NovelToon NovelToon
Rahasia Si Gadis Cupu

Rahasia Si Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Berliana Febbyola

"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.

Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.

Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.

Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"

Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.

Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.

Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 KEDEKATAN YANG TAK DISADARI

Benar saja Ana hampir tertinggal bis. Beberapa 15 menit kemudian, Ana membuka pintu rumah dan terlihat Citra sudah berada di rumah bersama kedua temannya sedang makan di meja makan.

"Oh Na, kamu udah pulang. Ayo makan bareng." sahut Fero rekan kerja sekaligus teman Citra saat diperkuliahan.

Ana menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum, gadis itu langsung naik ke atas untuk pergi istirahat di kamarnya.

Perempuan yang juga teman Citra langsung menyenggol tangan Citra.

"Dia siapa?"

"Adik aku yang kedua, si bungsu Raka belum pulang." jawabnya sambil mulut penuh.

"Ouh... Cantik banget ya." pekiknya, kagum.

Fero tersedak saat mendengarnya, lantas membuat Citra menatap sinis ke arah Fero. Ia pun menunduk.

Di dalam kamar, Ana langsung berganti pakaiannya dan merebahkan badannya yang terasa lelah.

"Hari ini adalah hari yang melelahkan. Dua laki - laki yang akupun nggak mengenalnya, tiba - tiba datang dan membuat kepala pusing." keluh Ana.

Namun, siapa sangka kalau suatu hari ia akan merasakan hal yang tidak pernah ia bayangkan.

Disaat ia ingin menutup matanya, terdengar suara notifikasi grup pesan dari sahabatnya, Sheila.

Isi pesannya :

"Ana. Kamu udah tidur belum? Aku mau kasih tau kamu, kalau besok kita jadi ya nonton bioskop."

Ana yang membaca pesan itu, tersenyum bahagia.

"Hem anak ini benar - benar hangat. Apa suatu hari nanti, kalau aku nggak pakai makeup... Dia masih bisa menerima aku jadi sahabatnya? Mereka pasti kecewa." tanya Ana, mulai khawatir.

___________________________

Pagi harinya, Ana sudah terlihat rapih mengenakan seragam dengan tambahan Sweater Vest berwarna pink.

Menuruni anak tangga, tapi memang pada dasarnya dia gadis ceroboh apapun yang ia lakukan pasti saja jatuh.

"Eh- huaaaa!!"

BRUGH!

Yang pertama ia lihat adalah riasannya bukan luka atau memar pada tubuhnya.

Raka yang melihatnya menggelengkan kepala, "Gimana mau dapat pacar, kelakuannya aja kayak gini. Hem.." celetuknya, lalu kembali melahap roti.

Ana menatap sinis, lalu beranjak bangun sambil merapihkan seragamnya yang sudah disetrika oleh Ayah.

"Selamat pagi... Wuah! Ada roti lapis daging. Ibu lagi banyak uang ya?" tanya Ana, tapi baru sadar ibunya tak ada dimeja makan.

"Ibu kemana?" tanya gadis itu dengan mulut penuh.

"Langsung ke Kedai. Oh iya, Najel em..." jawab Raka.

"Kenapa?"

"Menurut kamu, perempuan kalau udah bosan perilakunya kayak es? Bosan atau nggak sama sekali membalas pesan?" tanyanya dengan tatapan serius.

"Bisa dibilang begitu, si bocil itu ngambek?", tanya balik Ana.

"Nggak." jawab Raka Singkat, dan langsung pergi dan mengajak Ana pergi ke Sekolah bersama.

"Yuk, cepat sarapannya. Aku juga mau naik bis."

Ana melihat dengan wajah penasaran. "Yakin, nih? Tumben banget."

Raka memutar bola matanya dan pergi terlebih dulu.

"Tunggu! Sial-" terburu - buru mengambil ranselnya.

Mereka pun sampai di Gerbang dan berpisah karena Raka masih kelas 11 SMA sedangkan Ana sudah kelas 12.

"Kak, duluan." sahut Raka, membuat teman - temannya langsung merangkul dia dan berbisik karena Ana adalah kakaknya.

"Bro kenalin dong, minta nomor ponselnya." celetuk salah satu teman Raka, yang langsung ditepis Raka dan menatap sinis.

Ana berjalan menuju lorong dan tak sengaja berpapasan dengan Nathaniel yang langsung menyapa sambil membuat keusilan.

"Hei, cewek random! Baru datang ya. Aku mau menagih ucapan maaf." sahutnya, lalu tersenyum miring.

"Masih pagi udah heboh banget." gerutu Ana.

