NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.

Follow tiktok : aricia.agestis6

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Tetap Perhatian

Bramasta masuk ke dalam rumahnya setelah seharian penuh membantu memantau operasional di kantor Avalanka Group bersama tim Tristan, pikirannya hanya tertuju pada kondisi anaknya.

"Bagaimana kondisi Zarlin, Mel?" tanya Pak Bramasta pada istrinya.

Amelia mengembuskan napas pelan, wajahnya menyiratkan kecemasan seorang ibu.

"Sudah istirahat di kamarnya, Bram. Untung ada Christiana yang menemani dan menjaga dia di atas sejak sore tadi."

Pak Bramasta mengangguk lega "Ya sudah, bagus."

Menjelang malam, suhu tubuh Zarlin yang sempat turun efek suntikan dokter tadi siang justru kembali naik.

Tubuhnya kembali menggigil di balik selimut tebal, membuat Amelia dan Christiana panik.

Christiana langsung membuatkan semangkuk bubur hangat dan membawanya ke kamar Zarlin untuk makan malam. Namun, saat mangkuk itu diletakkan di meja, Zarlin hanya meliriknya dengan tatapan sayu.

"Aku tidak selera makan, Chris. Taruh saja di sana," bisik Zarlin dengan suara serak.

Amelia yang ikut masuk ke kamar segera mengambil alih mangkuk bubur tersebut. Ia duduk di tepi ranjang, menatap anaknya dengan tegas.

"Tidak bisa begitu, Zarlin. Kamu harus minum obat malam ini. Setidaknya makan tiga sendok saja, setelah itu Ibu tidak akan memaksamu lagi."

Zarlin menghela napas pasrah. Dengan sisa tenaganya, ia membuka mulut. Sesuai janji ibunya, tepat setelah sendok ketiga masuk ke perutnya, Zarlin langsung menggelengkan kepala.

Perutnya terasa sakit, rasa mual yang mendalam mulai terasa hingga ia ingin muntah.

Melihat wajah anaknya yang semakin pucat menahan mual, Amelia tidak tega untuk memaksa lebih jauh.

Christiana dengan sigap memberikan segelas air putih hangat dan membantu Zarlin meminum obat penurun demamnya.

Di dalam kamar Zarlin yang luas, terdapat dua tempat tidur berukuran sedang yang sengaja disediakan sejak dulu jika Christiana menginap.

Setelah memastikan Zarlin benar-benar tidur nyenyak, Christiana menghidupkan lampu tidur, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang sebelah Zarlin untuk berjaga semalaman.

...****************...

Di lantai bawah, Pak Bramasta dan Amelia sedang duduk berdua di meja makan untuk menyantap makan malam mereka yang tertunda.

Suasana hening sejenak sebelum Amelia memberitahukan kebingungan yang mengganjal di hatinya sejak sore.

"Bram, tadi sore waktu Tristan mengantar Zarlin pulang... aku perhatikan Zarlin ketus sekali sama dia. Padahal Tristan sudah repot-repot mengantarnya ke rumah sakit dan memapahnya sampai ke kamar. Kenapa anak kita ketus begitu, ya?" tanya Amelia heran.

Pak Bramasta meletakkan sendoknya, lalu menatap istrinya dengan pandangan maklum.

"Wajarlah, Mel. Zarlin itu masih trauma karena kelakuan Theo dulu. Pengkhianatan seperti itu tidak mudah disembuhkan. Jadi, jangan paksa Zarlin dulu untuk membuka hati atau bersikap manis pada pria lain, termasuk Tristan."

Amelia terdiam, perlahan memahami posisi anaknya yang terluka. "Iya juga, ya. Kasihan Zarlin..."

...Ting Tong!...

Pak Bramasta mengerutkan kening melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Siapa yang datang malam-malam begini?"

Saat Pak Bramasta berjalan ke pintu, ia terkejut melihat Tristan yang berdiri memegang sebuah kantong kertas dari toko roti terkenal.

"Tristan? Ada apa malam-malam begini?" tanya Pak Bramasta ramah.

Tristan membungkuk hormat.

"Maaf mengganggu malam-malam, Tuan Bramasta. Saya hanya ingin mengantarkan roti ini untuk Zarlin. Tadi dokter bilang dia harus makan sesuatu yang mudah dicerna, jadi saya berinisiatif membelikannya. Bagaimana kondisinya sekarang?"

Pak Bramasta tersenyum melihat perhatian pria muda di hadapannya.

