata. Tidak lebih, tetapi setelah pesan itu terkirim, Romi langsung menyadari satu hal yang membuatnya tidak nyaman.
Dulu, ia mungkin akan mengabaikan pesan seperti itu. Namun sekarang, ia justru merasa perlu membalas.
Ponselnya kembali bergetar beberapa detik kemudian.
Bagus. Berarti Mas Romi masih bisa diatur.
Romi menggeleng kecil. Senyumnya muncul tanpa izin.
Kamu memang suka merasa menang sendiri ya.
Tidak lama kemudian, balasan Jelita masuk.
Karena menang itu menyenangkan. Hahaha...
Romi terkekeh pelan.
"Dasar."
Ia baru menyadari seseorang berdiri di depan pintu ruangannya ketika suara Lala terdengar.
"Pak Romi."
Romi langsung mengangkat kepala.
"Iya?"
"Maaf mengganggu, Pak. Dokumen yang tadi Bapak minta sudah saya taruh di meja."
Romi mengangguk.
"Oke. Terima kasih ya, La."
Lala sempat memperhatikan wajah atasannya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya,
"Pak Romi lagi senang ya?"
Romi langsung mengerutkan kening.
"Emang kelihatannya saya lagi senang?"
"Ya nggak tahu juga sih, Pak. Cuma biasanya kalau lagi banyak pikiran, Bapak jarang senyum sendiri. Jadi saya kira Bapak lagi senang sekarang."
Romi terdiam. Ia langsung menyadari sesuatu.
"Enggak ada apa-apa. Cuma ada yang lucu aja."
Lala mengangguk kecil, meski ekspresinya masih terlihat penasaran.
"Kalau begitu saya lanjut kerja dulu, Pak."
"Ya, silahkan."
Setelah pintu kembali tertutup, Romi menatap layar ponselnya sekali lagi sebelum menguncinya. Ia tidak suka menyadari bahwa hal kecil seperti itu mulai memengaruhi suasana hatinya.
***
Sore hari, Romi meninggalkan kantor lebih cepat dari biasanya. Ia sebenarnya masih memiliki beberapa pekerjaan yang bisa diselesaikan, tetapi kali ini ia memilih pulang lebih dulu karena hari ini Hannah kembali.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, pikirannya jauh lebih tenang dibanding pagi tadi. Ia tidak lagi memikirkan Jelita. Tidak juga mencoba mencari alasan atas perubahan kecil yang terjadi beberapa hari terakhir. Ia hanya ingin bertemu istrinya.
Begitu sampai di area penjemputan, Romi berdiri sambil memperhatikan orang-orang yang keluar dari pintu kedatangan.
Beberapa menit kemudian, sosok yang ia tunggu akhirnya terlihat.
Hannah.
Wanita itu tampak lelah, tetapi senyumnya langsung muncul ketika melihat Romi.
"Mas!"
Romi tersenyum.
"Hai."
Tanpa banyak bicara, Hannah langsung berjalan mendekat.
"Maaf lama."
"Nggak apa-apa."
"Kamu nunggu lama?"
"Nggak kok, baru sampai."
Hannah memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
"Mas bohong, kan?"
Romi terkekeh.
"Kok tahu?"
"Karena aku kenal Mas."
Kalimat sederhana itu membuat Romi terdiam sesaat.
Aku kenal Mas.
Entah kenapa, kalimat itu terasa berbeda. Namun sebelum pikirannya berjalan terlalu jauh, Hannah sudah lebih dulu mengambil tas kecilnya.
"Yuk, pulang."
Romi mengangguk.
"Ayo!"
***
Perjalanan pulang terasa berbeda. Ada cerita kecil dari Hannah tentang pekerjaannya di Singapura. Tentang rapat yang berlangsung lebih lama dari perkiraan, tentang orang-orang di timnya, dan berbagai hal sederhana yang selama beberapa hari hanya bisa ia dengar melalui telepon.
Romi mendengarkan seperti biasanya. Sesekali ia menanggapi cerita Hannah, sesekali tertawa kecil ketika istrinya menceritakan hal-hal sederhana yang terjadi selama berada di Singapura. Untuk beberapa saat, semuanya terasa kembali seperti dulu. Seolah jarak beberapa hari terakhir tidak pernah benar-benar ada.
Tanpa terasa, perjalanan pulang pun berakhir. Begitu sampai di rumah, Hannah langsung mengembuskan napas lega.
"Akhirnya."
Romi menoleh ke arah istrinya.
"Capek?"
"Banget, Mas."
Hannah berjalan menuju sofa lalu duduk sambil menyandarkan tubuhnya. Wajah lelahnya terlihat jelas, tetapi senyum yang muncul tidak bisa disembunyikan.
"Tapi lebih capek kalau harus jauh dari rumah sih."
Romi hanya tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Ia tahu apa yang Hannah maksud. Bagaimanapun juga, rumah ini memang selalu menjadi tempat mereka kembali.
Beberapa hari terakhir, ia baru menyadari bahwa kehadiran seseorang bisa mengubah banyak hal kecil. Suara yang biasanya terdengar biasa saja, kebiasaan-kebiasaan sederhana, hingga hal-hal kecil yang sering tidak disadari ketika semuanya masih ada.
Dan malam ini, ketika melihat Hannah kembali duduk di tempatnya, Romi seharusnya hanya merasa lega. Namun entah kenapa, pikirannya justru kembali mengarah pada satu hal yang tidak ingin ia pikirkan.
Rumah ini memang selalu menjadi tempat pulangnya.
Lalu kenapa beberapa hari terakhir ia justru mulai merasa nyaman dengan percakapan bersama orang lain?
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Romi segera mengabaikannya. Ia tidak ingin merusak momen kepulangan Hannah dengan sesuatu yang bahkan belum ia pahami sendiri.
"Mas."
"Hm?"
"Aku senang banget bisa pulang."
Romi menatap istrinya.
"Aku juga senang kamu pulang."
Hannah tersenyum.
Setelah beberapa hari yang terasa berbeda, Romi merasa semuanya kembali pada tempatnya. Setidaknya, ia berharap begitu. Karena ada satu hal yang sudah berubah, sesuatu yang perlahan mulai ia sadari.
Bukan tentang siapa yang ia tunggu pulang. Melainkan tentang seseorang yang mulai ia cari, bahkan ketika ia sendiri tidak tahu alasan kenapa ia mencarinya.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