NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:979
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Summit of Wolves

BAB 15: THE SUMMIT OF WOLVES

Helikopter taktis Eurocopter EC135 berwarna hitam legam membelah awan badai yang menggantung rendah di atas perairan internasional Samudra Pasifik. Di bawahnya, sebuah pulau pribadi yang diselimuti kabut tebal, Isla de la Rosa,berdiri dengan keangkuhan yang sunyi. Pulau itu tidak tercatat di peta navigasi publik mana pun, ia adalah wilayah kedaulatan abu-abu, sebuah benteng pertahanan terakhir di mana hukum internasional tidak lebih berharga daripada kertas usang, digantikan oleh otoritas mutlak dari satu nama: Aurelia Vane.

Di dalam kabin helikopter yang kedap suara dan diterangi cahaya remang kemerahan, Kael Arden duduk dalam setelan jas hitam tanpa satu pun atribut kenegaraan. Tidak ada pin Perdana Menteri di kerahnya, tidak ada lencana resmi, dan tidak ada pengawal dari badan intelijen negara yang menyertainya. Ia datang sebagai seorang pria yang telah melucuti seluruh identitas publiknya demi mengikuti obsesi terliarnya. Di sampingnya, Aurelia duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Gaun satin hitamnya yang panjang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, sementara sebuah mantel bulu gelap tersampir di bahunya. Di leher jenjangnya, melingkar sebuah kalung berlian merah darah yang berkilauan pekat setiap kali lampu kabin berkedip. Tampan, sensual, dan sedingin es, Aurelia menopang dagunya sembari menatap ke luar jendela tak tembus cahaya.

"Kau masih bisa memerintahkan pilot ini untuk berbalik, Kael," ujar Aurelia tanpa menoleh. Suaranya serendah beludru, namun ketajamannya mampu menggores kaca. "Begitu roda helikopter ini menyentuh landasan di bawah sana, kau bukan lagi seorang Perdana Menteri yang dilindungi oleh hukum konstitusi. Bagi orang-orang yang menungguku di dalam kastil itu, kau hanyalah potongan daging segar. Dan jika mereka tahu siapa dirimu, mereka tidak akan ragu untuk menguliti kepalamu hanya untuk menjadikannya trofi pembangkangan pemerintah."

Kael menoleh, menatap profil samping wajah Aurelia yang terpahat sempurna di bawah temaram lampu kabin. Sisa-sisa rasa nyeri dari luka tembak di bahunya seolah menguap, digantikan oleh debar adrenalin yang membakar dadanya. Kael mengangkat tangan kanannya, meraih jemari Aurelia yang terbalut sarung tangan renda hitam, lalu mengecup punggung tangannya dengan cengkeraman yang posesif.

"Aku sudah membuang pemerintahan dua hari lalu saat menghadapi Frederick Vance, Aurelia," bisik Kael, suaranya berat dan dipenuhi oleh kegilaan yang matang. "Jangan meremehkan pria yang jiwanya sudah kau racuni. Aku datang ke pulau ini bukan untuk mencari jalan pulang, melainkan untuk menyaksikan bagaimana jalannya neraka yang kau pimpin. Bawa aku masuk."

Aurelia memalingkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Kael yang menyala oleh obsesi murni. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang kejam namun luar biasa indah. Saat helikopter mendarat dengan guncangan halus di atas helipad beton di puncak tebing, pintu kabin langsung digeser terbuka dari luar oleh dua pria bertubuh raksasa yang mengenakan tactical gear hitam tanpa logo faksi negara mana pun. Angin laut yang asin, dingin, dan membawa rintik hujan langsung menerpa wajah mereka. Namun, pemandangan di luar helipad-lah yang benar-benar mampu menciutkan nyali jenderal militer paling berani sekalipun.