"Demamnya sempat naik lagi tadi, tapi sekarang sudah tidur setelah minum obat. Masuklah, antarkan saja langsung ke kamarnya. Di atas ada Christiana yang menjaganya."

"Baik, terima kasih, Tuan."

Tristan menaiki tangga menuju kamar Zarlin. Ia mengetuk pintu itu dengan pelan agar tidak mengejutkan orang di dalam.

Pintu terbuka sedikit, menampilkan sosok Christiana yang tampak terkejut melihat kedatangan Tristan di jam seperti ini.

"Tuan Tristan?" bisik Christiana pelan, agak canggung.

"Saya hanya mengantar roti untuk Zarlin. Boleh saya masuk sebentar?" tanya Tristan dengan suara rendah.

Christiana mengangguk dan membuka pintu lebih lebar. Tristan masuk dengan hati-hati. Ia melihat Zarlin yang sedang memejamkan mata dengan kening yang sesekali berkerut, tampak tidak tenang dalam tidurnya.

Tristan meletakkan kantong roti itu di atas meja, tepat di sebelah mangkuk bubur yang tersisa. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap wajah pucat Zarlin dengan tatapan yang sulit diartikan.

Zarlin membuka matanya yang sayu, dan hal pertama yang ia lihat adalah sosok Tristan yang berdiri di dekatnya.

Zarlin seketika mengernyitkan dahi. Rasa tidak nyaman langsung terpancar dari wajahnya. Badmood-nya kembali naik saat melihat pria itu lagi.

"Kenapa kamu di sini lagi, Tristan? Kan sudah kukatakan sore tadi untuk pulang," ketus Zarlin.

Tristan tidak marah. Pria itu justru memberikan senyuman tipis yang sangat tenang, seolah sudah kebal dengan penolakan Zarlin.

"Aku hanya mengantarkan roti untukmu. Dimakan besok pagi setelah bangun, ya."

Zarlin memutar bola matanya, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Tristan, menarik selimutnya hingga sebatas bahu tanpa membalas ucapan pria itu lagi.

Tristan mengembuskan napas pelan, lalu menoleh ke arah Christiana yang sejak tadi hanya berdiri diam.

"Tolong jaga dia, Chris. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya."

"Baik, Tuan Tristan," jawab Christiana dengan anggukan patuh.

Tristan menatap punggung Zarlin sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari kamar dan menutup pintu dengan rapat.

...****************...

Setelah Tristan pergi, Zarlin membalikkan badannya kembali, menatap Christiana yg masih berdiri.

Christiana mendekat, lalu duduk di tepi ranjang Zarlin. Ia menatap wajah sahabatnya dengan ragu-ragu sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Nona... kalau boleh saya tahu, kenapa Nona ketus sekali kepada Tuan Tristan? Padahal sebelum-sebelumnya hubungan kerja sama kalian baik-baik saja," tanya Christiana dengan suara selembut mungkin.

Mendengar kata "Nona" keluar dari mulut Christiana di saat kepalanya sedang berdenyut pening, badmood Zarlin langsung menaik lagi.

"Chris, sudah berapa kali kubilang? Jangan panggil aku Nona kalau kita sedang berdua seperti ini. Aku sedang sakit, kepalaku pusing, dan mendengar panggilan formal itu malah membuatku semakin tertekan," potong Zarlin ketus, memijat kepalanya sendiri.

Christiana terdiam, merasa bersalah. Ia menundukkan kepalanya. Namun, setelah sekian lama menahan diri demi profesionalitas, kali ini Christiana akhirnya mengalah demi ketenangan jiwa sahabatnya.

"Maaf... Zarlin. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal," ucap Christiana lirih.

Mendengar panggilan itu, ekspresi wajah Zarlin perlahan melunak.

Zarlin mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada bantal. Matanya mulai berkaca-kaca saat menatap Christiana.

"Aku tidak bisa, Chris... aku masih sangat trauma," bisik Zarlin dengan suara bergetar, air matanya perlahan turun pada pipinya yang pucat.

"Kalian semua... tolong mengertilah posisiku sekarang."

Christiana langsung menggenggam jemari Zarlin yang terasa dingin, mendengarkan dengan penuh empati.

"Pernikahanku dengan Theo selama tiga tahun kemarin itu rasanya sia-sia, Chris. Semuanya berakhir dengan pengkhianatan yang menjijikkan," lanjut Zarlin dengan nada frustrasi, menahan sesak di dadanya.

"Dan sekarang, di saat lukaku belum sembuh, datang Tristan yang bersikap tidak sabaran seperti itu. Dia terus-menerus mengejarku, masuk ke dalam hidupku dengan segala perhatiannya. Aku lelah, Chris. Aku merasa sangat tertekan."

