Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Dibalut jubah mandi yang cukup tebal, Baskara duduk sambil menghisap rokok di balkon depan kamarnya.
Kebiasaan lama yang sudah ditinggalkan sejak 5 tahun lalu kembali menggoda saat Baskara menemukan sebungkus rokok di laci meja kerjanya. Niat hati ingin satu dua batang akhirnya jadi lima. Empat sudah di dalam asbak dan yang kelima sedang dinikmatinya.
Mendekati penghujung hari hembusan angin semakin kencang dan mulai terasa dingin tapi Baskara tidak peduli meski sadar kalau tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
Sudah lebih dari 3 bulan pikirannya terombang-ambing dalam kebimbangan dan hatinya berperang antara iya dan tidak.
Bukan karena kehilangan Fanny atau terbebani dengan urusan Daisy dan Lily tapi sama seperti 7 tahun yang lalu, Baskara kembali dibuat stres oleh SAVIRA.
Tujuh tahun yang lalu Baskara dibuat patah hati saat Savira memutuskan untuk pergi ke Perancis karena selama 5 tahun mereka berpacaran, Deswita belum juga memberikan restu.
“Aku cuma memberitahu, bukan minta pendapatmu !” ketus Savira.
Baskara menghela nafas, mengumpulkan kesabaran untuk membujuk Savira supaya membatalkan rencananya.
“Berapa lama ? Kamu tahu kan bagaimana aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Savira malah berdecih sambil tersenyum sinis. “Yang kamu butuhkan hanya tante Deswita, buktinya sudah 5 tahun kita pacaran kamu belum juga berhasil membuat mamamu menerimaku.”
“Untuk masalah mama saat ini aku hanya bisa minta maaf dan berharap kamu bisa lebih sabar menunggu. Aku yakin sebentar lagi hati mama pasti luruh.”
“Nggak bosan mengucapkan kata-kata yang sama selama 5 tahun ?” sindir Savira. “Aku saja yang mendengarnya sudah muak dan tidak yakin ucapanmu bisa jadi kenyataan.”
Baskara menahan geram, mengepalkan kedua tangan di samping badannya namun bibirnya masih berusaha tersenyum.
“Aku capek menunggu kepastian darimu Bas. Sebagai perempuan masalah umur penting bagiku beda sama laki-laki, biar tua masih bisa dapat daun muda.”
Hubungan yang sempat putus kembali terjalin dua tahun lalu. Savira yang tahu kalau pernikahan Baskara dan Fanny tidak baik-baik saja, hanya sekedar di atas kertas, mulai mendekati Baskara.
Perasaan cinta yang tersembunyi di dalam lubuk hati Baskara mencuat kembali, jauh lebih kuat daripada rasa sakit saat ditinggal pergi dan mendapat berita kalau Savira bertunangan di Perancis.
Bila ditanya apa yang menjadi alasan Baskara bisa kembali pada Savira, pria itu tidak akan bisa menjawabnya.
Sayangnya setelah kembali menjalin kasih, ada rasa yang tidak bisa Baskara ungkapkan dengan kata-kata tentang Savira.
Desakannya yang semakin gencar untuk segera menikah setelah Fanny meninggal membuat Baskara merasa tidak nyaman apalagi Savira tahu kalau dalam pernikahan Baskara dan Fanny ada Daisy dan Lily.
Meski masalah umur tidak pernah disinggung oleh Savira tapi firasat Baskara mengatakan ada alasan lain di balik paksaan orangtua Savira supaya Baskara menikahi putri mereka secepatnya.
Baskara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Hati kecilnya masih bekum bisa diajak kompromi untuk menikah dengan Savira padahal keinginan itu adalah mimpinya 7 tahun yang lalu.
*****
“Pagi Tante.”
“Pagi Tante Ara.”
Andara menautkan kedua alisnya, bingung karena beberapa teman Daisy memanggilnya “tante” padahal jelas-jelas selama acara parenting day dirinya dipanggil kak Ara.
Tapi Daisy yang berdiri di sampingnya malah cekikikan sambil menutup mulut. Saat Andara bertanya lewat tatapan matanya, Daisy malah mengangkat kedua bahunya sambil senyum-senyum.
“Udah nggak apa-apa, dipanggil tante juga masih oke kok,” ujar Daisy sambil menaik turunkan alisnya.
“Anak nakal !” Andara yang mulai mengerti siapa penyebabnya menjawil hidung Daisy yang senyum-senyum.