Sepanjang jalur setapak batu kuno yang menghubungkan helipad dengan gerbang besi kastil bergaya gotik itu, berbaris ratusan pria bersenjata laras panjang. Atmosfer di tempat itu begitu mencekik, dipenuhi oleh kepulan asap cerutu dan ketegangan yang pekat. Di sinilah mereka berkumpul, para Mafia Boss, gembong sindikat kartel terbesar dari lima benua, penyelundup senjata legendaris, dan penguasa pasar gelap internasional yang namanya hanya berani dibisikkan dengan ketakutan di ruang interogasi Interpol. Namun malam ini, saat Aurelia Vane melangkah turun dari helikopter, sebuah fenomena yang mengerikan terjadi. Para serigala dunia bawah yang terkenal kejam dan tidak mengenal hukum itu, mendadak menundukkan kepala mereka serentak. Tidak ada satu pun dari para bos mafia atau pengawal mereka yang berani mengangkat pandangan untuk menatap langsung ke arah netra obsidian milik Aurelia. Aurelia berjalan membelah barisan tersebut dengan keangkuhan seorang ratu, membiarkan ujung gaun satin hitamnya menyapu lantai batu yang basah oleh air hujan.

Kael berjalan tepat satu langkah di belakangnya, mengamati dengan jeli bagaimana aura female dominance wanita itu terpancar begitu masif, menekan ego ratusan pria kejam di sekelilingnya hingga mereka tidak lebih dari sekadar pelayan yang patuh. Di sinilah Kael akhirnya menyadari sepenuhnya, Aurelia Vane bukan sekadar CEO manipulatif yang bermain di bursa saham. Wanita ini adalah poros utama yang menggerakkan ekonomi bawah tanah global. Dia jauh lebih berbahaya, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berkuasa dari apa yang pernah Kael bayangkan di dalam ruang rapat kabinetnya.

Mereka melangkah masuk menembus pintu kayu ek raksasa menuju Aula Utama kastil. Ruangan itu megah sekaligus mengerikan, dengan langit-langit tinggi yang diterangi oleh lampu gantung kristal yang berpendar temaram, serta dinding-dinding batu yang dihiasi oleh ornamen abad pertengahan. Di tengah aula, terdapat sebuah meja bundar dari besi hitam masif yang dikelilingi oleh dua belas kursi beludru merah darah. Setiap kursi telah diduduki oleh para pemimpin faksi bawah tanah tertinggi di bumi. Ada Nikolai Volkov, kepala Bratva Rusia yang bertubuh seperti beruang dengan tato belati di sepanjang rahangnya. Tanaka, pemimpin tertinggi Yakuza Yamaguchi gumi yang duduk kaku dengan tatapan sedingin es. Dan Alejandro, bos kartel Medellin yang mengendalikan jalur kokain belahan barat. Aurelia berjalan menuju kursi utama yang berada di posisi paling tengah dan tinggi. Namun, sebelum ia mendudukkan diri, ia memberikan isyarat visual dengan jentikan jarinya yang mengenakan cincin emas berbentuk mawar. Dua pelayan dengan sigap meletakkan sebuah kursi tambahan tepat di sebelah kanan kursi utama, sebuah posisi pendamping yang langsung memicu riak kasak-kusuk kemarahan di antara para bos mafia yang hadir.

"Aurelia," Nikolai Volkov membuka suara. Suaranya berat, parau, dan bergetar seperti batu yang bergesekan saat ia menatap Kael dengan pandangan menghina yang tidak ditutup-tutupi. "Pertemuan Mafia Summit ini adalah ruang suci yang ditulis dengan sumpah darah organisasi kita. Mengapa kau membawa seekor anjing birokrat dari pemerintahan dunia atas ke dalam ruangan ini? Apakah Vane Group sudah mulai melemah dan berencana menjual jalur distribusi kita kepada hukum negara?"

