NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Khilaf

Beberapa Hari Kemudian

Serena melihat sedikit perubahan pada diri Revan. Dia tidak marah lagi. Malah terlalu berhati-hati.

Ia pulang tepat waktu, membawakan Serena makan malam, bahkan tidak menyentuh ponsel Serena lagi kecuali jika Serena yang meminta.

Tetapi Serena tahu, itu bukan karena Revan sudah berubah.

Itu karena ia takut Serena pergi.

Serena sendiri lebih banyak diam. Memar di pergelangan tangannya sudah menguning, tetapi setiap kali Revan hendak memegang tangannya, ia refleks menarik tangan.

Revan menyadari itu. Ia tidak berkomentar. Hanya saja setiap malam harinya, pelukannya menjadi lebih erat hingga Serena sulit bernapas.

.....

Kampus Universitas Mandala, 11.30

Serena duduk sendirian di kantin. Kelas kosong karena dosen berhalangan hadir.

Telepon genggamnya menyala. Tidak ada notifikasi dari Revan. Itu aneh. Biasanya setiap dua jam ia mengirim pesan: Udah makan belum? Sama siapa?

Serena tidak tahu harus merasa lega atau takut.

Ponselnya bergetar.

Revan: Rapat dadakan, Na. Gue gak bisa jemput. Nanti gue kirim driver ya? Paling 10 menit lagi nyampe.

Serena ngetik balasan pelan.

Aku pulang sendiri aja, kak. Gak usah kirim driver.

Dia tidak mau membuat Revan semakin repot. Lagipula jarak dari kampus ke apartemennya tidak terlalu jauh.

Serena jalan pelan ke arah parkiran motor. Langit sudah mulai berubah gelap, angin bertiup halus menerbangkan dedaunan. Sepertinya akan hujan lagi.

"Serena"

Suara itu membuat langkah Serena berhenti.

Jake berdiri tidak jauh dari situ, sambil membawa helm di tangannya. Motornya sudah menyala.

"Lo nunggu jemputan ya? Revan nggak dateng?"

Jake tidak menunggu jawaban. Dia langsung mengerti saat melihat Serena memandangi parkiran yang kosong.

"Ujan bentar lagi turun. Gue anter lo pulang aja, ya? Apartemen lo kan searah."

Serena menggeleng cepat.

"Nggak usah, Kak Jake. Aku bisa pulang sendiri."

"Serius, Ren. Gelap gini bahaya kalo lo jalan sendirian."

Jake maju selangkah. "Gue janji nggak bakal macem-macem. Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa."

Serena menggigit bibir.

Dia tahu, jika Revan sampai tahu dia pulang dengan Jake, pasti akan menimbulkan masalah baru.

Tapi kalau dia menolak dan kehujanan di jalan, Revan juga pasti marah.

Serena terdiam, merasa bimbang dengan keputusan yang akan dia pilih.

Hujan rintik-rintik mulai jatuh.

Dengan berat hati, Serena akhirnya mengangguk kecil.

"Cepat aja ya, Kak. Aku nggak mau lama-lama di luar."

Jake mengangguk, langsung menyodorkan helm ke Serena.

"Pakai ini. Hati-hati."

Perjalanan pulang tidak banyak bicara.

Jake beberapa kali mencoba membuka obrolan, tapi Serena hanya menjawab seperlunya.

Pikirannya penuh dengan Revan. Takut jika saat dia pulang, Revan marah karena melihat notifikasi lokasi dia berubah.

Sampai di depan apartemen, hujan semakin deras.

Jake mematikan motornya, membantu Serena turun dari motornya.

"Makasih ya, Kak."

Jake mengangguk. Dia ingin bicara sesuatu, tapi tertahan karena melihat mobil hitam yang tiba-tiba berhenti di depan mereka.

Pintu mobil terbuka keras.

Revan turun dengan jas yang dia pakai saat rapat tadi, matanya langsung mengunci ke Serena dan Jake yang berdiri berdua di bawah rintik hujan.

Suasana langsung berubah dingin dan tegang. Keduanya menoleh ke arah Revan.

Jake menegakkan tubuhnya, seolah bersiaga. Tapi Serena mundur selangkah tanpa sadar, dadanya berdebar tidak beraturan. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Revan berjalan mendekat dengan langkah panjang. Air hujan menetes dari ujung rambutnya, namun sorot matanya tetap tajam, tidak berkedip sedikit pun.

"Kak.." panggil Serena pelan.

Namun Revan tidak menjawab. Tinjunya mengepal di samping tubuh. Kemarahan yang sudah ditahannya sejak tadi akhirnya meluap. Ia maju satu langkah, tangan terangkat seolah siap melayangkan pukulan.

"Cukup!"

Serena berteriak dan langsung menahan lengan Revan dengan kedua tangannya.

"Kak, jangan!"

Revan menoleh. Tatapan matanya merah, napasnya berat. "Lo kenapa naik motor sama dia?"

Serena menggigit bibir. Suaranya bergetar ketika menjawab.

"Kak... kakak nggak bisa jemput. Ujan deras. Aku... aku takut pulang sendiri."

Revan terdiam sejenak. Rahangnya mengeras.

"Jadi lo milih pulang sama dia?" katanya pelan, hampir berbisik.

"Bukannya nunggu gue kirim driver?"

"Aku nggak mau ngerepotin kamu, Kak," jawab Serena cepat. "Aku pikir nggak apa-apa... cuma sekali ini."

Revan menoleh ke arah Jake. "Jake," ujar Revan pelan, suaranya rendah dan dingin.

