Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Mogok Kuliah
Sementara itu...
Di lantai atas, pintu kamar Queen terkunci rapat. Gadis itu tengkurap di atas tempat tidur sambil memeluk bantal erat. Bahunya sesekali bergetar. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.
Queen tidak tahu harus marah kepada siapa. Kepada Mamanya, pada keadaan, atau pada dirinya sendiri yang sama sekali tidak menyadari semua rencana itu.
"Gue nggak ngerti lagi mau mama itu apa sih," gumamnya lirih. Ia memejamkan mata, semua terjadi terlalu cepat.
Pagi tadi ia hanya berpikir akan mengerjakan revisi skripsi. Lalu tiba-tiba ayahnya pulang, Kevin pulang, keluarga Revan datang, dan dalam waktu kurang dari satu jam dirinya sudah dijadwalkan menikah minggu depan.
"Mama nyebelin," isaknya pelan.
Yang paling membuatnya sakit bukan soal Revan. Melainkan karena tidak ada seorang pun yang bertanya pendapatnya terlebih dahulu. Seolah hidupnya bisa diputuskan begitu saja.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar ketukan pelan dari luar kamar.
Queen tidak menjawab.
"Queen." Suara Kevin.
Queen tetap diam.
"Queen, buka pintunya."
"Nggak mau," teriaknya.
Kevin menghela napas dari luar. "Gue masuk ya."
"Nggak usah."
Beberapa detik hening.
Lalu terdengar suara kunci diputar. Kevin ternyata masih menyimpan kunci cadangan kamar adiknya sejak dulu.
Pintu terbuka perlahan. Kevin masuk sambil membawa segelas susu hangat. Begitu melihat adiknya tengkurap memeluk bantal, hatinya langsung terasa tidak enak.
"Masih nangis?"
"Nggak."
"Kalau nggak nangis kenapa suara lo kayak penyanyi yang lagi patah hati?"
Queen langsung melempar bantal kecil ke arahnya.
Kevin menangkapnya dengan mudah. "Tuh kan masih galak."
"Keluar."
"Nggak mau."
"Ka Kevin, gue bilang keluar."
"Gue bilang nggak mau."
Kevin malah menarik kursi belajar dan duduk di dekat tempat tidur.
Queen semakin kesal. "Kak."
"Hm?"
"Gue lagi nggak mau lihat muka siapa-siapa."
"Kan kakak lo ini ganteng dan sayang banget kalau nggak di liat."
Queen langsung memukul kasur.
Kevin terkekeh kecil. Beberapa saat kemudian suasana kembali hening. Kevin memperhatikan wajah adiknya yang sembab. Jujur saja, tadi di bawah ia memang tertawa. Tapi melihat Queen menangis seperti ini membuatnya tidak tega.
"Queen."
"Hm."
"Lo marah sama Mama?"
Queen tidak langsung menjawab.
"Atau marah sama gue."
Queen mengangguk pelan.
Kevin menghela napas. "Oke. Gue terima."
Untuk beberapa saat hanya terdengar suara pendingin ruangan.
Kemudian Queen berkata pelan. "Gue kecewa, Kak."
Kevin menatapnya.
"Kalian semua udah tahu tentang pejodohan gue sama Pak Revan, tapi kenapa cuma gue doang yang nggak di kasih tahu." Suaranya kembali bergetar. "Lo tahu nggak sih Ka, gue tuh jadi kaya orang asing si rumah sendiri."
Kevin langsung terdiam. Karena kali ini ia tidak punya jawaban untuk membantah.
Queen mengusap matanya. "Dan satu lagi, lo tau kan gue udah punya pacar."
"Iya gue tahu."
"Terus kenapa masih mau ngejodohin gue sama Pak Revan. Lagi pula gue belum mau nikah muda."
"Iya Queen gue tahu."
"Skripsi gue aja belum selesai, Ka. Terus tiba-tiba Mama bilang satu minggu lagi gue harus nikah."
Kevin menghela napas panjang. "Queen... jujur ya? Gue juga kaget waktu Mama bilang begitu."
Queen langsung menoleh. "Hah?"
"Iya."
"Serius?" ucap Queen sambil menatap wajah Kevin.
"Serius."
"Jadi, itu bukan ide lo?"
"Astaga, Queen." Kevin sampai tertawa kecil. "Gue masih mikirin perasaan lo kali."
Kini sudut bibir Queen bergerak sedikit. Kevin memperhatikannya lalu tersenyum tipis.
"Nah gitu dong."
"Apa sih lo?"
"Ya seenggaknya jangan nangis terus."
Queen kembali memeluk bantal. "Gue kesel Ka."
"Ya udah, kesel aja dulu," ucap Kevin sambil mengusap kepala adiknya pelan.
Queen mendengus. "Gue serius loh, Ka."
