Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Tidak Saling Mengenal
Tepat pukul 06.45 pagi, Anya sudah berdiri di depan meja barunya yang terletak persis di luar ruangan CEO Alfarezel Group. Ia mengenakan kemeja biru langit yang dipadukan dengan celana kulot hitam berpotongan tinggi. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menampilkan leher jenjangnya yang putih.
Anya tidak ingin memberi celah sedikit pun bagi Devan untuk memecatnya di hari pertama.
*Ting.*
Pintu lift khusus eksekutif terbuka. Langkah kaki yang mantap dan berirama terdengar menggema di lorong yang sunyi. Anya langsung menegakkan posisi berdirinya.
Devan berjalan dengan aura yang begitu mendominasi, dikawal oleh dua orang sekretaris senior dan seorang pengawal pribadi. Pria itu mengenakan setelan jas tiga potong berwarna abu-abu gelap, terlihat sangat mahal dan pas di tubuh tegapnya. Wajahnya sedingin es, matanya lurus menatap ke depan tanpa menoleh sedikit pun.
Saat melewati meja Anya, Devan berhenti mendadak. Atmosfer di sekitar tempat itu seketika terasa mencekam.
"Jadwal saya hari ini," ucap Devan tanpa memandang Anya. Suara baritonnya terdengar seperti perintah mutlak yang tak boleh dibantah.
Anya dengan cekatan meraih gawai tablet di mejanya, melangkah satu jengkel mendekat dengan sikap formal. "Selamat pagi, Pak Devan. Jadwal Anda hari ini dimulai dengan rapat internal divisi pemasaran pukul delapan, dilanjutkan makan siang bisnis dengan perwakilan dari Wijaya Corp pukul dua belas, dan peninjauan proyek pembangunan di Jakarta Selatan pada pukul empat sore."
Devan memutar tubuhnya perlahan, menatap Anya dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang dingin.
"Kau melewatkan satu hal, Nona Anya," desis Devan, matanya menyipit. "Kopi hitam saya harus sudah ada di atas meja sebelum saya masuk. Dan saya tidak suka kopi dari mesin otomatis."
Anya menahan napas sesaat. Ia tahu Devan sedang sengaja mencarinya masalah. "Kopi Anda sudah siap di dalam, Pak. Seratus persen biji kopi arabika pilihan, diseduh manual dengan suhu air sembilan puluh derajat, tanpa gula. Persis seperti preferensi Anda yang tertera di dokumen panduan internal."
Mendengar jawaban tak terduga itu, kilat keterkejutan melintas sangat cepat di mata Devan. Ia tidak menyangka Anya akan membaca dokumen panduan sedetail itu di hari pertamanya.
"Bagus. Jangan buat saya kecewa," ucap Devan dingin, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya yang megah.
Sepanjang siang itu, Anya menyadari bahwa bekerja untuk Devan Alfarezel adalah definisi dari sebuah siksaan mental. Pria itu adalah seorang perfeksionis yang tidak mengenal toleransi.
"Laporan ini salah ketik di halaman empat. Tulis ulang."
"Analisis pasar ini terlalu dangkal. Buat yang baru dalam waktu tiga puluh menit."
"Jadwalkan ulang pertemuan dengan investor besok pagi, tapi jangan ubah jam istirahat saya."
Setiap perintah yang keluar dari bibir Devan selalu bernada menuntut dan menindas. Setiap kali Anya mengantarkan berkas ke dalam ruangan, suasana selalu terasa sangat canggung dan tegang, dipenuhi dengan perang urat saraf lewat tatapan mata. Anya tahu Devan sedang menguji batas kemampuannya, mencoba membuatnya menyerah dan menangis agar bisa mendepaknya dengan alasan tidak kompeten.
Namun, Devan meremehkan daya juang seorang Anya Anandita. Semakin keras Devan menekannya, semakin gigih Anya membuktikan bahwa ia bisa menyelesaikan semua tugas itu dengan sempurna tanpa cela.
Sore harinya, tepat pukul lima setelah Devan kembali dari peninjauan proyek, Anya mengetuk pintu ruangan CEO untuk mengantarkan dokumen terakhir yang harus ditandatangani.
"Ini berkas laporan proyek yang sudah direvisi, Pak," kata Anya, meletakkan map kulit itu di atas meja Devan dengan gerakan anggun.
Devan mengambil pulpen setnya, namun alih-alih menandatangani, ia justru menatap Anya yang berdiri tegak di depan mejanya. Wajah wanita itu tampak sedikit lelah, namun sepasang matanya tetap memancarkan binar ketegaran yang luar biasa.
"Kau cukup bertahan, Anya," ucap Devan dengan nada yang sedikit melunak, meski tetap terdengar datar.
"Saya bekerja untuk menghidupi keluarga saya, Pak. Saya tidak punya kemewahan untuk menyerah hanya karena atasan saya sedikit... menuntut," balas Anya dengan penekanan halus pada kata 'menuntut'.
Devan meletakkan pulpennya kembali, bersedekap dada sambil menyandarkan punggungnya. "Sedikit menuntut? Kau boleh jujur, kau pasti mengumpat di dalam hatimu sejak tadi pagi."
"Profesionalitas saya melarang saya untuk mengumpat pada orang yang membayar gaji saya, Pak Devan," sindir Anya dengan senyum formal yang dipaksakan.
Devan menatapnya lekat-lekat selama beberapa detik, menciptakan keheningan yang sarat akan ketegangan di antara mereka berdua. "Bagus kalau kau sadar posisi. Di kantor ini, kita tidak saling mengenal secara pribadi. Kau adalah asisten, dan aku adalah bosmu. Mengerti?"
"Sangat mengerti, Pak."
Anya membungkuk hormat, lalu berbalik untuk keluar. Namun, tepat saat ia melangkah menuju pintu, ponsel di dalam saku celananya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor pihak rumah sakit.
Nona Anya, ini peringatan terakhir. Jika malam ini tidak ada pembayaran minimal sebesar tiga puluh juta rupiah, kami terpaksa membekukan fasilitas medis darurat untuk Ibu Anda dan melimpahkan berkas utang ke tim hukum.
Langkah kaki Anya seketika terhenti. Tubuhnya menegang, dan wajahnya mendadak pucat pasi. Realita pahit kembali menghantamnya dengan telak tepat di saat ia mengira bisa bertahan hari ini.
Di belakangnya, Devan yang mengamati perubahan drastis pada gestur tubuh Anya, perlahan menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Umpan yang ia tunggu-tunggu tampaknya telah mulai memakan korban.