NovelToon NovelToon
Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.

‎Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.

Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.

‎"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

‎Tania baru saja selesai mandi dan mengenakan jubah mandi berbahan sutra tipis, dia tampak terkejut namun segera tersenyum senang saat melihat kedatangan kekasih gelapnya itu di apartemennya.

‎‎"Sayang? Bukannya kamu sedang makan malam dengan Aruna? Ada apa?" tanya Tania heran, berjalan mendekat sambil ingin menyentuh dada Rafael.

‎‎Rafael menepis tangan wanita itu dengan kasar, melempar jaketnya dengan kasar ke sofa. Dia berjalan mondar-mandir dengan tangan terselip di pinggang, napasnya terdengar berat dan kesal.

‎"Aruna... wanita bodoh itu!" desis Rafael penuh kemarahan, suaranya meninggi bergema di ruangan luas itu. "Dia benar-benar sudah mulai tidak tahu diri! Berani-beraninya dia menentangku, berani-beraninya dia membandingkanku dengan orang lain di depanku!"

‎‎Tania mengerutkan kening, rasa tidak suka menyelinap di hatinya saat nama Aruna disebut. Aruna wanita kaya yang menjadi alasan utama Rafael mendekat, sapi perah yang akan menjadi jaminan masa depan mereka berdua. Meski cemburu, Tania mau saja berbagi Rafael karena dia tahu kekayaan Aruna akan menjadi milik mereka berdua nanti.

‎‎Dia berjalan mendekat lagi, kali ini lebih hati-hati, mencoba menenangkan pria itu. "Sudah, Sayang... santai dulu. Duduklah. Kali ini apa lagi yang dia buat?"

‎‎Rafael duduk di sofa dengan kasar, menyandarkan punggungnya lalu mengusap wajahnya dengan frustasi.

‎‎"Aku tadi mengajaknya makan malam. Aku sudah bersikap sebaik mungkin. Tapi apa kamu tahu apa yang dia lakukan? Tiba-tiba Tuan Zeffrano ada di restoran itu. Dan wanita bodoh itu... dia lari ke arahnya, memeluknya, dan merajuk minta diantar pulang, persis seperti wanita murahan yang lapar perhatian!" cerocos Rafael, matanya menyala penuh api cemburu.

‎‎"Dia bilang pria itu lebih tampan, lebih berkedudukan dari aku! Dasar wanita tidak tahu berterimakasih! Padahal aku yang ada di sisinya saat dia sedih, aku yang menemaninya, aku yang berjuang buat masa depan kita... tapi apa balasannya? Dia malah memuji pria lain!"

‎‎Tania duduk di samping Rafael, tangannya bergerak mengusap bahu kekasihnya itu pelan. Di dalam hati wanita itu justru merasa senang mendengar perselisihan itu. Semakin Aruna sulit diatur, semakin besar kemungkinan Rafael akan sepenuhnya bergantung padanya.

‎‎"Sudah, jangan marah-marah terus. Kamu kan sudah tahu dia seperti apa. Dia cuma wanita lugu yang mudah terbuai kata-kata manis. Dia ingin membuat kamu cemburu saja, biar kamu makin sayang dan makin berusaha mendapatkan hatinya... sekaligus hartanya," bujuk Tania dengan nada lembut dan beracun.

‎‎Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Rafael, berbisik manja.

‎‎"Memang dia bodoh. Dia tidak tahu kalau cuma kamu yang tulus sama dia. Dia tidak tahu saja siapa itu Tuan Zeffrano, pria itu dingin dan kejam. Tuan Zeffrano tidak benar-benar menyukai wanita seperti Aruna."

‎‎Rafael berbalik menatap Tania, amarahnya sedikit mereda namun masih tersisa kekecewaan mendalam. "Tapi dia sudah mulai berubah. Dulu apa saja aku minta, dia kasih. Dulu dia tidak pernah berani membantah atau membandingkan aku dengan orang lain. Kemarin dia menolak memberikan uang lima ratus juta, dan malam ini dia berani-beraninya bicara seenaknya. Kalau dibiarkan, dia akan makin susah diatur. Uang itu... aku butuh besok, Sayang. Kalau proyek ini gagal karena kekurangan dana, aku tidak akan pernah mendapatkan kepercayaan dari papamu untuk menikahimu."