"Iya, gue juga serius."
"Lo nggak pernah serius, lo sama Pak Revan sama-sama ngeselin," ucap Queen sambil cemberut.
"Tapi kita ganteng, ya kan?"
Queen terdiam sejenak, ia memang tidak mengakui kalau Revan itu tampan, tapi entah mengapa kalau ia mengingat wajah Revan, hatinya selalu bergetar. Tapi hati Queen saat ini tetap saja merasa kesal. Karena pria itu selalu menyebalkan di matanya.
Keesokan harinya...
Sinar matahari sudah masuk melalui celah tirai kamar. Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Biasanya di jam segitu Queen sudah bersiap berangkat ke kampus.
Namun hari itu berbeda. Queen masih meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk guling. Matanya masih tertutup rapat. Ia sama sekali tidak berniat bangun.
Tok... Tok... Tok...
"Queen." Suara Ibu Farah terdengar dari luar.
Tidak ada jawaban.
"Queen."
Masih diam.
Ibu Farah membuka pintu perlahan. Begitu masuk, wanita itu langsung menemukan putrinya masih tidur.
Farah menghela napas. "Queen."
"Hmmm..."
"Kamu tidak kuliah?"
"Nggak." Jawabannya cepat sekali.
Farah mengangkat alis. "Kenapa?"
"Nggak mau."
"Queen." Ibu Farah berjalan mendekat.
"Kamu sakit?"
Queen hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa?"
Queen menarik selimut sampai menutupi kepala. "Pokoknya aku nggak mau."
Ibu Farah langsung tahu, anaknya masih marah. Wanita itu duduk di tepi tempat tidur. "Masih kesal ya sama Mama?"
Tidak ada jawaban.
"Queen."
Ia tetap diam. Beberapa detik kemudian terdengar suara pelan dari balik selimut.
"Iya."
Ibu Farah menghela napas. "Kalau marah sama Mama, jangan sampai kuliahnya dikorbankan."
Queen tetap tidak bergerak.
"Queen."
"Aku lagi mogok kuliah."
Ibu Farah hampir tertawa. "Mogok?"
"Iya."
Ibu Farah memijat pelipisnya. "Kamu ini."
"Pokoknya hari ini aku nggak mau ke kampus."
Ibu Farah akhirnya berdiri. "Oke kalau gitu."
Queen sedikit membuka selimut. "Hah?"
"Kalau begitu Mama nggak akan maksa."
Queen justru bingung. Biasanya ibunya pasti akan terus membangunkannya. Namun kali ini Ibu Farah malah berjalan ke arah pintu.
"Tapi."
Queen langsung punya firasat buruk.
Ibu Farah tersenyum tipis. "Kalau nanti Nak Revan tanya kenapa kamu tidak masuk, jawab sendiri ya."
Queen langsung membuka mata. "Mama!"
"Apa?"
"Jangan bawa-bawa Pak Revan."
Ibu Farah terkekeh kecil. Lalu keluar dari kamar, pintu kembali tertutup.
Queen mendesah keras. Lalu kembali menjatuhkan wajahnya ke bantal. "Astaga..."
Kini bahkan mendengar nama Revan saja membuat kepalanya pusing.
Sementara itu...
Di kampus, kelas sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Anggi yang biasanya duduk bersama Queen kini tampak sendirian. Gadis itu beberapa kali melirik kursi kosong di sebelahnya.
"Mana sih Queen, ko tumben belum dateng juga udah jam segini."
Karena biasanya, sekesal apa pun Queen, ia tetap datang ke kampus. Tak lama kemudian pintu kelas terbuka. Revan masuk seperti biasa dengan laptop dan beberapa berkas di tangannya.
"Selamat pagi."
"Pagi Pak."
Perkuliahan segera dimulai. Namun baru beberapa menit menjelaskan materi, Revan menghentikan ucapannya. Pandangannya jatuh ke satu bangku kosong. Bangku Queen.
Alisnya sedikit terangkat. Lalu ia menoleh ke arah Anggi. "Anggi."
"Iya Pak?"
"Queen mana?"
Seluruh kelas langsung menoleh.
Anggi menelan ludah. "Eh..."
Beberapa mahasiswa mulai saling pandang.
Sedangkan Revan masih berdiri tenang di depan kelas. "Dia sakit?"
Anggi menggaruk pipinya. "Nggak tahu saya, Pak."
"Bukannya kamu teman dekatnya?"
Anggi juga bingung dari kemarin dia tidak ada kontek dengan Queen. Bahkan Queen sekarang tidak masuk, Anggi juga tidak tahu.
"Iya sih Pak, tapi kali ini... saya beneran nggak tahu Queen kemana."
"Hm... baiklah, kalau begitu kita mulai saja pelajaran hari ini."
Saling support sabi kali ya😉