Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Kekacauan yang Tidak Terhindarkan
Prang!
Suara cangkir pecah masih menggema di ruang depan rumah kecil itu.
Ana berdiri membeku dengan wajah pucat pasi. Napasnya memburu hebat saat matanya menatap Damir dan Lavanya yang berdiri di depan pintu.
Tubuhnya mulai gemetar.
Bukan karena marah.
Tapi karena takut.
Semua kenangan buruk yang selama bertahun-tahun ia kubur tiba-tiba kembali menghantam kepalanya sekaligus.
Suara bentakan.
Tatapan dingin.
Gudang gelap.
Tamparan sang ayah.
Dan malam kebakaran itu.
Semuanya bercampur jadi satu sampai membuat dadanya terasa sesak luar biasa.
“Ela…”
Suara Damir terdengar pecah penuh penyesalan.
Namun Ana justru mundur satu langkah sambil menggeleng cepat.
“Jangan…”
Air matanya mulai jatuh tanpa bisa ditahan.
Sabine langsung panik melihat keadaan ibunya.
“Mima?”
Ajeng yang baru datang dari ruang tamu langsung membeku melihat suasana di depan pintu.
“A-ayah…”
Dan saat itulah Ana mulai kehilangan keseimbangan.
Pandangan wanita itu mengabur.
Napasnya semakin pendek sampai dadanya terasa sakit.
Panic attack yang selama ini berhasil ia kendalikan kembali menyerang lebih buruk dari biasanya.
“Ela tenang…” Lavanya mencoba mendekat sambil menangis.
Namun Ana justru terlihat semakin panik.
“Jangan dekat…” suaranya bergetar hebat.
Dylan yang turun dari lantai atas langsung membelalak melihat ibunya hampir jatuh.
“MIMA!”
Bruk.
Tubuh Ana ambruk begitu saja sebelum sempat ditangkap siapa pun.
“MIMA!!”
Sabine langsung menangis panik sambil mengguncang tubuh ibunya.
Dylan dengan cepat menopang kepala Ana yang sudah tidak sadarkan diri.
“Bine ambil air cepat!” bentaknya panik.
Ajeng langsung ikut berlutut sambil menangis melihat kakaknya pingsan.
“Ka Ela…”
Sementara Damir benar-benar membeku di tempatnya.
Pria itu melihat anak perempuannya terbaring lemah dengan wajah pucat karena dirinya.
Dan untuk pertama kalinya…
Damir merasa dirinya benar-benar tidak pantas disebut ayah.
“Telepon Tante Mita!” teriak Dylan panik.
Ajeng langsung tersadar lalu buru-buru mengambil ponselnya dengan tangan gemetar.
“T-tante angkat dong…”
Lavanya menangis sambil memegang tangan Ana pelan.
Tubuh wanita itu dingin.
Sangat dingin.
“Ela… maafin Bunda…”
Namun Ana tetap tidak sadar.
Tak lama panggilan akhirnya tersambung.
“Halo?”
“TANTE CEPET KE RUMAH!” teriak Ajeng sambil menangis. “Kak Ela pingsan!”
Di sisi lain telepon, Mita langsung berdiri panik dari sofa hotel.
“Apa?!”
Raka yang ada di sana langsung ikut menegang.
“Kenapa Nona?”
“Ana pingsan!”
Dan dalam hitungan menit suasana hotel ikut kacau.
Raka langsung mengambil kunci mobil sementara Damar yang baru datang dari meeting langsung panik saat mendengar kabar itu.
“Ela kenapa?!”
“AYAH SAMA BUNDA DATENG!” bentak Ajeng dari telepon sambil menangis.
Deg.
Wajah Damar langsung pucat.
“Shit…”
Ia langsung berlari keluar hotel tanpa mendengar panggilan siapa pun lagi.
Sementara itu di rumah Ana, suasana benar-benar kacau.
Sabine terus menangis sambil memeluk tangan ibunya.
“Mima bangun…”
“Mima jangan bikin takut…”
Dylan berusaha tetap tenang walau matanya mulai merah.
Ia bahkan belum benar-benar mengerti siapa dua orang asing di depan rumah mereka.
Namun ia tahu satu hal.
Kedatangan mereka membuat ibunya hancur.
Tatapan Dylan langsung berubah dingin ke arah Damir.
“Keluar.”
Suara remaja itu dingin penuh emosi.
Damir langsung terdiam.
“Keluar dari rumah kami.”
Lavanya langsung menangis semakin keras mendengar ucapan itu.
Namun Dylan tetap berdiri melindungi ibunya.
“Kalau kalian bikin Mima kenapa-napa…”
Suara Dylan bergetar menahan marah dan takut.
“Aku nggak bakal maafin kalian.”
Dan kalimat itu menghantam Damir telak.
Karena lima belas tahun lalu…
Kalimat serupa mungkin pernah ingin diucapkan Ela kecil kepada dirinya.
Tak lama suara mobil berhenti kasar di depan rumah.
Pintu langsung terbuka dan Mita masuk terburu-buru bersama Raka dan Damar.
“Ana!”
Mita langsung memeriksa keadaan wanita itu dengan cepat.
“Napasnya cepat…” gumamnya panik.
Damar yang melihat kakaknya tidak sadarkan diri langsung mengepalkan tangan kuat-kuat sambil menatap ayahnya penuh emosi.
“Puass sekarang?!”
Damir hanya diam dengan mata merah penuh penyesalan.
Dan malam itu…
Rumah kecil yang selama ini menjadi tempat paling tenang bagi Ana akhirnya dipenuhi kembali oleh orang-orang dari masa lalu yang selama ini berusaha ia lupakan.