"Gue udah bilang kan, jangan deketin dia."

Jake menelan ludah, tetapi tidak mundur.

"Gue cuma nganterin dia pulang. Ujan gede gini, lo mau dia jalan sendiri?"

Rahangnya kembali mengeras. Revan berjalan mendekati Jake dengan sorot mata tajam.

Jantung Serena berdebar sangat kencang. Air mata mengalir tanpa peringatan. Suaranya bergetar.

"Udah Kak, pulang... tolong pulang, Kak Jake. Aku minta maaf."

Jake hanya diam menatap Serena, seolah lebih mengkhawatirkan keadaan Serena dibanding dirinya sendiri.

"Aku mohon, Kak. Pulang," ucap Serena lagi.

Jake melihat situasi yang semakin kacau, lalu menghela napas panjang."Gue pergi."

Dia menyalakan motornya, lalu melaju pergi meninggalkan mereka di bawah hujan.

Revan masih menatap ke arah Jake pergi. Dadanya naik turun dan tangan nya masih mengepal. Kemarahan itu tidak hilang, hanya dipindahkan.

Ia menggenggam pergelangan tangan Serena kasar, lalu menariknya masuk ke dalam apartemen tanpa peduli gadis itu masih menggigil kedinginan.

Pintu unit tertutup dengan suara keras.

"BRAK!"

Suara itu menggema, membuat Serena tersentak.

Revan mendorong Serena pelan ke dinding, napasnya masih tidak beraturan.

"Lo pikir gue tenang lihat lo sama dia, hah?" suaranya rendah, tajam.

"Gue bilang jangan, Serena. Kenapa lo nggak dengerin gue?. Kenapa lo masih ngelakuin sesuatu yang udah gue larang."

Serena mencoba bicara, tapi Revan memotongnya.

"Gue udah kirim driver! Gue udah bilang gue jemput! Tapi lo lebih milih dia, kan?"

Kemarahan itu akhirnya meledak.

Revan menoleh ke meja ruang tamu, lalu menyapu semua yang ada di atasnya dengan satu hentakan kasar.

"BRAG!"

Cangkir, vas kecil, dan tumpukan dokumen berjatuhan. Air tumpah ke karpet, pecahan keramik berserakan di lantai.

"GUE BILANG JANGAN!"

Suara Revan menggelegar, memantul di dinding apartemen yang sunyi.

Serena menutup mulutnya, tubuhnya gemetar.

Ia belum pernah melihat Revan sehilang kendali ini.

Serena mencoba mendekatinya.

"Kak jangan.."

"DIAM!!"

Tangan Revan yang menggenggam pergelangan Serena terlalu kuat. Serena meringis kesakitan, air matanya jatuh.

"Kak... sakit..."

Revan menarik Serena ke dalam kamar dan membanting dirinya ke atas tempat tidur. Cengkraman tangan terlepas. Meninggalkan bekas merah di pergelangan tangannya.

"K-kak.. Maaf" Suara Serena terbata karena menahan tangis nya.

Revan tidak mendengar. Ia mencengkeram dagu Serena, memaksanya mendongak untuk menatap matanya. Serena dapat melihat kemarahan di mata nya dari bawah sana.

"Jawab gue, Serena! Lo peluk dia di atas motor kan?"

Serena menggeleng cepat. "Sumpah enggak, Kak," Pandangannya buram karena air mata, tapi ia memaksa bicara.

"BOHONG!"

Bentakan keras yang keluar dari mulut Revan. Membuat Serena kembali tersentak dan memejamkan mata.

Cengkraman semakin kuat nyaris mencekik leher nya. Mata Revan merah seakan yang di hadapan Serena bukan durinya.

"A-aku bahkan.. N-nggak nyentuh dia sedikit pun. Aku... Aku cuma punya kamu."

Kalimat itu akhirnya menembus kemarahan Revan. Tatapannya melunak memandang mata Serena yang penuh dengan airmata.

Di mata itu, tidak ada pengkhianatan. Hanya ada rasa takut kehilangan dirinya.

Revan langsung tersadar.

Tangannya yang mencengkeram dagu Serena melemas. Ia mundur dua langkah seperti baru sadar apa yang ia lakukan sangat kasar. Wajahnya pucat.

Jarinya gemetar saat melepas dagu Serena. Seolah baru tersadar dari perbuatan kasarnya.

"Na..." suaranya pecah.

Serena terbatuk-batuk, menunduk sambil menangis.

Revan menatap kekacauan di sekitarnya, lalu menatap Serena yang ketakutan.

Dadanya sesak.

"Gue... gue khilaf, Na. Maaf."

Suaranya serak, hampir tidak terdengar.

"Gue nggak bermaksud nyakitin lo. Gue cuma... gue takut kehilangan lo."

Serena tidak menjawab. Ia hanya menangis lebih keras.

Revan menampar dirinya sendiri dengan keras.

"Brengsek!."

Revan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh bahu Serena.

"Maaf, Na. Maaf. Gue sumpah nggak akan nyakitin lo lagi."

Ia mengecup puncak kepala Serena berulang kali, suaranya pecah.

"Gue gila kalau gue sampai nyakitin lo. Maafin gue, ya?"

Hujan di luar masih turun deras, seolah ikut meratapi kekacauan di dalam.

Di lantai, pecahan vas dan cangkir masih berserakan.

Di tengahnya, Revan memeluk Serena erat, takut melepaskannya walau sedetik, takut kehilangan satu-satunya orang yang paling ia takuti untuk kehilangannya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!