“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Akad
Satu minggu berlalu secepat kilat. Seminggu setelah membaca surat wasiat Kyai Zainal, dunia Naura seolah berputar pada poros yang berbeda. Ia tidak lagi menghabiskan waktu dengan mengamuk atau merencanakan pelarian. Sebaliknya, ia menghabiskannya dengan menatap langit-langit kamar pada malam hari, memikirkan seorang pemuda yang melihatnya memberikan sepatu sepuluh tahun lalu, dan membolak-balikkan secarik kertas kuning yang kini menjadi jangkar terberat di hatinya.
Hari ini adalah hari yang tidak bisa diundur lagi. Akad. Kamar Naura dipenuhi oleh kehebohan orang-orang. Makeup artist berjongkok di depannya, menyapu kuas halus ke pipinya. Diana berdiri di ambang pintu, menekan sapu tangan ke dadanya, wajahnya bercampur antara bangga dan hancur, dan Cipa... Cipa duduk di pojok ruangan, untuk sekali ini, diam. Matanya terkulai dan berkaca-kaca, tidak ada candaan shipping yang keluar dari bibirnya.
Naura menatap dirinya di cermin.
Gaun pengantin yang dikenakannya bukan gaun putih biasa. Itu adalah gaun A-line berwarna putih susu, dengan lengan panjang yang terbuat dari renda Prancis, dan untuk pertama kalianya dalam hidupnya, Naura memakai hijab pashmina putih mentutupi dada dan pundaknya yang sopan namun tetap mempertahankan kesan elegan. Mahkota kecil yang berkelip seperti bintang jatuh.
Versi Naura yang sedang berusaha menjadi lebih baik.
"MashaAllah... bestie gue cantik banget," bisik Cipa akhirnya, suaranya retak. "Gue nggak bisa... gue nggak bisa banyangin lo bakal jadi istri orang."
Naura menoleh pada sahabatnya, tersenyum getir. "Jangan nangis, Cip. Nanti gue ikut nangis, makeup gue luntur, yang ada suami gue kabur."
"Dia nggak bakal kabur!" Cipa mendengus, mengipas wajahnya dengan tangan. "Dia Gus Azzam! Yang nemuin lo di tengah hujan! The standard is too high! Lo tau ga Naura, Itu udah masuk standard permbaca Novel Romance OMG!!!" Cipa super excited.
Terdengar ketukan halus di pintu. Mahendra masuk ke dalam, setelan jas hitamnya rapi, tapi wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun. "Naura... rombongan pesantren sudah datang. Penghulu dan Gus Azzam sudah menunggu di masjid."
Dadanya seketika seperti dihantam palu. Naura menarik napas dalam-dalam, menggenggam tangannya yang dingin di atas pangkuan.
"Ini dia, Nak," bisik Diana, matanya berkaca-kaca. "Waktunya."
.
.
.
Masjid besar Pesantren Al-Farizi belum pernah seramai ini. Ribuan jamaah, santri, dan tokoh masyarakat memadati setiap sudut, berdesakan untuk menyaksikan pernikahan pewaris pesantren yang paling diidolakan. Deretan kamera media dan vlogger pesantren berjajar di luar pagar, mencoba menangkap seulas bayangan pengantin.
Di ruang mahram yang dikhususkan untuk wanita, Naura duduk di atas sajadah merah, menunggu, dari balik tirai pembatas, ia bisa mendengar suara lantang penghulu yang memandu prosesi, dan dengungan doa dari ratusan lisan.
Lalu, tirai itu sedikit terbuka.
Azzam melangkah masuk ke ruangan itu sejenak, untuk menemuinya sebelum akad dimulai, sebuah tradisi yang tidak semua orang lakukan, tapi Azzam memintanya.
Naira menoleh, dan napasnya tercekat.
Pria itu mengenakan beskap putih dengan detail sulaman benang emas, dan sorban putih yang melingkar sempurna. Ia tampak gagah, berwibawa, seperti seorang sultan dari masa lalu yang melangkah ke dunia modern. Tapi matanya, matanya yang hitam pekat itu melunak seketika saat menatap Naura.
Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapan Naura, agar sejajar dengannya. Jarak mereka hanya terpaut beberapa hembusan napas.
"Azzam..." bisik Naura, suaranya gemetar.
Azzam menatapnya lama-lama, matanya menyapu wajah Naura yang Kagum melihat gadis itu memakai hijab. Tangannya terulur, mengusap punggung tangan Naura yang dingin dengan kehangatan yang familiar.
"Kamu menggigil," suara baritonnya terdengar berat, penuh perhatian.
"A-ak... Aku takut," jujur Naura. "Bukan takut sama kamu. Tapi takut ini semua... terlalu cepat. Takut aku nggak bisa jadi apa yang kakekmu harapkan."
Azzam mengusap punggung tangannya dengan ibu jarinya, gerakan yang menenangkan. Ia memandang Naura dengan tatapan yang tidak lagi menyisakan ruang untuk keraguan.
"Naura, kamu tidak harus jadi sempurna. Kamu hanya harus jadi istriku. Dan setelah akad ini selesai, saya tidak akan pernah biarkan kamu merasa sendirian lagi." Azzam mencondongkan tubuhnya, bibirnya bergetar di dekat telinga Naura, berbisik sangat pelan agar hanya gadis itu yang mendengar. "Aku menunggu sepuluh tahun untuk memujamu dalam doaku. Sekarang, biar saya yang menjagamu dengan separuh jiwaku."
