Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12: Jejak yang Tertinggal dan Penyesalan yang Menjerat
Mobil hitam milik Arkan membelah jalanan kota yang masih sepi dan basah oleh embun malam. Di balik kemudi, Arkan menyetir dengan tatapan lurus ke depan, namun pikirannya berputar kacau seolah ada badai besar yang mengamuk di dalam kepalanya. Tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara rahangnya mengeras menahan rasa cemas yang kian memuncak. Ia tidak tahu ke mana arah tujuannya, tidak tahu di mana letak rumah orang tua Nara, dan bahkan tidak yakin apakah gadis itu benar-benar pulang ke rumah ayahnya atau justru pergi ke tempat lain yang jauh lebih asing dan berbahaya.
Arkan merasa dirinya begitu bodoh, begitu kaku dan bebal selama ini. Ia sadar, selama berbulan-bulan Nara tinggal bersamanya, hidup di bawah atap yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di rumah yang sama... ia sama sekali tidak pernah benar-benar mengenal gadis itu. Ia tidak pernah bertanya tentang masa lalu Nara, tentang kebiasaan Nara, tentang teman-temannya, atau tentang tempat yang menjadi rumah aslinya. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, terlalu sibuk memikirkan Kirana dan masa lalu, terlalu sibuk menganggap Nara hanya sebagai bagian dari perjanjian tertulis, hingga ia lupa bahwa Nara adalah manusia biasa yang punya hati, punya perasaan, dan punya hak untuk diperhatikan.
"Di mana kamu, Nara?" bisik Arkan parau, suaranya hilang tertelan suara mesin mobil. "Maafkan aku... maafkan aku yang terlalu buta sampai tidak sadar kalau kamu sudah jadi separuh nyawaku."
Mobil itu akhirnya melambat dan berhenti di pinggir jalan besar yang agak sepi. Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Ia bingung. Ia tidak punya petunjuk apa pun. Hanya ada satu nama yang terbayang di kepalanya saat ini—satu-satunya orang yang mungkin tahu, satu-satunya orang yang selalu ada di dekat Nara dan mungkin menjadi tempat gadis itu bercerita: Bu Inah.
Tanpa buang waktu lagi, Arkan segera mengambil ponselnya, jari-jarinya gemetar saat menekan nomor telepon pengurus rumah tangga itu. Rasanya waktu berjalan begitu lambat saat nada sambung terdengar berulang kali. Arkan menatap layar ponsel itu dengan napas tertahan, berharap Bu Inah mengangkat panggilannya di tengah jam yang masih sangat pagi ini.
"Halo... Tuan Arkan?" Suara Bu Inah terdengar serak dan bingung di seberang telepon, sepertinya wanita itu baru saja terbangun dari tidurnya. "Ada apa, Tuan? Ini sudah pagi tapi belum benar-benar terang..."
"Bu Inah!" seru Arkan cepat, nadanya terdengar panik dan mendesak. "Maaf mengganggu jam istirahat Ibu, tapi ini penting sekali. Ibu... Ibu tahu kan di mana rumah orang tua Nara? Di mana alamat lengkapnya? Atau ada tempat lain yang biasa Nara kunjungi kalau dia sedang sedih atau ingin pergi sendiri?"
Di ujung telepon, hening sejenak. Arkan bisa merasakan keraguan yang menyelimuti hati Bu Inah. Wanita itu pasti tahu apa yang terjadi, pasti sudah melihat kepergian Nara, dan pasti tahu betapa sakit hati majikannya itu meninggalkan rumah ini.
"Bu Inah, tolong aku..." pinta Arkan lagi, suaranya melemah dan terdengar memelas, jauh dari nada bicara tegas seorang tuan rumah yang biasa didengar Bu Inah. "Nara pergi, Bu. Dia meninggalkan surat dan pergi malam-malam. Aku tidak tahu dia ke mana. Aku takut terjadi apa-apa sama dia. Aku harus menemukannya, Bu... aku harus minta maaf."
Ada suara napas panjang dari seberang, lalu Bu Inah akhirnya berbicara dengan nada pelan namun tegas.
"Saya sudah menduga hal ini akan terjadi, Tuan. Hati Nara itu lembut, tapi kalau sudah terluka, dia bisa sekeras karang. Tuan tidak pernah sadar betapa besar pengorbanan Nara selama ini. Dia diam saja, dia tersenyum saja, padahal hatinya menangis setiap kali melihat Tuan bersama Mbak Kirana." Suara Bu Inah sedikit bergetar, penuh rasa kecewa pada Arkan. "Tapi baiklah... saya akan berikan alamat rumah Ayahnya. Nara pernah menuliskannya di secarik kertas dulu, kalau-kalau ada keperluan mendadak. Rumah mereka tidak terlalu besar, letaknya di daerah pinggiran kota, dekat pemakaman umum lama."