‎‎Wajah Tania berubah serius mendengar itu. Dia tahu betul, kepercayaan ayahnya adalah segalanya bagi Rafael, dan juga bagi dirinya sendiri. Tanpa proyek yang sukses, tanpa kekayaan yang akan mereka dapatkan dari Aruna, posisi Rafael di mata Tuan Hendrawan tidak akan pernah cukup baik untuk diterima sebagai menantu. Masa depan mewah yang selalu mereka impikan bisa runtuh begitu saja hanya karena satu wanita yang mulai berani melawan.

‎‎Tania menarik tangannya dari bahu Rafael, duduk lebih tegak, dan menatap pria itu dengan sorot mata yang kini sama tajam dan penuh rencana jahatnya. Senyum manis di bibirnya lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin yang penuh perhitungan.

‎‎"Kalau begitu, kita tidak bisa diam saja, Rafael," ucap Tania rendah namun tegas, nadanya berubah menjadi lebih keras dan menuntut. "Kamu sudah terlalu sabar dan memanjakannya, sampai dia merasa dirinya begitu berharga dan berkuasa."

‎‎Dia bergerak mendekat lagi, menangkupkan wajah Rafael dengan kedua tangannya, memaksanya menatap lurus ke matanya.

‎‎"Aruna itu wanita yang penurut selama dia merasa takut atau merasa berhutang budi. Tapi begitu dia merasa punya sandaran lain, dia akan mulai menendangmu. Kamu mau membiarkan itu terus terjadi?"

‎‎Rafael menggelengkan kepalanya kasar, rahangnya kembali mengeras. "Tentu saja tidak. Tapi aku bingung. Apa lagi yang harus aku lakukan? Aku sudah bujuk, aku sudah rayu, aku sudah ancam halus... tapi dia tetap saja punya seribu alasan. Dia bilang asetnya dikunci, dia bilang uangnya sudah disumbangkan, dia bilang butuh persetujuan ini-itu... dia semakin pintar mencari jalan keluar."

‎‎Tania tersenyum miring, senyum yang mengerikan namun meyakinkan. Dia bangkit berdiri, berjalan mengelilingi ruang tamu itu seolah sedang menyusun strategi perang di dalam kepalanya.

‎‎"Kalau dia tidak mau memberikan dengan sukarela, maka kita harus ambil kendali itu dari tangannya, Sayang," bisik Tania dengan nada yang penuh racun. "Kita akan membuat dia tidak punya pilihan lain selain menyerahkan segalanya padamu."

‎‎"Tapi... bagaimana caranya?" tanya Rafael bingung.

‎‎Tania berbalik menghadap Rafael lagi, matanya berkilat penuh ide jahat. "Soal itu serahkan saja padaku. Aku akan membuatnya tidak punya nyali untuk melawanmu lagi."

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Begitu mobil Aruna berhenti tepat di depan gedung pencakar langit yang menjadi kantor pusat Grup Mahesa, dia turun dan melangkah masuk ke lobi utama dengan langkah tergesa-gesa.

‎‎Namun, baru saja dia hendak berjalan menuju deretan lift, sosok Alvin sudah berdiri menghadangnya dengan gerakan cepat. Wajah asisten kepercayaan itu datar, tak ada ekspresi ramah seperti biasanya.

‎‎"Maaf, Nona Aruna," ucap Alvin, nada bicaranya dingin dan berjarak, tangannya sedikit terulur seolah meminta wanita itu berhenti di tempatnya. "Tuan Zeffrano sedang sangat sibuk hari ini. Beliau berpesan, beliau tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Termasuk Anda. Mohon maaf, sebaiknya Anda pulang saja. Beliau tidak ada waktu."