Naura menutup matanya, air mata akhirnya lolos juga, membasahi pipinya yang sudah rias. Kata-kata itu terlalu indah, terlalu menyakitkan, yang membanjiri pertahanannya yang rapuh.
Azzam mengangkat tangannya, dengan punggung jari ia menghapus air mata itu dengan sangat lembut, seolah menyentuh benda paling rapuh di dunia.
"Berhenti menangis, Habibti," bisiknya, panggilan itu meluncur begitu saja, tak di sengaja, membuat dada Naura berdetak tak terkendali. "Penghulu sudah menunggu. Saya tidak sabar untuk mendengarmu menjadi milikku secara sah."
Ia berdiri, memberi isyarat pada Mahendra yang sudah menunggu di pintu untuk mengantar Naura.
.
.
.
Prosesi ijab qobul berlangsung di mihrab masjid yang megah. Naura duduk di depan ayahnya, menghadap penghulu dan rombongan saksi. Tirai pembatas telah dibuka separuh, membiarkan suara dan pemandangan dari ruangan utama masuk. Ia bisa melihat punggung lebar Azzam yang duduk tenang di shaf depan, dan lautan manusia di belakangnya yang menatap penasaran.
Wajah Zahra Humaira juga terlihat di barisan santriwati. Gadis itu duduk kaku, matanya kosong menatap Naura, seolah sedang menyaksikan mimpi buruknya menjadi kenyataan. Tapi Naura mencoba mengabaikannya. Fokusnya hanya pada satu orang.
Penghulu mengangguk pelan, lalu menatap lelaki muda berjubah putih yang duduk bersila di hadapan wali.
“Ankahtuka wa zawwajtuka ibnati Naura Aleesha Mahendra binti Mahendra Wijaya bil-mahril musamma al-ma‘lum halan.”
Suasana masjid mendadak hening. Deru napas para tamu seolah tertahan menunggu kalimat sakral itu terucap. Gus Azzam menundukkan kepala sejenak, jemarinya menggenggam lututnya erat. Dengan suara tegas, mantap, dan sekali tarikan napas, ia mengucapkan kabulnya.
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha Naura Aleesha Mahendra binti Mahendra Wijaya bil-mahril musamma al-ma‘lum halan lillahi ta‘ala.”
Hening sesaat. Kemudian para saksi serempak mengangguk.
“Sah.” Parakasaksi serantak.
Ucapan hamdalah memenuhi ruangan. Naura menahan air matanya, sementara Gus Azzam menatap lurus ke depan, menyembunyikan getaran haru di dadanya.
Seketika, masjid gemuruh. Ratusan jamaah mengangkat kedua tangan, mendoakan, membacakan shalawat, dan menangis kebahagiaan melihat penyatuan dua keluarga besar ini.
Ibunya yang berada di samping memeluk haru gadis itu.
Naura menunduk dalam-dalam. Tubuhnya gemetar hebat, tangisnya pecah. Ia menangis bukan karena sedih, ia menangis karena prosesi itu terasa begatu sakral, begitu berat, dan begitu menakutkan. Ia sedang menyerahkan hidupnya secara resmi, di hadapan Tuhan dan ribuan manusia kepada seorang pria yang satu bulan lalu bahkan bukan siapa-siapanya.
Ia menangis karena ia sadar, di saat shalawat menggema dan saksi menandatangani, bahwa ia tidak lagi hanya milik dirinya sendiri. Ia sudah menjadi seorang istri, bagian dari pesantren. Ia adalah pemenuhan wasiat di ujung sajadah.
Ia merasa sesak. Sangat sesak. Lalu, di tengah kegaduhan doa dan tangisnya sendiri, Naura merasakan kehadiran seseorang di hadapannya.
Azzam telah berdiri dari posisinya, melangkah melewati penghulu, dan kini berlutut tepat di hadapan Naura. Ia tak memperdulikan ratusan pasang mata yang menatap kagum. Ia tidak memperdulikan kamera yang berkedip menangkap momen itu.
Ia mengulurkan tangannya, memegang bahu Naura yang menggigil, lalu menarik gadis itu perlahan ke dalam peluknya satu lengan melingkar di punggungnya, yang lain menopang kepalanya, mendekapnya ke dadanya yang berdebar kencang.
"Selesai," bisik Azzam tepat di telinga Naura, suaranya menggetarkan tulang gadis itu. Ia tidak merayu, ia memeluk dengan protektif, seolah ingin menyembunyikan Naura dari seluruh tekanan dunia. "Kamu sudah aman sekarang. Saya yang akan memegangmu."
Naura menggenggam kemeaja beskap Azzam, mencengkeramnya erat-erat, dan menangis di dadanya. Ia tidak peduli riasannya hancur. Ia tidak peduli seluruh masjid melihatnya.
Di titik itu, di pelukan pria yang dulu ia panggil kulkas berjalan, Naura menemukan tempat berlabuhnya. Sesak itu perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan yang ia cari sejak lama.
Azzam mengusap punggungnya perlahan, bibirnya menyentuh kain pashmina di kepala Naura, mendoakannya dalam diam.
Di barisan belakang, Cipa menangis tersedu-sedu sambil memukul dada Salsa yang kebetulan ada di sampingnya. "BIKIN GUE NANGIS INI MAH! GREEN FLAG BANGET GUS ITU! SIALAN!"
Sementara itu, di sudut lain, Zahra Humaira berdiri dan melangkah keluar masjid dengan langkah yang berat, meninggalkan kebahagiaan yang bukan miliknya, dengan hati yang kini telah berubah menjadi es yang tajam.
.
.