Bu Inah menjelaskan alamat itu dengan rinci. Arkan mendengarkan sambil menghafal setiap kata, setiap belokan jalan, seolah itu adalah satu-satunya peta jalan menuju keselamatan hidupnya. Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali dan mematikan sambungan telepon, Arkan kembali menyalakan mesin mobilnya dengan semangat baru. Ada tujuan sekarang. Ada harapan.
Namun di rumah besar itu, di balik jendela kamar tamu di lantai bawah, Kirana berdiri diam menyaksikan mobil Arkan yang perlahan menghilang di tikungan jalan. Wajahnya yang tadi sempat basah oleh air mata kini berubah menjadi dingin dan penuh amarah yang tertahan. Tangannya mencengkeram gorden jendela dengan kuat hingga kain itu sedikit terlipat kusut.
Dia tidak menyangka. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa kehadirannya yang ia banggakan, cinta masa lalu yang ia anggap tak tergantikan, ternyata kalah telak oleh keberadaan gadis pendiam yang ia remehkan itu. Kirana pikir, dengan menyingkirkan Nara dari pandangan Arkan, dia akan dengan mudah mengembalikan segalanya seperti dulu. Dia pikir, begitu Nara pergi, Arkan akan kembali padanya, kembali menjadi pria lembut yang selalu menurutinya. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Kepergian Nara malah membuka mata Arkan sepenuhnya, membuat pria itu sadar siapa yang sebenarnya ada di hatinya.
"Kamu salah, Arkan..." bisik Kirana dingin, matanya berkilat tajam oleh dendam yang mulai tumbuh subur. "Kamu pikir dengan mengejar dia, semuanya akan baik-baik saja? Kamu pikir kamu bisa begitu saja membuang aku setelah aku berjuang mati-matian mempertahankan hubungan kita selama lima tahun? Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersama wanita lain. Nara... gadis itu adalah kesalahan terbesar yang masuk ke dalam hidupmu, dan aku akan memastikan dia tidak pernah punya kesempatan untuk kembali lagi."
Kirana berbalik badan, berjalan menuju meja rias di kamar itu. Ia mengambil ponselnya, menekan beberapa nomor dengan jari-jarinya yang ramping namun penuh rencana jahat. Jika Arkan memilih jalan yang salah, maka Kirana akan memastikan bahwa jalan itu penuh duri dan rintangan yang tak akan bisa mereka lewati.
Sementara itu, mobil Arkan terus melaju menembus jalanan yang semakin lengang menuju pinggiran kota. Semakin jauh ia melaju, semakin sederhana bangunan-bangunan yang ia lewati, hingga akhirnya jalan aspal berganti menjadi jalan berbatu yang agak rusak. Arkan mengerutkan kening. Ia tidak pernah membayangkan Nara berasal dari lingkungan seperti ini. Selama ini, di matanya, Nara selalu tampil rapi, sopan, dan terlihat anggun, membuatnya mengira keluarga gadis itu setara dengan status sosialnya. Tapi melihat sekitarnya sekarang, Arkan sadar betapa besar pengorbanan Nara saat bersedia menikah dengannya—meninggalkan kenyamanan rumahnya sendiri, meski sederhana, untuk masuk ke dalam rumah mewah yang ternyata baginya hanyalah penjara emas yang sepi dan menyakitkan.
Akhirnya, di ujung jalan kecil yang berdebu itu, Arkan melihat sebuah rumah kecil berdiri sederhana. Dindingnya berwarna putih kusam, atapnya dari genteng tanah liat yang sebagian sudah tampak tua, dan halamannya tidak terlalu luas, hanya ada beberapa tanaman hias yang ditanam dalam pot di teras. Itu pasti rumahnya. Jantung Arkan berdegup kencang, campuran antara rasa lega karena akhirnya sampai, dan rasa takut yang luar biasa. Takut Nara menolaknya. Takut Nara sudah pergi lebih jauh lagi. Takut ia terlambat.
Arkan mematikan mesin mobil. Suasana di sekitar rumah itu hening, hanya terdengar suara ayam berkokok di kejauhan dan angin pagi yang berhembus pelan. Ia turun dari mobil, melangkah perlahan mendekati pagar kayu rendah yang terbuka. Kakinya terasa berat sekali, seolah ada beban berton-ton yang mengikatnya. Di setiap langkahnya, bayangan wajah Nara berkelebat—wajah yang tersenyum malu-malu, wajah yang menunduk sedih, wajah yang menatapnya penuh pengertian saat ia sedang kacau, dan wajah yang penuh air mata saat berlari menaiki tangga kemarin sore, saat Kirana dengan tegas mengusir keberadaannya.
"Maafkan aku, Nara..." gumam Arkan lagi, kali ini lebih pelan.