Zarlin menyeka air matanya, menarik napas panjang yang terasa menyakitkan.

"Untuk saat ini, aku hanya ingin menjauh dari laki-laki manapun. Aku tidak mau terlibat dalam hubungan romansa apa pun lagi. Apalagi... karena memikirkan tingkah laku laki-laki, fisikku sampai drop dan sakit seperti ini. Aku benar-benar muak." ujar Zarlin sesuai dengan isi hatinya.

Christiana merasakan ikut sedih melihat sahabat yang biasanya selalu tegap berdiri memimpin perusahaan, kini tampak begitu rapuh dan hancur di hadapannya.

Ia merapatkan duduknya, lalu menarik Zarlin ke dalam pelukan hangatnya, mengusap punggung Zarlin.

"Iya, Zarlin. Aku paham. Maafkan aku karena sudah bertanya hal yang salah," ucap Christiana menenangkan.

"Mulai sekarang, fokus saja pada kesembuhanmu dan perkembangan Aricia International. Jangan pikirkan Tuan Tristan dulu. Ada aku di sini yang akan selalu menjagamu."

Zarlin menangis pelan di pelukan Christiana, meluapkan seluruh rasa sesak, trauma, dan tekanan yang ia rasakan belakangan ini.

Setelah emosinya benar-benar terkuras habis, perlahan tangis Zarlin mereda. Efek obat penurun demam kembali mengambil alih kesadarannya, membuat matanya terasa ngantuk berat.

Christiana membantu Zarlin untuk kembali berbaring dengan nyaman, lalu menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada.

Setelah memastikan Zarlin kembali tertidur, Christiana kembali menuju ranjangnya sendiri yang berada tepat di sebelah ranjang Zarlin.

Sementara di luar sana, Tristan yang baru saja memasuki mobilnya di area parkir, menatap ke arah jendela kamar Zarlin yang lampunya sudah dimatikan.

Sikap cuek dan penolakan keras dari Zarlin malam ini tidak membuatnya menyerah. Justru, hal itu semakin memicu tekad di dalam dirinya.

1
Mommy tulipp
Wajar Paulus, anak sprti itu memang harus dikasih paham👍
Mommy tulipp
Paulus menganggap dia orang tua yg gagal💔
Mommy tulipp
Jangan Pak Bram, kau memang setulus itu kpd sahabatmu, tapi melakukan kekerasan tdk membuat masalah selesai. Tahan emosi Pak Bram, ini semua gara2 Theo. Kok ada lah manusia sprti ini, tdk habis pikir Ya Allah
Mommy tulipp
Sadar Theo, kamu termakan cinta bodoh
🔵 MULIANA💦
memangnya kamu yang bodoh, gak teliti dalam semua hal 🫣
🔵 MULIANA💦
sekarang baru takut /Proud/
Tulisan__mawar
Mau pergilah, ngapain diam aja. heleh kekayaan istrimu lebih dari kamu, dia bukan wanita sambarangan yang bisa kamu sakiti terus menerus. idih, najis banget. katanya kaya, sewa art aja susah maunya zarlin. dia istrimu theo falcon bukan babu ibu dan sekertaris mu, gitu dong. kasih sianida aja di makanan mereka bertiga😤😫☺️
Aquarius97 🕊️
please yah, sabar dikittt lagi 😤
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
jadi malu kan kalian berdua sekarang
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
namanya nasib nggak ada yang tau
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
makanya jadi orang jangan rendahin orang lain
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
roda pasti berputar, itu kata orang tua dulu
Kak Umi
Karena ceritanya menarik, maka berlanjutlsh🙏🙏
Kak Umi
😍😍😍😍😍😍😍😍
Kak Umi
Lanjut lanjutkan 🙏🙏🙏
Kak Umi
Hay, aku datang turut meramaikan, datang juga turut meramaikan novel aku🙏🙏
Cimol krispy
bener banget tuh, Zarlin butuh menyembuhkan mentalnya dulu yang sudah dihancurkan habis2an oleh Theo
-Thiea-
kata-kata mu menohok hati neng zarlin.😁
-Thiea-
istirahat dulu atuh neng. yang lain bisa diawasi sama Tristan dan cristiana . bapakmu juga bisa membantu.
-Thiea-
duduk apanya neng. udah mau pingsan gitu. kamu harus sehat untuk hadepin mantan suami gila mu zarlin. ayok, turutin Tristan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!