‎‎Aruna berhenti melangkah, menatap Alvin dengan tatapan tajam dan tak percaya. Dia tahu sikap ini. Dia menduga Zeffrano masih terluka, masih marah, atau mungkin masih kecewa atas kejadian di restoran tadi malam.

‎‎"Aku datang karena kamu menolak untuk memberikan nomor pribadi Zeffrano semalam. Katakan padanya aku ingin bertemu. Jika dia tidak mau turun, maka aku yang akan naik."

‎‎"Maaf, Nona, ini perintah langsung Tuan Zeffrano. Saya tidak boleh membiarkan Anda lewat," jawab Alvin tetap teguh, mempertahankan posisinya. "Dan soal nomor pribadi Tuan Zeffrano, itu adalah privasi. Tuan Zeffrano tidak suka diganggu untuk urusan yang tidak penting."

‎Aruna menatap Alvin sekilas dengan pandangan yang membuat asisten itu seketika ragu dan mundur selangkah tanpa sadar. Dengan gerakan tenang namun cepat, Aruna berjalan melewati sisi tubuh Alvin, mendekati pintu lift kaca yang terbuka tepat di hadapannya.

‎‎"Nona Aruna! Tolong jangan paksa saya bertindak tegas!" seru Alvin berusaha mengejar, namun Aruna sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam kabin lift. Jari-jarinya bergerak lincah menekan tombol lantai paling atas, lantai tempat ruang kerja pribadi Zeffrano berada.

‎‎Pintu lift tertutup rapat tepat saat Alvin sampai di depan pintu, napasnya memburu dan wajahnya terlihat cemas. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas panjang.

‎"Maaf Tuan, saya sudah berusaha menghalanginya. Tapi wanita ini sama keras kepalanya seperti Anda," gumam Alvin pasrah, lalu bergegas menggunakan lift lain untuk naik ke atas.

‎‎Sementara itu, Aruna sudah sampai di lantai atas. Tanpa mengetuk, Aruna memutar kenop pintu itu dan mendorongnya hingga terbuka lebar.

‎‎Zeffrano sedang duduk di balik meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku, wajahnya tampak serius menatap tumpukan berkas di depannya. Namun, begitu suara pintu terbuka terdengar, dia mengangkat wajahnya perlahan.

‎‎Pandangan mereka bertemu di udara.

‎‎Wajah Zeffrano seketika mengeras. Matanya yang tajam menyala penuh keterkejutan yang bercampur amarah yang tertahan. Di belakang Aruna, terdengar suara langkah kaki Alvin yang baru sampai, napasnya sedikit terengah dan wajahnya penuh rasa bersalah.

‎‎"Tuan... saya sudah coba menahan Nona Aruna, tapi dia..." Alvin berusaha menjelaskan dengan gugup.

‎‎Zeffrano mengangkat tangan, memberi isyarat agar asistennya diam dan pergi. Alvin segera menunduk hormat, mundur keluar ruangan, dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan keduanya di ruangan besar itu.

‎‎Keheningan berat menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Zeffrano kembali menundukkan wajahnya ke berkas di depannya, seolah kehadiran Aruna tidak lebih penting daripada selembar kertas. Suasana di sana terasa dingin, jauh, dan penuh ketegangan.

‎‎"Sudah aku katakan jika aku tidak mau bertemu," ucap Zeffrano pelan namun dingin, suaranya rendah dan penuh penolakan, tanpa sekali pun menatap wajah Aruna kembali. "Kamu punya urusan apa ke sini? Bilang saja cepat, lalu pergi. Aku sibuk."

‎‎Aruna tidak bergeming. Dia berjalan mendekati meja kerja itu perlahan, langkah kakinya terdengar jelas memecah keheningan. Dia berhenti tepat di depan meja besar yang memisahkan mereka.

‎‎"Kamu pikir dengan bilang tidak mau bertemu, aku akan pulang begitu saja, Zeff?" tanya Aruna pelan namun tegas, nada suaranya tidak ada rasa takut sedikit pun. "Kamu bisa menghindariku semudah itu hanya karena semalam kamu sudah bersikap cukup dingin padaku,"

‎‎Zeffrano menghentikan gerakan penanya. Dia mengangkat kepalanya perlahan, menatap Aruna dengan sorot mata yang gelap, penuh luka, marah, dan rasa sakit yang mendalam.