Belum sempat Arkan mengetuk pintu kayu yang tertutup itu, pintu itu terbuka dari dalam. Seorang pria paruh baya dengan wajah tegas namun tampak lelah berdiri di sana. Pak Haris, ayah kandung Nara. Pria itu menatap Arkan lekat-lekat, dari ujung rambut hingga ujung kaki, menilai sosok menantu yang selama ini menjadi kebanggaan sekaligus sumber kekhawatiran terbesar bagi putrinya. Di belakangnya, terlihat sosok wanita paruh baya lainnya—Ibu Nara—yang menatap Arkan dengan pandangan sedih namun penuh waspada.
"Pak Haris..." panggil Arkan pelan, menundukkan kepalanya hormat namun penuh rasa bersalah. "Maaf... maafkan kedatangan saya yang tidak diberitahu dan di jam yang tidak tepat ini. Saya... saya mencari Nara. Apakah dia ada di sini? Tolong, Pak... biarkan saya bertemu dengannya sebentar saja. Saya harus bicara sama dia. Saya harus minta maaf."
Pak Haris menghela napas panjang, lalu membuka pintu pagar itu sedikit lebih lebar, memberi isyarat agar Arkan masuk ke teras rumah yang sempit itu. Wajah pria tua itu terlihat kecewa sekali.
"Masuklah, Mas Arkan. Tapi bersiaplah... mungkin apa yang akan kamu dengar dan lihat di sini, tidak akan sesuai dengan keinginanmu," ucap Pak Haris dengan suara berat.
Arkan melangkah masuk. Ia duduk di kursi kayu tua di teras itu. Ibu Nara berjalan masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa, meninggalkan suaminya dan Arkan berdua saja.
"Kamu mencari Nara, ya?" tanya Pak Haris memulai pembicaraan, menatap lurus ke mata Arkan. "Nara pulang kemarin malam. Sudah larut sekali. Dia datang dengan mata bengkak, wajahnya pucat, dan tas kecil di tangannya. Dia tidak banyak bicara saat masuk. Dia hanya memeluk ibunya sangat erat, seperti orang yang ketakutan, lalu masuk ke kamar kecilnya di belakang rumah dan mengunci pintu dari dalam."
Jantung Arkan serasa berhenti berdetak. Jadi Nara benar-benar ada di sini. Dia pulang dalam keadaan hancur lebur karena ulahnya.
"Dia bilang apa, Pak? Dia bilang kenapa dia pulang?" tanya Arkan cemas.
Pak Haris mengangguk pelan, menatap langit yang mulai memerah di ufuk timur. "Dia bilang... kontraknya sudah selesai. Dia bilang dia tidak bisa lagi bertahan di tempat di mana keberadaannya tidak diinginkan, di mana dia hanya dianggap sebagai pengganggu kebahagiaan orang lain. Dia bilang, dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi istri yang baik, untuk mengerti posisinya, untuk menerima segalanya... tapi ternyata, hati manusia itu punya batas kemampuan menahan rasa sakit, Mas Arkan."
Pak Haris kembali menatap Arkan, kali ini dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Kami tahu perjanjian ini dari awal. Kami tahu Nara menikahimu bukan karena cinta, tapi karena membantu kami dan membantu perusahaan keluargamu. Tapi sebagai orang tua, saya tetap berharap... walau awalnya hanya kontrak, perlahan akan tumbuh rasa hormat dan kasih sayang di antara kalian. Saya berharap kamu bisa menjaga anak perempuan saya satu-satunya ini dengan baik, meski hanya sebagai teman atau saudara. Tapi ternyata... saya salah besar. Saya mengirim anak saya ke rumah mewah itu, berharap dia hidup lebih enak, ternyata saya mengirimnya ke tempat di mana hatinya dihancurkan berkeping-keping setiap hari."
Air mata menetes di pipi Arkan. Ia tidak sanggup menatap wajah ayah mertuanya itu. Ia merasa begitu rendah, begitu hina, begitu tidak pantas.
"Saya tahu tentang wanita itu, Mas Arkan. Saya tahu ada wanita yang kamu cintai dulu, yang baru saja pulang ke negaramu. Nara pernah bercerita sedikit lewat telepon dengan ibunya. Dia bilang dia rela mundur, dia rela pergi, karena dia sadar dia tidak akan pernah bisa mengalahkan masa lalu dan cinta sejatimu," suara Pak Haris bergetar menahan amarah dan kesedihan. "Tapi ketahuilah ini, Mas Arkan... kepergian Nara bukan karena dia menyerah padamu. Dia pergi karena dia sadar, kamu yang tidak pernah berjuang untuknya. Kamu yang membiarkan dia merasa sendirian di tengah keramaian rumahmu sendiri."
Suara pintu belakang terbuka perlahan. Arkan langsung menoleh dengan cepat, jantungnya berdegup kencang kembali. Di sana, di ambang pintu yang menghubungkan teras dengan halaman belakang rumah, berdiri sosok yang ia cari dari tadi malam.