Ketegangan di dalam aula raksasa itu langsung melesat ke titik didih. Dalam sekejap, puluhan pengawal yang berdiri di bayang-bayang pilar batu secara refleks meletakkan tangan mereka di atas sarung senjata api di pinggang mereka. Suasana berubah menjadi sangat mematikan. Aurelia tidak menunjukkan keterkejutan atau kemarahan yang meledak-ledak. Ia duduk dengan santai, menyilangkan kakinya yang jenjang hingga memperlihatkan potongan gaunnya yang tinggi, lalu menopang dagunya sembari menatap Nikolai dengan pandangan meremehkan yang amat sensual.

"Kekuatan hukum negaramu tidak berlaku di pulau ini, Nikolai," ujar Aurelia. Suaranya halus, mengalir tenang seperti air, namun esensi dingin di dalamnya mampu membekukan darah siapa pun yang mendengar. "Dan kau baru saja melakukan dua kesalahan fatal malam ini. Pertama, kau memanggil namaku tanpa gelar kehormatan yang sah. Kedua, kau mempertanyakan keputusanku di atas tanah yang kubiayai dengan uangku sendiri." Aurelia mengetuk meja besi hitam itu sekali dengan kuku emasnya.

Sebelum Nikolai sempat membalas atau menarik senjatanya, dua pengawal pribadi Aurelia yang berdiri di kegelapan bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Dua moncong senapan laras pendek langsung menekan bagian belakang tengkorak Nikolai Volkov hingga pria raksasa itu tersentak kaku. Di saat yang sama, Aurelia merogoh sesuatu dari balik lipatan mantel bulunya. Dengan satu gerakan kilat yang anggun, ia melemparkan sebuah pisau lipat perak berukir mawar hitam ke tengah meja. Tshak! Pisau legendaris yang pernah ia gunakan untuk menghabisi pembunuh ayahnya belasan tahun lalu itu menancap kuat di atas permukaan besi, tepat satu milimeter dari ujung jari manis Nikolai.

"Jika aku ingin menjual kalian pada hukum pemerintahan, aku tidak akan membawa Perdana Menteri ini ke sini sebagai tamu, Nikolai," desis Aurelia, matanya berkilat dengan kekejaman murni yang absolut, memancarkan aura reverse harem di mana ratusan pria bersenjata di pulau itu bergerak murni demi perintahnya. "Aku membawanya ke sini untuk menunjukkan kepada faksi kalian, bahwa bahkan pria yang mengendalikan hukum, militer, dan kabinet tertinggi di pemerintahan pun... bertekuk lutut di bawah kakiku. Jika hukum tertinggi di sana saja bisa kutundukkan, apa yang membuatmu berpikir faksi Bratva-mu yang kotor itu bisa selamat jika mencoba mengusik otoritas Vane Group?"

Seluruh aula mendadak senyap seperti kuburan. Nikolai Volkov, yang terkenal tidak takut mati, perlahan-lahan menurunkan pundaknya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat ia merasakan dinginnya ujung laras senapan di kepalanya. Pria raksasa itu perlahan menundukkan wajahnya di hadapan Aurelia. "Maafkan... kelancangkanku, Ratu," bisik Nikolai dengan nada parau yang terhina namun patuh.

Aurelia menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi beludru merahnya, membiarkan aura dominasinya menyelimuti seluruh ruangan, mengunci pergerakan para serigala dunia bawah di bawah kendali mutlaknya. "Bagus. Sekarang, mari kita bicarakan mengenai pembersihan faksi-faksi kecil di Eropa Barat dan bagaimana kita akan mengatur ulang harga pasar gelap setelah aku membekukan jalur pelabuhan komersial minggu lalu."