‎‎"Aku tidak menghindar, Aruna. Aku hanya ingin menjaga sisa harga diriku yang tersisa," jawab Zeffrano getir, sudut bibirnya tersenyum sinis yang menyakitkan. "Semalam kamu makan malam bersamanya, tapi masih berfikir untuk menggodaku. Kamu sangat menjijikan."

‎‎Dia menunjuk pintu dengan dagunya.

‎"Pergilah. Kembalilah pada kekasihmu itu."

‎‎Aruna tidak beranjak. Justru dia berjalan memutar mengelilingi meja itu, mendekat hingga dia berdiri tepat di samping kursi kerja Zeffrano, jarak mereka kini begitu dekat. Dia mencondongkan badan sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata hitam yang sedang berusaha keras menjauhinya itu.

‎‎"Apa... kamu sedang cemburu?"

-

-

-

Bersambung...

1
W I 2 K
idihhhhhh nyebelin banget kamu tania... celamitan.... sok²an mau ngelakuin apa aja....
🔥Violetta🔥: Kangen belaian plus belalai dia kak ,🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
W I 2 K
mimpi terindah... khayalan belaka....
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Perlu diceburkan ke comberan sepertinya dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
secangkir kopi sm Sajen bunga sekebon meluncur.. biar authornya tambah cemangat....... 💃
🔥Violetta🔥: Wah... terimakasih banyak kakak /Grin//Pray/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
langsung ciut🤣
〈⎳ FT. Zira
siap siap bangun dari mimpi dengan seember air yak🤣
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
〈⎳ FT. Zira
Faunai siapa??? apa itu panggilan?
〈⎳ FT. Zira
bicaramu sungguh manis bang/Hammer//Hammer//Hammer/
〈⎳ FT. Zira
tinggikan saja percaya dirimu.. semakin tinggi semakin sakit saat jatuh🤧
W I 2 K
slow Rafael.... baru juga disedot dasar bumi.... belum sedot dasar neraka kan... aman.. aman... aman..
🔥Violetta🔥: astaga 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
dateng zeff... siapa tau kejutannya bikin terkejot.. kejott.... 🤣
🔥Violetta🔥: Zeff langsung guling-guling di ranjang... ehhh 🤭🤭🤭
total 3 replies
W I 2 K
astaga drama apa lagi Rafael... mimpi mana lg yg km mau gapai... nanti jatuh sejatuhnya sakit loh🤭
🔥Violetta🔥: EEEE.... AAAAA 💃💃💃💃🕺🕺🕺🕺
total 7 replies
〈⎳ FT. Zira
Luar biasa..
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍
🔥Violetta🔥: Wah, terimakasih banyak kakak /Pray//Grin/ Semangat juga untuk kakak /Good/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mimpi Rafael ternyata belum berakhir🤧🤧
🔥Violetta🔥: Berakhirnya kalau sudah mau end 🤣🤣🤣
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mokondonya kental dong ya Rafael ini🤧
〈⎳ FT. Zira: rujak biar asem, enak di makan. lah rafael di mana bagian enaknya../Silent//Silent/
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
nikah aja dah.. mending mereka nikah biar gak jadi masalah setelahnya
〈⎳ FT. Zira
puas puasin dah mau ngapain aja gak ada yg larang
〈⎳ FT. Zira
nampar doang mah napa gak berani
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan🤧🤧
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
makin berani aruna🤣
🔥Violetta🔥: Biar Zeff meleleh' 😂😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
percaya saja pada kemampanmu, ada Zef yg siap berdiri di garda depan ini
W I 2 K
sok suci banget Rafael... lah km aja peluk sana peluk sini sm cewek lain loh...
W I 2 K: du du du.... ngalamat viral nanti lipen gosong.... 🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!