Nara.
Gadis itu mengenakan pakaian sederhana berwarna putih kusam, rambutnya tergerai acak, wajahnya terlihat pucat sekali dengan mata yang bengkak dan kering air mata. Ia berdiri diam, menatap Arkan dengan pandangan yang begitu kosong, begitu asing, dan begitu jauh. Tidak ada lagi cahaya lembut yang biasa bersinar di matanya saat menatap Arkan. Kini yang ada hanyalah keheningan yang menyakitkan.
Arkan berdiri tegak dengan terhuyung. Ia ingin berlari mendekat, ingin memeluk gadis itu seerat-eratnya, ingin meminta maaf berulang kali sampai suaranya habis. Tapi kakinya terasa kaku lagi. Lidahnya terasa kelu. Ia lupa semua kata-kata yang sudah disusunnya di dalam mobil tadi. Ia hanya bisa menatap Nara dengan tatapan penuh rindu dan penyesalan yang mendalam.
"Nara..." panggilnya lirih, suaranya pecah.
Nara menatapnya sebentar, lalu perlahan ia menggeleng pelan, senyum tipis namun sangat menyedihkan terukir di bibirnya.
"Mas Arkan... kenapa Mas ada di sini?" tanya Nara pelan, suaranya terdengar lemah dan jauh. "Kita sudah selesai, kan? Surat yang saya tinggalkan... sudah saya jelaskan semuanya. Kontrak kita sudah berakhir. Mas seharusnya ada di rumah, menemani Mbak Kirana. Di sana tempat Mas berada. Di sana kebahagiaan Mas berada."
"Jangan bilang begitu, Nara! Tolong jangan bilang begitu!" Arkan akhirnya bergerak maju satu langkah, namun Pak Haris langsung berdiri menghalangi jalannya, memberi batas yang tidak boleh dilanggar. "Aku tidak bahagia, Nara! Aku hancur! Aku baru sadar semuanya terlambat. Kirana... dia masa lalu. Tapi kamu... kamu kenyataanku. Kamu rumahku. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, walaupun aku terlalu bodoh untuk menyadarinya sampai kamu pergi."
Nara memejamkan matanya rapat, menahan rasa sakit yang kembali menyayat hati mendengar pengakuan itu. "Sudah terlambat, Mas Arkan. Rasa sakit yang sudah tertanam tidak akan hilang hanya dengan kata-kata penyesalan. Selama ini aku ada di sana, berusaha sekuat tenaga untuk masuk ke duniamu, tapi pintu hatimu selalu tertutup rapat hanya untukku. Sekarang... sekarang biarkan aku pergi. Biarkan aku kembali menjadi Nara yang dulu, yang tidak tahu apa-apa tentang kemewahan dan tentang rasa sakit karena dicintai setengah hati."
Nara membuka matanya kembali, menatap Arkan dengan tatapan tegas yang belum pernah Arkan lihat sebelumnya.
"Silakan pulang, Mas. Dan... bahagiakan Mbak Kirana. Jangan khawatir, saya tidak akan menuntut apa pun sesuai perjanjian. Saya tidak akan mengganggu hidup Mas lagi."
"Nara, tidak! Aku tidak akan pulang tanpa kamu! Aku tidak akan membiarkan kamu berpisah dari aku!" teriak Arkan hampir menangis, berusaha melewati Pak Haris.
Namun saat itu, ponsel Arkan berdering keras dari dalam saku jasnya. Nada dering itu khusus disetel untuk satu orang: Kirana.
Suara dering itu memecah momen haru yang menyakitkan itu. Nara menatap ponsel itu, lalu kembali menatap Arkan dengan senyum yang semakin menyedihkan.
"Lihatlah, Mas. Dia sudah mencari Mas. Dia membutuhkan Mas. Dan aku... aku hanya sisa-sisa kebingungan di hidup Mas. Pulanglah, Mas Arkan. Tolong... biarkan aku tenang."
Nara berbalik badan dan berlari masuk ke dalam rumah, mengunci pintu kamarnya kembali, meninggalkan Arkan yang terduduk lemas di teras rumah itu, di hadapan ayah Nara yang kecewa, dan diiringi dering telepon yang terus berulang, seolah menjadi pengingat keras bahwa masa lalu itu masih ada, masih mengikat, dan kini menjadi tembok terbesar yang menghalangi Arkan untuk mendapatkan kembali kebahagiaannya.
Di kejauhan, matahari mulai terbit sepenuhnya, menyinari rumah sederhana itu, menyinari penyesalan yang mendalam, dan menyinari awal dari pertempuran panjang yang harus dihadapi Arkan untuk menebus segala kesalahannya. Perjuangannya belum selesai. Justru, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bersambung...