"Heboh?! Kamu berani banget ya sama aku! Ehem, oke gini aja. Sebagai gantinya, kamu harus kerjakan tugas sastra. Katanya, kamu pintar di pelajaran sastra."

"Siapa yang bilang?"tanya Ana terkejut.

"Em.. ya aku cari tahu dong. Hebat kan?"

Ana hanya menghela nafas dan pergi meninggalkan.

"Sial-"

"Bisa - bisanya dia mengabaikan cowok se-ganteng Nathaniel ini." tambahnya angkuh.

Sesampainya di Kelas, terlihat wajah tampan Kai membuat Ana mematung sebentar.

[Kalem, matanya kadang bisa seperti rubah dan bisa juga seperti rusa.]

"Ana. Kenapa kamu diam di depan pintu? Ayo masuk."

Lamunannya terpecah oleh suara Sheila yang cempreng.

"Hah? Oh i-iya.." jawabnya, lalu masuk dan duduk dikursi belakang Sheila.

Ana dan teman - temannya membentuk kelompok pelajaran Kimia dan semua mendapatkan kelompok, Bu Susan memberitahu secara mendadak jika nanti praktek di laboratorium di gabung dengan kelas 12 IPS.

Banyak yang mengeluh karena tidak mau terlalu ramai orang. Banyak juga yang senang karena di kelas tersebut ada cowok populer kedua yakni Nathaniel.

Ana merasa malas, tapi mau bagaimana lagi. Disitu sisi, ia satu kelompok dengan Kai si cowok kulkas 2 pintu dan disana dia akan bertemu lagi dengan Nathaniel preman sekolah yang tengil.

Kelas Ana dan kelas Nathan sudah berada di Lab, Ana mengikuti teman - temannya di belakang. Tiba - tiba...

Sreett..

Nathaniel menarik kursi, meminta Ana untuk duduk disebelahnya. Sudah jelas, tempat duduk sesuai kelompok. Membuat pandangan semuanya tertuju pada mereka berdua. Tatapan tak suka dari Kai melihat tingkah Nathan.

"Dasar nyeleneh." gumam Ana, Nathaniel menggaruk kepala tak gatal.

Ana pun duduk sesuai kelompok yang sudah ditentukan, berisi 5 orang Jeje, Ana, Sheila, Bombom, dan Kai.

Melihat mereka bersama, membuat Nathan tak nyaman.

Apakah karena cemburu?

Bu Susan menjelaskan, lalu semua mengikuti tahapannya begitupun Ana.

Terlihat Ana tidak terlalu pandai dalam mata pelajaran tersebut. Lantas, ia pun mengisi soal dengan jawaban yang salah.

Kai mengambil bukunya lalu menghapus jawaban dari buku Ana.

[Menghela nafas panjang]

Lalu membenarkan jawaban Ana, Ana yang terkejut sekaligus merasa malu. "Kenapa dia diam - diam membenarkan jawabanku? Apa karena aku terlihat sangat bodoh?" batinnya.

"Ana kamu udah selesai?" tanya Jeje.

"Oh, iya udah kok." jawabnya gugup.

Jeje melihat bukunya dan ia tampak tak asing dengan tulisan itu, "Ini kan tulisannya Kai.." langsung melirik ke arah Kai yang sedang memperhatikan guru menjelaskan rumus.

"Kayaknya Kai terlalu peduli sama Ana. Mungkin,, perasaanku aja." tepis Jeje dalam hati, ia sebenarnya mulai curiga dari awal tingkah Kai berbeda.

Kai memperhatikan Ana yang sedang menulis rumus yang ada di papan tulis. "Kamu masih orang yang sama. Tapi, kenapa kamu ingin jadi orang lain?" batin Kai.

Ketika Ana selesai menulis rumus, ia tersadar ada yang sedang memperhatikannya. Melihat ke arah samping, Kai memalingkan pandangannya ke arah lain.

"Dia memperhatikan aku? Atau..." gumamnya bingung.

"Kenapa Ana? Kamu kayaknya dari tadi banyak melamun." sahut Sheila.

"Hem? Nggak kok. Aku baik - baik aja." jawab Ana, lalu tersenyum manis.

"Um.. kamu imut banget." sahut Sheila gemas lalu mencubit pipi Ana perlahan.

Nathan melihat Kai sedikit tersenyum samar, membuat ia mengepalkan kedua tangannya penuh amarah.

"Si ular berbisa itu bisa juga tersenyum diatas penderitaan orang lain." jelasnya.

#Bersambung...

1
Berliana Febbyola
Iya kah? Lebih terpontang panting kalau yang iniiii🤭
NonaMudaDesi
Ceritanya mirip drakor true beauty yah, tapi ini lebih dark nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!