Di sebelahnya, Kael Arden menyaksikan seluruh pertunjukan kekejaman, kekuatan, dan dominasi absolut itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup kencang, memompakan adrenalin ke seluruh pembuluh darahnya dengan intensitas yang belum pernah ia rasakan di panggung politik mana pun. Melihat wanita yang dicintainya berdiri di atas kepala para pembunuh paling berbahaya di bumi tidak membuat Kael merasa terancam atau jijik. Sebaliknya, hal itu justru mendorong kegilaan di dalam otaknya ke tingkat yang paling ekstrem. Obsesinya telah bermutasi sempurna menjadi sesuatu yang gelap dan destruktif. Kael menyadari bahwa ia tidak lagi sekadar menginginkan seorang wanita, ia menginginkan sang Ratu Dunia Bawah ini secara utuh, dengan segala darah dan kekejaman yang melekat padanya.

Di bawah meja besi hitam yang dingin, di tengah-tengah rapat yang membahas transaksi gelap bernilai miliaran dolar, Kael menggeser tangan kirinya. Ia meraih telapak tangan Aurelia yang berada di atas pangkuan wanita itu, mengunci jari-jari mereka dalam cengkeraman yang kuat, posesif, dan penuh dengan penyerahan diri yang berbahaya. Aurelia tidak melepaskan atau menolak genggaman tersebut. Ia membiarkan jemari Kael bertautan erat dengan jemarinya yang terbalut kain brokat hitam. Kael mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Aurelia, berbisik dengan suara yang sangat rendah, sedekat mungkin dengan telinga wanita itu hingga keharuman black rose kembali memenuhi indra penciumannya.

"Kau benar-benar luar biasa, Ratuku," bisik Kael, sepasang matanya berkilat dengan api kegilaan murni yang indah di balik kegelapan. "Melihatmu meremukkan ego para serigala ini... membuat seluruh kekuasaan kabinet dan parlemen terasa seperti mainan anak-anak yang tidak berharga."

Aurelia tidak mengalihkan pandangannya dari meja rapat, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan kepuasan dominan. "Apakah kau mulai merasa ngeri, Kael? Ini adalah dunia bawah yang sesungguhnya. Tidak ada ruang sidang, tidak ada banding hukum, dan tidak ada negosiasi. Hanya ada darah, kepatuhan, atau kematian."

Kael mempererat remasan tangannya pada jemari Aurelia, merasakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya suasana aula kastil tersebut.

"Aku tidak pernah merasa sehidup ini sepanjang usiaku, Aurelia," jawab Kael dengan nada yang bergetar penuh penyerahan diri yang absolut pada obsesinya yang gila. "Benar katamu di dalam lift malam itu... kau adalah kehancuran yang kupilih. Aku tidak peduli lagi jika seluruh dunia atas mencapku sebagai pengkhianat atau iblis. Jika takhtamu berada di puncak kegelapan ini, maka aku rela kau bawa ke neraka terdalam sekalipun. Aku akan menjadi pedangmu yang memanipulasi dunia atas, dan kau akan tetap menjadi ratuku di dunia bawah. Kita tidak akan menyelamatkan dunia ini, Aurelia... kita akan menguasainya bersama-sama."

Di tengah-tengah keheningan intim yang tercipta di antara dua penguasa itu, sepasang mata tajam Kael yang terlatih mendeteksi ancaman, mendadak menangkap sebuah kejanggalan. Di ujung meja, tepat di dekat pintu keluar lambung kanan aula, salah satu orang kepercayaan dari lingkaran dalam Aurelia, seorang letnan senior yang memegang kunci enkripsi keamanan pulau sedang menatap layar ponsel satelitnya dengan gerak-gerik yang terlalu gugup, sebelum memberikan kode kedipan mata samar kepada tiga pengawal bersenjata yang berdiri di dekat pintu belakang. Predator di dalam diri Kael yang baru saja terbangun karena atmosfer pulau ini langsung mengendus bau busuk yang sangat ia kenali dari dunia politik.

Bau pengkhianatan.

Malam pertemuan para serigala ini baru saja dimulai, dan sebelum fajar menyingsing di Isla de la Rosa, keheningan kastil tua ini akan segera pecah oleh badai pertumpahan darah yang jauh lebih besar dan mengerikan daripada apa yang pernah terjadi di atas permukaan The Sovereign.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!