“Jangan lupa jemput Sisi, TANTE ARA.” Mata Ara mendelik saat Daisy sengaja menekankan panggilannya dengan wajah jahil.
Andara menyipitkan mata, ekspresi seperti orang sedang menimbang-nimbang sesuatu.
“Pokoknya Sisi nggak mau tahu, tante Ara harus jemput ! Sisi sekolah dulu. Daaahh tante Ara. Dadaahh Lily.”
Andara tersenyum sambil melambaikan tangan pada Daisy yang berlari kecil menuju kelasnya. Para pengantar tidak diperkenankan masuk ke dalam, kecuali untuk anak-anak pre school.
Setelah bel berbunyi dan Daisy masuk ke kelas, sambil menggendong Lily, Andara menuju ke parkiran mobil. Rencananya ia ingin mampir ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Siapa tahu Andara perlu menyiapkan makanan lagi untuk Baskara.
Langkah Andara terhenti saat seorang perempuan menghalangi langkahnya.
“Permisi.” Andara mencoba melewati perempuan itu tapi lengannya malah ditahan.
“Maaf, apa kita saling kenal ?”
Wanita itu membuka kacamata hitamnya. Firasat Andara langsung mengatakan kalau manusia yang berdiri di hadapannya pasti ada hubungan dengan Baskara.
“Saya calon istri Baskara.”
“Ooohhh.” Andara mengangguk-angguk. “Saya Andara.”
Yakin kalau niatnya bersalaman tidak akan digubris, Andara tidak mengulurkan tangan saat memperkenalkan diri.
“Ada yang bisa saya bantu ?”
“Dimana tuanmu ?” Andara malah menautkan kedua alisnya.
Mengaku calon istrinya Pak Bas tapi kok nggak tahu dimana calon suaminya dimana. Apa jangan-jangan dia juga nggak tahu kalau pak Bas lagi sakit.
“Saya tidak tahu Nona. Sudah lebih dari 3 bulan saya bekerja di rumah pak Bas tapi belum pernah sekali pun saya bertemu beliau.”
“Jangan bohong !” bentak Savira dengan volume suara yang langsung menarik perhatian orang di sekitar mereka.
“”Aku pernah melihatmu bersama Rio dan kalian sangat akrab jadi aku yakin kamu pasti tahu dimana Baskara sekarang.”
Andara menghela nafas. “Pak Rio menemui saya karena diperintah oleh bu Deswita bukan pak Baskara. Kalau nona tidak percaya silakan datang ke rumah dan tanyakan pada pelayan lainnya apakah pak Bas pernah pulang selama saya bekerja di sana.”
Dalam posisi tegak berdiri dan kedua tangan bertolak pinggang, Savira menelisik Andara dari unung rambut ke ujung kaki.
“Rupany tante Deswita menyuruh kamu jadi penggantinya Fanny,” sinis Savira.
Bukannya takut Andara malah tertawa sambil memegangi Lily supaya guncangan badannya tidak membangunkan bayi yang sejak tadi tidur.
“Beraninya kamu menertawakan aku !” geram Savira.
“Habis mbak lucu banget sih !”
”Berani banget kamu panggil aku mbak ! Sejak kapan kita bersaudara !”
Andara tidak peduli dengan omelan Savira.
“Mbak Savira ini aneh.”
“Darimana kamu tahu namaku ?”
“Pak Rio dan bu Deswita.”
“Lalu kenapa kamu tertawa ?”
“Habis mbak Savira aneh. Gimana ceritanya orang secantik mbak, keren dan anak orang kaya pula, bisa menganggap saya sebagai saingan bahkan merasa terancam.”
“Tutup mulutmu !”
Getaran handphone Andara memutus percakapan. Mata Savira menyipit, mencoba melihat tulisan yang ada di layar.
Tiba-tiba saja benda pipih itu berpindah ke tangan Savira dan tanpa permisi ia langsung menekan tombol hijau.
“Ra, ke tempat pak Bas sekarang ! Kamu…”
“Kembalikan handphoneku !” Pekikan Andara membuat Rio tidak melanjutkan ucapannya malah memutus sambungan telepon.
“Berani-beraninya kamu mengambil barang orang tanpa ijin !” omel Andara sambil melotot.
“Dan kamu sudah nekad berbohong !” balas Savira sambil melotot pula.
BRAK !
“Uuuppsss !”
Andara terkejut saat handphonenya sengaja dibuang ke aspal dan hatinya langsung mendidih melihat benda itu hancur berantakan.
“Brengsek kamu !” Sekuat tenaga Andara mendorong Savira hingga terjembab ke aspal.